
Setelah melewati drama yang sangat menyedihkan itu, kini Vero dan Vian sudah melajukan mobilnya ke mall yang sudah disepakati mereka. Sesampainya di mall, Vero dan Vian langsung menuju ke tempat janjian mereka, disana ternyata sudah ada Farel dan Vanessa.
"Hai, sudah lama nunggunya?" sapa Vero ke Farel dan Vanessa dan dibalas gelengan oleh mereka.
"Belum kok, kami juga baru aja sampai" balas Vanessa.
"Yuk kita langsung aja belanjanya biar tidak kesorean" ajak Vian dan langsung diikuti oleh mereka.
Kini Vian dan Farel sudah membawa masing-masing satu troli untuk barang belanjaan mereka. Mereka berempat membagi menjadi dua kelompok agar cepat selesai. Vian dan Vero pergi membeli daging dan juga sayuran yang akan di gunakan untuk barbeque dan juga persediaan mereka selama dua hari satu malam di puncak. Sedangkan Farel dan Vanessa pergi membeli perlengkapan camping dan juga barbeque serta alat alat yang sekiranya dipakai untuk mereka nantinya. Setelah selesai, mereka berkumpul di satu titik lalu mengantri di kasir.
Belanjaan mereka cukup banyak, untungnya Vian tadi membawa mobil jadi mereka tidak kesusahan membawanya. Setelah selesai berbelanja, mereka langsung pulang kerumah masing-masing sedangkan Vero akan pulang ke rumah Vian karena ia nantinya akan berangkat bersama dengan Vian. Mereka akan pergi pagi pagi sekali sehingga tidak akan terkena macet, Vian dan Vero akan menjemput Vanessa dan Farel dirumahnya terlebih dahulu.
Kini Vian dan Vero sudah sampai di rumah Vian. Mereka disambut dengan antusias oleh Mama Sinta yang sudah menunggu mereka sedari tadi. Vian dibantu oleh satpamnya membawa barang belanjaan mereka dan langsung disusun di kulkas untuk daging dan sayuran agar tidak membusuk dan layu.
"Akhirnya pulang juga kamu nak" sambut Mama Sinta dengan semangat.
"Kamu buruan ke atas bersihkan diri dulu lalu turun untuk makan malam ya" kata Mama Sinta.
"Ma, ini anaknya loh mau diperhatiin juga" gerutu Vian yang merasa di nomor duakan ketika ada Vero.
"Ya kamu ngalah dong, masa iri sama pacar sendiri sih. Nanti kalau mama galak ke Vero dibilang mama mertua jahat pula" kata mama Sinta membuat Vian langsung mengerucutkan bibirnya. Vero yang melihat hanya bisa terkekeh kecil dan menahan tawa melihat Vian yang manja ke Mamanya.
Mereka berdua langsung keatas untuk membersihkan diri lalu turun untuk makan malam. Di meja makan sudah ada orang tua Vian yang menunggu mereka berdua turun.
Mereka langsung memulai makan malamnya ketika Vian dan Vero sudah tiba di meja makan. Setelah makan malam, mereka berpindah tempat ke ruang keluarga untuk berkumpul dan bercerita. Obrolan malam itu diiringi oleh Mama Sinta dan Vero yang bercerita tentang masa ujian dan juga rencana mereka untuk liburan di villa puncak besok pagi. Sedangkan Papa Abraham dan Vian hanya menyimak dan sesekali berbicara.
"Yaudah sekarang kalian sebaiknya istirahat lebih awal karena besok pagi pagi sudah mah berangkat." kata Papa Abraham mengakhiri sesi bercerita antara Mama Sinta dan Vero.
"Iya Pa, kami keatas dulu ya" kata Vian lalu menarik tangan Vero agar berpisah dengan mamanya yang mungkin akan melarang Vero untuk keatas.
"Kenapa tarik-tarik sih Vian?" tanya Vero ketika masih di tangga menuju lantai dua.
"Habisnya kalau nggak ditarik nggak akan selesai kalian ngobrolnya" jawab Vian lalu mengantar Vero sampai didepan pintu kamarnya.
"Sudah sampai, sekarang mana kissnya" kata Vian. Hal ini sudah rutin mereka lakukan ketika akan berpisah. Entah itu hanya kecupan di pipi, dahi maupun di bibir.
Vero yang mendengar langsung mengecup pipi Vian dan langsung masuk ke kamarnya karena takut Vian akan berbuat lebih.
Sedangkan Vian hanya bisa melongo melihat tindakan Vero lalu menggeleng sambil tersenyum.
Besok paginya, pagi pagi sekali Vero dan Vian sudah berangkat menjemput Farel dan Vanessa dirumahnya. Mereka langsung menuju ke puncak melewati jalan tol. Selama diperjalanan diiringi oleh obrolan dan juga suara Vero dan Vanessa yang bernyanyi di mobil sehingga perjalanan kali ini semakin seru. Setelah dua jam perjalanan, mereka kini sudah sampai di villa keluarga Vian. Mereka langsung disambut oleh Mang Ujang dan Bi Mumun yang ditugaskan untuk menjaga dan merawat villa tersebut.
"Selamat datang den, non" sambut keduanya ketika melihat Vian dan teman temannya turun dari mobil.
__ADS_1
"Terimakasih Mang Ujang dan Bi Mumun" kata Vian.
"Sini mamang bantu bawain barang barangnya den" kata Mang Ujang menawarkan bantuan karena melihat bawaan tuan mudanya sangat banyak.
"Iya mang, tolong ya" kata Vian lagi.
"Sebelumnya saya perkenalkan teman teman saya dulu mang. Ini Vero dan Vanessa sedangkan yang cowok itu namanya Farel, mang. Dan ini Mang Ujang dan juga Bi Mumun yang menjaga villa ini" kata Vian memperkenalkan mereka ke Mang Ujang dan Bi Mumun.
"Salam kenal, Mang Ujang dan Bi Mumun" kata Vero dengan senyum manisnya.
"Aduh cantik sekali non Vero dan non Vanessa." puji Bi Mumun membuat Vero dan Vanessa malu malu.
"Salam kenal Mang Ujang dan Bi Mumun" sapa Farel yang sudah selesai menurunkan barangnya.
"Salam kenal den" balas Mang Ujang.
"Mari masuk Aden dan nona" kata Bi Mumun sedangkan Mang Ujang membantu membawakan barang-barang mereka bersama Vian dan juga Farel.
Mereka berempat langsung masuk ke dalam dan langsung diantarkan ke kamar masing-masing oleh Bi Mumun. Vero dan Vanessa memilih untuk sekamar karena Vanessa tidak berani untuk tidur sendirian sedangkan Farel dan Vian memiliki kamar masing-masing. Mereka langsung membersihkan diri mereka setelah itu langsung berkumpul di dapur untuk menyiapkan daging untuk nanti malam. Mereka berbagi tugas, untuk yang cewek mereka menyiapkan semua makanan untuk nanti malam sedangkan yang cowok mereka menyiapkan alat alat untuk nanti malam. Setelah selesai semuanya mereka memilih untuk berkeliling di sekitar villa karena sekarang masih siang dan mereka akan kembali ke villa menjelang sore nanti. Mereka kini sudah berada di belakang villa, disana ada kebun teh yang cukup luas dan indah. Karena udara yang dingin walaupun sudah siang membuat mereka semangat menjelajahi kebun teh itu. Disana mereka berfoto bersama mengabadikan moment yang tidak akan terlupakan bagi mereka. Karena keasyikan berfoto, mereka tidak sadar kalau hari sudah menjelang sore. Mereka berempat memutuskan untuk kembali ke villa dan segera menyiapkan semuanya untuk barbeque.
Hari sudah menjelang malam, mereka kini sudah berada di halaman belakang villa untuk pesta barbeque. Vian dan Farel bertugas untuk memanggang daging dan juga jagung sedangkan Vero dan Vanessa menunggu hasil panggangan Vian dan Farel. Setelah selesai memanggang, mereka duduk melingkar lalu menyantap daging dan jagung yang sudah matang itu. Setelah makan, Vanessa mengajak mereka bertiga untuk bermain Truth or Dare dengan sebuah botol kaca yang tadinya berisi teh manis.
"Kita main truth or Dare yuk" ajak Vanessa dengan semangat dan langsung disetujui oleh mereka bertiga. Vanessa dengan semangat memutar botol tesebut, tidak disangka botol itu malahan berhenti tepat di Vanessa.
"Hahaha jadi mau pilih apa ni nes? Truth or Dare?" tawa Vero melihat Vanessa yang terkena senjata makan tuan.
"Truth ajalah" putus Vanessa karena takut disuruh yang aneh-aneh oleh mereka.q
"Oke aku yang tanya kamu ya" kata Farel.
"Apa kamu masih suka sama aku?" tanya Farel membuat mereka bertiga terkejut terutama Vanessa yang langsung terdiam kaku. Suasana yang awalnya seru menjadi canggung karena pertanyaan Farel.
"Hayooo suka nggak Nes?" goda Vero membuat Vanessa langsung memalingkan wajahnya yang sudah merah seperti tomat karena malu.
"Iss kenapa pertanyaannya gitu" kesal Vanessa.
"Ya suka suka akulah, kan aku yang nanya. Jadi apa jawaban kamu hmm?" jawab Farel dengan santai tetapi tatapan mata yang serius menunggu jawaban Vanessa.
"I-Ituu aku.. akuu..." Vanessa sangat gugup.
"Aku apa hmm" tanya Farel dengan lembut sedangkan Vero dan Vian hanya melihat dua sejoli itu, mereka berdua berharap Vanessa bisa jujur akan perasaannya ke Farel.
"Iya iya aku masih suka sama kamu, puas?" kesal Vanessa karena didesak terus oleh Farel. Farel yang mendengarnya pun mau tau mau tersenyum bahagia dan langsung memeluk Vanessa dengan erat.
__ADS_1
"Aku juga suka sama kamu, jadi hari ini kita pacaran ya" putus Farel langsung.
"Eh apaan, aku belum nerima kamu yaa" tolak Vanessa dan langsung dijawab oleh Farel dengan santai.
"Bodo amat yang penting kita jadian hari ini, titik." putus Farel dengan tegas dan serius membuat Vanessa pasrah.
"Eh ciee cieee udah jadian nihh, PJ (Pajak Jadian) nya jangan lupa yaa" goda Vero semakin menjadi membuat Vanessa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Farel yang melihat hanya bisa terkekeh gemas sedangkan Vian yang diam sedari tadi hanya bisa tersenyum melihat temannya senang.
"Apaan sih, sekarang lanjut yaa" Vanessa langsung mengalihkan mereka dengan melanjutkan permainannya. Ketika diputar, botol tersebut langsung mengarah ke Vero membuat Vanessa langsung terpekik senang.
"Ayo pilih yang mana Vero?" tanya Vanessa dengan semangat.
"Aku pilih Dare aja deh" putus Vero membuat Vanessa langsung bertepuk tangan karena kesenangan.
"Kamu cium orang yang kamu suka sekarang" perintah Vanessa membuat Vero langsung membesarkan matanya karena terkejut.
"Yang lain deh Nes. Malu tau" kata Vero dengan pipi yang sudah memerah.
"Nggak ada yang lain, sekarang ayokk" kata Vanessa yang senang karena berhasil membalaskan dendamnya yang sedari tadi di goda oleh Vero.
Vero pun langsung mengecup pipi Vian membuat mereka langsung bersorak.
"Kok di pipi, di bibir dong" goda Vanessa membuat Vero semakin malu.
Semakin malam suasana semakin seru tetapi mereka memutuskan untuk berhenti tepat jam 12 malam setelah menghidupkan kembang api bersama. Kini Vanessa dan Farel sudah masuk kekamar terlebih dahulu sedangkan Vian dan Vero masih berada diluar sambil menatap langit yang cerah karena terdapat banyak bintang.
"Kamu kedinginan gak?" tanya Vian sambil mengeratkan jaket yang dipakai Vero karena sekarang udara sangatlah dingin.
"Nggak kok" jawab Vero membuat Vian langsung memeluk Vero dengan erat dan menyandarkan kepala Vero di dadanya. Vero yang dipeluk langsung merasa nyaman.
"Yang" panggil Vian dan langsung dibalas Vero.
"Hmm?" tanya Vero dengan dehemannya.
"Sebentar lagi kamu akan ke luar negeri, kita akan jauh dan aku pasti akan kangen banget sama kamu" kata Vian yang masih menatap ke atas langit.
"Iya sayang, aku tau tapi aku akan berusaha untuk gak lama lama disana. Aku juga pasti akan sangat rindu kamu" kata Vero dengan lembut sambil mengelus pipi Vian membuat Vian langsung menatap wajah Vero. Tatapan mereka beradu membuat jantung keduanya semakin berpacu keras. Tatapan itu semakin mendalam seakan ada kerinduan dan cinta yang sangat dalam. Vian pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Vero membuat Vero spontan menutup matanya. Vian yang melihat Vero menutup matanya hanya bisa tersenyum dan semakin mendekatkan bibirnya ke bibir ranum Vero.
Tidak lama kemudian, bibir mereka sudah bersentuhan. Vian mulai memperdalam ciuman mereka membuat jantung Vero semakin berdebar kencang. Vero mulai membalas pautan Vian membuat ciuman mereka semakin panas. Vian yang menyadari Vero membalas ciumannya, langsung menggigit kecil bibir Vero sehingga mulut Vero membuka akses untuk Vian semakin memperdalam pautan mereka. Ciuman mereka semakin panas dengan lidah Vian melilit lidah dan mengabsen rongga mulut Vero. Pautan itu baru terlepas ketika mereka hampir kehabisan nafas. Vian langsung melepaskan ciumannya dan menempelkan dahi nya ke dahi Vero sehingga mereka dapat saling merasakan nafas mereka yang tidak beraturan.
"Terimakasih sayang, I Love You" kata Vian membuat Vero langsung memerah dan malu karena menyadari dirinya tadi membalas ciuman Vian.
"I love you too, Vian". kata kata Vero dengan senyum manisnya. Mereka pun berpelukan dengan hangar dan baru masuk ketika waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari. Vero dan Vian langsung berpisah dan masuk kekamar masing masing. Ketika Vero masuk kekamarnya, di kasur terlihat Vanessa sudah terlelap. Vero pun memutuskan mencuci kaki dan muka terlebih dahulu lalu menyusul Vanessa ke dunia mimpi.
__ADS_1