
Matahari mulai menyingsing, semua orang mulai mengawali aktifitas mereka masing-masing. Hari ini hari Jumat, tinggal dua hari lagi Vero akan bertemu dengan keluarganya seperti yang ia janjikan semalam kepada keluarga Vian. Vero sudah siap untuk berangkat sekolah, ia langsung bergegas untuk turun tapi langkahnya langsung dihentikan oleh Vian yang juga baru saja keluar dari kamarnya.
"Sayang, tunggu sebentar kita turun bersama saja" panggil Vian dan langsung diangguki oleh Vero. Mereka pun segera turun ke bawah menuju ruang makan.
"Pagi Ma, Pa" sapa mereka tidak lupa dengan senyum manis untuk mengawali aktifitas hari ini.
"Pagi" balas orang tua Vian.
Mereka pun langsung duduk di kursi biasanya dan langsung menyantap sarapan mereka diselingi oleh obrolan-obrolan ringan.
"Papa berangkat duluan ya, soalnya ada meeting penting" kata Papa Abraham yang mulai beranjak dari kursinya serta Mama Sinta yang langsung mengambil tas serta jas untuk suaminya.
"Iya Pa, kami juga akan berangkat sekarang" kata Vian. Vero dan Vian langsung menyalim tangan Papa Abraham dan Mama Sinta.
Mereka langsung masuk ke mobil dan melajukan mobilnya menuju sekolah.
20 menit kemudian, mobil Vian sudah sampai di parkiran sekolah. Seperti biasa, Vian membukakan pintu untuk Vero dan mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.
"Duh pasangan bucin sudah datang rupanya" sindir halus Vanessa yang melihat Vero dan Vian baru sampai di kelas dengan bergandengan tangan seperti mau nyebrang.
"Sirik aja Lo, tu Farel jangan dianggurin terus" balas Vian yang langsung mendapatkan delikan mata oleh Vanessa karena kesal.
"Sudah sudah, masih pagi sudah ribut aja kalian" lerai Farel yang sudah merasa jengah melihat adu mulut Vian dan Vanessa yang hampir setiap hari jika mereka bertemu.
"Eh ver, 2 minggu lagi kan kita ujian ni, gimana kalau sesudah ujian kita liburan bareng?" usul Vanessa saat Vero sudah duduk di kursinya.
"Ide bagus tuh" kata Farel tiba-tiba membuat Vanessa dan Vero terkejut.
"Eh gue gak ada ajak Lo ya" kesal Vanessa.
"Gak papa Nes, kita pergi berempat aja biar seru. Semakin ramai semakin bagus dong" usul Vero yang menyetujui usulan Vanessa untuk liburan karena bagaimanapun ia tidak akan bertemu dengan mereka untuk waktu yang lama.
"Iya, aku setuju sama kamu sayang" kata Vian.
"Kita mau liburan dimana?" tanya Vanessa.
"Bagaimana kalau kita ke puncak aja, disana ada vila keluarga gue. Jadi kita bisa nginap disana untuk beberapa hari dan juga kita akan barbeque disana" usul Vian dan langsung diangguki oleh mereka bertiga dengan mata yang berbinar.
"Setuju tuh, duh jadi gak sabar kesana" kata Vanessa dengan semangatnya sampai lupa kalau ada ujian didepan mata yang akan menguras tenaga dan pikirannya.
"Sabar, kita ujian dulu" kata Vero membuat raut wajah Vanessa yang tadinya semangat langsung surut menjadi lesu.
__ADS_1
"Huh, kenapa harus ada ujian sih" keluh Vanessa dan langsung ditertawai oleh mereka bertiga karena ekspresi Vanessa yang lucu.
Bel masuk pun berbunyi, mereka pun memulai pelajaran hari ini.
*Skip langsung hari sabtu
Tak terasa besok Vero sudah akan bertemu dengan keluarganya. Vero sekarang sudah berada dikamarnya setelah makan malam bersama. Ia memikirkan bagaimana hari esok saat ia bertemu dengan keluarganya. Apa ia bisa memaafkan mereka? Apa ia bisa memahami penyebab perlakuan mereka selama ini? ia sangat gugup takut tidak diterima kembali seperti biasanya, ia sangat takut melihat tatapan orang tuanya yanb seperti tidak menginginkan ia lahir di dunia yang keras ini. Ia terus memikirkan sampai tidak terasa sudah masuk ke alam mimpi.
Keesokan paginya jam 8 pagi, Vero, Vian dan orang tuanya sudah siap untuk berangkat ke rumah Vero. Sebelum berangkat, mereka sarapan terlebih dahulu tadi.
"Sudah siap sayang?" tanya Mama Sinta kepada Vero ketika melihat Vero yang baru saja turun dari lantai atas bersama Vian.
"Sudah ma" kata Vero dengan jantung yang berdebar karena gugup dan takut tapi tiba-tiba ada tangan yang memegang tangannya. Ya siapa lagi kalau bukan tangan Vian, Vian tau kalau Vero sedang gugup sekarang. Jadi, ia mencoba untuk menenangkan hati kekasihnya itu.
"Tenang saja sayang, ada aku dan orang tuaku disisi kamu. Jadi, jangan takut ya" hibur Vian dan langsung diangguki oleh Vero dengan senyuman manisnya.
"Terimakasih Vian" balas Vero.
Mereka berempat pun langsung masuk ke satu mobil yang sama dan langsung pergi kerumah Vero. Sebelumnya Vero sudah mengabarkan adiknya Chelsea kalau ia akan pulang dan mau bertemu dengan keluarganya. Chelsea yang mendapatkan kabar dari kakaknya pun dengan semangat memberitahukan berita ini ke Papa dan Aditya. Mereka kini sudah menunggu kedatang Vero di ruang tamu.
Sekita 30 menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Papa Abraham sudah sampai di parkiran rumah Vero. Papa Beltran, Aditya dan Chelsea pun segera keluar ketika mendengar suara mobil dan betapa terkejutnya Papa Beltran ketika melihat Abraham, kolega bisnisnya datang kerumahnya tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Padahal ia kira yang datang adalah Vero, putrinya.
"Selamat pagi Pak Abraham, ada apa gerangan bapak datang ke rumah kami pagi ini" sapa Papa Beltran dengan senyum yang sopannya.
Tiba-tiba, Vero yang sedari tadi belum keluar dari mobil karena mempersiapkan dirinya, keluar dari mobil yang sama dengan Abraham.
"Loh Vero, kenapa kamu bisa bersama dengan keluarga Adijaya?" tanya Papa Beltran yang heran sedangkan Chelsea dan Aditya hanya diam menyimak pembicaraan papanya dengan orang yang belum pernah mereka lihat karena tidak mengerti.
"Apa kita hanya akan bicara diluar saja Pak Beltran?" sindir Papa Abraham dengan halus karena sampai sekarang mereka masih berada diluar rumah Vero.
"Oh iya, maaf sebelumnya Pak Abraham. Mari masuk kita lanjutkan didalam saja" kata Papa Beltran langsung yang merasa tidak enak hati karena sedari tadi membiarkannya tamunya di luar.
Vian dan keluarganya langsung masuk dan duduk di sofa yang ada diruang tamu diikuti oleh Vero yang sedari tadi tangannya masih digenggam oleh Vian seakan tidak ingin ditinggal.
"Bi num, tolong buatkan minuman dan makanan ringan untuk tamu saya ya" pinta Papa Beltran kepada Bi num.
"Baik tuan" balas Bi num dengan sopan.
Beltran pun langsung kembali ke ruang tamu dan duduk berhadapan dengan Abraham.
"Jadi boleh saya tanya kenapa putri saya Vero bisa datang bersama anda, Pak Abraham?" tanya Papa Beltran langsung ke intinya karena ia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Saya datang kesini untuk membawa Vero ke rumahnya karena ingin bertemu dengan anda dan sekeluarga" jawab Papa Abraham.
"Oh iya kalau boleh tau, dimana mamanya Vero ya. Kok tidak ada?" tanya Mama Sinta yang sedari tadi penasaran karena tidak melihat Mama Anggi disana.
Vero yang sedari tadi menunduk gugup dan takut pun langsung mengangkat kepalanya dan mencari mamanya yang memang tidak ada disana.
'Apa mama gak mau ketemu sama aku ya' pikir Vero dalam hati.
"Maaf Bu, istri saya sedang tidak enak badan jadi ia masih dikamarnya dari kemarin" jawab Papa Beltran yang menutupi keadaan istrinya yang masih sama seperti hari hari sebelumnya.
"Vero, bisa kita berbicara berdua nak?" tanya Papa Beltran yang melihat Vero sedari tadi hanya diam.
"Bicara disini saja pa" lirih Vero sambil mengeratkan pegangan tangannya yang sampai sekarang masih memegang tangan Vian dengan erat.
"Tapi, apa tidak bisa kita berbicara berdua atau nggak sama kakak dan adik kamu saja" bujuk Papa Beltran sambil melirik keluarga Vian karena tidak enak hati jika masalahnya sampai diketahui oleh orang lain apalagi kolega bisnisnya.
"Apa kami bisa tetap mendampingi Vero, Om?" tanya Vian.
"Maaf kalau saya lancang sebelumnya, om. Saya Vian, pacarnya Veronika" lanjut Vian memperkenalkan dirinya membuat Papa Beltran terkejut karena ternyata anaknya sudah memiliki kekasih.
"Maaf, tapi ini urusan keluarga saya. Ada baiknya hanya ada keluarga saya saja tanpa ada orang luar" tolak Papa Beltran yang langsung dijawab Vero.
"Vero ingin mereka disini, pa. Kalau papa tidak mau, kami bisa pergi sekarang" kata Vero dengan tegas.
"Tapi.."
"Sudahlah pa, biarkan saja. Mungkin Vero merasa nyaman jika mereka ada disini" potong Aditya ketika melihat papanya akan menolak lagi.
"Dek, kamu mau tetap tinggal disini kan?" tanya Aditya dibalas gelengan oleh Vero.
"Kenapa?"
"Vero tidak mau, bukannya kalian tidak mau melihat Vero? Selama ini bukannya kalian tidak memperdulikan Vero ada atau nggak dirumah ini?" tanya Vero dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan tangisnya. Ia mencoba untuk kuat dan tidak boleh menangis.
"Maaf nak, maafin papa dan mama ya. Papa dan Mama melakukan itu karena ada penyebabnya nak" kata Papa Beltran.
"Kenapa baru sekarang? Vero sudah 17 tahun tetapi kalian baru sekarang menyadarinya?" kata Vero lagi.
"Papa baru menyadarinya nak, maafin papa" lirih Papa Beltran dengan suara yang kecil.
"Kenapa? Apa alasannya kalian memperlakukan Vero? Apa karena Vero anak mantan kekasih mama!" pekik Vero dengan dada yang sesak.
__ADS_1
"Sabar sayang" Vian berusaha menenangkan Vero yang mulai tidak terkontrol.
"Papa akan ceritakan semuanya nak" balas Papa Beltran.