TUMBAL

TUMBAL
Bakat yang Harus Dipendam


__ADS_3

Manda terjatuh ke lantai setelah bunyi ledakan terdengar. Tangan Pareng yang mencengkram lengannya, masih berada di sana. Kuku-kuku tajam Pareng menggores kulit Manda hingga terluka. Ketika Manda menoleh ke belakang, tangan dan lengan pareng terpisah. Darah hitam menetes dari tangan Pareng yang terpotong.


"GAAAAAAAAAARRRGGHHH!!!" erangan itu menggema sangat keras. Erangan memilukan yang bisa membuat siapapun yang mendengar menangis.


Nanda yang tadi tiarap karena bunyi ledakan, mengintip dari lengannya untuk melihat apa yang terjadi. Betapa kagetnya Nanda ketika melihat tubuh Pareng yang tidak utuh lagi. Sebagian lengan kirinya putus. Perutnya berlubang. Darah hitam menyembur dari lengan dan perutnya. Jika Pareng adalah manusia biasa, pastinya dia sudah ambruk dan mati. Sayangnya, Pareng bukanlah lawan yang mudah untuk dikalahkan. Setelah erangan panjang, dia kembali mencari mangsa di sekitarnya. Beberapa hantu sudah menghilang karena aura hitam mengerikan yang terpancar dari tubuh Pareng.


"Diam kau!" geram Arlan. Matanya berubah menjadi hitam kelam. Kilatan dari mata itu membuat Nanda bergidik ngeri. Nanda tahu, ada yang salah dengan diri Arlan. Dengan langkah terseok-seok, Nanda dengan cepat menghampiri Manda.


"Arlan dalam bahaya," ujar Manda begitu Nanda tiba di hadapannya.


"Gue juga merasakan ada aura aneh dari diri Arlan," jawab Nanda. "Kita harus menghentikannya."


"BERHENTI!!!"


Seruan Arlan membuat Nanda dan Manda saling berpelukan untuk saling melindungi. Suara Arlan berubah menjadi geraman menyeramkan. Manda memejamkan matanya erat-erat, takut dengan apa yang akan dia lihat. Namun Nanda mencoba memberanikan diri menyaksikan apa yang terjadi.


Arlan berjalan cepat ke arah Pareng yang tengah melahap sesosok hantu yang ada di dapur. Hantu dengan tubuh kurus yang selama ini hanya berdiam diri di sana, bahkan hantu itu tidak mengganggu Arlan dengan penampakan menyeramkan.


Dengan cepat, tangan Arlan menggapai betis Pareng. Pareng yang sadar ada genggaman kuat di kakinya, menunduk memandang Arlan untuk sekian detik. Merasa Arlan adalah ancaman, Pareng mencoba mengibaskan kakinya. Tetapi, kakinya tidak berkutik. Arlan menggenggamnya sekuat tenaga.


KRAK!


Nanda menutup mata ketika Arlan mematahkan kaki Pareng. Meskipun Pareng adalah monster yang harus mereka kalahkan, melihat kakinya terlipat seperti cucian kering membuat Nanda mual.


"AAAARGGHHH!!!" teriak Pareng terdengar pilu.


"Ternyata kau masih bisa merasa sakit?" tanya Arlan. Tangannya masih ada di posisinya, siap melipat kaki Pareng sekali lagi.


"Arlan! Cukup!" seru Manda dari jauh.

__ADS_1


KRAK!


"GRAAAAAAAAGGHHH!!!"


Bisa dipastikan bahwa kaki Pareng sudah hancur. Meski memakan beberapa hantu lagi, mustahil Pareng bisa kembali seperti semula dalam waktu singkat.


"Arlan!" seru Nanda. Namun, Arlan tidak menunjukkan bahwa dia mendengar panggilan Nanda.


"Ada apa sama Arlan?" tanya Manda. Dia menoleh ke arah Pareng dan memekik pelan saat melihat kondisi Pareng.


"Ada yang salah sama Arlan," jawab Nanda. "Gimana sekarang? Kita harus apa?"


Manda tidak menjawab. Dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika keadaan seperti ini. Ini adalah kali pertamanya menghadapi hal ini.


"AAAGH!" Pareng melayangkan pukulan membabi buta ke arah Arlan. Tepat sedetik sebelum serangan Pareng mengenai Arlan, sebuah pelindung berwarna kuning keemasan menyelimuti diri Arlan. Tidak seperti tampaknya yang terlihat tipis, ternyata pelindung itu cukup kuat untuk menahan serangan Pareng. "AAAAAGGHHH!!!" Pareng tidak menyerah. Dia terus melancarkan pukulannya.


"Nanda, hentikan Arlan! Dia aneh! Auranya berubah!" pinta Manda.


Tanpa berpikir panjang, Nanda bangkit lalu berlari ke arah Arlan. "Arlan! Stop!" serunya, sambil mencoba meraih tangan Arlan.


PHANGGG!!!


Nanda terpental hingga sejauh tiga meter dengan bunyi debam keras. Manda berlari menghampiri Nanda dengan wajah panik. "Nanda! Nanda!" Manda menarik Nanda yang diam ke dalam pelukannya. "Nan! Bangun!"


"GHHHHAAAAARRRGGHH!!!"


Manda mendongak, melihat tangan Pareng terpisah dari bahunya. Arlan terkekeh, seolah menikmati apa yang dia lakukan. Bulu kuduk Manda langsung berdiri melihat keadaan Arlan kala itu.


"Tidak... Ini salah..." gumam Manda. Air mata mulai menetes membasahi pipinya. Dia tidak lagi merasakan sakit di punggungnya yang mulai kebas. Manda hanya berharap, ada sesuatu yang bisa menghentikan Arlan sekarang.

__ADS_1


Sebuah sentuhan lembut mendarat di pundak Manda yang gemetar. Manda bisa merasakan aliran rasa nyaman dari tangan itu, tangan yang selama ini selalu membantunya dalam segala kondisi sulit.


"Ibu!"


Gina tersenyum, mencoba menenangkan anaknya. "Ibu akan selesaikan ini," jawabnya.


Manda tidak bisa menjawab. Suaranya tertelan isak tangis. Rasa syukur dan lega bercampur aduk di dalam dadanya. Manda menjadi bisa melindungi Nanda yang tidak sadarkan diri, sementara Gina membuat Arlan kembali sadar.


Gina mendekati Arlan dengan langkah yang hampir tidak terdengar. Wajahnya datar, meneliti setiap gerakan Arlan. Jeritan kesakitan dari Pareng, tidak membuat Arlan berhenti. Arlan mencabik-cabik tubuh Pareng sedikit demi sedikit. Pareng yang berusaha melawan, kalah dengan ilmu kebal milik Arlan.


Gina menarik nafas panjang, lalu mengibaskan tangannya bersamaan dengan satu doa. Pareng terhempas, jauh dari Arlan. Kemudian Gina membacakan doa lainnya, membuat lilitan tali keemasan membelenggu tubuh Pareng. Untuk sementara, dia tidak akan bisa kabur.


Arlan yang melihat lawannya direbut, menoleh cepat ke arah Gina. Mata hitamnya mendelik, kesal. Gina tahu bahwa itu bukanlah Arlan yang dia kenal. Arlan berlari kencang menghampiri Gina. Seakan sudah tahu gerakan yang Arlan akan ambil, Gina sudah berpindah tempat, tepat ke belakang Arlan. Detik berikutnya, Gina mengusapkan tangannya pada mata Arlan.


Arlan kehilangan kesadarannya. Dia ambruk ke tanah. Suasana rumah yang hancur karena perkelahian menjadi hening. Terdengar suara isak tangis Manda dari kejauhan.


Gina memandang ke sekitar. Dia tidak bisa berbohong bahwa dirinya tidak merasa panik melihat keadaan. Kedua anaknya yang meminta izin padanya untuk mampir ke rumah Arlan sepulang sekolah beberapa jam lalu, tiba-tiba berada di dalam situasi seperti ini. Apalagi Gina tahu kalau kedua anaknya belum berpengalaman dalam hal ini. Andai saja tadi Gina tidak berinisiatif mampir ke rumah Arlan untuk mengecek keadaan, pastinya Arlan sudah tidak bisa dia selamatkan.


"Bu... A-Arlan nggak apa-apa?" tanya Manda saat Gina menghampirinya.


Gina tidak langsung menjawab, tetapi berlutut di sebelah anak laki-lakinya yang tidak sadar. Dia mengusap wajah Nanda penuh sayang. Rasa bangga terulas dari senyuman simpul di wajahnya. "Semuanya tidak apa-apa sekarang," jawab Gina. "Maaf, Ibu datang terlambat."


Manda cepat-cepat menggeleng. "Kami juga nggak tahu kalau pelindung rumah ini akan hancur secepat ini."


"Uuuugghhh!" Nanda yang ada di pangkuan Manda tiba-tiba saja mengerang dengan suara pelan. Dia membuka matanya perlahan, kemudian ingat apa yang tadi terjadi padanya. "Buset!!!" serunya dan langsung bangkit. "Ibu!?" Nanda kaget melihat kehadiran Gina di tengah situasi ini.


"Tidurnya nyenyak?" tanya Gina.


***

__ADS_1


__ADS_2