TUMBAL

TUMBAL
Bantuan Ibu


__ADS_3

Nanda bergerak gelisah. Dia tengah menunggu Manda keluar dari rumah Arlan. Tiga jam lalu, Nanda mendapatkan pesan singkat dari Manda, yang mengatakan bahwa dia tengah berada di rumah Arlan. Terseret begitu saja ke sana. Tanpa pikir panjang, Nanda langsung meluncur ke rumah Arlan, tidak peduli dengan ekskul basket yang sangat dia sukai.


Nanda melirik jam di layar handphone-nya. Sebentar lagi, langit akan berubah menjadi gelap. Tadi, Nanda sempat melihat mobil orangtua Arlan memasuki garasi mobilnya, membuat Nanda semakin gelisah. Dia sampai teringat dengan aura hitam yang menyelimuti kamar orangtua Arlan.


"Hal seperti itu, kekuatan besar seperti itu, pastinya meminta sesuatu yang besar juga," gumam Nanda. Matanya terus tertuju pada rumah seluas lima are dengan dua lantai bercat putih bersih.


"Akhirnya Ibu menemukanmu," sebuah suara lembut membuat Nanda terperanjat dari lamunannya. Suara familiar yang sudah bersamanya selama enam belas tahun lamanya.


"Ibu!?" cicit Nanda. Dia mengusap matanya, seakan tidak percaya dengan kehadiran ibunya di tempat itu. "Kenapa Ibu bisa ada di sini!?" tanyanya.


Gina memperlihatkan telapak tangannya pada Nanda. "Ibu tahu semuanya," jawabnya dengan suara lembut. Dia tidak mau memberikan beban pada anak laki-lakinya. Gina memilih menghormati pilihan anak-anaknya untuk tidak bercerita. Tapi, kali ini, dia ingin hadir di sebelah anaknya. Dia merasa, ini bukan sesuatu yang anak-anaknya bisa atasi dengan kekuatan mereka sendiri.


"Maaf, Bu..." kata Nanda. Suaranya menjadi sangat pelan.


"Kalian berniat minta bantuan paman kalian, ya?" tanya Gina.


Nanda mengangguk. Pandangannya menunduk ke bawah, memandang sepatunya yang sedikit lusuh. "Kita nggak mau ngerepotin Ibu."


Gina membelai kepala anak laki-lakinya dengan penuh sayang. "Kalian tidak pernah buat Ibu repot," jawabnya. "Jadi... Apa kamu mau cerita?"


Nanda mengangguk bersemangat. "Kita mau bantu temannya Manda, Bu," Nanda memulai tanpa pikir panjang lagi. "Namanya Arlan. Dia ngakunya anak tunggal dari keluarga yang tinggal di rumah itu," Nanda menujuk ke arah rumah Arlan.


"Oke, lalu?"


"Awalnya, dia nggak sengaja ketemu Manda yang bisa lihat ada yang salah dengan anak itu. Tapi, ternyata masalahnya lebih besar dari yang kami duga. Mulai dari kutukan yang bakal buat dia mati di umurnya yang ketujuh belas, orangtuanya yang pakai jin dan tumbal, lalu kenyataan bahwa sahabatnya sendiri adalah kaki tangan dari musuh bebuyutan keluarganya."

__ADS_1


"Jadi, kamu pingsan tempo hari itu, bukan karena kecapekan, tapi karena lihat masa lalu?" Gina memastikan.


Nanda tertawa canggung, malu karena pada akhirnya dia ketahuan berbohong juga. "Maaf, Bu. Kalau aku bilang yang sebenarnya, aku takut Ibu jadi marah."


"Hhh... Nasi sudah menjadi bubur. Mau gimana lagi," sahut Gina maklum. "Ibu masih penasaran dengan maksud 'kaki tangan'. Memangnya apa yang kamu lihat?"


"Arlan punya teman bernama Dimas. Dari cerita Arlan, mereka sudah berteman sangat lama," Nanda memulai. "Tapi, Manda curiga sama gelagatnya Dimas. Jadi, aku mengajukan diri untuk menggunakan jalan pintas dan melihat masa lalu Dimas. Ternyata, Dimas itu anaknya Larasati, orang yang punya dendam sama keluarganya Arlan. Bisa dibilang, Dimas dan Arlan itu sebenarnya sedarah, karena kakeknya Arlan adalah ayahnya Dimas yang sebenarnya."


Gina mengusap punggung tangannya dengan gelisah. "Jika dendam sampai sebegitunya, artinya orang yang bernama Larasati ini adalah makhluk yang cukup kuat," Gina berkomentar.


"Larasati mau membunuh semua keturunan keluarga kakeknya Arlan." Nanda menepuk tangannya, teringat dengan apa yang dia lihat kemarin. "Kakeknya Arlan juga mencoba membunuh Arlan."


"Artinya, Arlan adalah pihak yang tidak tahu apapun, padahal dia adalah tokoh utama di sini?" tanya Gina.


"Bagaimana caranya?"


"Adu otot!"


Gina tertawa mendengar Nanda menjawab dengan semangat. "Kalau sudah main otot, kamu nomor satu, ya!" komentar Gina seraya mengusap kepala anaknya. "Apa kalian punya nilai lebih?"


"Maksud Ibu, untuk melawan larasati?" tanya Nanda yang dijawab dengan anggukan Gina. "Arlan punya ilmu kebal. Dia beberapa kali selamat dari maut. Manda sudah memastikannya sendiri."


"Ibu akan melatih Arlan. Bawalah Arlan pulang ke rumah," ujar Gina. Nanda yang mendapat persetujuan ibunya, menjadi sangat senang. Setidaknya, ada orang dewasa diantara mereka yang mengerti perihal ini. "Sekarang," Gina menambahkan, "bangun!"


Nanda tersentak. Kaget. Dalam beberapa detik, dia tidak tahu apa yang terjadi. Badannya terasa hangat, seperti habis dipeluk. Namun kepalanya terasa pusing, khas orang yang baru bangun tidur.

__ADS_1


"Dik, ketiduran? Astaga... Sore-sore begini nggak baik tidur, lho! Apalagi di luar begini!"


Nanda mendongak, melihat siapa yang mengajaknya bicara. Seorang laki-laki tua yang mendorong gerobak bakso, tengah berdiri di hadapannya. Dia mengibas-ngibaskan peci ke arah leher. Keringat mengucur dari kulit keriputnya. Kemudian, Nanda mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ibunya tidak ada. "Mimpi?" gumamnya.


"Aduh, Dik... Ini udah sadar, kan? Kamu nggak kesambet, kan?" tanya bapak penjual bakso, merasa khawatir dengan kondisi Nanda yang tampak linglung. "Rumah kamu di mana? Tahu jalan pulang? Perlu saya panggilkan orang sekitar?"


"Ah, nggak usah, Pak!" Nanda buru-buru berdiri. "Saya lagi nungguin saudara saya pulang dari rumah itu. Saya ketiduran karena capek aja. Sebentar lagi, saudara saya juga bakal keluar, kok!"


Bapak penjual bakso menoleh ke arah telunjuk Nanda mengarah. "Oooh, rumahnya Mas Arlan," jawabnya. "Kalau begitu, saya pamit, ya, Dik! Adiknya jangan tidur lagi. Mending waktunya dipakai buat berdoa daripada bengong dan akhirnya ketiduran lagi."


"Iya, Pak! Makasih sudah khawatir sama saya," ujar Nanda.


Bapak penjual bakso itu pun akhirnya pergi. Nanda kembali duduk di tempatnya. "Apa tadi mimpi?" gumamnya lagi. Dia mengeluarkan handphone-nya. "Ah, sial! Batrenya habis!" Saat berkata begitu, barulah Nanda sadar bahwa kejadian tadi bukanlah sekedar mimpi belaka. Ibunya mungkin tidak bisa menghubunginya ataupun Manda, makadari itu ibunya hadir dengan cara lain.


Nanda bangkit. Dia tahu kalau dia harus menjemput saudaranya. Dia harus memberitahu Manda bahwa ibu mereka akan membantu. Nanda merasa ada harapan untuk menyelamatkan Arlan.


Ternyata, tidak perlu sampai masuk ke dalam rumah Arlan, Manda sudah keluar sendiri setibanya Nanda di depan pintu gerbang. Namun, ekspresi yang Manda perlihatkan, bukanlah ekspresi yang bisa Nanda tafsirkan sebagai sesuatu yang baik.


Manda yang melihat Nanda berada tidak jauh darinya, langsung berlari kecil menghampiri. "Kita pulang," bisik Manda.


Nanda hanya menjawab dengan anggukan. Dia membiarkan Manda merangkul lengannya. Meski sedikit, Nanda bisa merasakan tangan Manda bergetar serta terasa dingin. "Apa yang buat lo jadi kayak begini?" Nanda bertanya dengan suara sepelan mungkin.


Manda melirik ke belakangnya, di mana rumah keluarga Arlan berdiri dengan kokoh. Terlihat megah dan indah. Tetapi, hal itu malah membuat Manda bergidik. "Orangtua Arlan sudah menumbalkan banyak gadis untuk iblis pelindung di rumah mereka."


***

__ADS_1


__ADS_2