Veronika

Veronika
Pergi?


__ADS_3

*Dikediaman Adijaya


"Ma, Vian dan Vero pulang!" pekik Vian dengan keras yang baru tiba dirumah.


"Jangan teriak-teriak Vian! kebiasaan banget sih" balas Mama Sinta tidak kalah berteriak keras membuat Vero yang mendengarnya langsung menutup kupingnya sambil menggelengkan kepala.


"Vero, kamu langsung istirahat saja ya di atas nanti baru keluar saat makan malam ya" kata Mama sinta yang langsung mendekati Vero membuat Vian merasa diacuhkan.


"Ma, ini loh anaknya pulang bukannya disambut duluan eh malah Vero duluan" keluh Vian sambil mengerucutkan bibirnya.


"Halah.. Mama sudah bosan nyambut kamu, gantian dong sama Vero." ledek Mama Sinta membuat Vero tertawa kecil.


"Nanti Vero kebawah saja ma, bantu mama masak" kata Vero yang merasa tidak enak hati jika tidak membantu padahal disini dia hanya numpang.


"eh gak usah, kamu baru saja sembuh jadi jangan sampai kecapekan" tolak Mama Sinta dengan halus dan langsung disetujui oleh Vian.


"Iya benar tuh kata mama, kamu istirahat aja. Yuk!" ajak Vian yang langsung menarik tangan Vero ke lantai atas menuju kamar Vero.


"iss Vian, aku tu mau bantu mama dulu. gak enak tau kan aku hanya numpang disini masa aku gak ada bantu apapun sih" gerutu Vero selama mereka menaiki tangga.


"Eh kamu bukan numpang ya, anggap saja simulasi sebelum beneran tinggal disini selamanya" kata Vian yang langsung dihadiahi pukulan di tangannya. Vero hanya bisa menghela nafas pasrah dengan perlakuan keluarga Vian yang selalu tidak bisa dibantah.


"Sekarang kamu mandi dan langsung istirahat, oke?" perintah Vian ketika mereka baru saja sampai di depan pintu kamar Vero dan langsung diangguki oleh Vero.


"Oke!" balas Vero dengan senyum manisnya dan segera masuk ke kamarnya.


Tidak terasa sudah mau malam, mereka berdua sudah dipanggil oleh bibi untuk makan malam.


Tok.. Tok.. Tok..


Bibi mengetok pintu kamar Vero dan langsung dibuka oleh Vero.


"Ada apa bi?" tanya Vero ketika melihat bibi yang ada didepan pintu kamarnya. Ia kira Vian yang mengetuk pintunya.

__ADS_1


"Bibi mau kasih tau non kalau tuan dan nyonya sudah menunggu di bawah untuk makan malam" kata bibi dengan lembut dan langsung diangguki oleh Vero.


"baik bi, sebentar lagi Vero turun yaa. Terimakasih bi" jawab Vero dengan senyum manisnya. Bibi pun langsung berlalu ke kamar Vian dan memberitahukan hal yang sama kepada Vian. Tidak lama kemudian Vian dan Vero turun bersama ke meja makan.


"Selamat malam pa, ma!" sapa mereka berdua ketika melihat orang tua Vian sudah duduk di kursi masing-masing.


"Selamat malam" balas mereka serempak.


"Vero, ayo makan malam dulu dan setelah ini ada yang mau papa dan mama bicarakan sama kamu" ajak papa Abraham dan langsung ditatap Vero dengan wajah bingungnya.


"Mau bicarakan apa pa?" tanya Vero penasaran sedangkan Vian hanya diam saja karena tau apa yang akan dibicarakan oleh orang tuanya kepada Vero. Vian saat ini sedang berusaha menyiapkan hatinya untuk mendengar keputusan Vero nanti.


"Adalah, sekarang makan dulu saja ya" balas papa Abraham dengan senyum misterius membuat Vero menjadi tambah penasaran dan jantung yang berdetak kencang.


'apa papa mau ngusir aku ya' kata Vero dalam hati dengan jantung yang berdetak semakin kencang.


Dia pun merasa gugup sampai-sampai tidak menikmati makan malamnya hari ini. Setelah makan malam selesai, mereka langsung berpindah ke ruang keluarga.


"Ma..mau bicarain apa pa?" Tanya Vero dengan gugup dan langsung balas senyuman oleh Papa Abraham.


"Kemarin dokter Indra, dokter yang selama ini merawat kamu ketika kamu pingsan memberi saran ke papa agar kamu melanjutkan perawatan kamu, karena papa tahu kamu dulu sempat melakukan perawatan psikis di psikolog tapi tidak berhasil. Jadi, papa mau menyarankan kamu untuk berobat di psikolog terbaik yang ada diluar negeri. Kamu mau?" lanjut papa Abraham disertai pertanyaan yang membuat Vero langsung menegang seketika. Sedangkan Vian yang menyimak pembicaraan papanya hanya bisa diam dan gelisah menunggu jawaban Vero.


"Ma..Maksud papa Vero harus ke luar negeri untuk perawatan? Tapi kenapa pa? Kenapa papa mau repot repot memikirkan perawatan Vero" tanya Vero bertubi tubi dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu mendengar perkataan papa Abraham.


"Apa maksud kamu dengan repot-repot Vero? Bukannya kami sudah bilang kalau kamu sudah seperti anak kami sendiri jadi itu sama sekali tidak merepotkan" bukan papa Abraham yang menjawab perkataan Vero melainkan Mama Sinta yang sedari tadi hanya diam. Ia kesal karena Vero masih saja menganggap mereka orang asing yang selalu direpotkan olehnya.


"Bu..Bukan seperti itu ma, Vero hanya belum pernah menerima perlakuan seperti ini. Vero sangat takut kalian akan merasa direpotkan dan tidak nyaman dengan keberadaan Vero yang sudah seperti benalu disini" balas Vero dengan wajah yang sudah tertunduk merasa bersalah serta air mata yang mulai menetes.


"Dengarkan papa Vero, Vero mulai sekarang jangan pernah merasa tidak enak ataupun merasa seperti benalu disini. Anggap saja kami keluarga kamu" kata papa dengan bijak dan lembut.


"Iya pa, terimakasih Pa, Ma sudah mau menerima Vero" kata Vero dengan senyum manisnya lalu menghapus air matanya.


"Jadi bagaimana? Kamu mau?" tanya papa Abraham lagi karena sedari tadi mereka sudah menunggu jawaban Vero terutama Vian.

__ADS_1


"Apa Vero bisa memikirkannya terlebih dahulu pa? Vero masih bimbang untuk sekarang" kata Vero meminta kesempatan untuk berpikir terlebih dahulu dan langsung disetujui oleh papa Abraham.


"Jangan lama-lama ya Vero karena papa takut trauma kamu semakin parah" pinta Papa Abraham sedangkan Vian langsung mengehela nafas karena semakin penasaran dan gelisah menunggu jawaban Vero.


"Iya pa, secepatnya Vero akan kasih tau" balas Vero.


"Yasudah sekarang kalian kekamar saja, kerjakan tugas sekolah lalu segera istirahat karena besok harus bangun pagi" perintah Mama sinta dan langsung diangguki oleh mereka berdua.


Vero dan Vian pun segera kembali ke kamar mereka masing-masing.


"Vian" panggil Vero membuat Vian langsung menoleh ke Vero.


"Kenapa sayang?" tanya Vian dengan senyum dan tatapan lembutnya.


"Kalau aku pergi, apa kamu mau menungguku?" tanya Vero dengan suara kecil nyaris tidak bisa didengar


"Tentu saja! Tentu aku akan tunggu kamu" jawab Vian dengan tegas membuat Vero langsung menatap mata Vian untuk mencari kebohongan tetapi ia tidak menemukannya dimata Vian yang tegas itu.


"Baiklah" balas Vero dengan senyum manisnya.


"Apa kamu mau pergi Vero?" tanya Vian dengan hati yang gelisah.


"Apa kamu keberatan?" tanya balik Vero dan langsung dibalas dengan anggukan oleh Vian membuat Vero bertanya.


"Kenapa?" tanya Vero.


"Aku gak siap jauh dari kamu sayang. Aku takut nanti kamu melupakan aku ketika disana" kata Vian dengan wajah lesunya membuat Vero semakin tersenyum manis.


"Vian, mau aku pergi atau tidak aku tidak akan pernah melupakan kamu" ucap Vero dengan senyum teduhnya membuat Vian juga membalas senyumannya.


"Janji?" kata Vian sambil mengulurkan jari kelingkingnya ke Vero dan langsung di balas oleh Vero dengan mengaitkan jari kelingkingnya di jari Vian.


"Janji!" kata Vero dengan yakin dan tegas tidak lupa senyum manisnya membuat Vian merasa tenang.

__ADS_1


"Oke, sekarang kamu istirahat ya" kata Vian lalu mengelus rambut Vero dan langsung diangguki oleh Vero. Mereka pun berpisah dan menuju kekamar mereka masing-masing untuk beristirahat.


__ADS_2