TUMBAL

TUMBAL
Memori Indah


__ADS_3

"Kak, main!"


"Kakak lagi buat mobil, nih!"


Seorang gadis kecil berusia tiga tahun, berdiri di depan Arlan sambil memegang dua boneka beruang seukuran tubuhnya. Jam menunjukkan pukul sembilan malam, namun gadis itu belum merasakan kantuk.


"Mobilnya bisa jalan?" tanyanya pada Arlan, seraya duduk di hadapan Arlan yang tengah sibuk mengutak-atik kardus bekas.


"Nanti Kakak kasih roda," jawab Arlan sambil menunjuk empat roda di dekat kaki adiknya. "Kamu tidur aja. Udah malam. Nanti Papa marah kalau kamu masih main jam segini," usul Arlan.


"Mau bobo sama Kakak."


"Kakak lagi buat mobil."


"Nggak mau bobo sendirian."


Arlan menarik nafas, merasa terganggu dengan kehadiran adiknya. "Ya udah, main sebentar sama Kakak, habis itu Indah bobo, ya!" jawab Arlan pada akhirnya.


Mereka hanya bermain beberapa menit, sebelum akhirnya Indah menguap terus-menerus, menyadarkan Arlan bahwa adiknya itu sudah mengantuk. "Jadi bobo sama Kakak?" tanya Arlan.


"Di kamar Indah, ya?" Indah kembali memberikan penawaran.


Arlan hanya bisa mengangguk setuju. Dia tahu sifat adiknya yang manja dan keras kepala. Indah tidak akan diam sampai keinginannya Arlan penuhi. Meski begitu, Arlan tidak pernah merasa kesal pada adik semata wayangnya. Indah adalah satu-satunya saudara yang dia punya. Umur mereka juga tidak terpaut jauh, jadi Arlan lebih merasa dekat dengan Indah, ketimbang dengan orangtua ataupun kakeknya.


Arlan dan Indah pergi ke kamar Indah sambil bergandengan tangan. Mereka berjalan perlahan agar tidak ada yang mendengar suara langkah kaki mereka. Sesampainya di kamar Indah, Arlan langsung mengarahkan adiknya ke atas tempat tidur. Tidak lupa dia membacakan doa dan mencium kening adiknya.


"Kakak ambil kasur dulu," kata Arlan. Dia berjalan ke arah ruang ganti Indah untuk mengambil kasur lipat yang biasa dia gunakan di saat Indah ingin tidur dengannya. Arlan masih di dalam sana, ketika mendengar pintu kamar Indah kembali terbuka.


"Papa?" suara Indah terdengar sampai ruang ganti.


Arlan buru-buru merangkul kasur lipat dan sebuah selimut ke dalam pelukannya, kemudian berjalan cepat menuju pintu.


"PAPA!"

__ADS_1


Jeritan Indah membuat langkah Arlan terhenti. Dia berdiri tegak di posisinya. Matanya membelalak terbuka. Arlan menyaksikan semuanya dengan jelas saat itu. Ayahnya, orang yang paling dia hormati di keluarga itu, menjambak adiknya dengan kasar dan menyabetkan pedang ke leher kecil Indah. Arlan tahu pedang itu. Benda itu adalah pajangan yang sangat ayahnya sukai yang terpajang di ruang kerja ayahnya.


Arlan tidak bisa menutup mata. Dia seakan dipaksa untuk melihat nyawa adiknya melayang begitu saja malam itu. Tidak berhenti sampai di sana, begitu badan Indah jatuh sambil menggeliat, Fahmi merapalkan kalimat yang Arlan yakini sebagai mantra.


Lalu, tubuh Indah berhenti mengejang. Keadaan kamar itu kembali hening. Fahmi masih berdiriĀ  dengan kepala Indah menggantung di tangan kirinya. Fahmi mengusap wajahnya yang terkena cipratan darah Indah. Arlan dapat melihat raut wajah ayahnya yang dingin. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Fahmi melempar kepala Indah hingga terguling dan membuat karpet biru kesayangan Indah berlumuran darah. Kemudian, Fahmi menampung darah Indah yang mengucur dari lehernya ke dalam sebuah gelas.


"Dengan ini, saya persembahkan seorang gadis yang masih suci. Gadis ini adalah perjanjian kita untuk menjaga putraku," Fahmi berkata, seolah-olah ada seseorang yang bersamanya. Tanpa tahu bahwa Arlan ada di sana, Fahmi keluar dari kamar Indah sambil membawa gelas yang penuh dengan darah.


Arlan tidak bisa bergerak. Bahkan, suaranya tidak keluar. Tangannya kaku dan dingin. Tidak lama kemudian, kepala Arlan terasa berputar dan dia kehilangan kesadarannya.


***


Manda tidak serta-merta mencerca Arlan dengan pertanyaan. Dia membiarkan Arlan menenangkan diri terlebih dahulu di ruang tengah rumahnya. Manda bertahan sebisa mungkin, walau telinganya terus mendengar jeritan yang saling bersahutan, merintih untuk dibebaskan.


"Lo kelihatan nggak dalam kondisi baik-baik aja. Ada apa?" Arlan tiba-tiba bertanya.


Manda mendengus mendengarnya. "Apa lo sendiri dalam kondisi baik-baik saja sekarang?" Manda balik bertanya.


Manda menelan ludah. Dia kaget karena Alan langsung membicarakan hantu anak kecil tadi. "Adik lo?" Manda memastikan. "Bukannya lo anak tunggal?"


"Gue juga ngira begitu." Arlan bersandar pada sofa. Dia memandang langit- langit rumahnya. Manda dapat melihat, dari sorot mata Arlan, banyak yang sedang remaja itu pikirkan. "Gue mau cerita, tapi kayaknya lo nggak konsen."


"Ada yang mengganggu daritadi," jawab Manda lambat-lambat. "Suara-suara yang pernah gue kasih tahu ke lo."


Arlan memandang ke arah ruang tamu. Tidak ada tanda-tanda bahwa Pak Imam tengah memata-matai mereka. Kejadian di gudang mungkin tidak terdengar sampai ke luar. "Dari kamar orangtua gue, ya?"


Manda mengangguk sekali. "Tapi," dia buru-buru menambahkan, "nggak sopan kalau kita ke sana."


"Kalau lo mau sopan, masalah ini nggak bakal kelar!" Arlan menarik Manda hingga ikut berdiri. "Lo mendekat aja ke kamar orangtua gue. Gue bakalan jaga di depan."


Manda baru membuka mulut untuk protes, tapi Arlan sudah berlalu dari hadapannya. Kalau Manda memanggil Arlan sekarang, ini malah akan menarik perhatian Pak Imam atau orang rumah lainnya. Akhirnya, Manda memutuskan mengikuti rencana Arlan tanpa basa-basi lagi.


Dia berjalan sambil berjinjit menuju ruangan di mana dia mendengar suara-suara itu. Tidak sampai harus membuka pintu kamar itu, Manda sudah bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka teriakkan. Manda terdiam. Dia berdiri mematung dengan telinga terpasang rapat-rapat di daun pintu. Dia berusaha mendengarkan setiap teriakan.

__ADS_1


Manda merasa baru beberapa detik dia berdiri di depan kamar itu, namun sebuah tarikan tangan membuatnya tersadar. "Akting, akting," bisik Arlan, kemudian menyeretnya ke sofa ruang tengah. Manda yang setengah sadar, mengikuti Arlan duduk. "Orangtua gue datang," sambung Arlan.


"Apa nggak aneh kalau kita duduk berdua di sini?" Manda balas berbisik.


Arlan menggaruk dagunya. "Benar juga." Tanpa permisi, Arlan merebahkan kepalanya di atas pangkuan Manda.


"Eh? Eh? Eh?" Manda mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


"Ssst! Turunin tangan lo! Nggak ada yang nodongin senjata!" desis Arlan. Kemudian dia menutup mata, berpura-pura tidur.


Manda masih bingung dengan apa yang terjadi. Sedetik lalu, kepalanya masih merekam semua teriakan dari kamar orangtua Arlan. Namun sekarang, Arlan kembali ke atas pangkuannya dan dia harus pintar bersandiwara di depan orangtua Arlan. Manda tiba-tiba teringat dengan kesan buruk yang telah dia berikan pada orangtua Arlan sebelumnya.


"Arlan!"


Suara Lili terdengar dari arah ruang tamu. Manda menghela nafas panjang, mencoba membuat dirinya sendiri lebih tenang.


"Ar--" Lili berhenti ketika melihat Manda di ruang tengah rumahnya. Lalu matanya berpindah pada Arlan. "Nak?"


"Dia tidur, Tante," jawab Manda. "Arlan sudah tiga hari nggak bisa tidur."


"Lalu, kenapa dia tidur di sana?" Lili sangsi. Tentu saja Manda bisa merasakan bahwa Lili tidak begitu menyambut kedatangannya.


"Arlan merasa nyaman saat bersama saya," Manda menjawab dengan jujur. Dia dapat merasakan rasa panas di pangkuannya. Saat menunduk, wajah Arlan sudah berubah menjadi merah padam.


"Kamu bisa pulang. Biar saya yang merawat anak saya," Lili berjalan mendekati Manda.


"Tunggu, Tante!" pinta Manda. "Biarkan Arlan istirahat. Dia baru saja tidur. Satu jam?"


Lili menggigit bibir bawahnya. Dia dengan jelas menunjukkan wajah tidak suka pada Manda. "Tiga puluh menit," putus Lili, langsung duduk di hadapan Manda.


Manda mengusap bahu Arlan, ingin memberikan kode bahwa Arlan benar-benar bisa kembali tidur sekarang. Lagipula, Manda masih harus berkonsentrasi untuk mendengar apapun yang bisa dia dengar saat ini. Dia tidak punya kemungkinan bisa kembali bertamu di rumah Arlan.


***

__ADS_1


__ADS_2