TUMBAL

TUMBAL
Part 5 : Teman Misterius


__ADS_3

"Ini bagianmu."


Pak Yanto melemparkan uang tunai lima puluh juta ke atas meja, yang segera diambil Rudi dengan semangat.


Ia memasukkan uang itu ke dalam tas hitam berukuran besar. Uang puluhan juta itu lebih dari cukup untuk membayar hutang judi online yang sudah menggunung. Setelah hutangnya lunas, debt collector berwajah sangar itu tak akan pernah lagi mengejarnya.


"Ini adalah cek senilai seratus juta," ucap Pak Yanto sambil menunjukkan selembar cek yang sudah ditanda tangani. "Kalau kau bisa membantuku mendapatkan janin istrinya Agus, maka cek ini akan jadi milikmu."


Mata Rudi mengerjap. Ia menelan ludah dan menatap cek itu dengan mata berbinar. Uang seratus juta itu bisa mewujudkan impiannya untuk menikah dengan Evi, sang kembang desa.


Beberapa waktu lalu Rudi sempat mengatakan ingin melamar gadis ayu rupawan itu. Namun, karena begitu banyak orang yang juga ingin melamar Evi, maka orang tuanya memutuskan pria dengan mahar terbanyaklah yang akan diterima.


Rudi berencana akan menggunakan uang lima puluh juta sebagai mahar, dan lima puluh juta lagi untuk modal membuka usaha. Dengan uang sebanyak itu, orang tua Evi tak akan sanggup menolaknya. Ia akan hidup bahagia dengan Evi yang cantik jelita, dan tak perlu menjadi kuli panggul lagi untuk selamanya.


Rudi mengelus cek dengan begitu banyak angka nol tertulis di atasnya. Seperti sebuah magnet, cek itu membuat Rudi ingin segera memilikinya.


"Pak Yanto tenang saja. Aku akan lakukan apapun yang Bapak inginkan."


***


Saat jam makan siang, Agus duduk termangu sendirian di bawah pohon jambu. Jam istirahatnya ia gunakan untuk menyendiri di tepian sungai. Agus bahkan belum menyentuh bekal yang dibawanya.


Kematian Imam yang tiba-tiba, membuatnya sedih. Agus sangat ingin melayat, tapi pihak toko sudah lebih dulu menunjuk Rudi dan Mamat untuk pergi mewakili. Alhasil, Agus hanya bisa menitip uang belasungkawa untuk diserahkan pada keluarga Almarhum Imam.


Agus menyandarkan kepalanya di batang pohon. Masih teringat perkataan Imam kemarin sore saat mereka berbincang di pintu gerbang toko. Pria malang itu sempat mengutarakan niatnya bahwa selesai maghrib, ia akan datang ke rumah Agus. Imam ingin membicarakan sesuatu hal penting yang tak bisa ia katakan di toko.

__ADS_1


Sejujurnya, Agus sedikit merasa bersalah. Seandainya Imam tak bersikeras untuk tetap ke rumahnya di saat hujan deras, mungkin ia tak akan meninggal tertimpa pohon, dan saat ini mereka masih bisa kerja bersama-sama.


Agus menopang dagu dengan tangan kanan, sibuk menerka-nerka. Kira-kira hal penting apa yang ingin dibicarakan Imam padanya?


"Boleh aku duduk di sini?"


Agus mendongak saat ada seseorang yang bicara padanya. Pria hitam manis itu lalu mengangguk, dan mempersilahkan orang itu untuk ikut duduk bersamanya.


"Jangan bengong, nanti muncul hantu penunggu pohon jambu," canda pria itu tanpa canggung meskipun mereka tak saling mengenal.


"Gak bengong. Cuma lagi sedih, Bang. Imam, teman kerjaku, baru aja meninggal semalam." Agus menunduk lesu. Diam-diam diusapnya air bening yang muncul di pelupuk mata.


Pria di sebelah Agus hanya mengangguk pelan. "Kematian yang tak wajar, ya?"


Agus tersentak, menatap pria itu lekat-lekat. "Kok Abang bisa bicara begitu? Padahal aku belum cerita apa-apa."


Agus menatap pria itu dengan keheranan. Sejujurnya semenjak Agus pindah ke kampung ini, ia belum pernah melihatnya.


"Ngomong-ngomong nama Abang siapa? Aku Agus." Agus memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan.


Pria itu segera menyambutnya dengan hangat. "Aku Junaidi."


"Abang Junaidi tinggal dimana? Aku gak pernah ketemu Abang sebelumnya."


"Dulu, aku sempat tinggal di kampung ini sebentar. Setelah itu, aku pergi ke kampung orang tuaku. Sudah bertahun-tahun pergi, aku akhirnya kembali ke sini. Sekarang, aku tinggal di pondok kecil itu." Junaidi menunjuk pondok kecil tak jauh di tepi sungai.

__ADS_1


Agus menyipitkan matanya memandangi rumah kayu itu. Ia sudah sering datang ke sungai, tapi dirinya baru sekarang menyadari keberadaan rumah itu. Mungkin karena letaknya yang di kelilingi pohon membuat Agus dulu tak melihat rumah Junaidi. Apalagi sempat cukup lama dibiarkan tak berpenghuni, membuat bangunan kayu itu semakin tak menarik perhatian.


"Oh, ya Bang. Aku permisi dulu, ya. Sebentar lagi jam istirahat makan siang akan habis. Harus balik kerja lagi."


"Iya, Gus. Kalau kamu nanti butuh pertolongan atau temen ngobrol, kesini aja, ya."


"Iya, Bang. Aku balik kerja lagi, ya." Agus memasukkan botol minum dan bekal yang belum dimakan ke dalam tas. Ia lalu berdiri dan menjinjing tas.


"Gus," panggil Junaidi saat Agus baru berjalan beberapa langkah. "Kamu kerja hati-hati, ya. Kalau bisa sambil zikir. Zaman sekarang banyak orang yang berniat jahat. Aku tahu kalau kamu orang yang baik, Gus. Tapi itu membuatmu sering dimanfaatkan."


Agus melongo mendengar petuah dari Junaidi. Ia baru saja bertemu dengan pria ini, tapi entah kenapa mereka terasa dekat. Junaidi seakan mengenal kepribadian Agus dan tahu semua masalah yang akhir-akhir ini sedang menimpa dirinya.


"I-iya, Bang. Makasih nasehatnya. Abang juga orang yang baik."


Agus tersenyum dan melangkah kembali menuju toko. Saat tiba di ujung jalan, ia sempatkan menatap pohon jambu tempat Junaidi tadi bersandar. Namun, sudah tak ada lagi orang di sana. Junaidi mungkin sudah kembali pulang ke rumah.


Sejujurnya kehadiran Junaidi menimbulkan tanda tanya besar dalam benak Agus.


"Kenapa Bang Junaidi tadi bilang kematian Imam gak wajar, ya?"


Bersambung


***


**Terima kasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa vote dan komennya juga, ya.

__ADS_1


Facebook : Affrilia


Instagram : @afrilia_athaara**


__ADS_2