
PLAK!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Arlan. Rasa kebas menjalar hingga ke kepala dan lehernya. Arlan dapat merasakan darah dari bibirnya yang tergigit.
"AAAAAAAARRRGHH!!!" Fahmi menjerit, memenuhi ruang tengah rumah mereka. Wajah marah Fahmi sama menyeramkannya dengan wajah jin yang siang tadi Arlan lawan.
"Pa, tenanglah..." Lili mencoba mendinginkan suasana, namun dia tetap menjaga jarak dengan suaminya itu. Lili tahu bagaimana tabiat suaminya jika sudah murka. Arlan adalah anak kesayangan Fahmi. Arlan memang akan mendapatkan satu atau dua pukulan dari Fahmi. Namun tidak begitu dengan Lili. Lili akan menjadi sansak hingga perasaan Fahmi sedikit membaik.
"KAU LIHAT ANAKMU ITU!" seru Fahmi. Matanya berkilat, ingin menerjang Lili yang berdiri gemetar di depannya. "BAGAIMANA CARAMU MENDIDIK ANAK, SAMPAI DIA MENJADI SENJATA MAKAN TUAN!?"
"Ta-tapi, Pa... Ini diluar kuasa Mama," Lili mencari pembenaran. "Mama juga terkena masalah di sini."
"AAARGH!!!" Fahmi menerjang pajangan guci yang ada di dekat kakinya. Guci itu pecah, menimbulkan gema di seluruh sudut rumah. "APA SEBENARNYA MAUMU, ARLAN!? KAMU MAU MATI DI TANGAN LARASATI!? ATAU MAU DILAHAP SAMA KAKEKMU ITU!?"
Arlan mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya. Bukan pertama kalinya Fahmi berlaku kasar pada Arlan. "Aku mau kalian kembali ke jalan yang benar," jawab Arlan.
"HAHAHAHAHAHAHA!" Fahmi malah tertawa lantang. Tawanya membuat Lili tambah gemetar. Lili memilih duduk di sofa daripada ambruk karena takut. "Apa kamu lihat bagaimana sepupu-sepupumu itu mati satu-persatu? Di saat kakekmu berjanji akan melindungimu jika aku memberinya hidup enak, dia malah mau melahapmu hidup-hidup sebelum Larasati melakukannya! Jalan benar apa yang kamu inginkan?"
"Setidaknya, bukan jalan dengan menumbalkan manusia," celetuk Arlan. Sebenarnya Arlan tidak ingin mengajari orangtuanya. Bagaimana pun, orangtuanya sudah lebih lama hidup ketimbang dirinya. Dia juga percaya bahwa ini pilihan orangtuanya setelah mencari banyak sekali cara untuk keluar dari dendam Larasati. Tetapi, dia tidak menyukai jalan ini. Orangtuanya menjadi abdi sesat dan menyembah jin. Dia tidak mau jika orangtua yang sangat disayanginya, nantinya akan masuk neraka hanya demi melindungi Arlan.
"Sudah aku duga. Gadis itu membuatmu bingung!"
Arlan mengangkat kepalanya. Dia membalas pandangan Fahmi dengan berani. "Jangan libatkan Manda!" geram Arlan. "Dia adalah pihak yang benar!"
"Kamu baru bertemu dia sekarang. Sementara kami berdua adalah orangtuamu yang sudah melindungimu sejak kecil. Apa gunanya mengikuti sarannya untuk melawan Larasati, jika cara kami lebih mudah? bela Fahmi.
" Lebih mudah!?" cicit Arlan, kesal setengah mati. "Ya! Cara kalian memang terasa lebih mudah karena tangan kalian tetap 'bersih'! Aku berani taruhan, ditemukannya mayat-mayat itu tidak akan begitu berdampak pada kehidupan kalian! Akan ada orang lain yang disalahkan atas semua itu!"
"KAU--" Fahmi sudah mengangkat tinjunya, sebelum sebuah dering telepon memaksa tinjunya melayang di udara. Fahmi langsung berbalik, menghampiri telepon yang ada di atas meja kecil dekat kamar tidurnya. "Halo?" sapa Fahmi. Orang dari seberang mungkin bisa mendengar bahwa Fahmi dalam keadaan murka saat ini.
__ADS_1
"Nak... Ini tidak akan selesai dengan mudah seperti bayanganmu," Lili memulai percakapan dengan Arlan.
"Sudahlah, Ma... Apapun yang Mama katakan, kita sekarang ada di jalan yang berbeda," jawab Arlan. Dia mengusap wajahnya. Rasa lelah melanda tubuhnya. "Aku akan melawan Larasati ataupun Kakek sebisa mungkin. Ada teman-teman yang bersedia membantuku. Jadi, aku mohon, kalian hentikan apapun yang kalian lakukan!"
"Nak..." Lili menangkap tangan Arlan tepat saat Arlan hendak berbalik pergi. "Papa cuma mau kamu aman..."
"Lili! Kita pergi!" Fahmi tiba-tiba berseru. Dia menutup telepon dengan kasar. Tanpa berkata apapun lagi, dia langsung beranjak menuju pintu keluar.
"Ada apa, Pa?" Lili buru-buru mengejar Fahmi.
Arlan yang ditinggalkan sendirian di ruang tengah, ambruk ke sofa. Ketegangan sedetik lalu menghilang begitu saja. "Astaga... Susah sekali dapat waktu istirahat..." Arlan terkejut ketika mengatakan hal itu. Dia baru ingat dengan malam hari. Malam hari yang artinya dia harusnya tidur.
Tidur untuk bertemu Larasati di mimpinya.
Arlan menghubungi Manda lewat video call. Meski sudah larut dan hal itu akan mengganggu Manda, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melakukan itu.
Ternyata Nanda yang menerima teleponnya.
"Manda mana?" Arlan tidak berbasa-basi.
"Ketiduran," Nanda mengarahkan kamera handphone pada Manda yang tertidur di sofa. "Dia langsung tidur begitu sampai rumah." Tiba-tiba Nanda mendekatkan wajahnya ke kamera. "Kenapa lo? Habis ditabok?"
"Hahaha, iya. Udah pasti bakalan ditabok begitu sampai rumah, kan? Lahan itu punya orangtua gue."
"Lo aman?"
Arlan mengangguk sekali. Rasa takut untuk tidur masih dia rasakan. Wajah Larasati langsung terbayang di kepalanya begitu dia ingin merebahkan diri di atas tempat tidurnya.
"Mmm, kalau nggak bisa tidur, mau gue nyalakan aja video call-nya? Yaa, lo bisa nontonin Manda tidur," goda Nanda.
__ADS_1
"Kalau Manda tahu, gue bisa dikira cowok mesum! Gue belum resmi jadi pacarnya," tolak Arlan.
"Widiiiihhh, sekarang terang-terangan ngaku, ya? Main video game, gih!"
"Maunya begitu," Arlan mulai berjalan ke kamarnya. Belum sampai di anak tangga pertama, dering telepon rumah menghentikan langkahnya. "Nan, gue ada telepon. Udah dulu, ya!" pamit Arlan.
"Oke. Sampai ketemu besok waktu latihan," balas Nanda.
Arlan bergegas kembali ke ruang tengah dan mengangkat telepon. "Ha--"
"FAHMI! KAMU BILANG JIN ITU SAKTI! KAMU BILANG ANAKKU TIDAK AKAN MENINGGAL! KENAPA DIA TIDAK BERNYAWA DI TANGANKU SEKARANG!? KENAPA DIPTA MENINGGAL DALAM KONDISI MENGENASKAN BEGINI!?"
Teriakan itu menggema di telinga Arlan, terus membekas seakan kepalanya adalah lorong tanpa ujung. "Dipta meninggal?" tanya Arlan.
"YA! ANAKKU MENINGGAL! AKU BAHKAN TIDAK PERNAH ABSEN MENUMBALKAN GADIS PERAWAN UNTUK JINMU ITU! BAGAIMANA KAMU AKAN BERTANGGUNG JAWAB!?" orang di seberang masih belum tahu bahwa yang mengangkat telepon adalah Arlan.
Arlan tidak dapat berkata apa-apa. Kenyataan bahwa Oki dan Rahayu juga menggunakan tumbal manusia untuk melindungi anak mereka, menampar Arlan. Arlan masih mengingat bagaimana perawakan Dipta saat mereka bertemu.
"Anakmu akan mati! Arlan akan mati seperti Dipta!" geram Oki di akhir teleponnya. Lalu, hanya nada sambungan telepon terputus yang Arlan dengar.
Arlan meletakkan gagang teleponnya tanpa tenaga. Entah kenapa, dia merasa sangat kecewa karena jin yang Oki miliki, gagal melindungi Dipta. "Sudah kuduga... Bersekutu dengan makhluk sesat seperti jin, tidak akan membantu sama sekali," gumamnya.
Tidak ada pilihan lain. Arlan harus kembali ke kamarnya malam itu. Berbekal kopi dan tekadnya untuk tidak tidur, Arlan berusaha melindungi dirinya sendiri malam itu. Orangtuanya tidak ada di rumah. Entah karena masalah lahan tempat penemuan mayat-mayat korban tumbal, atau berita bahwa Dipta meninggal dunia sudah sampai di telinga mereka.
Sebelum menenggelamkan diri di dalam video game miliknya, Arlan sempat mengirimkan pesan pada Manda, memberitahukan bahwa dia tidak tidur malam ini dan meminta Manda datang lebih awal besok pagi untuk menemaninya tidur.
"Maaf, Dipta..." bisik Arlan ketika meletakkan handphone-nya di atas meja.
***
__ADS_1