
Setelah menempuh hampir satu jam, Vero akhirnya sampai di apartemen yang akan dihuninya dalam setahun ke depan. Setelah memasukkan PIN yang diberitahukan oleh Vian, dia langsung masuk dan melihat apartemen tersebut. Luasnya membuatnya takjub karena terdapat dua kamar tidur, dapur, dan ruang tamu. Vero sangat terkesan dengan desain interiornya yang mewah dan elegan dengan paduan warna hitam dan putih yang membuatnya terlihat elegan. Beberapa furniture berwarna emas membuat apartemen tersebut semakin mewah.
Vero lantas memilih kamar yang akan ia tempati. Ada dua pilihan, kamar yang berwarna hitam dan abu-abu terkesan maskulin, atau kamar yang berwarna putih dan biru yang lebih terkesan feminin.
Sebagai seorang penulis profesional yang mahir dalam bahasa Indonesia, saya akan memperbaiki kesalahan tata bahasa dan ejaan yang terdapat pada teks berikut. Berikut adalah teks yang sudah diperbaiki:
Vero langsung memutuskan memilih kamar berwarna biru.
"Yang ini aja ah, kamar tadi lebih cocok untuk Vian," monolog Vero dan langsung merapikan barang-barangnya serta memasukkan pakaiannya ke lemari yang sudah ada di sana. Lemari yang cukup luas hampir sebesar kamar itu.
Setelah selesai merapikan, Vero langsung mengambil handphone-nya untuk menghubungi Vian dan keluarganya untuk memberitahu kalau ia sudah sampai di apartemennya. Ia langsung menelpon video Vian.
"Halo Vian," sapanya ketika melihat wajah Vian muncul di handphonenya.
"Halo, yang. Sudah sampai?" balas Vian di seberang sana sambil tersenyum manis. Belum sampai sehari, ia sudah sangat merindukan kekasihnya itu.
"Iya, sudah nih. Aku sudah di apartemen keluarga kamu," kata Vero membalas senyum Vian.
"Syukurlah kalau sudah sampai. Gimana, bagus gak apartemennya?" tanya Vian ke Vero.
"Bagus banget. Mama kamu yang desain ya?" tanya Vero.
"Bukan, aku yang desain semuanya karena apartemen ini kan dibeli oleh Papa untuk aku," jelas Vian sambil duduk di kasurnya.
"Oh gitu, kamar yang agak gelap itu punya kamu ya?" tanya Vero yang teringat kamar yang lebih cocok untuk laki-laki tersebut.
"Iya, jadi nanti kalau aku kesana, aku akan tidur di kamar itu. Gimana, bagus gak kamarnya?" kata Vian di seberang sana yang kini sudah merebahkan tubuhnya di kasur.
__ADS_1
"Bagus banget kamarnya. Aku suka warna birunya, gak terlalu feminim hehe," kata Vero sambil merapikan rambutnya.
"Cantiknya pacar aku, jadi kangen kan yang. Aku susul sekarang aja ya," kata Vian ketika melihat wajah Vero yang sangat cantik.
"Eh janganlah, belum juga satu hari," kata Vero.
"Yaudah, Minggu depan ajalah aku kesana ya, liburan kan sekarang masih libur kenaikan kelas jadi aku mau temani kamu aja disana," kata Vian dengan senyum manisnya.
"Oh iya ya, yaudah aku tutup dulu telponnya. Aku mau kabari Papa dulu kalau sudah sampai," kata Vero dan langsung diangguki oleh Vian. Vero langsung mematikan panggilannya lalu menelpon Papanya. Setelah menelpon Papanya, Vero langsung ke dapur karena perutnya sudah kelaparan.
Ketika di dapur, ia melihat isi kulkas sudah lengkap oleh sayuran dan daging.
"Pasti Vian yang suruh orang menyiapkan ini, thanks Vian," monolog Vero sambil tersenyum senang karena merasa diperhatikan dengan tulus oleh Vian. Ia langsung mengambil sayuran dan juga daging ayam. Kali ini, ia hanya akan membuat tumisan sayur dan juga ayam goreng dan tidak lupa memasak nasi karena sudah sangat kelaparan.
Setelah semuanya sudah jadi, ia langsung mengambil nasi, sayur dan lauk yang baru matang lalu membawanya ke ruang tamu yang ada televisi. Ia akan makan sambil menonton televisi agar tidak merasa terlalu kesepian.
Setelah makan ia langsung ke kamarnya untuk membersihkan karena hari sudah sore dan matahari hampir tenggelam.
"Huh sangat sepi, tapi gak papa. Vero kan sudah biasa dengan kesepian ini," monolog Vero yang kini sedang memperhatikan apartemen ini. Ia merasa kesepian karena sendirian di ruangan yang besar ini, padahal harusnya ia sudah biasa. Tapi entah sejak kapan ia mulai tidak merasa kesepian. Mungkin sejak ada Vian di dalam hidupnya. Vian yang membuat hidupnya yang awalnya sangat monoton dan tidak berwarna menjadi sangat berwarna dan seru karena keusilan dan ide-idenya yang selalu berusaha membuat ia tertawa dan bahagia.
"Halo sayang," kata Vian di seberang sana ketika wajah Vero sudah ada di handphonenya.
"Hai yang, kangen~," rengek Vero ketika melihat Vian tapi langsung terdiam dengan pipi memerah karena Vian sedang bertelanjang dada di seberang sana.
"Kenapa gak pakai baju?" kata Vero lagi setelah berhasil mengontrol dirinya.
"Baru selesai mandi yang, kamu kangen ya? Sama aku juga hehe," kata Vian dengan senyum manisnya.
"Pakai baju sana," pinta Vero.
"Iya tunggu sebentar ya," kata Vian lalu menaruh handphonenya mengarahkan dirinya yang kini sedang bertelanjang dada. Untungnya, Vian sudah memakai celana jadi hanya terlihat bagian atasnya saja.
__ADS_1
"Iss Vian, kok malah ngarahi kameranya ke kamu sih," teriak Vero langsung meletakkan handphonenya di kasur dengan layar di bawah. Ia sangat malu ketika melihat tubuh Vian terlihat dengan jelas, serta otot dan perut Vian yang kotak-kotak.
"Hahaha sengaja yang, biar kamu lihat aku. Aku sexy loh yang kalo begini. Perutku sixpack loh," kata Vian dengan tawanya, ia sangat senang menggoda kekasihnya itu.
"Iss, jahil banget sih. Sudah belum?" kata Vero.
"Sudah, yang," balas Vian di seberang sana. Vero langsung mengambil handphonenya lalu mengarahkan kameranya ke wajahnya.
"Kenapa muka kamu?" tanya Vian dengan tawanya.
"Iss, aku matikan nih kalo masih ketawa," kata Vero dengan bibir mengerucutnya.
"Iya iya, sudah nih. Sudah berhenti. Jangan cemberut gitu dong, aku kan jadi pengen cium kalo gitu," goda Vian yang sudah berhenti tertawa.
"Ihh, mesum kamu," kata Vero.
"Halah, mesum-mesum. Kalau dicium langsung tutup mata. Kamu juga suka kan?" ledek Vian.
"Nggak ya," kata Vero dengan pipi yang sudah merah.
"Apa iya? Yaudah nanti aku cium kamu terus biar kamu suka," kata Vian dengan senyum jahilnya.
"Terserah kamu lah," kata Vero.
"Oke siap, yang. Makasih," balas Vian dengan senyum manisnya membuat Vero juga tersenyum. Ini yang dia rindukan dari Vian. Vian bisa membuatnya kesal dan juga senang secara bersamaan dengan kejahilannya dan juga senyumnya yang manis serta perhatian yang dia berikan.
"Aku kangen banget, loh yang. Disini sepi banget," kata Vero.
"Tuh kan, tadi siang aku mau nyusul kamu, bilang gak usah. Sekarang kangen kan," kata Vian.
"Ya masa aku baru sampai disini kamu sudah mau nyusul aja sih, aneh banget deh," kata Vero.
__ADS_1
Obrolan mereka berlanjut sampai tidak terasa sudah hampir tengah malam. Vero langsung pamit karena sudah sangat mengantuk lalu memutuskan panggilan mereka dan tidur.
Di sisi lain, di Indonesia, Vian masih belum bisa menutup matanya. Ia terus memikirkan apa yang dapat ia lakukan selama setahun ini menjauhi Vero. Bahkan sekarang, hanya dalam sehari, ia sudah merindukan Vero dengan sangat, apalagi selama setahun.