Veronika

Veronika
Pelukan yang dirindukan


__ADS_3

"Hah?" Vero terkejut mendengar ajakan Vian yang mendadak.


"nggak nggak aku gak mau Vian, aku takut dan juga ngapain orang tua kamu mau liat aku" tolak Vero, ia takut bercampur bingung ketika tiba-tiba ia mau diajak ke rumah laki yang ada dihadapannya sekarang.


"Kan aku kemarin udah bilang ke kamu kalo aku suka kamu, dan aku serius akan itu. Jadi semalam aku sudah kasih tau orang tuaku dan mereka mau melihat kamu. Kamu tenang aja, orang tua aku gak galak kok jadi aman hehe" kata Vian dengan serius dan diakhiri candaan agar pacarnya tidak takut. Udah mengeklaim pacar aja, kemarin aja masih ditolak.


"Tapi Vian..." Vero masih ragu.


"Udah ayo naik, nanti keburu siang" ajak Vian sekali lagi, Vero pun pasrah lalu langsung menaiki motor Vian. Selama perjalanan ia masih terus memikirkan apa yang dikatakan Vian tadi, ia takut orang tua Vian tidak menerimanya. Ia tak mau merasakan ditolak lagi dan lagi seperti saat di rumah.


Vero terus melamun sampai ia tak sadar kalo mereka sudah sampai di rumah Vian. Vian yang melihat Vero melamun langsung menyadarkan Vero.


"Vero.. Vero... Sayang..." panggil Vian ketiga kalinya dan Vero baru sadar ketika tangan Vian mengelus pipinya dengan lembut, ia yang mendengar Vian memanggilnya sayang langsung memerah.


"ih kenapa pipinya merah, gemesin banget sih pacar aku" goda Vian saat melihat pipi Vero merah seperti tomat, jadi pingin cium kan. (eh Vian ingat anak orang hihi)


Vero yang digoda semakin memerah dan ia langsung menepis tangan Vian dari pipinya.


"Apaan sih, siapa yang pacar kamu? aku belum terima kamu ya" kata Vero dengan kesal.


"kalau belum, berarti kemungkinan kamu akan nerima aku kan" kata Vian sambil mengedipkan matanya sebelah. Menggoda Vero mungkin akan menjadi hobi terfavorit ia mulai sekarang.


"Ya sudah yuk masuk, orang tua aku udah nunggu kamu di didalam" ajak Vian yang langsung mengangkat Vero untuk turun dari motornya karena Vero sedari tadi tidak ada pergerakan.


"eh eh Vian, jangan gitu aku kaget tau" kata Vero yang terkejut karena Vian tiba-tiba mengangkatnya.


"Habisnya kamu lama sih" balas Vian tak mau kalah.


"Tapi Vian" halang Vero sambil menarik lengan baju Vian.

__ADS_1


"Aku takut" imbuh Vero sambil menundukkan kepalanya kebawah.


"Udah gak usah takut, kan ada aku" ajak Vian dan kali ini ia langsung menarik tangan Vero untuk masuk ke rumahnya.


Didalam rumah tepatnya di ruang keluarga, orang tua Vian sedang menonton televisi berdua. Mereka sedang menunggu Vian yang katanya akan membawa Vero ke rumah.


"Ma! Pa! Aku pulang!" teriak Vian.


"Jangan teriak teriak Vian" kata Vero yang terkejut mendengar teriakan Vian yang tiba-tiba.


"Bisa gak, gak usah teriak teriak. Ini rumah bukan hutan Vian!" teriak mamanya dari ruang keluarga, ia kesal karena sedari dulu Vian tidak berubah, selalu berteriak di dalam rumah. Papa Abraham yang mendengar teriakan istirnya langsung menutup telinganya dan tersenyum melihat tingkah anak dan istrinya yang tak jauh beda.


Vian dan Vero pun berjalan menuju ruang keluarga.


"Selamat siang om, tante" sapa Vero dengan gugup.


"Oh ini yang namanya Vero" kata mama sinta dengan tatapan menyelidik membuat Vero semakin ketakutan.


Degg... tubuhnya tegang seketika kerena mama sinta yang tiba-tiba memeluknya, ia bisa merasakan kehangatan dari pelukan mamanya Vian, pelukan yang sedari kecil sangat ia inginkan tapi tak pernah diberikan oleh mamanya.


"Hai Vero, kamu cantik sekali sih" kata mama sinta sambil memeluknya dengan hangat. Vero yang ditanya masih diam mematung dengan mata yang berlinang menahan air matanya agar tidak terjatuh. Vian yang melihat Vero hampir menangis langsung menarik Vero ke belakang tubuhnya.


"Mama membuatnya takut! liat dia hampir menangis" kata Vian khawatir dan langsung menangkup pipi Vero.


"Hei kenapa? Jangan menangis, apa mamaku menyakitimu?" tanya Vian yang membuat Vero semakin menangis.


"Hei anak nakal, mana ada mama menyakitinya, mama hanya memeluknya huh" dengus mama sinta tidak terima saat ia dituduh oleh anaknya.


"eng-enggak kok hiks, mama kamu gak nyakitin aku. aku-aku hiks gak tau kenapa air mata ini keluar, bagaimana ini Vian, tidak mau berhenti keluar. Tolong aku Vian hiks hiks" tangis vero sambil mencoba menghapus air matanya yang terus mengalir deras. Vian yang melihatnya hanya bisa membulatkan matanya sedangkan orang tuanya menahan tawa melihat tingkah Vero yang sangat lucu.

__ADS_1


"pfft hahahaha" tawa mama Sinta pecah karena tak bisa di tahan lagi.


"Haha lucu sekali, minggir kamu!" tawa mama Sinta sambil mendekati Vero dan mengusir anaknya agar menjauh dari Vero.


"Ayo sayang kita duduk dulu, kenapa hmm? Ceritakan saja pada mama" kata mama Sinta sambil menarik Vero menuju sofa meninggalkan dua orang yang masih setia berdiri.


"Iss kok papa gak diajak duduk juga sih ma" rajuk papa yang merasa tidak di pedulikan oleh istrinya.


"Papa bisa duduk sendiri kan, siapa suruh masih berdiri disana" balas mama Sinta yang merasa tidak bersalah.


"cup cup cup jangan nangis lagi sayang, ayo cerita sama mama" kata mama Sinta sambil memeluk Vero kembali.


"Vero sebelumnya belum pernah diperlakukan seperti ini, Vero kangen pelukan mama Vero" jawab Vero tanpa sadar menceritakan keadaanya ke pada keluarga Vian.


"Loh, memangnya mama dan papa Vero kemana?" tanya mama Sinta yang heran karena perkataan Vero seolah olah tidak pernah merasakan kehangatan dari keluarganya.


"Ada di rumah, Tante" jawab Vero dengan polosnya yang membuat Vian dan mama Sinta ingin sekali menggigit pipinya, karena wajah Vero saat ini sangatlah menggemaskan dengan pipi dan hidung yang merah serta mata yang bulat sehabis menangis.


"Berarti masih lengkap dong, terus kenapa menangis" tanya papa Abraham yang juga semakin heran, ia pikir Vero anak yatim piatu.


"hmm itu- itu aku gak tau om tiba-tiba menangis" elak Vero gugup karena berbohong, tapi langsung diketahui oleh mereka karena sekarang Vero seperti tidak mau melihat wajah mereka.


"Ya sudah kalo belum mau cerita, gak papa kok sayang" hibur mama Sinta sambil mengelus punggung Vero.


Vian sedari tadi seperti tidak terlihat oleh mereka bertiga, ia tidak diajak mengobrol bahkan dilirik pun tidak.


"Huh sepertinya aku bukan anak kandung keluarga ini deh" keluh Vian sambil menghela nafas besar dan itu bisa didengar oleh mereka semua.


"Heh dasar anak durhaka kamu, kalo bukan anak kami lalu anak siapa? Anak monyet hah?" kata mama Sinta sambil membesarkan matanya sehingga terlihat menyeramkan dimata Vian.

__ADS_1


"Hih jangan gitu dong ma, seram tau" kata Vian yang bergidik melihat tatapan mamanya.


__ADS_2