Veronika

Veronika
Terungkap


__ADS_3

"Tolongin Vero ma, pa. Vian mohon" tangis Vian semakin kencang ketika melihat orang tuanya ada dihadapannya.


"Cepat bawa ke kasur kamu, papa telepon dokter Indra dulu" ucap papanya menyuruh Vian mengangkat Vero ke kasur lalu menelpon dokter Indra, dokter pribadi keluarganya.


Mama Sinta memberikan minyak kayu putih di area hidung, kening dan leher Vero berusaha membuat Vero sadar dari pingsannya.


15 menit kemudian, dokter indra baru sampai dan ia langsung bergegas memeriksa perempuan yang tidak diketahuinya itu.


Setelah selesai, ia langsung memberitahukan hasilnya.


"Nona ini tidak apa apa pak, ia hanya pingsan, tetapi saya rasa penyebab ia pingsan karena jiwanya terguncang. Apa dia ada trauma akan sesuatu sebelumnya?" tanya dokter Indra ke papa Abraham.


"Saya tidak tau dok, seingat saya tadi dia masih baik baik saja" jelas papa Abraham ke dokter Indra.


"Vian sebenarnya apa yang terjadi tadi?" tanya Papa Abraham ke Vian.


"Tadi Vian hanya memeluk Vero pa, lalu tubuh Vero bergetar hebat jadi Vian lepaskan. Sesudah itu Vero langsung menjauh sambil berteriak agar Vian jangan mendekat, Vero menangis kencang pa lalu pingsan" Vian menjelaskan apa yang terjadi sambil menangis.


"Kemungkinan dia ada trauma, dan pelukan Vero menyebabkan traumanya kambuh, saya harap kalian bisa mencari tau traumanya sehingga bisa langsung disembuhkan. Sekarang hanya tinggal menunggu dia sadar saja" kata dokter itu memberitahukan diagnosa dan juga saran untuk keluarga adijaya itu. Setelah itu dokter Indra langsung pamit undur diri.


"Apa yang sudah kamu alami sayang, kenapa kamu sangat ketakutan? Mata kamu tadi sangat mirip dengan orang aku tolong dulu. Apa itu kamu?" tanya Vian kepada Vero yang masih tak sadarkan diri. Vian mengingat mata perempuan yang ia tolong, mata yang memancarkan ketakutan yang sangat dalam dan itu sekali lagi ia lihat di mata Vero.


Orang tua Vian meninggalkan Vero dan Vian berdua, mereka akan memberi waktu kepada mereka berdua untuk lebih dekat sehingga Vero bisa menceritakan trauma apa yang Vero miliki.


"Kapan kamu akan sadar sayang?" kata Vian lagi sambil beranjak untuk naik ke kasur dan memeluk Vero yang masih belum sadar dari pingsannya.


Karena terlalu lelah menangis, Vian pun tertidur disamping Vero dengan posisi memeluk pinggang Vero.

__ADS_1


Hari sudah mau malam, Vero baru tersadar. Ketika ia bangun, ia merasa kepalanya sangat pusing dan perutnya seperti ditimpa sesuatu. Ketika Vero sudah sadar sepenuhnya, ia langsung melihat perutnya. ia terkejut ketika ada tangan yang memeluknya, ia pun menoleh ke kanan dan melihat Vian yang tertidur di sampingnya. Ia langsung bangkit dan menepis tangan Vero sehingga membuat Vero langsung bangun.


"Vero, kamu kenapa? Ada yang sakit, dimana? kasih tau ke aku dimana yang sakit" tanya beruntun Vian ketika melihat Vero sudah sadar.


"Hemm itu, aku memangnya kenapa Vian? kenapa aku bisa tidur diatas kasur kamu?" tanya Vero yang bingung, seingatnya ia masuk ke kamar Vian lalu....


"hiks aku takut Vian, aku takut hiks" tangis Vero pecah ketika baru mengingat kenapa ia bisa tidur di kamar Vian.


"Hei tenanglah, ada aku disini. Mau cerita sama aku?" tanya Vian dengan lembut sambil mengelus lengan Vero, sebenarnya ia ingin peluk Vero tapi ia takut kejadian tadi sore terulang lagi.


"Aku kotor Vian hiks aku kotor. Kamu pasti gak mau kan sama aku. Kamu boleh jauhi aku sekarang Vian hiks" kata Vero sambil sesenggukan.


"Hei, kamu gak kotor, aku gak akan jauhi kamu kalau kamu ceritain apa yang terjadi pada kamu" bujuk Vian agar Vero bisa menceritakan apa yang dialaminya.


"D-Dulu aku hampir dilecehkan Vian, aku hampir diperkosa oleh dua orang preman saat aku mau pulang ke rumah, me-mereka meraba tubuhku Vian, aku kotor hiks hiks" tubuh Vero bergetar hebat saat menceritakan kejadian yang membuat ia teringat kembali.


Vero menggeleng, ia mau melanjutkan ceritanya.


"Nggak papa Vian, aku mau lanjut cerita. Sebelum aku sempat diperkosa, tiba-tiba ada yang nolong aku Vian, dia menghajar preman itu, lalu- lalu dia memberikan jaketnya kepadaku habis itu aku gak tau apa apa lagi Vian, ketika aku bangun, aku sudah ada di rumah sakit" jelas Vero yang membuat Vian membulatkan matanya, ternyata benar dugaannya kalau perempuan yang diselamatkan nya dulu adalah orang yang dicintainya sekarang. Vian langsung memeluk tubuh Vero yang masih bergetar.


"Akhirnya aku ketemu lagi denganmu Vero" kata Vian yang membuat Vero bingung dengan perkataannya.


"Maksudnya?" tanya Vero.


"Laki-laki itu aku sayang, aku yang udah menyelamatkan kamu dari dua preman itu, dan aku juga yang membawa kamu ke rumah sakit saat kamu tiba-tiba pingsan" jelas Vian yang membuat Vero terkejut dan langsung melepaskan pelukannya.


"Itu kamu? beneran kamu?" kata Vero yang masih tak percaya.

__ADS_1


"Iya, setelah kejadian itu aku mencari kamu karena jaketku kamu bawa kabur huh, padahal itu jaket kesayangan aku tau" kata Vian bercanda untuk mencairkan suasana.


"iss jadi kamu nyari aku cuman karena jaket kamu?" tanya Vero tak suka.


"Iyalah, mana gak ganti uang rumah sakit juga, kabur kabur aja huh, mana? ganti uang aku" kata Vian berpura-pura menagih uang dengan tangan mengada ke Vero.


"iya iya aku ganti" kata Vero dan langsung dihentikan oleh Vian.


"nggak sayang, aku hanya bercanda" balas Vian lalu memeluk tubuh Vero.


"nggak usah peluk peluk, kamu bau!"


degg..


Vian langsung melepaskan pelukannya dan mencium aroma tubuhnya


"isss aku harum ya, gak ada baunya.. kamu sama aja sama mama, sama sama suka bilang aku bau." kata Vian yang kembali memeluk Vero dengan erat.


"Aku senang sayang kalau perempuan itu kamu, I love you Veronika Dwi Kanaya"


ungkap Vian yang sangat bahagia mengetahui orang yang ia cintai sama dengan yang selama ini ia cari.


"I hate you Vian Wijaya" balas Vero yang membuat Vian melepaskan lagi pelukannya.


"iss harusnya I love you too Vian. Kamu ngerusak suasana sayang" Vian langsung mengalihkan pandangannya ke kanan memberi kode kalau ia sedang ngambek.


"Hahaha jangan ngambek gitu hahaha" tawa Vero ketika melihat wajah Vian yang lucu.

__ADS_1


'Maaf ya Vian, aku belum bisa balas perasaan kamu, aku terlalu takut, takut untuk memulai dan takut ketika aku menerima kamu, kamu akan meninggalkan aku' kata Vero dalam hati, ia tak enak hati kepada Vian karena belum membalas perasaan Vian.


__ADS_2