Veronika

Veronika
Trauma 2


__ADS_3

"pfft" Vero menahan tawanya ketika melihat kejadian di depannya membuat tiga pasang mata langsung melihatnya.


"eh eh maaf itu-itu..." kata Vero gugup karena dilihat oleh mereka semua.


"gak papa sayang, tertawa aja. Memang wajah Vian itu cocok untuk ditertawai, mirip monyet soalnya dia kan anak monyet bukan anak mama papa" kata mama Sinta yang senang karena Vero sudah bisa tertawa dan tidak menangis lagi.


"Mama!!" teriak Vian tidak terima dibilang monyet sama mamanya, kalau ia monyet berarti orang tuanya juga monyet dong.


"Apa!? Sudah kita tinggalkan saja anak monyet ini disini, ayo Vero kita makan siang dulu" ajak mama Sinta yang membuat Vian semakin kesal.


Mereka bertiga menuju ke ruang makan meninggalkan Vian sendirian, Vian kesal karena ditinggal sendirian pun bergegas ke ruang makan, setelah makan ia akan mengajak Vero keluar dari rumah ini, ia tak mau Vero direbut mamanya.


"Sayang, nanti sehabis makan siang kita pergi ya" ajak Vian yang baru sampai di meja makan.


"ih tak tau malu, pacaran belum tapi udah panggil sayang" sindir mama Sinta ke Vian saat mendengar anaknya memanggil sayang ke Vero.


Vero yang mendengar panggilan dan sindiran dari mamanya Vian langsung memerah seperti kepiting rebus karena malu.


"Mau kemana? Disini dulu boleh?" tanya Vero ke Vian, ia sebenarnya ingin sedikit lebih lama di rumah Vian karena kehangatan keluarga Vian yang sedari dulu Vero inginkan.


"Kita kencan sayang, kan kita belum pernah kencan berdua" kata Vero yang tak menghiraukan sindiran mamanya tadi.


"Halah sok mau kencan tapi pacaran aja belum" sindir mama Sinta lagi yang masih belum merasa puas menggoda Vian


"iss apaan sih mama, gak pernah muda ya? oh maklum mungkin sudah lupa kan sekarang udah tua" balas Vian yang sedari tadi merasa kesal karena mamanya.

__ADS_1


"Eh kurang ajar ya kamu.." ucap mama Sinta tak terima, tapi sebelum melanjutkan kalimatnya, papa Abraham memotongnya.


"Sudah sudah, tak baik berantem di depan makanan" Kata papa Abraham melerai ibu dan anak itu, kalau tidak di lerai bisa sampai besok baru selesai.


Vero yang melihat dari tadi pun menahan tawanya, ia baru kali ini melihat sisi lain Vian ketika bersama keluarganya. Kemana Vian yang dingin dan irit bicara saat disekolah pikir Vero. Mereka pun mulai makan siang dengan tenang tanpa ada perdebatan ibu dan anak itu. Setelah selesai makan, Vian hendak menarik tangan Vero tapi di dahului oleh mama Sinta.


"Ayo sayang kita duduk di ruang keluarga, ada banyak yang mama mau kasih tau kamu tentang Vian, jadi kamu bisa pikir dua kali saat mau menerima Vian." ajak mama Sinta.


Vian yang kecolongan pun kesal, lalu langsung ke kamarnya. Ia akan mendiami Vero nantinya,sedangkan disisi lain Vero dan mama Sinta terus mengobrol berdua karena papa Abraham sehabis makan siang langsung ke ruang kerjanya.


Mereka berdua berbincang sampai lupa waktu, mungkin orang yang melihat mereka berdua mengobrol akan mengira mereka ibu dan anak saking akrabnya.


Vero yang baru sadar kalo sudah mau sore, ia melihat kesana kemari mencari keberadaan Vian. Mama Sinta yang melihat Vero seperti sedang mencari sesuatu pun bertanya


"Cari Vian ya?" tanya mama Sinta


"kamu kekamarnya aja, ada di lantai dua pintu warna coklat ya" tunjuk Mama Sinta yang tau keberadaan Vian saat ini.


"eh enggak deh tante, aku tunggu dibawah aja" Vero merasa tak enak jika masuk ke kamar Vian.


"gak papa, masuk aja. Tante tebak dia sedang ngambek sekarang, jadi kamu samperin aja." tebak mama Vian benar.


"Oh ya udah Vero keatas dulu ya Tante" pamit Vero dan diangguki mama Sinta.


Vero sudah sampai di lantai dua, sekarang ia sudah berada di depan pintu bewarna coklat. Ia pun langsung mengetuk pintu kamar dan memanggil Vian tapi tidak ada jawaban dari dalam. Karena tidak ada jawaban, Vero pun memberanikan diri untuk masuk dan melihat Vian. Ia melihat Vian yang tertidur, Vero pun langsung mendekati Vian.

__ADS_1


Ia terus memandang Vian 'ganteng' kata Vero memuji Vian yang sedang tidur dalam hati.


Vian sebenarnya sudah bangun sedari Vero mengetuk pintu kamarnya tapi ia memilih untuk pura-pura tidur. Vian yang tau kalo sedang diperhatikan oleh Vero pun langsung menarik Vero ke dalam pelukannya. Vero yang tiba-tiba di tarik pun terjatuh menimpa Vian di kasur, pelukan Vian sangatlah erat dan nyaman tapi Vero yang sadar dengan posisi mereka sekarang pun mencoba melepaskan pelukan Vian.


"Lepas Vian, gak boleh begini" seru Vero yang berusaha kuat untuk melepaskan diri tapi sayangnya tenaga Vian jauh lebih besar dari Vero.


"nggak mau, dari tadi kamu cuekin aku terus. aku ngambek tau" kata Vian yang masih merajuk karena dicuekin Vero.


"lepas dulu Vian, aku sesak" balas Vero yang mulai merasa sesak dan takut karena pelukan Vian yang membuat ia mengingat kejadian pahit itu. Tubuh Vero bergetar hebat, Vian pun yang merasakan tubuh Vero bergetar langsung mengendurkan pelukannya tapi tidak dilepaskannya.


"cium dulu kalau mau lepas" tawar Vian kepada Vero yang masih belum menyadari kalau Vero bergetar karena ketakutan.


"Lepas Vian aku mohon lepas" tubuh Vero semakin bergetar kencang, air mata Vero pun sudah mengalir deras karena terus terbayang kejadian yang seperti kaset rusah di pikirannya.


"Hei iya iya aku lepas, kamu kenapa? kamu baik baik aja kan? aku tadi hanya bercanda" khawatir Vian dan langsung melepaskan Vero. Vero yang merasa pelukan Vian terlepas pun langsung memundurkan dirinya menjauh dari Vian. ia mundur sampai didekat pintu Vian dan langsung berjongkok memeluk lututnya.


"hiks hiks jangan! jangan! jangan mendekat hiks" tangis Vero semakin kencang sambil menarik rambutnya guna menghilangkan bayangan yang terus berputar.


"Hei Vero, sayang jangan bikin aku takut. kami kenapa hei! Vero Vero ayo bangun jangan bikin aku takut Vero!" teriak Vian ketika tubuh Vero mulai tak sadarkan diri karena ketakutan.


"Ma! Pa! Tolong Vero ma! Vero pingsan" teriak Vian


"Vero sayang ayo bangun, jangan bikin aku takut gini" ucap Vian yang juga sudah menangis karena takut kehilangan Vero.


Orang tua Vian yang sedang dibawah mendengar teriakan Vian pun langsung menuju keatas dan terkejut melihat Vero yang tidak sadarkan diri dengan Vian yang menangis sambil memeluknya.

__ADS_1


"Tolongin Vero ma, pa. Vian mohon" tangis Vian semakin kencang ketika melihat orang tuanya ada dihadapannya.


__ADS_2