
"Tak apa, Gus. Rezeki tak boleh ditolak."
Agus menatap sepotong ayam yang dijejalkan Pak Yanto diantara barang bawaannya. Entah kenapa saat melihat ayam goreng itu, Agus menjadi tak berselera. Berbeda jauh saat ia pertama kali diberikan ayam goreng oleh bosnya beberapa waktu lalu.
'Jangan diambil. Jangan diambil. Jangan diambil.'
Entah kenapa kata-kata itu tiba-tiba terngiang dan menari-nari di kepalanya, seperti sebuah lagu yang diputar terus-menerus. Seolah menyiratkan bahwa saat ini ada kekuatan besar yang sedang mendorong Agus untuk menolak makanan lezat itu.
Setelah sempat bimbang, Agus lantas memilih untuk menuruti kata hatinya. Tanpa ragu lagi ia meraih ayam goreng berbalut plastik transparan itu dan mengembalikannya pada Pak Yanto.
"Maaf, Pak. Bukannya saya lancang. Tapi kali ini saya tidak bisa menerima ayam goreng pemberian Bapak. Karena jujur, semenjak Andi meninggal, saya dan Aminah tak pernah mau makan ayam goreng lagi."
Agus meletakkan bungkusan itu ditelapak tangan Pak Yanto. "Bapak berikan saja ayam goreng ini untuk pekerja lain. Mungkin ini lebih berguna untuk mereka. Saya permisi pulang dulu, Pak. Terima kasih banyak atas tawarannya."
Setelah tersenyum dan berpamitan, Agus meninggalkan Pak Yanto yang berdiri kaku dengan wajah bengong. Tak menyangka Agus berani berkata tidak padanya. Semua ini tentu saja berbeda jauh dari apa yang ia harapkan.
"Kurang ajar! Dasar kuli tak tahu diri," umpat Pak Yanto saat Agus sudah berjalan keluar dari gerbang. "Berani kau menolak pemberianku! Sudah bosan hidup kau rupanya."
Pak Yanto memencet layar ponselnya dengan wajah geram. Ia harus mendapatkan janin itu secepatnya.
"Halo, Pak. Ada apa?" tanya suara maskulin di ujung telpon.
"Coba kau cari tahu, apa Imam sudah menyampaikan rahasia kita pada si Agus. Karena hari ini dia sudah berani menolak ayam goreng yang aku berikan. Secara tak langsung, itu sama saja dia memaksaku untuk bermain kasar!"
Pak Yanto mengepalkan tangan, terlihat garis kemarahan di pelupuk matanya. "Datanglah kerumahku sekarang juga. Kita akan susun rencana baru. Aku tetap menginginkan janin itu tak perduli bagaimanapun caranya!"
***
"Assalamualaikum, Buk."
Agus mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat. Tak lama, terdengar langkah kaki dari dalam dan pintu yang dibuka.
"Wa'alaikumsalam." Aminah mencium tangan Agus dan membantu membawa tas kecil yang tersampir di bahu suaminya. "Istirahat dulu, Pak."
Agus mengangguk pelan. Ia duduk di ruang tamu beralaskan tikar dan punggungnya bersandar di dinding. Mendadak muncul sedikit perasaan bersalah dan tak enak dalam hati, karena ia telah menolak ayam pemberian Pak Yanto. Agus tak mau bosnya itu sampai salah paham padanya.
__ADS_1
Sejak Andi meninggal, Aminah dan Agus memang tak pernah mau makan ayam lagi. Sebab setiap kali melihat ayam goreng, mereka selalu terbayang wajah Andi yang berlumuran darah akibat kecelakaan. Karena alasan itulah, tadi dengan berat hati ia harus menolak ayam pemberian majikannya itu.
Agus juga penasaran dari mana asal suara yang tadi muncul di dalam pikirannya, yang dengan jelas menyuruh Agus untuk menolak mengambil ayam goreng paha itu. Karena sebelumnya, hal semacam itu tak pernah terjadi.
Di saat Agus masih larut dalam pikirannya sendiri, Aminah muncul dari dapur dengan sepiring kudapan dan secangkir kopi yang masih panas. Aroma kopi yang begitu menggoda membuat Agus segera mencicipinya. Ia juga mengigit pisang goreng yang rasanya sangat renyah.
Aminah duduk di samping Agus. Hatinya sedang bingung. Haruskah ia ceritakan bahwa tadi Andi datang menemuinya? Aminah takut Agus akan menyangka bahwa dirinya sedang berhayal.
"Ada apa, Buk?" tanya Agus saat melihat sang istri yang hanya duduk diam.
"Nggak apa-apa, Pak." Aminah berusaha tersenyum, menyembunyikan kegelisahannya.
"Ibu gak usah bohong. Bapak tahu kalu Ibu sedang banyak pikiran. Cerita sama Bapak. Ada masalah apa?"
Aminah menatap Agus dengan ragu-ragu. "Ta-tadi Andi datang ke sini, Pak."
"A ... Andi anak kita?" tanya Agus dengan mulut ternganga. Pisang goreng yang dipegangnya sampai terjatuh ke lantai.
"Iya, Pak. Tapi yang bikin Ibu sedih, tubuh Andi penuh luka bakar. Bahkan kulitnya sampai melepuh. Ibu gak tega melihatnya." Aminah bercerita dengan wajah sendu. Kembali teringat kondisi anaknya yang datang dengan keadaan mengenaskan.
"Astaghfirullah." Aminah menutup mulut dengan kedua tangan. "Tapi anak kita masih kecil, bahkan belum baligh. Dia belum punya dosa. Kenapa rohnya bisa menderita seperti itu? Padahal kita juga sudah mengikhlaskan kepergiannya. Harusnya tak ada lagi hal yang memberatkan Andi."
Aminah menangis membayangkan putranya kini tengah disiksa dan diperlakukan lebih hina dari pada hewan. Padahal semasa hidup, walaupun berada dalam garis kemiskinan, Andi selalu dilimpahkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Atau sebaiknya kita pergi ke Ustadz Sanusi aja, Pak. Beliau juga bisa meruqyah dan ilmu agamanya sudah terkenal bagus."
"Ustadz Sanusi yang guru ngajinya Andi di Masjid?"
"Iya, Pak. Tapi kabarnya Ustadz Sanusi pergi ke Pesantren di Jawa Timur, menemui gurunya. Dengar-dengar dari Mak Ijah katanya baru pulang besok. Soalnya tadi ada orang dari kampung sebelah yang datang untuk minta agar anaknya diruqyah."
"Kalau gitu, besok sore sepulang Bapak dari kerja, kita langsung ke rumah Ustadz Sanusi untuk minta bantuannya."
"Iya, Pak."
Agus memeluk Aminah dengan erat, berusaha menenangkan wanita itu yang terus menangis. Meskipun pada kenyataannya, perasaan Agus sendiri jauh lebih kalut dari sang istri. Jujur saja ia sedang dilanda kebingungan. Entah hal jahat macam apa yang saat ini sedang mengincar keluarganya.
__ADS_1
"Ya Allah, siapa yang sudah tega berbuat jahat pada anak kami," gumam Agus sambil terus beristighfar. Berharap segala macam hal buruk akan segera pergi dari keluarga mereka.
***
Sementara itu di rumah mewahnya, Pak Yanto dan Rudi sedang berkumpul. Terlihat serius merundingkan sesuatu.
"Apa kau yakin kalau Agus belum tahu?" tanya Pak Yanto sambil menatap Rudi tajam.
"Saya berani jamin Agus belum tahu masalah ini, Pak. Karena kalau Agus sudah tahu, dia pasti cerita sama saya. Karena dulu saya sering sekali mencari tahu bagaimana respon Agus dan Imam dengan mengungkit uang pemberian Bapak."
Pak Yanto diam sejenak sambil mengelus dagunya. "Besok kita harus segera jalankan rencana yang tadi sudah kita sepakati."
"Siap, Pak."
Rudi berdiri hendak pamit pulang, tapi Pak Yanto menahan tangannya. "Ingat! Tak boleh ada kesalahan sedikitpun."
"Bagaimana kalau ada yang tahu dan menghalangi lagi?"
"Kau sudah tahu apa yang harus dilakukan. Singkirkan mereka."
"Kalau Agus sampai melihat bagaimana, Pak?"
Pak Yanto menyeringai. Di wajahnya muncul sebuah senyuman sinis.
"Bunuh dia!"
Bersambung
***
**Terima kasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa vote dan komennya juga, ya.
Facebook : Affrilia
Instagram : @afrilia_athaara**
__ADS_1