Veronika

Veronika
Terungkap 3


__ADS_3

Matahari sudah terbit dan sinarnya memasuki celah celah kamar yang tertutup tirai. Waktu sudah menunjukan pukul enam pagi.


"Pagi sayang" sambut Vian yang sudah bangun lebih dulu ketika melihat Vero membuka matanya.


"eungh pagi" balas Vero dengan suara serak karena bangun tidur dan langsung dihadiahi kecupan kecupan lembut di kening dan pipinya.


"Kenapa kamu tidur disini? Nanti kalau orang tua kamu lihat bisa berpikir yang tidak-tidak" kata Vero ketika nyawanya sudah terkumpul dan terkejut melihat Vian tidur bersamanya.


"Nggak papa kok, mereka pasti ngerti dan juga ini bukan pertama kalinya kita tidur bersama sayang. Tenang saja aku gak akan macam macam kok sama kamu sebelum kita menikah hehe" jawab Vian sambil tertawa kecil ketika melihat pipi Vero tiba-tiba memerah ketika mendengar kata menikah.


Tiba-tiba Vian meletakan punggung tangannya di kening Vero membuat Vero mematung dan pipinya terasa semakin panas.


"Sudah gak demam lagi yang tapi kok muka kamu merah ya yang? Hari ini libur dulu aja ya" kata Vian yang berpikir wajah Vero memerah karena masih sakit.


"Aku mau sekolah Vian, dari kemarin aku izin terus nanti aku gak bisa naik kelas dong" balas Vero dengan wajah yang cemberut membuat Vian tertawa pelan.


"hehe oke oke kita sekolah, sekarang mandi dan siap-siap dulu ya. Kita ketemuan di meja makan" kata Vian lagi lalu segera beranjak untuk mandi di kamarnya.


Sekitar setengah jam kemudian Vian, Vero dan orang tua Vian sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama.


"Sudah merasa baikan sayang? tanya Mama Sinta memecah keheningan dimeja makan itu.


"iya ma, Vero sudah mendingan kok jadi sudah bisa berangkat sekolah" jawab Vero yang sudah menebak kekhawatiran Mama Sinta kalau Ia sekolah hari ini.


"Yaudah nanti berangkat sama Vian naik mobil aja ya, jangan naik motor dulu" kata mama Sinta lembut dengan senyum teduhnya membuat hati Vero tenang dan terharu.


"iya ma, Vian juga rencananya naik mobil aja" bukan Vero yang membalas melainkan Vian dan diangguki oleh kedua orang tuanya.


"Hati-hati bawa anak gadis papa, awas kalau lecet" ancam papa Abraham bercanda tapi masih mempertahankan wajah datarnya.


"Siap bos aman terkendali" seru Vian dengan semangat dengan posisi tangan memberi hormat membuat semua orang dimeja makan tertawa.


"Terimakasih ya papa dan mama karena mau menerima Vero di rumah ini" kata Vero yang terharu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sama-sama sayang, kami sudah menganggap kamu anak kami sendiri " kata papa dengan senyum tipisnya.

__ADS_1


"Yaudah kami berangkat dulu nanti terlambat kalau dramanya diterusin" potong Vian memecah suasana haru itu, ia tidak mau melihat Vero sedih ataupun menangis.


"Haiss anak ini, yaudah sana berangkat" kesal mama Sinta karena Vian merusak suasana haru tersebut.


"Kami pamit pa, ma" kata mereka bersama dan langsung keluar rumah menuju parkiran mobil.


"Silahkan princess" sambut Vero membuka pintu mobil dengan posisi menunduk seperti pengawal kepada putrinya.


"Terimakasih pengawal" balas Vero dengan senyum usilnya membuat Vian langsung cemberut.


"iss aku ini prince nya dong bukan pengawal" ketus Vian dan langsung tertawa karena tingkah konyolnya.


Vian pun langsung berjalan memutar dan membuka pintu mobil dan duduk dibalik kemudi lalu melajukan mobilnya menuju sekolah.


Disisi lain di kediaman Beltran, sarapan yang biasanya hangat dengan perbincangan ringan dan canda tawa berubah menjadi dingin dan hening karena hanya ada Papa Beltran dan juga Aditya yang sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Papa Beltran yang masih memikirkan perkataan Chelsea semalam sedangkan Aditya yang memang dasarnya pendiam semakin menjadi diam karena Chelsea yang biasanya mencairkan suasana tidak ikut sarapan karena memilih berangkat lebih pagi dan Mama Anggi yang mengurung diri di kamarnya.


"Pa, kemana mama pa? Kenapa tidak ikut sarapan?" tanya aditya memecah keheningan di meja makan itu.


"Mama kamu sedang tidak enak badan dari kemarin hanya diam saja dit. Papa takut mama kamu kambuh lagi" jawab papanya dengan wajah lesu. Ia takut istrinya menjadi seperti dulu lagi yang mengalami depresi setelah kejadian itu.


"Kotor! Kotor! Aku kotor" pekik Mama Anggi sambil mengusap lengan dan tubuhnya dengan kasar.


"Sayang, kamu kenapa?" khawatir Papa Beltran ketika melihat istri yang dicintainya histeris, ia langsung mendekati dan memeluk erat tubuh Anggi.


"Jangan mendekat! Tolong pergi! Jauhi aku mas, aku sudah kotor mas" histeris Anggi dengan air mata yang mengalir deras dan tubuh bergetar. Apa yang ditakutkan Beltran terjadi, depresi yang harusnya sudah menghilang kembali datang karena kejadian kemarin. Ini salahnya yang menceritakan kejadian itu kemarin membuat Anggi mengingat kenangan buruk itu lagi sehingga memicu depresinya.


"Maaf sayang, maafin mas tolong jangan seperti ini lagi hiks" tangis Papa Beltran melihat istrinya sangat rapuh sedangkan Aditya yang melihat mamanya histeris membuatnya mematung karena baru pertama kalinya ia melihat mamanya yang lembut menjadi histeris seperti ini.


"Adit tolong ambilkan obat penenang di laci sana" perintah Papa Beltran sambil menunjuk arah laci tempat obat itu berada. Aditya pun berlari dan langsung mengambil obat itu serta air putih di atas laci itu lalu memberikan kepada papanya.


Papa Beltran langsung memasukan obat itu kedalam mulut Mama Anggi dan memaksanya untuk minum agar obat itu cepat tertelan.


Mama Anggi yang tadinya masih memberontak perlahan mulai tenang dan memejamkan matanya karena efek obat itu mulai terasa.


"Apa yang terjadi dengan mama pa? Kenapa mama jadi seperti ini?" tanya Aditya dengan air mata yang sudah mengalir dan tubuh yang bergetar karena syok melihat mamanya dalam keadaan yang menyedihkan.

__ADS_1


"Mama kamu tidak apa apa dit. Apakah kamu tidak ada kelas hari ini?" tanya Papa Beltran mengalihkan pembicaraan.


"Jangan mengalihkan pembicaraan pa, Adit sudah besar sekarang jadi beritahu Adit apa yang terjadi" kata adit dengan tegas.


"Ceritanya panjang dit, kamu hanya tau kalau Vero itu anak mantan pacar mama kamu" kata Papa Beltran dengan wajah lesunya.


"Ceritakan pa, Adit siap mendengarnya" Kata Adit lalu duduk di sofa yang berada dikamar orang tuanya lalu disusul oleh papanya.


Papa Beltran pun menceritakan kembali apa yang terjadi 18 tahun yang lalu seperti yang diceritakannya pada Chelsea kemarin.


"Jadi apa setelah kejadian itu mama jadi depresi dan selalu berteriak histeris seperti ini pa?" tanya Aditya setelah papanya menceritakan kejadian itu dan dibalas anggukan oleh Papa Beltran.


"Iya dit, selama mama kamu mengandung adik kamu Vero, mama kamu selalu berteriak histeris bahkan mencoba menggugurkan kandungannya tetapi selalu papa gagalkan karena papa gak mau kehilangan mama kamu dit. Saat itu kondisi mama kamu sangat memprihatinkan dan juga kritis karena mama kamu tidak segan meminum racun untuk menggugurkan kandungannya membuat nyawanya juga terancam.Tapi papa berusaha menguatkan mama kamu dengan membawanya ke psikiater karena papa nggak mau kehilangan mama kamu" kata Papa Beltran lalu menarik nafasnya bersiap melanjutkan ceritanya.


"Ketika kandungannya menginjak di trisemester kedua, mama kamu mencoba meminum racun penggugur kandungan tapi untungnya ada bi num yang menghentikannya walaupun mama kamu sudah terlanjur meminum racun itu. Papa yang sedang dalam perjalanan pulang pun langsung putar balik ketika mendapat telepon dari bi num dan langsung membawa mama kamu kerumah sakit. Mama kamu sempat kritis tapi beruntungnya kandungan mama kamu kuat, sejak saat itu yang awalnya papa mencoba menerima kehamilan mama kamu jadi membenci kehamilan itu karena membuat mama kamu hampir meninggal dit" air mata Papa Beltran pun menetes ketika mengingat istrinya terbaring tak berdaya dengan selang oksigen di hidungnya.


"Tapi walaupun papa membencinya, papa tidak menunjukan itu ke mama kamu karena papa tahu itu akan semakin membuat mama kamu tambah parah. Papa pun membawa mama kamu berobat ke psikiater dan berhasil membuat mama kamu tidak lagi depresi. Enam bulan kemudian mama kamu berhasil melahirkan Vero tapi wajah Vero yang sangat mirip dengan mantan pacar mama kamu membuat mama kamu benci dan tidak mau melihat Vero bahkan sekedar memberi asi pun mama kamu tidak mau. Selama ini yang merawat Vero hanyalah bi num." Hela nafas Papa Beltran terdengar setelah selesai menceritakan peristiwa itu.


"Terus kenapa mama bisa kambuh lagi sekarang pa" tanya Aditya membuat Papa Beltran merasa semakin bersalah.


"Kemarin papa menceritakan kejadian itu kepada Chelsea padahal mama kamu sudah melarang papa tapi papa bersikeras menceritakan itu dan ternyata itu tidak hanya didengar oleh Chelsea melainkan juga Vero yang baru pulang kerumah. Kami bertengkar dan Vero pergi lagi dari rumah ini. Kejadian itu yang memicu depresi mama kamu kambuh dit, Papa menyesal dit" kepala Papa Beltran tertunduk lesu dengan gurat sedih yang kentara.


Aditya yang mendengarnya pun hanya bisa menghela nafas secara kasar, ia pusing memikirkan keadaan rumahnya yang sangat kacau.


"Kenapa sekacau ini pa? Kenapa tidak mencoba mengikhlaskan semuanya? Kasian Vero Pa yang harus menerima ini semua padahal ia tidak tau apapun" kesal Aditya dan juga merasa bersalah karena ikut ambil tidak memperdulikan Vero tapi ia juga sedih melihat mamanya serapuh ini.


"Kita harus memberitahu Vero yang sebenarnya pa supaya bisa memperbaiki semuany" usul Aditya tapi dibalas gelengan kepala oleh Papa Beltran.


"Nggak dit, papa belum siap" keluh Papa Beltran menbuat Aditya bertambah kesal.


"Sampai kapan pa? Kapan papa siap menceritakan sebenarnya ke Vero? Sampai kita kehilangan mama dan vero? atau sampai keluarga kita benar-benar hancur?" tanya Aditya bertubi tubi ke papanya yang masih dengan kepala tertunduk.


"Nggak papa gak mau keluarga kita hancur. Sehabis mama kamu sadar kita akan menemui Vero dan menceritakan semuanya" putus Papa Beltran dengan serius.


"Iya pa sekarang kita tinggal tunggu mama siuman dan baikan" kata Aditya dan diangguki oleh Papa Beltran.

__ADS_1


__ADS_2