
Arlan masih berdiri di depan kuburan Dipta. Nisan Dipta tampak indah, bersebelahan dengan nisan kakaknya, Eka. Sekilas, Arlan melihat Oki menatap sinis padanya. Setelah mendengar perkataan Oki, tidak ada gunanya beramah-tamah pada pamannya satu itu. Dia menginginkan kematian Arlan, sama seperti kematian anaknya.
Tidak banyak anggota keluarga yang bercakap-cakap selama pemakanan berlangsung. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tanpa Oki dan Rahayu berceritapun, semua yang hadir tahu penyebab kematian Dipta. Fahmi dan Lili juga tidak bersusah-payah untuk memulai percakapan dengan yang lainnya.
Setelah meletakkan sekuntum bunga mawar putih di atas kuburan Dipta, Arlan berdiri sejenak. Dia tidak berharap orangtua Dipta akan menyambutnya. Arlan hanya ingin diam di hadapan Dipta. Dia melihat masa depannya. Meski Gina mengatakan hal lain, masa depan bisa saja berubah. Arlan mungkin saja berakhir di liang kubur ketika dia genap berusia tujuh belas tahun.
"Apa yang kamu lakukan?" geram Oki. "Apa kamu senang melihat anakku berada di dalam sana?"
"Saya tidak pernah mengatakan hal itu, Oom," jawab Arlan.
"Pergi kamu!" geram Oki. Wajahnya merah padam. Darah sudah memenuhi hingga puncak kepalanya. "Jangan muncul lagi di hadapanku!"
"Mas Oki," Fahmi muncul menengahi. Awalnya, dia duduk saja di kejauhan, menghindari tatapan mata Oki ataupun Rahayu. Dia juga tidak bergeming ketika Arlan mengatakan ingin memberikan bunga untuk Dipta. "Anakku tidak tahu apa-apa."
"Kamu dan anakmu sama saja!" tukas Oki.
"Mas..." Fahmi mendekat, suaranya melembut. Dia tidak mau menarik banyak perhatian, apalagi di saat pemakaman keponakannya. "Kita bicara sebentar."
"Tidak perlu! Pergi kalian!" bentak Oki sambil menunjuk ke arah parkiran mobil.
Fahmi diam sejenak. Mulutnya terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, Lili di belakangnya menyentuh tangan Fahmi dan memintanya agar pergi saja. Memang tidak ada gunanya bicara dengan orang yang sedang naik pitam.
"Arlan, ayo kita pulang!" ajak Fahmi.
Arlan mengikuti Fahmi berjalan menuju tempat di mana mobil ayahnya terparkir. Sebagian dari pelayat sudah pulang. Beberapa di antaranya, paman-paman dan bibi-bibi dari keluarga Arlan yang sudah kehilangan anak mereka, menyempatkan diri berziarah ke makan putra-putri mereka.
Tidak ada remaja di sana.
"Semua telah meninggal," gumam Arlan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
"Seharusnya kamu tidak usah ikut," Fahmi memulai percakapan. Dia menstater mobilnya, menengok ke arah Oki untuk terakhir kali, sebelum menginjak pedal gas. Mobilnya melaju meninggalkan kuburan keluarga mereka.
"Aku sudah terlalu banyak absen dari acara keluarga," jawab Arlan. "Lagipula, aku harus datang kalau ada kematian."
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot. Ayahmu ini masih bisa mengurus semuanya," sahut Fahmi. "Kamu hanya perlu tetap aman di tempatmu."
Arlan ingin melawan perkataan Fahmi, namun saat ini dia tidak memiliki tenaga untuk itu. Dia sibuk memikirkan akhir dari hidup Dipta. Ada kemungkinan dia juga akan mengalami hal yang sama. Larasati bukan lawan yang mudah.
***
"Sepupu lo?" Manda mengulang perkataan Arlan. "Kalau nggak salah, dia itu orang yang cerita masalah keluarga lo yang sebenarnya, kan? Laki-laki berperawakan tinggi?"
Arlan mengangguk. "Tapi, Man. Ada yang aneh. Semenjak gue dapat kabar kalau Dipta meninggal, gue rasa itu janggal. Karena yang harusnya duluan dicabut nyawanya, adalah gue."
"Iya juga. Harusnya lo yang ketemu Larasati duluan," Manda membenarkan.
"Apa mungkin karena itu juga, Oom Oki jadi marah banget sama gue?"
"Marah gimana? Kenapa jadinya marah sama lo, bukan sama Larasati?"
"Dipta yang harusnya meninggal tahun depan, malah meninggal tahun ini. Mungkin, Oom Oki berasumsi kalau gue terlewatkan. Gue lewat berkat jin dari nyokap gue. Atau, gue lewat karena dekat sama Kakek Pareng. Bisa jadi mereka menganggap begitu, kan?"
Manda menepuk keningnya. "Astaga... Gue nggak kepikiran sampai sana," akunya. "Tapi, gue rasa ini cukup mencurigakan."
"Ini pertama kalinya Larasati melompati seseorang, kan? Sebelumnya, dia selalu mencabut nyawa incarannya sesuai urutan. Tapi, Dipta malah meninggal duluan daripada lo."
"Lalu?" Arlan memperhatikan bibir Manda yang semerah delima. Dia mengagumi bagaimana cantiknya wanita yang telah merebut hatinya pada pertemuan pertama mereka.
"Jangan-jangan, bukan Larasati pelakunya."
"Apa?"
"Yaaa... Bisa saja begitu, kan?"
"Mustahil," jawab Arlan. "Siapa lagi yang akan membunuh remaja-remaja dari keluargaku, kalau bukan Larasati?"
Manda terdiam sejenak. Lalu, dia meluncurkan jawaban yang tidak pernah Arlan duga. "Kakek lo?"
__ADS_1
"Untuk apa?" serang Arlan.
"Tujuan utama kakek lo adalah melahap kekuatan yang lo punya. Tapi, dia tidak cukup kuat untuk menembus pelindung rumah. Dan dia terlalu lemah di siang hari."
"Mana mungkin Kakek Pareng membunuh Dipta," Arlan masih menyanggah. Walaupun sudah tahu bahwa kakeknya bukanlah orang baik dan memang mau memiliki kekuatannya, tapi Arlan tidak mau percaya bahwa Dipta dibunuh oleh kakeknya sendiri.
"Hanya itu kemungkinan yang ada di kepala gue," tambah Manda. "Kalau benar kakek lo yang membunuh Dipta, semuanya jadi masuk akal. Larasati tidak ikut campur mengenai terbunuhnya Dipta."
Arlan menunduk lesu. Baginya, perkataan Manda terdengar masuk akal. Larasati tidak pernah sekalipun melompati urutan buruannya. Dipta yang meninggal duluan membuat Arlan berpikir dua kali.
"Gue pernah dengar tentang cerita memakan daging manusia agar memiliki kekuatan lebih. Tapi gue nggak begitu yakin tentang itu."
"Apa mungkin Kakek Pareng melakukan itu, supaya punya kekuatan untuk menembus perlindungan rumah gue?" Arlan bicara pelan, namun masih bisa Manda dengar dengan jelas. "Selama ini, Kakek nggak bisa masuk. Tapi, sepertinya sekarang dia tergesa-gesa, karena ulang tahun gue sudah semakin dekat. Dia mau membunuh gue sebelum Larasati yang melakukannya?"
"Jika Dipta saja jadi korban, artinya ada orang lain yang juga menjadi tumbalnya," sambung Manda.
"Benar. Nggak mungkin hanya dengan satu orang, Kakek jadi kuat begitu saja. Apalagi dia buru-buru. Pastinya sudah banyak korban."
Manda memandang Arlan untuk sekian detik. "Mau dicari juga?" tanya Manda.
Arlan menghela nafas panjang. Belum selesai masalah tumbal yang dilakukan kedua orangtuanya, sekarang sudah ada masalah baru lagi. "Sepertinya bakalan susah dan butuh waktu lama. Gue sendiri nggak tahu di mana Kakek gue sekarang."
"Lo ingat teman-teman Nanda kemarin? Sepertinya mereka bisa bantu."
"Mereka tidak bekerja secara gratis, kan?" tanya Arlan.
Manda menggeleng. "Memang tidak."
"Apa yang Nanda tawarkan?"
"Tanya sendiri sama Nanda. Itu urusannya. Sampai sekarang, gue juga nggak tahu apa yang buat mereka setia begitu sama Nanda. Dia nggak pernah mau cerita. Tapi, yang gue yakini, aura teman-temannya sejuk. Mereka terikat pada hal baik satu sama lain," jelas Manda.
"Kalau begitu, gue akan diskusi sama Nanda masalah ini sepulang sekolah nanti. Gue juga akan menawarkan kesepakatan jika itu perlu. Lo temenin gue, ya?"
__ADS_1
"Manja!"
***