
"Dasar istri gak berguna!"
Plakk.
Tamparan keras tanpa ampun mendarat di pipi Bu Dewi, menimbulkan bekas kemerahan.
"Aku cuma minta kau hamil, tapi itu pun tak bisa kau lakukan!" bentak Pak Yanto sembari menarik kasar rambut istrinya. "Nggak becus kau jadi istri."
"Maafin Mama, Pa. Usia Mama yang sudah tua membuat Mama beresiko besar gak bisa hamil lagi. Kalaupun Mama bisa hamil selepas KB, itu akan butuh waktu yang lama, berbulan-bulan. Atau mungkin bisa bertahun-tahun," jelas Bu Dewi sambil meringis kesakitan. Rambutnya yang panjang sampai rontok.
Pak Yanto hanya diam, ia lalu berhenti menjambak rambut Dewi, menyisakan beberapa helai rambut hitam wanita itu di tangannya.
Dengan diiringi caci maki yang tak henti, Pak Yanto meninggalkan rumah. Otak yang sudah dirasuki setan itu sibuk berpikir. Dimana janin itu bisa ia dapatkan dalam waktu dekat?
Pak Yanto mengarahkan mobil menuju toko bangunannya. Di toko ia akan bertemu banyak orang, mungkin salah satu dari mereka bisa membantunya mencari janin.
Sesampainya di toko, Pak Yanto segera duduk di meja kasir, menggantikan Cici yang kini ia suruh bersih-bersih di ruangannya.
Pak Yanto sengaja mengambil alih kasir agar ia bisa mencari info dari para pembeli, siapa tahu sekarang ada yang sedang hamil di kampungnya.
Ia menatap para pekerja yang sibuk mengangkut barang dan melayani pembeli. Baru sebentar duduk di kasir, ia sudah merasa bosan. Pak Yanto lalu meraih buku Teka Teki Silang milik Cici dan mengisinya.
"Tiga mendatar, ibu kota Sumatera Selatan? Palembang. Lima menurun, sinonim pulau? Nusa. Sepuluh mendatar, satuan berat? Gram. Tiga belas menurun, yang mengalir dalam tubuh kita? Hemmmm ... lima kotak, apa ya?" gumam Pak Yanto sembari menggigit ujung pena.
Tes.
Tiba-tiba satu tetes darah membasahi halaman buku TTS itu.
"Benar juga. Jawabannya darah."
Dengan semangat Pak Yanto mengisi kotak-kotak kosong di TTS itu. Namun perlahan ia mulai bertanya-tanya, dari mana darah itu berasal?
Pak Yanto lalu mendongak untuk mencari tahu. Hampir saja ia terkena serangan jantung, saat melihat seorang pria telah berdiri di depan meja kasirnya.
"Bi ... Bima?" ucap Pak Yanto pucat pasi. Keringat sebesar biji jagung mulai muncul di jidatnya yang lebar. "Ka ... kamu mau apa ke ... ke sini?" tanyanya terbata-bata.
Bima tak menjawab. Darah segar semakin mengucur deras dari pipinya yang berlubang. Bola mata kanannya juga terlihat menonjol keluar. Kedua tangan Bima terarah ke depan, siap mencekik sang ayah.
"Tidak, Bimaaaa. Jangan, Nak. Jangaaaaan."
Pak Yanto mengibas-ngibaskan tangannya dengan mata terpejam. Bima muncul dalam mimpinya saja ia sudah hampir gila, apalagi sampai dia datang di kehidupan nyata. Jika terus-menerus diteror begini, lama-lama Pak Yanto bisa mati berdiri dibuatnya.
Pak Yanto hampir saja terjungkal dari kursi saat merasakan ada tepukan keras di bahunya.
"Pak, Pak Yanto. Bapak kenapa?"
Pak Yanto membuka mata saat mendengar suara yang ia kenal. Dan itu bukan suara Bima.
"Pak Deni?" Pak Yanto segera berdiri dan menyalami orang di depannya. "Lama gak ketemu, ya?"
"Iya, saya baru pulang dari luar kota," jawab pria tua berkaca mata itu. "Tadi saya dengar Pak Yanto menyebut-nyebut nama Bima. Memangnya Bima kenapa?"
"Hemmmm ... anu ... Bima ...." Pak Yanto mulai terlihat salah tingkah. Otaknya yang licik sedang mencari-cari jawaban yang pas.
"Oh, memang anunya Bima kenapa, Pak?" tanya Pak Deni keheranan.
"Bu ... bukan itu. Maksud saya, Bima sekarang sedang melanjutkan kuliah ke luar negeri."
"Kemana, Pak?"
"Amerika," jawab Pak Yanto cepat. Itu adalah negara pertama yang terlintas di pikirannya.
"Oh, pantas saja Bapak menyebut-nyebut nama Bima. Bapak pasti kangen, ya? Saya aja kangen sama anak saya, padahal dia cuma kuliah di Jogja. Apalagi macam Bima yang kuliah jauh di Amerika."
"Iya, Pak." Pak Yanto memaksakan tersenyum.
Andai saja Pak Deni tahu dimana Bima sekarang berada, pastilah ia akan bergidik ngeri. Karena nyatanya, Bima tak pernah pergi ke Amerika, ia sedang disiksa di tempat yang sudah seperti di neraka.
__ADS_1
Sementara keadaan di luar toko hari ini sangat ramai seperti biasanya. Ada beberapa mobil pick up pelanggan yang parkir di halaman depan yang sangat luas.
"Udah siap kerja lagi, Gus?" tanya Mamat saat melihat Agus datang ke toko dengan sebuah handuk kecil tersampir di bahunya.
"Rasa sedih karena kematian Andi gak akan pernah hilang, Bang. Tapi aku juga punya kewajiban mencari nafkah untuk istri," jawab Agus dengan nada sedih.
"Maaf ya, kemarin gak bisa datang melayat. Soalnya toko harus tetap ada yang jaga."
"Iya, Bang. Gak apa-apa. Saya juga makasih atas ucapan belasungkawa yang Abang titip sama Rudi."
Mamat menepuk pelan punggung Agus. Mereka lalu menuju rombongan kuli panggul lain yang sedang sibuk mengisi muatan bahan bangunan untuk tiga mobil pick up.
Setelah selesai mengerjakan tugas yang menguras banyak tenaga, Agus duduk di depan toko, bersiap menunggu pekerjaan selanjutnya.
"Minum, Gus." Rudi menawarkan satu botol air mineral dingin.
"Makasih, Rud." Agus mengelap keringat dengan handuk kecil yang dibawa, lalu meneguk habis air yang diberikan Rudi.
"Istirahat dulu, siapin tenaga. Sebentar lagi truk batu batanya datang," ucap Imam sembari duduk di sebelah Agus dan Rudi.
"Kamu bawa bekal, Gus?" tanya Rudi.
"Iya."
"Nanti makan bareng, ya," timpal Imam semangat.
"Ngomong-ngomong, Gus. Uang dari Pak Yanto udah kamu pakai belum?" bisik Rudi pelan. Ia lalu menatap Imam, menunggu reaksinya apakah Imam akan melarang Rudi lagi membicarakan Pak Yanto.
Dan benar saja, Imam segera bangkit dan menatap Rudi tajam.
"Udahlah jangan bahas Bos terus. Yuk kerja lagi, truknya sudah datang."
Imam lalu berlari semangat ke arah truk yang baru memasuki gerbang. Diam-diam Rudi mengamati Imam. Ia mulai merasa aneh, seperti ada sesuatu yang dirahasiakan Imam dari dirinya. Hal penting yang tak boleh ia ketahui.
***
Ia yang biasanya pandai bermuka dua dengan bersikap ramah dan baik pada orang lain, kini perlahan mulai memperlihatkan sifat aslinya. Ia akan marah besar untuk kesalahan kecil yang dilakukan para pegawai, hal yang dulu tak begitu digubrisnya.
Wajar saja, setiap malam dalam tidurnya, mimpi yang sama selalu berulang, terus-menerus. Ditambah di kehidupan nyata, tak jarang wajah Bima menyerupai pembeli dan para pekerja.
Bahkan pernah suatu hari saat Pak Yanto sedang bercermin hendak berangkat ke toko, tiba-tiba Bima keluar dari kaca itu dengan membawa pisau hendak menusuk jantung ayahnya. Pak Yanto begitu trauma dengan kejadian itu, karena ia sampai pingsan dan demam selama tiga hari.
Terkadang ia tak habis pikir, Ki Joko bilang para tumbal pesugihan itu disiksa dan dijadikan budak. Namun kenapa Bima masih bisa terus datang menghantui dirinya?
Pak Yanto mengurut kepalanya yang terasa akan meledak. Haruskah ia meminta pertolongan orang lain untuk mencari janin itu?
***
Seharian ini Agus bekerja dengan senyum semringah. Tak ada satu keluhan pun keluar dari bibirnya, meski rekan kerja lain sibuk mengomel karena banyaknya pekerjaan yang serasa tak kunjung selesai.
"Gus, kamu minum obat kuat, ya? Jam segini masih semangat aja," sindir Rudi saat mereka sedang duduk istirahat makan siang.
Agus hanya tersenyum. Dihadapannya ada nasi, orek tempe, dan ikan goreng. Bekal yang dibawakan sang istri ia makan dengan lahapnya.
"Ngobrolin apa, sih?" tanya Imam yang datang dengan nasi bungkus di tangan. Ia lalu duduk di sebelah Agus.
"Ini si Agus pakai obat kuat," sela Rudi sambil tertawa.
"Beneran, Gus?" tanya Imam penasaran.
Agus hanya tertawa. Diraihnya gelas besar berisi air es dan diminumnya sampai bersisa setengah.
"Aku lagi seneng," jawab Agus sambil tersenyum malu. "Istriku positif hamil."
"Apa?" teriak Rudi dan Imam bersamaan.
"Wah berita bagus, nih." Rudi lalu mencuci tangannya yang berlumuran nasi, lalu segera menyalami Agus. "Selamat, ya."
__ADS_1
"Selamat ya, Gus." Imam ikut memeluk Agus.
"Ada traktirannya gak nih? Biasanya kalau ada kabar bagus itu kita makan-makan," canda Rudi.
"Nanti aku minta istriku buatin kalian kue, ya."
"Eh, gak usah, Gus. Aku cuma bercanda," imbuh Rudi tak enak hati.
"Gak apa-apa. Sekali-kali," ujarnya sambil tersenyum.
Mereka lalu melanjutkan makan siangnya, karena ada begitu banyak pekerjaan yang sudah menanti.
Rudi dan Imam lantas ikut merasakan semangat yang dimiliki Agus. Mereka bertiga terlihat bekerja keras tanpa beban sembari saling bercanda. Hingga sore pun tiba, waktunya pulang untuk melepas lelah dari pekerjaan yang menumpuk.
Rudi membereskan peralatan makan dan barang-barangnya ke dalam tas. Ia sudah bersiap pulang dan melihat Imam sedang berdua dengan Agus di pintu gerbang.
"Woy, tungguin," teriak Rudi sambil setengah berlari mendekat ke arah mereka. Namun sepertinya Agus dan Imam tak mendengarnya.
"Sampai nanti, Gus." Imam menepuk bahu Agus lalu berlalu pergi.
"Payah gak nungguin," protes Rudi dengan napas ngos-ngosan.
Agus hanya tersenyum. Mereka lalu berjalan pulang bersama dan berpisah di persimpangan.
***
Di malam hari saat hujan lebat, seorang pria berlari kencang. Ia bahkan nekat menerobos angin dan derasnya hujan yang menerpa tubuhnya.
Napasnya terengah-engah, seirama jantungnya yang berdetak berkali-kali lipat dari biasanya. Tak bisa dipungkiri, ia ketakutan. Namun apapun yang terjadi ia akan terus melakukan sesuatu yang sudah direncanakannya.
Petir menyambar, kilat yang berkelip di langit gelap, tak cukup membuatnya berhenti. Hingga akhirnya sebuah sosok tinggi besar mulai menghadangnya di jalanan yang sepi.
Sorot matanya yang mengerikan seakan menusuk jantung pria itu. Di tangannya ada sebuah tongkat besar bergerigi yang sanggup meruntuhkan rumah.
Tanpa belas kasihan, ia menghantam pria itu dengan tongkat, membuatnya terpental menabrak pohon besar di sisi jalan.
Pemuda itu merasakan tubuhnya seketika remuk redam, lemas tak berdaya. Namun sayangnya makhluk menyeramkan itu tak puas. Ia menghantam batang pohon dengan kekuatan yang lebih besar, membuatnya roboh.
Pohon rindang itu dengan cepat jatuh menimpa tubuh sang pria yang berada di bawahnya. Menghantam tepat di bagian perut, membuatnya segera menghembuskan napas terakhir dengan mata melotot dan lidah yang terjulur panjang.
Makhluk itu tertawa puas dengan hasil kerjanya, lalu menghilang dengan cepat di kegelapan malam. Meninggalkan pria itu terkapar sendirian, tak bernyawa.
***
"Hahhaha ... rasakan itu. Berani-beraninya kau mau mengacaukan rencanaku."
Pak Yanto tertawa terbahak-bahak di ruang tamu saat sang makluk menyeramkan itu melaporkan bahwa tugasnya sudah selesai.
Tak lama, terdengar ada langkah kaki orang yang datang. Salah satu dari pegawai Pak Yanto di toko, berdiri di ambang pintu rumahnya. Ia masuk ke dalam rumah angker itu tanpa rasa takut.
"Apa Pak Yanto yang sudah membunuhnya?"
"Iya. Itu sebagai pelajaran agar tak ada lagi orang yang mau ikut campur dan menggagalkan rencanaku," jawab Pak Yanto lantang sambil berkacak pinggang.
"Kalau dia sudah mati baguslah, karena dia sudah sempat mendengar percakapan kita. Aku tak bisa lagi menahan diri, saat aku tahu dia diam-diam ia ingin memberi tahu Agus, bahwa Pak Yanto lah yang telah menumbalkan Andi. Tapi untungnya Bapak bergerak cepat. Jadi aku tak perlu repot-repot membunuhnya," ucap Rudi dengan wajah sinis.
Ia lalu ikut tertawa bersama Pak Yanto, merayakan keberhasilan mereka melenyapkan Imam, karena pria itu berniat menghentikan rencana busuk mereka untuk menumbalkan kembali anak Agus.
Bersambung
****
**Terima kasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa vote dan komennya.
☺️💗
Facebook : Affrilia
__ADS_1
Instagram : @afrilia_athaara**