
Sesampainya di UKS, Vian langsung merebahkan Vero di kasur. Vanessa langsung memanggil dokter yang menjaga UKS tersebut. Vian sangat khawatir sampai tanpa sadar memegang tangan Vero dari awal masuk tadi dan itu di liat oleh Vanessa dan Farel.
Dokter pun datang dan langsung memeriksanya.
"Dia hanya demam biasa kok" kata dokter seusai memeriksa Vero.
"Demam biasa tapi kenapa bisa pingsan dok" tanya Vanessa dengan wajah yang masih khawatir.
"Sepertinya itu karena ia belum sarapan, jadi perutnya kosong. Sebaiknya kalian membeli makanan untuk teman kalian, jadi ketika sadar bisa langsung makan dan minum obatnya" jelas dokter tadi dan langsung diangguki oleh mereka. Vanessa langsung bergegas membeli sarapan dengan ditemani Farel, sedangkan Vian ditinggal berdua bersama Vero. ia tetap setia memegang tangan Vero.
"Kenapa Lo bisa sakit sih, apa karena kehujanan kemarin? Kenapa gak sarapan juga?" kata Vian yang berbicara kepada Vero yang masih pingsan.
Tak lama kemudian Vero mulai membuka matanya dan langsung tertuju pada Vian.
"Gimana keadaan Lo? masih pusing?" tanya beruntun Vian ketika melihat Vero sudah sadar.
"hmm masih pusing sedikit, tadi aku pingsan ya?" tanya Vero yang tanpa sadar memakai 'aku kamu' ke Vian.
Vian yang mendengarnya tersenyum kecil lalu menjawab "iya tadi kamu pingsan, jadi aku bawa kamu kesini. Vanessa lagi beli makanan untuk kamu, kata dokter perut kamu kosong" Vero yang mendengar ucapan lembut Vian wajahnya langsung merah.
"ekhem" Vero berdehem untuk menghilangkan kecanggungan tersebut.
"iya, gue dari semalam belum makan" jelas Vero karena ia ingat kemarin ia melewatkan makan malam dan tadi pagi ia tak sempat sarapan karena buru buru. Vian yang mendengar Vero kembali mengatakan 'gue Lo' langsung mengerutkan kening tak suka
"Kenapa gak makan, mulai besok harus makan teratur biar gak sakit lagi, dan ini kenapa wajah kamu merah? Demamnya makin tinggi?" kata Vian sambil meletakan tangan ke dahi Vero dan membuat wajah Vero semakin merah seperti tomat.
Vero langsung menepis tangan Vian, Vian tersenyum saat tahu ternyata Vero malu kepadanya.
"Haha kamu malu ya? pipinya kamu tambah merah tuh kayak tomat. Gemesin banget sih" tawa Vian yang membuat Vero terpana karena baru kali ini Vero melihat Vian tertawa seperti itu.
'ganteng, eh tadi apa yang dia bilang? aku gemesin?' kata Vero dalam hati.
Dan sekarang ia baru sadar kalo sedari tadi tangan kanannya digenggam oleh Vian, dia pun langsung melepaskan tangannya.
__ADS_1
Tiba-tiba datangla Vanessa dan Farel yang baru selesai membeli makanan.
"Verooo, kamu udah bangun? ya ampun aku khawatir banget tadi tau. Kan aku udah bilang jangan lupa makan, kenapa masih bandel sih" heboh Vanessa saat melihat Vero sudah sadar.
"Mana makanannya?" tanya Vian sebelum Vero bisa menjawab pertanyaan Vanessa tadi.
"eh ini" Vanessa langsung memberikan makanan ke Vian
"aku suapin" kata Vian yang mulai membuka makanan tersebut.
"eh gak usah, gue bisa makan sendiri kok" tolak Vero yang merasa canggung saat Vian mau menyuapinya makan.
"Cepat, Aaaa.." perintah Vian agar Vero membuka mulutnya.
"eh sepertinya kami ganggu ya, kalau gitu kami pergi dulu ya, bhayyy" seru Vanessa sambil menarik tangan Farel padahal Farel masih ingin di sana untuk melihat Vero.
"eh nes jangan pergiii" halang Vero yang tak mau ditinggal berdua dengan Vian. ia tak mau suasana menjadi sangat canggung.
"Karena aku suka sama kamu" terang Vian tiba-tiba yang membuat Vero langsung batuk karena terkejut.
"hei pelan pelan, nih minum" Vian langsung menyodorkan air mineral ke Vero.
"lo bilang apa? Suka sama gue, jangan bercanda deh lo" kata Vero yang merasa kalo Vian hanya bercanda.
"tsk aku serius dan mulai saat ini kita pacaran" tanpa ba-bi-bu Vian langsung mencap Vero sebagai pacarnya padahal Vero aja belum menerima perasaannya.
"eh gak ada ya pacar pacaran, kenal juga baru udah ajak pacaran aja. Gak mau!" tolak Vero keras karena kesal.
"Yasudah kita pendekatan dulu biar lebih kenal" kata Vian dengan entengnya yang semakin membuat Vero semakin kesal.
"tau ah, kesal gue sama lo"
"Pakai aku kamu biar lebih dekat" kata Vian
__ADS_1
"Gak mau" tolak Vero.
"Aku cium nanti kamu kalo gak nurut" ancam Vian yang membuat Vero membulatkan matanya terkejut.
"Jangan gitu, aku malah tambah pingin cium kalo ekspresi kamu gemesin gitu" Vian merasa ekspresi Vero sangatlah imut, ia ingin sekali mencium pipinya Vero.
"Apaan sih" Vero langsung membuang muka ke arah lain karena pipinya merah menahan malu.
"Hahaha" tawa Vian terdengar di UKS itu.
"Nanti pulang sama aku ya" ajak Vian dengan lembut.
"Nggak gue eh aku mau bawa motor aku ke bengkel dulu" tolak Vero, ia terpaksa mengubah gaya bicaranya ke Vian karena takut ancaman Vian. Enak aja cium anak orang sembarangan huh pikir Vero.
"Motor kamu udah aku bawa ke bengkel langganan aku, jadi kamu harus pulang sama aku kalo gak mau, motor kamu nggak aku balikin" ancam Vian lagi karena tidak mau ditolak lagi.
"huh iya iya" Vero menjawab dengan malas.
Skip langsung pulang sekolah
Vero dan Vian jalan beriringan menuju parkiran, tasnya tadi dibawa oleh Vian sewaktu kembali ke kelas. Vian langsung memakaikan helm yang Vero sempat bawa tadi pagi. Vero pun naik ke motor Vian tak lupa memakai jaket pemberian Vian. Mereka pulang ke rumah Vero.
*Vian
Nama Vian Adijaya, Lahir di keluarga yang cukup kaya, orang tuanya punya perusahaan adijaya grup yang merupakan perusahan nomor satu di Indonesia. Vian anak tunggal dari Abraham Adijaya dan Sinta Adijaya. Baru saja pindah ke sekolah harapan karena orang tuanya yang menyuruhnya, sebenarnya Vian hendak dijodohkan dan perempuan itu bersekolah di sana, awalnya Vian tak ambil pusing masalah ini karena mengira orang tuanya hanya bercanda dan juga gak pernah dibahas lagi sampai sekarang, tapi sepertinya Vian akan menolak kalo perjodohan itu terjadi. Karena apa? karena Vero, perempuan yang entah kenapa selalu bikin Vian ingin terus memperhatikan Vero. Matanya yang indah tapi sangat terasa familiar. Sebenarnya ada satu hal yang Vian sembunyikan dari teman temanya di sekolah. Di balik sikap dingin, datar dan irit bicaranya, Vian adalah orang yang hangat dan sedikit cerewet bila di rumah. Contohnya ini, ia baru pulang ke rumah sehabis mengantar Vero tadi.
"Ma! aku pulang!" teriak Vian
"Jangan teriak Vian, ini bukan hutan!" teriak mamanya Vian , padahal ia juga berteriak tadi.
"Ma anakmu sedang jatuh cinta" kata Vian sambil memeluk mama dari belakang yang sedang sibuk menyiapkan makan malam.
"Hah?" mama Vian terkejut.
__ADS_1