
Keesokan paginya Vero dan Vian sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Vero sudah membereskan barang-barangnya karena hari ini ia akan pulang ke rumahnya. Karena barang bawaan Vero tidak terlalu banyak, ia langsung membawanya sendiri ke mobil. Veri dan Vian langsung turun ke bawah sambil membawa tas ransel isi pakaian Vero yang selama ini ia beli karena saat pergi dari rumah kemarin ia tidak sempat membawa pakaian. Mereka turun dan sarapan bersama.
"Vero jadi hari ini pulangnya?" tanya Mama Sinta dengan raut wajah yang sedih.
"Iya ma. Terimakasih ya Ma, Pa sudah mau menampung Vero dirumah kalian" kata Vero dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sama-sama, nak" balas Papa Abraham sedangkan Mama Sinta sudah menangis.
"Yah mama bakalan kesepian lagi" lirih mama dan langsung dipeluk oleh Vero.
"Ma, nanti Vero bakalan setiap hari kesini kok temani mama karena Vero juga gak akan lama lagi pergi ke luar negerinya." hibur Vero sambil mengelus punggung sosok yang selalu memberikan kasih sayang tulus kepadanya serta pelukan hangat yang selalu dia rindukan.
"Janji ya?" balas Mama Sinta.
"Iya, Vero janji" jawab Vero dengan senyum hangatnya.
"Yasudah, Vian dan Vero mau berangkat ke sekolah dulu ma takutnya telat nih" lerai Vian ketika melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 06.45.
"Iya, hati-hati bawa mobilnya Vian" kata Papa Abraham dan dibalas anggukan oleh Vian.
Mereka langsung masuk ke mobil dan melajukan mobilnya menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah, Vero langsung menceritakan tentang rencananya berobat ke luar negeri dengan Vanessa dan Farel.
Vanessa langsung terkejut dan menangis karena ia akan ditinggal sendirian saat kelas 12 nanti.
"Hiks kenapa gak saat kita lulus aja, Ver?" tanya Vanessa sambil memeluk Vero.
"Aku ingin cepat sembuh, Nes. Aku gak mau ngerepotin banyak orang karena trauma aku ini" jelas Vero dengan lembut.
"Tapi kita jadi kan akan ke puncak untuk liburan dulu" tanya Farel karena seingatnya mereka sudah berjanji akan liburan bersama.
"Iya, sehabis kita liburan gue langsung pergi, Rel" balas Vero.
"Oke sip" balas Farel sedangkan Vanessa masih berpelukan dengan Vero. Ia merasa sangat sedih dan takut akan dilupakan oleh Vero.
__ADS_1
"Kamu gak akan ngelupain aku kan, ver?" tanya Vanessa sambil melepaskan pelukannya dan menata mata Vero.
"Ya enggaklah, Nes. Kamu itu sahabat satu-satunya aku, ya kali aku lupain kamu" gemas Vero sambil memukul pelan tangan vanessa.
"Ya kali aja nanti saat kamu pulang tiba-tiba sudah gak inget sama aku" Ketus Vanessa.
"Iss, Enggaklah aku janji gak akan lupain kamu. Hapus tu air mata kamu, malu tau sebentar lagi bel ini" ledek Vero membuat Vanessa semakin kesal karena diledek.
*Skip pulang sekolah.
Vian langsung mengantarkan Vero pulang kerumah Vero. Saat akan mengetok pintu rumah, ternyata Bi num sudah membukakan pintunya. Didalam sudah ada Papa Beltran, Aditya dan Chelsea yang baru pulang dari kampus dan sekolahnya. Mereka sudah menunggu kepulangan Vero dan tidak sabar menyambutnya.
"Sudah pulang, nak. Selamat datang kembali kerumah ya Vero. Semoga kita bisa memulai semuanya dari awal menjadi keluarga yang bahagia" Sambut Papa Beltran.
"Amin, Pa. Makasih ya pa" Balas Vero dengan senyum harunya dan langsung memeluk Papa Beltran.
"Ayo Vian kita makan siang dulu, Bi num sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu Vero." ajak Papa Beltran dan langsung diikuti oleh Aditya, Chelsea, Vero dan Vian. Mereka segera menyantap hidangan yang sudah dimasak oleh Bi num. Sehabis makan Papa Beltran dan Aditya langsung masuk ke ruang kerja sedangkan Chelsea saat ini sedang menyuapi makan siang ke mamanya yang masih belum bisa bergabung dengan mereka.
Vero mengajak Vian ke kamarnya yang berada dilantai dua.
"Iya, jelek ya?" tanya Vero dengan tangan yang sudah menutup wajahnya karena malu. Ia baru pertama kali mengajak orang ke kamarnya bahkan Vanessa pun belum pernah ke kamarnya.
"Nggak kok, cocok sama kamu" kata Vian dengan senyum manisnya.
"Kamu orang pertama loh Vian yang aku ajak ke kamar aku" kata Vero yang langsung membuat Vian tersenyum bahagia saat mendengarnya.
"Serius?" tanya Vian dan langsung dibalas anggukan malu malu oleh Vero.
"Ihh aku senang banget tau, yang" seru Vian dengan senyum yang belum surut dari tadi dan langsung memeluk serta mencium kening Vero dengan mesra.
"I love you Veronika Dwi Kanaya" kata Vian.
"I love you too Vian Adijaya" balas Vero lalu mencium pipi Vian. Vian yang mendapat serangan langsung dari Vero pun senyumnya semakin merekah.
"Sudah berani ya sekarang, hmm?" goda Vian membuat Vero langsung menenggelamkan kepalanya di dada Vian.
__ADS_1
Vian yang merasa gemas pun langsung memegang kedua pipi Vero dan mengarahkan wajah Vero menghadapnya. Mereka saling bertatapan beberapa detik, tatapan Vian yang awalnya dari mata berangsur turun menatap bibir merona Vero yang seakan menggodanya untuk singgah disana.
Vian yang terpesona pun mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Vero secara perlahan sedangkan Vero yang merasa Vian sangat dekat, jantungnya berdebar sangat kencang dan langsung spontan menutup kedua matanya. Vian yang melihat Vero menutup matanya pun langsung tersenyum dan semakin mendekatkan bibirnya yang masih kurang beberapa senti lagi. Jantung Vero dan Vian semakin berdebar sangat cepat ketika Vian berhasil menyatukan bibir mereka. Vian dan Vero yang baru pertama kali melakukannya hanya bisa menempelkan bibir mereka dan saat Vian akan ******* bibir Vero, tiba-tiba ada yang mengetok pintu kamar Vero. Tautan bibir mereka pun spontan terlepas, mereka berdua langsung berjauhan.
"Manis" kata vian setelah melepas tautan bibir mereka membuat wajah Vero langsung merah dan terasa panas. Atmosfer di dalam kamar pun terasa canggung.
"Ehemm... I-Ituu aku buka pintunya dulu ya" gugup Vero dengan jantung yang masih berdebar kencang serta wajah yang terasa panas. Ternyata yang mengetuk pintu kamar Vero adalah Bi num. Bi num membawa minuman dan cemilan ke kamarnya Vero karena mengetahui kalau mereka berdua ada di kamar.
"Maaf mengganggu, non. Ini bibi bawakan minuman dan cemilan untuk nona dan aden" kata Bi num dengan sopan.
"Oh nggak papa kok, Bi. Terimakasih ya" balas Vero tidak lupa berterimakasih ke Bi Num. Vero langsung mengambil nampan yang dibawa oleh bibi lalu membawanya ke dalam kamar. Saat ini Vian sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya Vero. Vero yang tau keberadaan Vian dengan segera meletakan nampan yang berisi minuman dan makanan diatas meja di depan Vian.
"Siapa yang?" tanya Vian dengan wajah biasa saja seperti tidak ada yang terjadi diantara meraka.
"I-Ituu Bi Num Vian" gugup Vero dan wajahnya langsung memerah ketika mengingat kejadian yang terjadi antara dia dan Vian. Vian yang melihat wajah Vero langsung terkekeh pelan dan menyuruh Vero untuk duduk disampingnya.
"Sini yang" perintah Vero sambil menepuk sofa yang ada disampingnya dan langsung dituruti oleh Vero.
"Kenapa wajah kamu merah, yang?" goda Vian dan langsung mendapatkan delikan tajam dari Vero.
"Hehe iya iya yang. Jangan marah ya." bujuk Vian.
"Kami sih!" ketus Vero.
"Aku mau bicara, Yang. Aku gak akan meminta maaf untuk apa yang aku lakuin ke kamu tadi." kata Vian dengan wajah yang serius.
"Loh kok gitu?" bingung Vero. Harusnya Vian meminta maaf kepadanya karena sudah mengambil ciuman pertamanya.
"Karena aku melakukannya atas dasar mencintai kamu dan aku gak menyesal sudah ngelakuin itu" balas Vero dengan tatapan seriusnya membuat Vero terharu.
"Iss tapi kan itu ciuman pertama aku tau"
"Itu juga ciuman pertama aku, Yang. Kamu yang pertama dan juga terakhir bagi aku, Yang." lanjut Vian lagi dan tatapan langsung mengarah ke bibir ranum Vero membuat Vero kembali gugup.
"Bolehkah, yang?" tanya Vian dengan mata yang terus menatap bibir Vero dan tanpa menunggu jawaban Vero, Vian langsung menarik tengkuk Vero dan mencium bibir Vero. Kali ini bukan hanya menempel melainkan l*matan-l*matan kecil yang Vian berikan membuat Vero langsung menutup matanya menikmati ciuman Vian.
__ADS_1