
"Bolehkah, yang?" tanya Vian dengan mata yang terus menatap bibir Vero dan tanpa menunggu jawaban Vero, Vian langsung menarik tengkuk Vero dan menyatukan bibir mereka. Kali ini bukan hanya menempel melainkan l*matan-l*matan kecil yang Vian berikan membuat Vero langsung menutup matanya menikmati pautan Vian.
Pautan itu berlangsung hingga beberapa menit dan Vian langsung melepaskan ketika menyadari Vero akan kehabisan nafas. Dahi mereka masih menyatu dengan nafas yang tidak beraturan, berlomba menghirup udara yang ada. Vian tersenyum melihat bibir Vero yang membengkak.
"Manis" lagi-lagi Vian katakan setelah mencicipi bibir ranum Vero membuat Vero tidak dapan menahan rasa malunya.
"Sekarang cukup sebatas ini dulu, nanti akan aku lanjutin sesudah kita nikah" kata Vian membuat Vero spontan memukul bahunya.
"Apaan sih, gombal terus" Vero langsung menjauh dari Vian dan pergi ke kamar mandi. Ia terlalu malu sekarang, wajahnya terasa sangat panas.
Vero langsung menatap dirinya di depan kaca lalu menyentuh bibirnya.
"Ini ya rasanya" kata Vero sambil tersenyum malu sambil mengingat apa yang mereka lakukan tadi. Sebenarnya sudah lama ia penasaran bagaimana rasanya karena dulu Vanessa pernah mengajaknya nonton drakor dan terdapat adegan itu disana.
"Iss apa yang kamu pikirkan, Vero! Sadar! Kenapa jadi mesum gini" keluh Vero sambil menepuk pipinya agar sadar. Lalu ia segera mencuci mukanya dan keluar dari kamar mandi. Ketika ingin menemui Vian, ternyata Vian sudah tidak ada lagi di kamarnya. Mungkin Vian sudah turun terlebih dahulu pikirnya. Vero memutuskan untuk mandi terlebih dahulu baru menyusul Vian di bawah. Disisi lain, Vian sedang mengobrol bertiga dengan Papa Beltran dan Aditya di ruang keluarga. Pembicaraan yang cukup serius.
"Terimakasih nak Vian, karena keluarga nak Vian sudah mau menjaga Vero" kata Papa Beltran.
"Panggil Vian aja, Om. Om tidak perlu berterimakasih sama Vian, itu sudah kewajiban Vian untuk jaga Vero." jelas Vian dengan serius.
"Jadi, sejak kapan kalian berpacaran?" tanya Aditya.
"Baru beberapa minggu yang lalu" kata Vian dengan santai. Ia tidak gugup sama sekali ketika mereka bertanya seperti sedang menyidangnya. Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh bapak dan anak tersebut ke Vian tapi dengan lancar Vian jawab membuat Papa Beltran menyetujui hubungan mereka karena menganggap Vian dapat menjaga Vero lebih baik dari padanya.
"Ke negara mana Vero akan pergi, Vian?" tanya Papa Beltran.
"Singapore, Vero akan menjalani perawatan dan juga sekolah disana kurang lebih 1 tahun, Om" jelas Vian lalu diangguki oleh Papa Beltran.
__ADS_1
"Vian!" panggil Vero yang sudah selesai mandi dan langsung turun mencari Vian.
"Disini, Ver" Balas Vian dan langsung dihampiri oleh Vero.
"Eh ada Papa sama kak Adit" kaget Vero ketika melihat papa dan kakaknya sedang duduk bersama dengan Vian.
"Ngobrolin apa aja nih? Pasti tentang aku kan" tanya Vero dengan percaya dirinya membuat Vian langsung meraup wajahnya.
"Gak usah kepedean kamu"
"Iss, aku bukan kepedean ya, aku kan hanya bertanya" kesal Vero lalu mencebikan bibirnya membuat Vian lagi-lagi menggodanya.
"Itu kenapa bibirnya, mau lagi ya?" bisik Vian ditelinga Vero membuat Vero langsung menyikut perut Vian sampai Vian mengaduh.
"Sakit yang~" kata Vian sambil mengelus perutnya.
"Ehem yaudah papa sama kak Adit tinggal dulu ya" kata Papa Beltran tiba-tiba membuat mereka langsung melihat kearahnya.
"Vian juga mau pulang, Om. Sudah malam soalnya" pamit Vian dan langsung diangguki oleh Papa Beltran dan juga Aditya. Vero mengantar Vian sampai didepan rumah.
"Hati-hati ya sayang" kata Vero membuat Vian terkejut ketika mendengarnya.
"Apa? tadi bilang apa?" tanya Vian sekali lagi memastikan apa yang didengarnya.
"Hati-hati Sayangggggg" kata Vero sengaja memanjangkan kata sayang membuat Vian tidak dapan menahan senyum gembiranya.
"Iya, makasih ya sayang" balas Vian lalu mengecup kening dan pipi Vero.
__ADS_1
"Uhh rasanya aku gak mau pisah sama kamu, yang. Aku culik aja ya? Mau ya?" Tanya Vian yang membuat Vero langsung tertawa karena mendengar perkataan Vian yang aneh. Ada ya orang yang mau nyulik tapi izin dulu ke korbannya. Vero hanya bisa menggeleng dan mengusir Vian dengan halus.
"Jangan aneh deh kamu, yang. Pulang sana nanti kemalaman loh sampai ke rumahnya" kata Vero sambil mengibaskan tangannya seperti mengusir. Vian pun langsung mengangguk dan melajukan mobilnya pulang kerumah.
Setelah mobil Vian tidak terlihat lagi, Vero langsung masuk kerumahnya. Kali ini Vero ingin ke kamar orang tuanya karena ingin melihat mamanya. Kemungkinan mamanya sekarang sudah tidur, jadi ia bisa melihat mamanya. Vero langsung mengetuk pintu kamar orang tuanya dan langsung dibuka oleh Papa Beltran.
"Loh Vero, Ada apa?" tanya Papa Beltran ketika melihat Vero datang ke kamarnya.
"Mama sudah tidur kan, Pa? Vero mau melihat mama, Pa. Boleh kan?" izin Vero dan langsung dipersilahkan oleh Papanya. Vero langsung masuk dan bersimpuh disamping kasur mamanya. Ia memegang tangan Mama Anggi dengan lembut sambil mengelusnya.
"Ma, Vero minta maaf ya ma. Mama seperti ini karena Vero, kalau saja Vero tidak lahir di dunia ini Mama pasti bahagia kan ya." lirih Vero sambil meneteskan air matanya. Ia tidak tahan melihat kondisi mamanya yang lemah seperti ini. Ia lebih baik melihat mamanya yang tidak perduli dengannya daripada terbaring lemah di kasur seperti ini. Papa Beltran yang mendengar perkataan Vero langsung mendekati Vero dan memegang bahunya.
"Ini bukan salah kamu, nak. Ini salah papa yang gagal menjaga mama kamu membuat mama kamu jadi seperti ini." kata Papa Beltran yang menghibur Vero dan juga menyalahkan dirinya.
"Enggak, Pa. Papa gak salah. Ini sudah takdir dari Tuhan pa." kata Vero yang tidak mau mendengar papanya menyalahkan dirinya sendiri. Vero langsung berdiri dan memeluk Papa Beltran. Rasanya hangat dan nyaman, ia merasa aman ketika memeluk papanya. Ia berdoa semoga ini semua dapat ia rasakan selamanya. Setelah beberapa menit, Vero melepaskan pelukannya dan membalikan tubuhnya mengarah ke mamanya.
"Ma, Vero kembali ke kamar dulu ya. Besok Vero akan kesini lagi." pamit Vero lalu menciumi kening mamanya.
"Pa, Vero ke kamar dulu ya." pamit Vero juga dan langsung diangguki oleh Papa Beltran.
Keesokan paginya, Vian kini sudah berada di rumah Vero untuk menjemput Vero.
"Sudah sarapan, Vian?" tanya Papa Beltran ketika melihat Vian baru datang dan langsung ke meja makan.
"Sudah, Om." jawab Vian.
"Yaudah yuk berangkat." ajak Vero setelah selesai sarapan. Mereka berdua pun pamit ke Papa Beltran, Aditya dan Chelsea. Chelsea seperti biasa akan diantar oleh Aditya yang sekalian berangkat ke kampusnya. Papa Beltran juga akan bersiap untuk berangkat ke perusahaannya. Ia tidak mungkin meninggalkan urusan perusahaan terlalu lama. Biarlah Bi num yang akan menjaga istirnya selagi ia tidak dirumah.
__ADS_1