
Pareng menyeringai, memamerkan gigi-giginya yang runcing. Matanya terpancang pada Arlan yang tengah menyembuhkan Manda. Pareng menikmati desiran angin yang tercipta dari kekuatan Arlan.
"Kek, ilernya netes, tuh! Bau!" Nanda memecah keheningan, sadar dengan tatapan lapar dari mata Pareng. "Lantainya jadi kotor."
"Gggrrrr... Kau... Masih bocah tapi sudah bermulut besar!" geram Pareng. "Setelah aku menyantap Arlan, kau makanan penutup selanjutnya!"
Nanda mengepal tangannya. "Tidak ada manusia yang ingin menyantap darah dagingnya sendiri," kata Nanda seraya membalas pandangan Pareng dengan berani. "Kau hanya sekedar makhluk sesat yang harusnya kembali ke neraka!" Nanda melompat dari tempatnya. Dia menerjang Pareng yang tidak siap. Satu pukulan berhasil mengenai lengan Pareng yang mengangkat untuk melindungi kepalanya. Ketika hendak melancarkan serangan kedua, Pareng sudah siap. Dia menangkap tangan Nanda, lalu menghempasnya, hingga Nanda berguling di lantai dengan suara debum yang keras.
"Cuma segini saja, tapi kamu sudah bermulut besar?" sindir Pareng. Dia berbalik, menghadap Nanda yang tadi dia lempar ke belakangnya. "Hah!?" Pareng kaget, ternyata Nanda tidak ada di tempatnya berada.
BUAG!!!
Sebuah tendangan bersarang di atas kepala Pareng. Membuatnya terhuyung lagi. Cepat-cepat Pareng memantapkan kakinya agar tubuhnya tidak terjerembab ke lantai. Dia tahu akan ada serangan selanjutnya dari Nanda. Pareng berbalik, mencoba membaca apa yang akan Nanda lakukan. Namun terlambat. Tinju Nanda telah berada tepat sejengkal dari hidungnya.
BUAG!!!
Serangan demi serangan langsung Nanda kerahkan bertubi-tubi. Pareng tidak diberi kesempatan untuk berpikir ataupun melawan. Pada akhirnya, Pareng tersungkur membentur dinding. Bangunan rumah sempat bergetar ketika Pareng jatuh ke tanah. Lapisan dinding ikut jatuh setelah terkena benturan.
Nanda berhenti. Dia mengatur nafasnya agar segera stabil. Dia tahu bahwa Pareng tidak akan semudah itu dikalahkan. Bisa saja Pareng menerima semua pukulan itu, karena dia ingin tahu seberapa besar tenaga yang Nanda miliki. 'Gue harus sabar, nggak boleh pakai kekuatan penuh dulu. Ulur waktu,' batin Nanda di dalam hati.
Nanda melirik ke arah Manda yang ternyata sudah selesai mendapat perawatan dari Arlan. Manda tampak mendorong Arlan ke belakang. Berbeda dengan Manda yang tampak bugar, Arlan sedikit pucat. Ini karena kekuatan penyembuh milik Arlan menyerap energi yang cukup besar. Arlan harus istirahat beberapa waktu untuk memulihkan kekuatannya. Untuk sementara, mereka tidak akan dapat menggunakan ilmu kebal Arlan.
Nanda mengusap tinjunya. Tangannya mulai berdenyut nyeri meski dia masih bisa menahannya. Dia tidak akan bisa bertahan lama dalam kondisi ini.
"Ggggrrrrrr!" Pareng bergerak kembali. Dia bangkit dengan wajah lebih murka dari sebelumnya. Nanda sudah bersiap jika Pareng akan menyerangnya. Tapi, ternyata Pareng tidak langsung bergerak. Dia malah menoleh ke sana-kemari.
__ADS_1
Nanda dan Manda saling melempar pandangan tanya. Manda juga sudah siap di posisinya untuk melindungi Arlan. Saat ini, yang bisa mereka lakukan hanyalah melindungi Arlan dan membuat Pareng menjauh sebisa mungkin. Arlan tidak dilatih untuk bertarung. Akan menjadi masalah besar jika ada celah di dekat Arlan.
"Grrrr..." Pareng berjalan menaiki anak tangga. Tangannya menggapai-gapai rambut panjang yang menjuntai di atasnya. Semua bisa melihat bahwa Pareng ingin meraih hantu yang menempel di langit-langit rumah. "Sini kau!" serunya ketika berhasil meraih hantu itu.
"Jangan beri dia kesempatan memakan hantu-hantu itu!" seru Arlan tiba-tiba.
Belum sempat Nanda ataupun Manda bergerak, hantu itu sudah masuk ke dalam mulut Pareng. Suara memekakkan telinga terdengar di seluruh ruangan. Bersamaan dengan itu, suara gemeretak gigi yang mengunyah sesuatu juga dapat mereka dengar.
Manda menutup telinganya rapat-rapat. Melihat Pareng memakan hantu itu tanpa ragu sedikitpun, membuat telinganya sakit. Perutnya terasa berputar sampai dia ingin muntah.
"AHAHAHAHAHAHAHA!!!" Pareng tergelak setelah menelan mangsanya. "Meski tidak enak, tapi berguna juga!" Pareng mengangkat tangannya. Hembusan angin panas menerpa Nanda dan Manda dengan cepat.
"Jangan sampai dia makan apapun!" ulang Arlan lagi, dan seketika itu Nanda dan Manda tahu apa alasannya.
Manda mengangguk ke arah Nanda, memberi isyarat bahwa dia siap. Nanda menjadi lebih waspada. Bagaimanapun, makhluk di depannya tidak waras dan dia akan memakan apa saja tanpa ampun.
"AAAAARRGGGHH!!!" Pareng marah karena mangsanya lepas. Dia kembali berlari mendekati Nanda.
Manda ikut berlari. Tangannya terkepal di samping kepalanya. Firasatnya mengatakan bahwa Nanda dalam bahaya besar karena membuat Pareng marah. Tiba-tiba saja, di tengah kepercayaan diri Manda ingin melibas Pareng dengan pukulannya, Pareng berbalik menghadap Manda. Manda yang kaget langsung berusaha menghentikan langkahnya.
CHRAAANNGG!!!
Sebuah perisai muncul di hadapan Manda, tepat ketika cakar Pareng hendak menggapai kepala Manda.
Nanda yang sadar bahwa Manda dalam bahaya, langsung melompat kembali hanya dengan hitungan detik. Nanda melayangkan tendangan ke tengkuk Pareng.
__ADS_1
CRAAASSH!
Cakar Pareng berhasil merobek betis Nanda. Nanda terguling hingga dua meter. Darah segar menodai karpet.
"Nanda!" Manda berlari ke arah Nanda tanpa sadar.
CRAAASSH!
Manda terkena cakar Pareng di bagian punggung. Dia ambruk ke depan. Nanda mencoba berdiri dan berjalan secepat mungkin menghampiri Manda. Pareng berdiri di belakang Manda, tersenyum penuh kemenangan.
Tangan Pareng menjulurmenjulur. Dia mencengkram lengan Manda dan menentengnya ke atas. "Kalian yang anak baru lahir, mau melawanku yang sudah puluhan tahun belajar ilmu hitam? Ahahahahahaha!"
Manda meronta dari genggaman Pareng. Darah merembes dari punggungnya. Nanda membelalak. Dia ngeri karena seketika keadaan berbalik. Nanda tergopoh-gopoh mendekati Pareng, meski betis kirinya robek. Wajah Nanda dipenuhi rasa takut dan bersalah.
Satu kesalahan yang Pareng lakukan adalah menyerang Manda duluan. Arlan ketakutan. Rasa takut yang luar biasa menjalar di dalam dirinya ketika pikiran akan kehilangan Manda terlintas. Arlan menarik nafas dan membiarkan rasa takut menguasai dirinya. Ketakutan itu menjalar dengan cepat, membuat jari-jemarinya panas. Semakin lama, semakin panas, hingga memercikkan api.
Nanda berhenti. Dia yang melihat Arlan dari jauh, menganga tidak percaya. Arlan menggenggam bola api yang berkobar, namun Arlan tidak merasa kesakitan. Semakin lama, bola api itu semakin membesar. Pareng yang melihat Nanda terdiam, menengok ke belakangnya, di mana Arlan berada. Tepat saat Pareng menyadari apa yang terjadi, Arlan melempar bola api di tangannya ke arah Pareng, disusul dengan lemparan perisai ke arah Manda.
Bola api itu tidak meledak ketika mengenai Pareng, melainkan meresap ke dalam perut dan lengan kiri Pareng. Tenggelam begitu saja seperti matahari senja.
Sementara itu, perisai yang dilempar ke arah Manda, menyelimuti Manda dan sebagian tangan Pareng yang masih mencengkram kuat lengan Manda.
Pareng memeriksa dirinya. Tidak ada yang terjadi. "Hahahaha! Kau sempat membuatku ta--"
DHARRR!!!!!
__ADS_1
***