TUMBAL

TUMBAL
Rehat


__ADS_3

Arlan terbangun karena sentuhan lembut di kepalanya. Dia mengerjap cepat, menyesuaikan matanya dengan sinar di sekitar. Kepalanya pusing, membuatnya sedikit mual. Bau obat langsung memenuhi paru-parunya. Butuh waktu beberapa detik untuk sadar di mana dirinya berada sekarang.


"Pusing, Nak?" tanya Gina yang melihat Arlan memegang kepalanya ketika mencoba duduk.


"Lo nggak apa-apa?" suara Nanda terdengar dari sebelah. Arlan menoleh dan mendapati Nanda terbaring di sebelah ranjangnya. "Hebat juga lo seharian nggak bangun-bangun," tambah Nanda.


Arlan memalingkan pandangannya pada Manda yang duduk miring di sofa dekat jendela. Wajahnya yang terpapar sinar matahari tampak sangat cantik. "Apa lo lihat-lihat?"


"Judes amat, Neng?" goda Gina sambil tersenyum kecil.


Mata Arlan terpancang pada kemeja longgar yang Manda kenakan. Terlihat perban melilit di bahu kecilnya. Hal terakhir yang dia ingat adalah cakaran Pareng yang mengenai punggung Manda. "Gue bisa sembuhkan luka lo," kata Arlan.


"Tidak sekarang," jawab Gina. "Kamu baru bangun. Nanti malam saja."


"Padahal gue yang paling parah di sini," keluh Nanda sambil mendengus. "Lihat, nih! Gue sampai nggak bisa bangun. Ada empat tulang rusuk gue yang patah."


Arlan mengernyit. Dia tidak mengingat apapun setelah Pareng menangkap Manda. "Apa Pareng--"


"Bukan," sahut Nanda cepat. "Lo yang buat gue kayak begini."


"Gue?" Arlan menjadi bingung.


"Rupanya benar, kamu tidak ingat kejadian semalam," Gina melanjutkan.


Arlan tidak membuka mulutnya dalam waktu yang lama. Memang benar bahwa dia tidak mengingat apa yang terjadi. Saat melihat Manda terluka, Arlan seolah kehilangan kesadaran. Dia sendiri kaget karena terbangun di rumah sakit, sekaligus merasa menyesal karena tidak bisa melindungi Manda dan Nanda sebagaimana mestinya.

__ADS_1


"Tidak apa. Itu bukan salah kamu," Gina berkata. Dia memandang Arlan dengan tatapan lembut seperti biasanya. Bola mata Gina yang sama persis seperti bola mata Manda, membuat Arlan menjadi tenang. "Sebenarnya, banyak bakat yang ada di dalam diri kamu. Ada kekuatan kebal diri, penyembuhan, dan satu lagi adalah kemampuan bertarung. Kalau diasah semuanya, sebenarnya kamu bisa jadi dukun yang sakti mandraguna."


"Ibu mau asah semua kemampuan Arlan?" tanya Nanda.


Gina menggeleng pelan. Dia tidak melepas pandangannya dari Arlan. "Tidak semua bakat harus diasah. Ada satu atau dua bakat yang malah akan membuatmu lupa diri dan celaka."


Nanda dan Manda saling melempar pandangan. Mereka seolah mengerti dengan apa yang ibu mereka katakan. Namun, tidak ada yang bicara. Semua diam, menunggu Gina menjelaskan lebih lanjut.


"Dari cerita yang Manda dan Nanda katakan, kamu tiba-tiba berubah seolah menjadi orang lain ketika melihat Manda terluka, ya?" tanya Gina, memastikan kebenaran cerita anak-anaknya.


Arlan menunduk. Kilasan kejadian semalam masih membekas dengan jelas di kepalanya. Dia juga masih mengingat bagaimana punggung Manda mengeluarkan banyak darah setelah tergores cakar Pareng. "Iya. Waktu itu saya bisa merasakan amarah yang luar biasa."


"Lalu, apa yang terjadi?"


Gina mengangguk, mengerti dengan keadaan mereka. "Jadi, alam bawah sadar kamu menguasai dirimu sewaktu kamu merasa terancam atau berada dalam bahaya. Sayangnya, hal itu seperti bagian 'jahat' dalam dirimu. Sama seperti amarah yang menumpuk sekian lama, lalu tiba-tiba meledak."


"Itu berbahaya?"


Gina mengangguk ke arah Nanda. "Itu yang terjadi ketika kamu lupa diri. Kamu tidak tahu mana lawan, mana kawan. Begitu kamu menargetkan sesuatu, hal lainnya hanya akan kamu anggap sebagai pengganggu." Gina menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Jadi, ya... Itu berbahaya."


"Makanya Ibu hanya mengajarkan Arlan cara melindungi dan menyembuhkan diri?" tanya Manda.


Gina mengangguk membenarkan. "Ibu tidak menyangka bahwa lawan kalian semalam akan sekuat itu hanya karena memakan sesamanya. Tapi jelas, Arlan lebih kuat. Kemampuannya bertarung jika digabungkan dengan kemampuannya melindungi diri, tidak akan ada tandingannya. Namun, itu juga berarti tubuh Arlan diambil alih oleh kesadaran yang lain."


"Apa yang akan terjadi kalau Ibu nggak datang semalam?" tanya Nanda.

__ADS_1


"Mungkin tidak akan berlangsung lama, karena ini baru pertama kalinya tubuh Arlan diambil alih. Namun, lama-lama, meski itu adalah kemampuan yang luar biasa, Arlan yang ada saat inilah yang akan 'tertidur'," jawab Gina, membuat bulu kuduk Arlan meremang.


Jelas saja Arlan tidak tahu bahwa dirinya memiliki sisi berbahaya seperti itu. Lalu, ancaman bahwa dirinya yang sekarang bisa tergantikan dengan dirinya yang lain, makin membuat Arlan ketakutan. Arlan melirik Manda untuk kesekian kalinya. Dia merasa bersalah. Detik itu, dia menjadi takut jika Manda harus menghadapi hal serupa seperti kemarin lagi.


"Lo tenang aja. Gue nggak akan lari," celetuk Manda. Rupanya dia sadar dengan kekhawatiran yang Arlan rasakan. "Gue sudah terlanjur basah. Mana mungkin gue ninggalin teman dalam kesulitan."


"Mungkin maksud lo, 'calon suami'?" goda Nanda sambil cekikikan.


Manda mendelik kesal pada Nanda. Namun, kenyataan bahwa tidak ada sanggahan dari mulut Manda sendiri, membuat Arlan tersenyum lebar. Arlan beralih pada Gina yang duduk di samping ranjangnya. "Apa yang seharusnya saya lakukan?"


"Kendalikan dirimu!" perintah Gina. "Untuk menolongmu, Ibu sudah membagikan peran pada kalian. Nanda adalah yang paling kuat dalam keadaan sadar. Dialah yang akan bertarung. Lalu Manda akan ada di sampingnya sebagai pelengkap. Gerakan kalian akan sinkron karena kalian memiliki rasa yang sama sebagai anak kembar. Dan kamu, Arlan, lindungi mereka. Apapun yang terjadi, jangan biarkan amarahmu menguasai. Tugasmu adalah melindungi. Maksimalkan hal itu."


"Tapi, terkadang ada hal yang diluar dugaan, Bu," jawab Nanda.


"Ya. Ibu akui hal itu," ujar Gina. "Tapi, kalian bertiga. Kalian memiliki tiga kepala yang bisa berpikir. Sementara musuh kalian hanya satu kepala dan tujuannya sudah jelas. Meski akan terluka, kalian pasti mampu menghadapi hal ini. Percayalah pada satu sama lain. Kalian yang memilih jalan ini."


Arlan, Manda, dan Nanda saling bertukar pandangan. Walaupun ada rasa takut di hati kecil mereka, namun rasa itu kalah dengan kepercayaan diri mereka. Siap tidak siap, Manda dan Nanda sudah berjanji untuk membuat Arlan tetap hidup. Arlan juga tidak menerima bantuan secara cuma-cuma. Dia memiliki tanggung jawab dua nyawa lain di tangannya.


"Hari ini, tenangkanlah diri kalian," Gina berdiri dari duduknya. Dia berjalan ke arah jendela dan memberi isyarat agar Manda bangun dari sofa. "Arlan, kamu yang harus lebih cepat pulih dari yang lain. Jadi, kamu bisa menggunakan kekuatan penyembuhmu untuk Manda dan Nanda." Gina duduk di tempat Manda duduk sedetik lalu. "Manda, duduklah di samping Arlan! Biarkan dia tidur selama mungkin tanpa ada mimpi buruk."


Manda menurut saja apa perintah Gina. Arlan harus pulih secepat mungkin. Waktu mereka tidak banyak sampai hari di mana Larasati akan muncul. "Tidurlah!" kata Manda sembari duduk di sebelah Arlan.


'Dua hari lagi...' batin Arlan sambil menutup matanya kembali, meski sulit baginnya untuk terlelap setelah percakapan panjang dengan Gina.


***

__ADS_1


__ADS_2