
Arlan, Nanda, dan Manda dilatih oleh Gina secara terpisah, untuk mempersiapkan masing-masing orang melawan Larasati ataupun Kakek Pareng. Karena Arlan tidak bisa terlalu sering ke rumah Gina, Ginalah yang membawa Arlan ke alam lain. Tentu saja, melakukan tindakan berbahaya seperti ini, tidak mungkin dilakukan saat Arlan ada di rumah yang tanpa pengawasan. Apapun bisa terjadi ketika jiwa Arlan keluar dari tubuhnya.
Manda menghela nafas panjang. Dia duduk di kursi belakang mobil Arlan, lalu membiarkan Arlan tertidur di pangkuannya. Pak Imam yang melihat itu, tidak bisa berbuat banyak. Pak Imam hanya tahu bahwa Arlan kurang tidur dan hanya Manda yang dapat membuatnya tidur lelap. Dia tidak akan terkena masalah selama bisa berada di dekat Arlan.
Tidak jauh dari mobil Arlan, Nanda mengawasi dengan ketat secara diam-diam. Bagaimanapun, Nanda masih jauh lebih kuat daripada Manda, meski mereka memiliki guru yang sama. Nanda tidak melepaskan perhatiannya sedetikmu dalam menjalankan tugas mengawasi mobil Arlan. Apalagi, adiknya turut serta di sana.
Hari demi hari berlalu. Latihan itu terasa semakin berat untuk ketiga remaja itu. Namun, Arlan merasa lebih segar karena raganya dapat beristirahat dengan baik selama bersama Manda. Orangtua Arlan bukannya tidak menyadari bahwa anaknya semakin cerah belakangan ini. Hanya saja, Pak Imam sudah melaporkan apapun yang Arlan lakukan selama tidak di rumah.
"Mama nggak nyaman sama anak yang bernama Manda." Lili menyuguhkan secangkir kopi pada suaminya.
Mereka tengah duduk di ruang tengah sambil mengistirahatkan diri setelah bekerja seharian. Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Fahmi maupun Lili tidak bisa langsung tertidur malam itu begitu mereka tiba di rumah. "Manda? Anak gadis yang katanya mau bantu Arlan?" tanya Fahmi.
"Iya. Anak yang kita temui di rumah sakit."
"Hahahaha! Lalu, apa yang sudah anak itu lakukan? Bukankah Pak Imam mengatakan dengan jelas, bahwa gadis itu cuma mampu membuat Arlan tidur nyenyak selama dua sampai empat jam? Lalu, Arlan kembali ke rumah dengan selamat."
"Tapi..."
"Arlan itu anak kita, Ma," Fahmi menegaskan. "Tidak ada yang bisa menjaganya selain kita. Meski harus dengan jalan ini, kita pasti berhasil menjaganya sampai ulangtahunnya yang ketujuh belas terlewati."
"Lalu, kalau sudah lewat, apa ada jaminan bahwa Arlan akan selamat?" tanya Lili.
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan garis keturunan kita terputus. Meski harus melawan Ayah sekalipun," suara Fahmi terdengar seperti geraman. "Dasar anak durhaka! Sudah mati, tetap saja membuat masalah!"
Lili diam sejenak. Untuk sesaat, dia tidak mengerti dengan perkataan suaminya. Setelah beberapa detik berlalu, barulah Lili sadar. "Aku belum mendengar cerita lengkapnya. Apa yang dikatakan Mbah Santoso? Kenapa jin yang selama ini menjaga Arlan, tiba-tiba hilang?"
"Jiwa Indah tidak sepenuhnya berhasil dilahap oleh jin itu ketika aku membuatnya menjadi persembahan. Sisa jiwanya itu, dia gunakan untuk melawan jin itu ketika mereka bertemu."
"Padahal itu adalah jin kuat yang sudah kita pilih sendiri," gumam Lili, menyayangkan kepergian jinnya.
__ADS_1
"Jadi, Mama dan Papa lebih sayang sama jin itu ketimbang darah daging sendiri?" suara Arlan tiba-tiba muncul di ruang tengah, membuat Fahmi dan Lili menoleh kaget. Fahmi bahkan sampai menjatuhkan cangkir kopinya, membuat karpet beludru bernilai jutaan rupiah basah dengan noda hitam. Arlan yang keberadaannya telah diketahui ayah dan ibunya, memilih turun dan bergabung dengan mereka. Rasa ngeri saat mendengar cerita Fahmi dan Lili, berubah menjadi amarah waktu Arlan mendengar nama Indah disebut.
"Sa-Sayang, ini bukan seperti yang kamu kira," sanggah Lili.
"Hahahaha! Mama kira, aku ini anak kecil yang bisa Mama bohongi dengan alasan seperti itu!?" jerit Arlan.
"JANGAN BERTERIAK PADA IBUMU!" seru Fahmi.
"Atau apa?" Arlan menantang. "Papa akan menebasku dengan pedang pajangan di ruang kerja Papa? Seperti yang Papa lakukan pada Indah?"
"Arlan..." Fahmi terdengar memohon.
"Apa sampai sekarang pun, Papa dan Mama tetap tidak mau bicara?" desak Arlan. "Aku sampai tahu sejauh ini. Aku harap, aku tahu hal lainnya juga dari mulut orangtuaku sendiri."
Fahmi dan Lili saling bertukar pandang. Lili memohon tanpa suara agar Fahmi memberitahu Arlan tentang apa yang terjadi. Cepat atau lambat, Arlan akan tahu semuanya. Memang tidak ada gunanya lagi menutupi hal ini.
"Dari mana sampai mana yang kalian lakukan?" tanya Arlan.
Lili menelan ludah dengan susah payah. Dia ingin menceritakan semuanya pada Arlan, sekaligus tidak ingin dibenci oleh anaknya. "Seperti yang kamu tahu..." Lili bicara lambat-lambat. "Indah..."
"Indah sudah kalian korbankan untuk jin pelindungku," Arlan menyelesaikan dengan satu helaan nafas. Ada rasa nyeri tertusuk yang dia rasakan ketika menyelesaikan kalimat itu. Arlan tidak akan pernah lupa, bagaimana Indah mengorbankan sisa jiwanya untuk melepaskan Arlan dari jin yang telah memangsanya.
"Ya... Benar..." Lili mengakui tanpa banyak alasan lagi. "Kami harap, jin itu akan selalu kuat sampai kamu berusia tujuh belas tahun dan dapat melindungi kamu dari Larasati. Tapi, di luar dugaan, Kakek Pareng ternyata juga mengincarmu."
"Kami tahu hal itu sebelum kakek kamu memutuskan untuk pergi," tambah Fahmi. "Sore hari sebelum kakek kamu pergi, kami menyudutkannya untuk mengaku bahwa selama ini dia ingin memangsa jiwa kamu. Kami ingin tahu apa alasannya, tapi sampai akhir, dia bungkam."
"Aku punya ilmu kebal," aku Arlan.
Fahmi dan Lili menoleh cepat, kaget dengan pengakuan yang dibuat Arlan. Mereka melemparkan pandangan tidak percaya pada Arlan. Namun, Arlan membalas tatapan mereka tanpa ragu. Tidak ada candaan dalam raut wajahnya. Seakan menemukan jalan keluar, Fahmi dan Lili tiba-tiba mengerti apa alasan Pareng ingin memangsa jiwa Arlan.
__ADS_1
"Katanya, bakat ini bisa saja menurun dari Kakek," ujar Arlan. "Aku nggak pernah belajar hal-hal seperti ini. Jadi, ini adalah bakat alami."
"Hahahahaha!" Fahmi terbahak. "Itulah alasan Ayah sangat menyukai Arlan! Arlan berbakat! Bakat yang aku tidak miliki, meski aku mencoba untuk belajar seperti kemauannya!"
Tangan Arlan mengepal. Dia merasa sangat kesal pada ayahnya yang bisa-bisanya masih sempat tertawa di dalam situasi seperti ini. "Lalu, apa lagi yang kalian lakukan?" Arlan mengalihkan pembicaraan, sebelum orangtuanya berubah pikiran.
Lili melirik takut pada Fahmi sebelum menjawab. "Kami menumbalkan beberapa anak kecil lagi untuk jin pelindungmu."
Arlan sudah hampir kehilangan kewarasannya ketika ibunya sendiri berkata demikian. Dia tidak menyangka, orang yang selama ini dia kenal sangat lembut dan juga perhatian padanya, ternyata adalah monster bertubuh manusia. "Bagaimana bisa kalian--" Arlan tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak bisa. Dia harus menahan amarah dan air mata yang sebentar lagi akan meledak.
"Semua demi dirimu," tukas Fahmi. "Rumah ini pun, kami berikan perlindungan untuk membuatmu aman!"
"Dengan menumbalkan apa?" sambar Arlan.
Fahmi tidak bergerak dari duduknya. Matanya tidak berkedip, hanya membalas pandangan Arlan lurus-lurus. "Manusia adalah tumbal yang paling kuat untuk bangsa jin. Mereka akan menuruti apapun permintaan kita nantinya."
"Sampai kapan kalian akan melakukan hal ini?" suara Arlan berubah menjadi pelan. Arlan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Sampai Larasati tidak mengganggu lagi," jawab Fahmi.
"Dia tidak akan berhenti sebelum aku mati," Arlan mengoreksi. "Kenapa kalian tidak mencoba melawan saja?"
Fahmi dan Lili bertukar pandang lagi. "Kamu kira, kami tidak mencoba?" Fahmi balik bertanya. "Walaupun aku tidak mempunyai kekuatan dalam ilmu hitam, aku punya banyak teman yang ahli dalam hal ini. Mereka sudah mencoba menemukan Larasati, bahkan menjaga anak dari keluarga kita yang akan berusia tujuh belas tahun. Tapi, usaha itu selalu gagal. Larasati dengan liciknya dapat mencari celah dan membunuh yang ingin dia bunuh."
Arlan bersandar ke belakang. Kali ini, dia yakin bahwa orangtuanya tidak layak untuk diajak bekerja sama. Dia tidak ingin tercebur ke dalam tindak kriminal dan ilmu hitam yang orangtuanya lakukan. Arlan berniat mengembalikan semuanya ke jalan yang seharusnya.
'Pertama-tama, aku harus berusaha tetap hidup,' batin Arlan.
***
__ADS_1