TUMBAL

TUMBAL
Part 6 : Jebakan!


__ADS_3

Siang ini, Aminah membereskan pakaian yang berceceran di lemari. Aneh. Tumpukan baju Andi terlihat berantakan padahal tak pernah disentuh semenjak kematiannya.


Aminah melipat ulang baju itu dan menyusunnya. Hingga tiba saat ia melipat sebuah baju dan celana dengan motif yang sama : Captain America.


Bahu Aminah bergetar. Rasa sakit kembali menusuk jantung, menorehkan pedih yang tak terhingga. Dikecupnya lembut baju berwarna biru itu. Ini adalah satu-satunya baju yang mampu dibeli Aminah saat lebaran Idul Fitri tahun lalu. Itupun setelah menabung berbulan-bulan lamanya.


Sekarang, baju dan celana itu pun sudah pudar warnanya. Ini adalah baju favorit Andi. Aminah masih ingat betul kebiasaan anaknya itu. Setiap kali baju ini baru di angkat dari jemuran, maka Andi akan langsung memakainya sambil melompat-lompat kegirangan.


"Ibu kangen kamu, Nak."


Aminah menangis tersedu-sedu sambil memeluk helaian baju itu. Terbayang wajah Andi saat pertama kali memakai baju ini. Senyumnya yang lebar dan celotehnya yang riang. Ia juga ingat wajah memelas putranya yang hampir menangis, saat memohon agar bisa memakai baju ini yang masih tergantung basah di tiang jemuran.


"Buk."


Aminah sontak berhenti menangis. Ia menyeka air mata sambil memandang sekeliling kamar. Ia tadi mendengar suara itu dengan jelas. Suara Andi memanggil dirinya.


"Buk."


Aminah menoleh saat ujung lengan kanan bajunya ada yang menarik. Aminah melotot kaget melihat Andi telah duduk di sampingnya. Tubuhnya yang mungil itu dipenuhi luka bakar.


"Andi? Apa ini benar kamu, Nak?" Aminah ingin memeluk Andi, tapi bocah itu perlahan mundur.


"Buk. Bilangin Bapak. Jangan dekat-dekat sama Papa Kak Bima. Dia orang jahat!"


"Bima? Bima siapa, Nak?"


Andi tak menjawab, ia hanya tersenyum. Tubuhnya lalu memudar dan segera hilang dari pandangan.


"Andiiiiiiiiii," jerit Aminah histeris. Ia terus meneriaki nama anaknya, tapi Andi tak muncul kembali.


Aminah terduduk lemas di samping lemari. Ia memandangi baju bergambar Captain America dengan pikiran tak karuan. Ia teringat dengan pesan yang sempat ditinggalkan sang anak sebelum menghilang.


"Papa Kak Bima? Tapi, siapa itu Bima?"

__ADS_1


***


Di saat yang sama, Pak Yanto menyeret satu karung besar, menimbulkan beberapa bekas gesekan di lantai. Ia membawa benda itu menuju ruang keramat di rumahnya. Pak Yanto membuka pintu sambil melirik kiri dan kanan, memastikan tak ada orang disekitarnya.


Ia lalu menyeret karung itu ke dalam. Bau apek yang sangat menyengat kembali tercium mengusik hidung. Pak Yanto meletakkan karung itu di tengah-tengah ruangan.


Meskipun dalam keadaan gelap, pria itu tak kesulitan untuk membuka karung dan mengeluarkan isinya yang dibalut kain hitam. Pak yanto lantas membuka lapisan kain itu, dan mulai tercium bau amis darah yang dengan cepat menyeruak memenuhi ruangan.


"Ini saya persembahkan kepala kambingnya," teriak Pak Yanto sembari berlutut.


Cettttaaaaaarrrrrr!!!


Aaaarrggghhhh ....


Pak Yanto mengerang saat sebuah cambukan mendarat di punggungnya. Cambukan kasar itu menembus baju kemejanya dan terasa amat menyakitkan hingga ke tulang.


Cettttaaaaaarrrrrr!!!


Belum hilang rasa sakit atas cambukan pertama, ia kembali mendapatkan cambukan kedua yang membuat luka berbentuk silang di punggungnya.


"Kau tahu apa salahmu, Yanto?" Sebuah suara mengerikan dan menggelegar membuat bulu kuduk Pak Yanto meremang. Ia bahkan bisa merasakan ada air liur yang menetes-netes di bahunya, terasa agak lengket dan berbau busuk.


"Iya, maaf. Saya terlambat memberikan sesembahan kepala kambing ini."


"Baiklah. Kali ini kau kuampuni. Lain kali, kalau sampai kau lupa memberikan kepala kambing lagi, aku akan mengambil kepalamu sendiri sebagai gantinya."


"Baik. Terima kasih. Saya tak akan lupa lagi," tegas Pak Yanto dengan nada gemetar dan ketakutan.


Pak Yanto lalu buru-buru keluar dari kamar angker itu. Setelah mengunci pintu, ia menuju kamar tidur dengan tergesa-gesa. Pak Yanto membuka bajunya dan bercermin di depan kaca besar.


Sesuai dugaan, di punggungnya kini ada sebuah tanda X besar yang menyilang dari bahu hingga ke pinggang. Pak Yanto meringis menahan sakit karena luka itu begitu dalam menembus tubuhnya.


"Sialan! Gara-gara sibuk memikirkan janin aku sampai lupa memberikan sesembahan," gerutunya sambil menahan sakit.

__ADS_1


Pak Yanto bertekad, tak perduli apapun resiko yang akan dihadapi, janin itu harus ia dapatkan sesegera mungkin. Sebelum hal yang jauh lebih buruk terjadi pada dirinya.


***


Seharian ini di toko, Agus kembali memikirkan pertemuannya dengan Junaidi. Jujur, Agus diam-diam mengagumi sikapnya yang ramah. Dia juga sempat dibuat kebingungan, karena tadi Junaidi mengatakan bahwa dirinya berbeda.


"Apa maksudnya berbeda?" gumam Agus penasaran sambil membereskan barang-barangnya, beranjak hendak pulang. "Besok aku akan pergi lagi saja ke sana dan mengajak Rudi. Dia pasti juga sedih karena Imam meninggal. Mungkin dia dan Bang Junaidi juga bisa berteman," ucapnya riang.


Kalau biasanya setiap pulang kerja Agus selalu menyempatkan untuk ngobrol dengan rekan-rekan kerja lain, hari ini ia memilih untuk melewatkannya dan pulang lebih dulu. Kematian Imam membuat Agus sedang tak ingin bercanda.


Terlebih lagi hari ini ia sudah berjanji pada Aminah untuk pulang sedikit lebih awal. Mereka akan pergi jalan-jalan ke taman karena Istrinya itu sejak semalam ngidam ingin makan bakso.


Agus berjalan penuh semangat menuju gerbang hingga tak menyadari bahwa sejak tadi ada orang yang memanggil-manggil namanya.


"Gus, Agus," panggil Pak Yanto sambil berlari mendekat ke arah Agus. "Kamu sudah mau pulang?"


"Iya, Pak," jawab Agus sopan sambil sedikit menunduk.


"Oh iya, ini kebetulan saya ada lebih satu ayam goreng. Tadi dikasih sama pelanggan. Ambillah, untukmu saja." tawar Pak Yanto pura-pura ramah.


"Tidak, Pak. Tidak usah," tolak Agus lembut.


"Tak apa, Gus. Rezeki tak boleh ditolak," ujar Pak Yanto memaksakan tersenyum. Lalu dengan setengah memaksa ia memasukkan sepotong ayam goreng itu ke dalam kantong yang di bawa Agus.


'Bawalah pulang ayam goreng itu, Agus. Ayam goreng paha untuk istrimu tercinta,' batin Pak Yanto sambil tertawa jahat dalam hatinya.


Bersambung


***


**Terima kasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa vote dan komennya juga, ya.


Facebook : Affrilia

__ADS_1


Instagram : @afrilia_athaara**


__ADS_2