
"ehemm.. aku mau lanjutin nih ceritanya. kamu masih mau dengar gak?" kata Vero agar Vian lupa kalo lagi ngambek.
"eh iya mau mau,, jadi sehabis itu kamu trauma karena kejadian itu?" tanya Vian penasaran dan dibalas anggukan oleh Vero.
"iya, semenjak itu aku terus bermimpi buruk, bahkan aku menyakiti diri aku sendiri dan hampir ingin bunuh diri karena aku stres, aku merasa diri aku kotor. Aku mencoba berobat ke psikiater tapi tidak sembuh juga, jadi sampai sekarang kalau aku mimpi buruk aku langsung minum obat penenang. obat yang selalu aku simpan di laci kamarku" cerita Vero dengan raut wajah yang murung dan membuat Vian lagi lagi terkejut karena mendengar Vero hampir mau bunuh diri.
"udah sayang, sekarang ada aku jadi kamu jangan pernah ingin bunuh diri lagi oke? jangan tinggalin aku ya" pinta Vian kepada Vero. Tadi saat Vero pingsan saja ia sudah sangat ketakutan, apalagi kalau Vero beneran ninggalin dia. Vian gak mau itu terjadi. Setelah menceritakan semuanya kepada Vian, Vero merasa beban dipundaknya lebih ringan dari sebelumnya.
"Kamu udah merasa baikan sekarang?" tanya Vian ke Vero dan dibalas anggukan oleh Vero.
"Yaudah yuk kita pulang, udah sore ini. Kita ke bengkel dulu ambil motor kamu" ajak Vian sambil menggandeng tangan Vero.
Vero hanya pasrah saat tangannya di genggam oleh Vian, ia sudah lelah akan sikap aneh Vian sedari tadi siang.
Mereka pun kebawah dan langsung pamit ke orang tua Vian.
Mereka pun kebawah dan langsung pamit ke orang tua Vian.
"Ma pa aku antar Vero pulang dulu" pamit Vian ketika melihat orang tuanya sudah duduk di ruang tamu
"Om tante, Vero pamit pulang dulu ya" pamit Vero sambil mencium tangan kedua orang tua Vian.
__ADS_1
"Kamu udah gak papa kan sayang, atau kamu menginap saja disini. Mama takut kamu kenapa kenapa" tanya mama Sinta khawatir karena tadi sebenarnya ia ingin menemani Vero sampai sadar, tapi ia ingin Vian dan Vero bertambah dekat juga jadi ia mengajak suaminya untuk meninggalkan mereka berdua.
"iya Tante, Vero sudah baikan kok" jawab Vero.
"iss kok masih panggil tante sih, panggil mama dong" kata mamanya, sedari tadi ia sudah menyuruh Vero memanggilnya mama tapi Vero masih kekeh memanggilnya tante.
"eh i-iya ma" jawab Vero gugup dan langsung dibalas pelukan oleh mama Vian.
"oke hati hati ya, sering sering main kesini ya" kata mama Vian yang senang jika Vero sering main ke rumah karena ia sering sendirian di rumah.
Sebelum mengantar Vero pulang ke rumah, mereka pergi makan malam di cafe terdekat.
"Akhirnya aku bisa ngedate sama kamu" kata Vian dengan senyum yang lebar membuat banyak pasang mata terutama kaum hawa melihatnya. Vero yang menyadari banyak perempuan yang melihat Vian tiba-tiba moodnya berubah.
Senyum Vian hilang seketika "is kamu itu perusak suasana, gak bisa romantis sedikit apa?" tanya Vian dengan tatapan tak suka. Masa aku yang tampan ini dibilang mirip monyet sih kata Vian menggerutu dalam hati.
"loh memang bener kok. Buktinya tuh liat banyak monyet betina yang lirik kamu" kata Vero sambil mengarahkan dengan dagunya.
Vian langsung melihat ke arah yang diberikan oleh Vero, ia kaget karena tiba-tiba ada perempuan yang menjerit kesenangan karena ditatap oleh Vian. Vian yang melihat itu langsung tersenyum menghadap Vero lalu berkata "ciee ada yang cemburu ni, udah mulai suka ya sama aku, udah tumbuh benih benih cintakah" goda Vian ke Vero dan langsung dibalas dengan kata kata yang membuat Vian sedikit nyesek mendengarnya
"nggak ya, aku gak bakalan suka ataupun cinta sama kamu" kata Vero pedas membuat Vian merubah raut wajahnya menjadi dingin.
__ADS_1
"okeh habisin makanan lo, habis itu kita langsung ke bengkel ambil motor lo" kata Vian dengan dingin.
Deggg...
'apa aku berlebihan ya' pikir Vero saat Vian tiba-tiba dingin seperti pertama kali bertemu.
Mereka pun menghabiskan makan malam tanpa mengobrol. Setelah makan malam, Vian langsung mengantar Vero ke bengkel lalu langsung pamit tanpa mengantar Vero pulang ke rumah.
"Gue pulang duluan" pamit Vian dan langsung melajukan motornya dengan kecepatan cepat meninggalkan Vero sendirian.
"hiks hiks katanya cinta, katanya sayang tapi ninggalin sendirian hiks" tangis Vero pecah ketika melihat Vian pergi tanpa mengantarnya terlebih dahulu. Sebenarnya Vian tak benar-benar meninggalkan Vero, ia tadi berhenti di persimpangan dekat bengkel dan bersembunyi disana. Ia yang melihat Vero menangis ingin sekali memeluk Vero tapi ia tahan karena masih sakit dengan perkataan Vero, ia tidak akan menyerah mendapatkan cinta Vero tapi kali ini ia ingin melihat seperti apa Vero jika ia tak ada. Melihat Vero yang masih menangis membuat Vian semakin tak tahan untuk tak mendekatinya. Ia memilih mendekati Vero dan langsung mendekap Vero kedalam pelukannya.
"Hei, kenapa menangis?" tanya Vian dengan lembut sambil mengelus punggung Vero.
"hiks jahat jahat kamu jahat ninggalin aku sendirian" tangis Vero semakin menjadi saat di peluk Vero, ia memukul punggung Vero berkali-kali.
"Awh sakit tau, jangan pukul lagi. iya iya aku salah udah ninggalin kamu, maaf ya" kata Vero menahan sakit di punggungnya lalu mencium pucuk kepala Vero. Vian semakin mengeratkan pelukannya lalu melepaskannya setelah Vero lebih tenang.
"udah ya nangisnya, kita pulang yuk nanti kemalaman" ajak Vero sambil memakaikan helm ke kepala Vero. Vero pun melajukan motornya diiringi Vian dari belakang.
Sesampainya di rumah vero, Vian langsung pamit pulang. Setelah melihat motor Vian semakin jauh, barulah Vero masuk ke dalam rumah. Vero yang baru sampai di daun pintu rumahnya mendengar keluarganya tertawa bahagia, ia pun menghela nafasnya dan berusaha untuk kuat melihatnya. Ia melewati mereka tanpa berniat menyapa agar tidak merusak suasana bahagia mereka. Vero langsung menuju kamarnya dan langsung membersihkan dirinya karena merasa badanya sudah sangat lengket. setelahnya ia langsung merebahkan dirinya di kasur, ia memikirkan apa yang sudah ia lakukan hari ini dan tanpa sadar menyunggingkan senyumnya karena hari ini ia merasa bahagia bisa merasakan kehangatan keluarga walaupun bukan dari keluarganya sendiri. karena asyik melamun, ia sampai ketiduran sambil tersenyum.
__ADS_1
Mentari pagi pun bersinar terang pagi ini, terlihat Vero yang sudah selesai bersiap untuk berangkat sekolah. Pagi ini ia tersenyum senang menyambut hari yang mungkin membawa kebahagiaan untuknya.