
Jadi Vian yang menyelesaikannya sehingga mendapatkan boneka kelinci kecil. Vero sangat senang ketika mendapatkan boneka itu, ia akan membawanya nanti untuk kenangan jikalau merindukan Vian.
Setelah bermain panah-panahan, mereka langsung menuju permainan yang cukup memacu adrenalin mereka. Sebenarnya Vian cukup takut untuk menaiki wahana tersebut, tetapi melihat Vero sangat ingin menaiki wahana itu akhirnya Vian hanya pasrah mengikuti Vero. Segala jenis wahana disana mereka naikin mulai dari kicir-kicir, Halilintar dan masih banyak lagi. Hari sudah hampir sore, Vero dan Vian kini sedang berada di wahana bianglala. Ini merupakan wahana terakhir yang akan mereka naiki karena sehabis ini mereka akan pergi ke supermarket. Didalam bianglala mereka hanya berdiam diri dengan pikiran masing-masing.
"Kamu lelah?" tanya Vian memecah keheningan itu dan menatap Vero dengan lembut.
"Lumayan, tapi seru banget. Makasih ya" jawab Vero dengan senyum manisnya bercampur canggung. Entah kenapa suasana yang tadinya sangat senang dan seru berubah menjadi canggung dan hening.
"Lagi mikirin apa?" tanya Vian lagi.
"Ngg.. Nggak, nggak ada mikirin apa apa kok" balas Vero lagi.
"Yakin? Kamu lagi mikirin besok ya?" tanya Vian yang merasa yakin kalo Vero sedang memikirkan ia akan pergi keluar negeri sendirian.
"Iya, semakin hari aku merasa gak harus pergi untuk berobat. Aku takut ninggalin kalian dan gak mau jauh dari kalian. Apa aku nggak usah berangkat aja, Vian?" lirih Vero sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa tidak rela pergi jauh padahal harusnya perasaan ini Vian yang rasakan bukan Vero karena yang akan pergi itu Vero.
"Stt.. Hei, coba lihat mata aku. Kalau kamu nggak mau pergi ya nggak papa, tapi ingat kesehatan kamu yang paling penting. Kami semua akan nunggu kamu disini untuk ngelihat kamu bisa bahagia tanpa dibayangi oleh trauma kamu. Harusnya aku yang takut jauh dari kamu dan kamu ninggalin aku, tapi kok malah kamu sih yang takut hehe." hibur Vian sambil memegang dagu Vero untuk mengatakan wajahnya menghadap Vian.
"Iya kamu bener, aku janji bakalan cepat sembuh dan pulang untuk berkumpul dengan kalian lagi, tapi kamu harus janji juga akan jaga hati kamu ya. Jangan lirik perempuan di luar sana, awas aja kalau aku tau. Aku bakalan ninggalin kamu selamanya." ancam Vero dengan wajah galaknya yang bukannya membuat Vian takut tetapi malah tertawa gemas lalu mencubit hidung kecil Vero.
"Iya sayang, gak mungkin aku liat perempuan lain kalau sudah ada kamu di hati aku" kata Vian dengan senyum manisnya.
"I love you Vian Adijaya" kata Vero.
__ADS_1
"I love you too Veronika Dwi Kanaya" balas Vian lalu menarik tengkuk Vero dan langsung menyatukan bibir mereka tepat disaat mereka berada paling atas, lalu menyesap bibir Vero perlahan dengan lembut.
"Kata orang, kalau kita mencium pasangan kita disaat kita berada di bianglala paling atas, kita akan langgeng loh yang" kata Vian ketika mengakhiri ciuman mereka membuat wajah Vero langsung memerah.
"Apa iya?" tanya Vero dengan malu-malu.
"Nggak tau sih bener atau nggak, tapi aku yakin kalau apapun yang terjadi cinta aku tetap untuk kamu seorang" kata Vian dengan serius dan langsung dicubit gemas oleh Vero.
"Gombal terus sih" kata Vero dengan wajah yang sudah sangat merah.
"Hehehe bukan gombal sayang, tapi aku serius loh" balas Vian dengan cengirannya.
Tidak terasa mereka sudah dibawah saja, Vian turun pertama lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Vero turun.
"Terimakasih, Pangeran" balas Vero dengan senyum manisnya dan langsung tertawa bersama karena merasa lucu dengan tingkah mereka sendiri.
"Kamu senang?" tanya Vian yang sudah menjadi kebiasaan ketika mereka berdua sedangan kencan atau melakukan sesuatu bersama.
"Iya senang, aku senang sekali hari ini. Makasih my love, cup" kata Vero lalu mencium pipi Vian tiba-tiba membuat Vian langsung mematung karena perbuatan Vero dan langsung tersenyum dengan pipi merahnya karena salah tingkah lalu memegang kedua tangan Vero sehingga posisi mereka sekarang berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Aku akan berusaha buat kamu senang terus yang, tapi semisalnya aku bikin sedih kami secara gak sengaja, kamu jangan langsung tinggalin aku ya. Aku akan berusaha buat kamu tersenyum tapi aku nggak janji akan selalu buat kamu tersenyum karena didalam suatu hubungan pasti ada rasa pahit dan manisnya. Aku mau sama-sama dengan kamu dan merasakan semua manis dan pahit itu." kata Vian dengan serius membuat Vero terharu dan meneteskan air mata.
"Hei,, kok nangis. Ada yang salah ya dengan kata-kata aku ya? Atau ada kata-kata aku yang bikin kamu sedih dan sakit hati?" Vian terkejut ketika melihat Vero menangis, lalu langsung memeluk Vero sambil mengelus punggung Vero dangan lembut.
__ADS_1
"Hiks.. Nggak, kamu nggak nyakitin aku. Aku terharu dan nggak nyangka kalau aku akan ngerasain dicintai segini dalamnya oleh kamu. Terimakasih Vian terimakasih kamu udah mau mencintai aku segitu tulusnya padahal aku banyak kekurangan. Hiks hiks" Isak Vero sambil mengeratkan pelukannya.
"Cup. Cup. Cup. Udah berenti nangisnya ya, itu udah keharusan aku untuk mencintai kamu. Aku yang harusnya terimakasih ke kamu karena udah mau balas cinta aku." kata Vian sambil mengusap air mata Vero dipipinya setelah memberikan tiga kecupan di kedua mata dan hidung Vero yang memerah gemas.
"Yuk kita ke supermarket market dulu trus makan malam habis itu kita pulang." ajak Vian menarik tangan Vero dengan lembut lalu berjalan beriringan dengan mesra membuat banyak orang yang memandang iri ketika melihat mereka berdua yang terlihat sangat serasi.
Kini Vian dan Vero sudah berada di mall terbesar di Jakarta. Mereka langsung pergi ke area supermarketnya dan belanja kebutuhan Vero besok. Setelah selesai berbelanja, Vian meminta belanjaan mereka dititip sebentar karena mereka akan makan malam di restoran yang ada di mall tersebut. Setelah makan malam mereka langsung mengambil barang yang dititipkan lalu menuju ke parkiran. Mereka langsung melajukan mobilnya menembus kegelapan malam dengan banyak bintang di langit.
Kini mereka sudah sampai dihalaman rumah Vero, mereka berdua langsung turun lalu menurunkan barang belanjaan mereka dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu sudah ada kedua orang tua Vero dan juga saudara Vero. Mereka sedang menonton tv bersama seusai makan malam.
"Udah pulang dek? Loh ini aja yang dibeli dek?" sambut Aditya ketika melihat Vero dan Vian masuk dan melihat barang belanjaan Vero yang sangat sedikit.
"Iya kak, ini aku beli sedikit dulu biar gak ribet bawanya. Nanti disana baru beli yang lainnya." jawab Vero sambil menyalim tangan kedua orangtuanya diikuti Vian dari belakang. Mama Anggi hanya diam saja tapi ada sedikit kemajuan karena mau menerima uluran tangan Vero membuat Vero dan yang lainnya tersenyum senang melihatnya.
"Aku pulang dulu ya Om, Tante, Kak Adit dan Chelsea." pamit Vian.
"Loh baru aja datang" kata Papa Beltran.
"iya om, udah malam juga. Vian juga mau langsung istirahat kan besok mau mengantar Vero. Veronya juga sudah lekat tuh" balas Vian dengan senyum manisnya. Vero pun langsung mengantar Vian sampai kedepan rumah.
"Kamu hati-hati bawa mobilnya, jangan ngebut yaa" kata Vero mewanti-wanti Vian karena melihat wajah Vian yang sudah kelelahan.
__ADS_1
"Iya, kamu masuk gih langsung istirahat, besok penerbangannya pagi kan" kata Vian lalu mengecup kening Vero. Vero pun melambaikan tangannya ke mobil Vian yang akan pergi.