TUMBAL

TUMBAL
Mengejar dan Dikejar


__ADS_3

"Arlan berkata seperti itu?" tanya Gina. Dia tidak percaya dengan apa yang Manda laporkan padanya. Awalnya, Gina merasa penasaran karena selama dua hari ini, Manda selalu sibuk dengan laptopnya hingga terkadang lupa makan malam. Barulah malam ini Gina memutuskan untuk bertanya dan dia mendapatkan jawaban bahwa Arlan tengah mencari artikel mengenai remaja-remaja yang hilang tanpa jejak sejak beberapa tahun lalu.


Gina sendiri merasa takjub dengan perubahan yang terjadi di dalam diri anak gadisnya. Dulu, semenjak Gina mengatakan bahwa Manda harus berhati-hati, Manda menjadi lebih sensitif terhadap orang lain. Gina sempat merasa benci pada dirinya sendiri karena menurunkan kemampuan khusus yang dia miliki pada kedua anaknya. Namun, melihat Manda yang bersemangat dan bisa dekat dengan orang sebaik Arlan, Gina merasa sangat bersyukur.


"Manda nggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi, Manda merasa bahwa tindakan Arlan adalah hal yang benar. Jadi, Manda mau bantu Arlan, walau hanya sedikit," Manda menjelaskan.


Gina membelai kepala Manda penuh sayang. "Rambutmu cantik sekali."


"Arlan juga bilang begit-eeeehh!!!" Manda menutup mulut dengan kedua tangan. Dia menjawab pernyataan ibunya tanpa berpikir.


Gina tersenyum lebar. Dia bisa merasakan kepala anaknya yang panas. "Jadi, kamu sudah menemukan apa yang kamu cari?" Gina memutuskan untuk tidak menggoda MandaManda lebih jauh.


Manda mengangguk bersemangat. "Ada beberapa yang Manda curigai dan sepertinya mengarah ke sana."


Gina duduk di sebelah Manda, ikut melihat artikel-artikel yang terbuka di layar laptop. "Waaah... Banyak, ya?"


"Nggak mungkin Arlan bisa menemukan semua ini, kan?"


Gina menggaruk dagunya, ikut memutar otak. "Biar Nanda juga ikut bantu."


"Nanda sibuk."


"Gue nggak sibuk," timpal sebuah suara berat yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur. "Kalian ngapain malam-malam begini masih di sini?"


"Lagi diskusi tentang korban-korban tumbalnya orangtua Arlan," jawab Gina. "Tumben banget kamu pulang malam. Sudah makan?"


Nanda duduk di hadapan ibu dan saudara kembarnya. "Olimpiade sebentar lagi. Aku sama teman-teman sepakat buat belajar lebih lama lagi," jawab Nanda. "Dan aku sudah makan. Mana mungkin belajar dengan perut kosong."


"Kamu jadi kurus. Jangan terlalu memaksakan diri!" Gina memberi nasehat.


"Kurus apanya, Bu?" sindir Manda. "Lihat, itu semua tubuhnya adalah otot!" tambah Manda sambil menunjuk-nunjuk Nanda.

__ADS_1


"Sirik aja lo!" Nanda mencibir. "Lanjut, kalian perlu bantuan dalam hal apa?"


"Nyari korbannya."


"Yang masih hidup?"


Manda menggeleng. "Jenazahnya. Tulang-belulangnya juga boleh. Bakalan sulit menemukan yang masih hidup. Atau mungkin, tidak ada yang masih hidup."


"Oke, gue bantu. Bukan masalah sulit," Nanda setuju. "Kasih gue petunjuk-petunjuknya."


Manda kembali tenggelam ke layar laptopnya. "Gue kirim lewat e-mail," ujar Manda. "Gue juga sudah kirim ke Arlan."


"Dia jawab apa?" tanya Gina.


"Jangan bergerak sendirian."


Gina melempar pandangan penuh arti pada Nanda, yang menjawabnya dengan senyuman geli.


"Bukan dalam artian khusus!" Manda memperingatkan. "Arlan cuma punya firasat nggak bagus belakangan ini."


"Iya," jawab Manda. "Katanya, belakangan ini sopir ibunya agak aneh. Kelakuannya bikin Arlan kepikiran."


"Apa mungkin orangtua Arlan menargetkan kamu sebagai tumbal berikutnya?" kata Gina. Manda dan Nanda tidak menjawab. Mereka memperhatikan wajah serius Gina. "Apa kamu nggak pernah berpikir kalau kamu itu pengganggu yang tiba-tiba datang?"


"Iya juga..." Manda mengakui.


"Orangtua Arlan punya rencana yang bagus sampai mengambil jalan menggunakan ilmu hitam selama ini. Tapi, kamu datang dan semuanya berjalan tidak sesuai dengan keinginan mereka. Bahkan, kenyamanan yang harusnya mereka berikan pada Arlan, malah Arlan dapatkan dari kamu. Kalau Ibu, sih, bakalan sebel sama kamu, Man."


"Ibu ada benarnya. Makanya Arlan nggak ngasih kamu jalan sendirian," timpal Nanda. "Tapi, pasti ada aja celah. Apa nggak ada cara untuk memastikan Manda aman?"


"Kita percaya saja pada Nak Arlan. Walaupun sekarang dia lemah begitu, di saat yang tepat, dia bakalan bisa diandalkan." Gina menepuk punggung Manda. "Kamu juga, jangan menganggap hal ini adalah hal remeh. Kamu harus waspada. Begitu ada yang aneh, beritahu siapapun. Minta tolong jika perlu."

__ADS_1


"Kita buat grup aja sekalian. Nanti Manda harus kasih kabar lewat grup setiap jam. Atau siapapun kalau senggang, bisa teleponan sama Manda," usul Nanda.


"Ide bagus. Ibu juga bisa cepat menghubungi kalian kalau ada perlu," sahut Gina.


Nanda bergerak dengan cepat. Dia segera membuat grup berisikan Gina, Manda, dirinya, dan Arlan. Tidak perlu waktu lama untuk Arlan turun meramaikan grup baru mereka. Nanda menjelaskan dengan singkat tujuan dari dibuatnya grup itu. Percakapan malam itu diakhiri dengan Gina yang mengingatkan Arlan untuk menyimpan nomornya.


***


Nanda berjalan cepat menyusuri hamparan ilalang tinggi yang ada di pinggiran kota. Lahan itu tampak terbengkalai. Tinggi ilalang itu, bahkan melebihi tinggi Nanda sendiri. Suara angin yang menyibak hamparan ilalang, menimbulkan bunyi gemerisik. Terdengar mengerikan di telinga Nanda.


"Nan! Sebelah sini!" seorang pria kurus-jangkung melambai ketika melihat pucuk kepala Nanda dari balik ilalang. "Gue ketemu tiga."


"Tiga?" ulang Nanda, tidak percaya.


"Gue yakin kalau ini yang lo cari." Laki-laki itu menyingkir dari hadapan Nanda, memperlihatkan apa yang membuatnya kaget satu jam lalu. Dia sudah berada di sana sekitar lima jam lamanya, hampir menyerah karena tidak menemukan apapun. Di saat dia dan rombongannya akan kembali, anjing pelacak mereka tiba-tiba saja gelisah dan menarik salah satu orang menuju arah genangan air.


"Kenapa bisa ada genangan air seluas ini di sini? Memangnya ada hujan?" tanya Nanda.


"Gue juga merasa aneh. Dari tadi gue menyusuri ladang ini, tidak ada satupun orang gue yang melihat genangan ini. Tapi, waktu kita mau balik, genangan ini muncul begitu saja."


Nanda melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Kalau gue nggak salah ingat, jam tiga sore adalah jam di mana banyak portal dunia lain yang terbuka," gumam Nanda.


"Apa keputusan lo?"


"Ada kemungkinan nggak cuma tiga," kata Nanda. Dia mengedarkan pandangan sejauh yang dia bisa. Hawa dingin di tengah teriknya matahari menandakan memang ada yang aneh di tempat itu. "Tunggu genangan ini hilang, lalu kita gali di sekitar sini."


"Kita nggak bisa berlama-lama di sini," laki-laki itu mengingatkan. "Bisa saja yang punya tanah sadar, lalu balik menyerang kita."


"Tapi, kalau kita kembali besok, bisa saja bukti yang kita temukan sekarang jadi hilang tanpa jejak." Nanda berlutut di depan genangan air. Tangannya menapak tanah yang agak basah. Tanah itu dingin sedingin es balok. Ketika Nanda mengusapnya, tanah itu terasa lembut. Ada sedikit aliran listrik setiap kali Nanda merapalkan doa. "Tanah ini terkutuk!"


Orang-orang yang berdiri di sekitar Nanda ikut mengedarkan pandangan. Tidak hanya Nanda, semua orang juga merasakan gerakan angin yang aneh selama mereka di sana.

__ADS_1


"Kita harus siap bertempur!"


***


__ADS_2