Veronika

Veronika
Farel & Vanessa


__ADS_3

"Pagi semuanya" sapa vero dengan semangat dan hanya dijawab oleh chelsea


"Pagi juga kak, ayo sarapan kak" kata chelsea dengan tersenyum manis dan dibalas anggukan dan senyum oleh vero.


Vero pun sarapan dengan semangat lalu ia langsung pamit untuk berangkat sekolah. Keluarganya yang melihat vero sangat senang pertama kalinya pun merasa aneh


"Apa anak itu sudah tak waras?" tanya papa vero.


"Entahlah pa, biarkan saja tidak usah pedulikan anak sial itu" kata mama vero tajam tanpa perasaan.


Sebenarnya ada alasan mengapa orang tua Vero sangat membedakan Vero bahkan membenci Vero, itu semua hanya di ketahui oleh orang tua Vero.


Sesampainya disekolah, vero langsung ke kelasnya dan disana sudah ada farel dan vian.


"loh vanessa belum datang apa? kok tumben belum datang" tanya vero pada pada keduanya dan di jawab farel.


"entahlah, tumben banget tu anak. Palingan telat bangun karena marathon drakor" jawab farel.


"ih kok lo tau banget soal vanes" tanya vero lagi.


"gue sahabatnya dari kecil kalo lo lupa dan juga gue tetangganya" jawab ketus farel karena merasa vero sedang menggodanya.


"oh iya lupa hehe, jangan marah dong. Kalian cocok tau" kata vero lagi yang belum puas menggoda farel pagi ini. Interaksi keduanya di lihat oleh vian, vian mendengus karena ia seperti tak terlihat oleh mereka.


"Sayang" panggil vian ke vero membuat farel sontak membulatkan matanya terkejut.


"Iss udah dibilang gak usah sayang sayang. Kita belum pacaran ya, malu di dengar orang" kata vero tak suka, ia malu apalagi farel mendengarnya.


"Terserah aku dong, mulut mulut aku huu toh juga hanya farel yang dengar" balas vian sambil menyunggingkan senyum manisnya, ia sangat senang bisa menggoda vero dan melihat ekspresi lucu vero.


"K-kalian lagi pdkt? Kapan? Kok bisa?" tanya farel beruntun, ada rasa nyesss saat melihat interaksi mereka berdua yang kelihatan sudah sangat dekat sekali.

__ADS_1


"ehemm.. nggak kok rel, kami temenan aja kok" bantah vero karena sebenarnya ia tau kalo Farel ada rasa dengannya, tapi ia tak mau menyakiti farel lebih dalam lagi.


"iss mana ada, kita kan memang lagi dekat. Aku nggak mau temenan sama kamu, aku maunya pacaran terus nikah" kata vian menyela omongan vero, ia tak mau hanya sekedar teman, ia ingin lebih.


"nggak ya, kalo akunya gak mau gimana wleee" ledek vero dan dibalas


"harus mau dong titik gak pake koma" jawab vian tegas tak mau kalah


"gak mau~ gak mau~ kamu jelek mirip monyet aku gak mau wleee~" ledek vero lalu kabur membuat vian semakin kesal dan langsung beranjak untuk mengejar vero. Sedangan Farel yang melihat adegan itu hanya bisa tersenyum pahit sambil memegang dadanya yang terasa sakit.


"Hei lo kenapa? jantungan?" tanya vanesa yang baru sampai kelas dan langsung melihat Farel yang memegang dadanya dengan tersenyum yang ia tahu itu bukanlah senyum bahagia, karena banessa sangat tau farel bagaimana.


"Vero kemana? kok tasnya ada tapi orangnya gak ada" tanya vanessa lagi karena dari tadi farel hanya diam.


"lagi larian berdua bareng vian" kata farel dengan senyum yang masih sama.


Vanessa yang melihat senyuman farel pun tersenyum pahit juga tapi ia berusaha tutupi karena tak mau farel menyadarinya.


"gak semudah itu nes menghapus perasaan ini, gue udah suka dari kelas satu" keluh farel lesu.


"terus lo mau sampai kapan suka sama dia, hanya akan nyakitin diri lo sendiri" kata vanessa berusaha menyadarkan farel.


"gue gak tau caranya biar bisa lupain dia nes, gue udah terlanjur jatuh sejatuhnya nes" keluh farel yang putus asa.


"buka mata lo, liat siapa aja yang ada selama ini disamping lo, liat banyak orang yang suka sama lo termasuk gue rel. gue suka sama lo, kenapa lo gak bisa lihat itu rel" vanesa secara tak sadar mengungkapkan perasaannya ke farel dan farel yang mendengarnya tentu saja terkejut.


"a-apa yang lo bilang tadi nes, lo gak serius kan haha lo pasti bercanda kan" tawa farel karena mengira vanesa hanya bercanda.


"iya gue serius, gue cinta sama lo rel dari kita kecil gue udah suka sama lo, tapi lo gak bisa melihatnya rel" kata vanessa dengan putus asa dan menangis.


"sekarang gue nyerah rel, gue lelah nunggu lo untuk lihat gue karena yang ada dimata lo hanya vero rel" tangis vanessa semakin deras lalu ia langsung berlari keluar kelas tapi yang buat vanessa terkejut adalah diluar ada vero dan vian.

__ADS_1


"nes" panggil vero yang merasa bersalah.


"aku ingin sendirian ver, aku harap kamu ngerti" kata vanessa sebelum pergi, ia ingin bolos untuk hari ini saja.


"nes tunggu" vero ingin mengejar tapi dihalangi oleh vian.


"biarin aja ver, dia ingin nenangin pikiran dan hatinya dulu. Kita masuk aja yuk udah mau bel" ajak vian.


Disisi lain farel yang ditinggal vanessa hanya termenung diam di kursinya.


"Lo masih mau disini rel, kejar dia bodoh atau lo akan nyesal!" kesal vero yang melihat farel hanya diam.


Farel yang mendengarnya langsung mengambil tas dan berlari mengejar vanessa.


"nes tunggu!" pekik farel ketika melihat vanessa sudah menaiki taxi namun ia telat karena taxi itu sudah pergi.


"aiss sial, tunggu gue nes" farel langsung mengambil motornya dan mengejar vanessa.


Vanessa berhenti di taman kota, ia memilih untuk menenangkan dirinya di taman tapi rencananya gagal karena farel menghampirinya dan langsung memeluknya.


"maafin gue nes, maafin gue karena gak bisa liat cinta lo, gue.. gue juga sebenarnya suka sama lo nes tapi gue terlalu pengecut, gue terlalu takut lo akan ninggalin gue, gue gak mau kehilangan lo nes" ungkap farel semakin mengeratkan pelukannya.


Deg.. vanessa terkejut mendengarnya.


"maksud lo apa? lo suka tuh sukanya sama vero bukan gue!" kata vanessa.


"sebelum gue suka sama vero, gue sukanya sama lo nes" terang farel.


"gak, gue gak percaya sama lo. Lepas!" balas vanessa sambil memberontak.


"jangan ikutin gue lagi!" lanjut vanessa ketika pelukan farel terlepas, lalu ia langsung berlari menjauh dari farel yang sedang termenung meratapi nasibnya.

__ADS_1


__ADS_2