
Keesokan harinya, seperti biasa Vian dan Vero bersiap untuk berangkat ke sekolah sebelumnya mereka juga sempat sarapan bersama di rumah.
"Ma, Pa kami berangkat ke sekolah dulu ya" pamit Vian dan Vero dan langsung diangguki oleh mereka.
"Hati-hati bawa mobilnya Vian" kata mama
"Siap bos!" balas Vian dengan semangat 45.
Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Sudah mengambil keputusan sayang?" tanya Vian tiba-tiba memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Ver?" panggil Vian ketika berhenti saat lampu merah.
"Hah? Kamu ada bilang sesuatu?" tanya Vero yang terkejut ketika dipanggil oleh Vian karena sedari tadi ia hanya melamun.
"Aku tadi tanya, kamu sudah ambil keputusan soal semalam belum?" ulang Vian dengan senyum lembutnya.
"A-Aku hmm itu..." gugup Vero.
"Itu apa hmm?" tanya Vian lagi dengan sabar.
"Sudah Vian tapi aku belum mau kasih tau sekarang, nanti malam saja ya setelah kita makan malam" jawab Vero, ia ingin memberitahukan semuanya langsung nanti malam.
"huh buat aku penasaran aja sih kamu" gemas Vian sambil mencubit hidung kecil Vero.
"Okelah aku tunggu nanti malam" putus Vian dan langsung dibalas senyuman oleh Vero.
"Terimakasih udah mau ngerti dan bersabar" kata Vero dengan lembut.
Tinnn... Bunyi klakson mobil di belakang mereka karena ternyata lampu sudah berganti hijau tapi mereka tidak sadar. Vian pun langsung melajukan mobilnya.
Ketika sampai disekolah, seperti biasa sudah ada Vanessa dan Farel di kelas.
"huh kalian kenapa selalu datang cepat? Apa jangan-jangan~~" goda Vero ketika sudah sampai dikelas dan merasa heran karena sahabatnya dan Farel selalu datang cepat bahkan murid lain belum datang.
__ADS_1
"Jangan-jangan apa hah? Gak seperti yang kamu pikirkan ya ver" ketus Vanessa karena seperti sedang diciduk.
"loh kok marah hahaha. Memangnya yang dipikirkan oleh aku apa nes? Aku gak ada mikirin apa apa tuh" goda Vero lagi membuat Vanessa semakin salah tingkah dan kesal. Farel yang hanya diam melihat Vanessa yang sedang salah tingkah pun hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati 'lucu'.
"iss gak tau ah" balas Vanessa yang tidak tau mau beralasan apa lagi.
"Hehe salting ni yee" Vero terus menerus menggoda Vanessa sampai wajah Vanessa memerah.
"Udah yang, kasihan tu Vanes wajahnya sudah merah banget seperti kepiting rebus" kata Vian membuat Vanessa yang mendengat bukannya senang dibela malahan bertambah kesal.
'iss sama aja, dasar pasangan ngeselin' kesal Vanessa dalam hati dan langsung menghadap ke depan tanpa menghiraukan Vero yang duduk meminta maaf dengannya.
"eh eh jangan marah dong nes, aku kan hanya becanda" kata Vero ketika melihat Vanessa mengalihkan pandangannya langsung ke depan dan tidak mau melihatnya.
"Maaf dong nes, aku hanya bercanda tadi. Maaf ya nes" kata Vero merasa bersalah membuat Vanessa tertawa dalam hati.
'rasain, biar tau rasa godain aja aku terus hihi' tawa Vanessa dalam hati.
"Nes maafin gue dong nes, ya ya yaa" rengek Vero sambil menggoyangkan tangan Vanessa yang ada di atas meja.
"Apaan sih, lepas!" ketus Vanessa membuat Vero langsung terdiam dan melepaskan tangannya. Vero pun langsung menghadap ke depan kelas dengan wajah yang sedih dan mata yang berkaca-kaca.
"eh eh ver, kamu kok nangis sih" kata Vanessa yang terkejut mendengar isakan Vero.
"Lo ngapain dia" tanya Vian dengan nada datar dan dingin membuat Vanessa langsung ketakutan dan merasa bersalah.
"G-Gue gak ngapa ngapain kok Vian" gugup Vanessa.
"hiks ini salah aku Vian, Vanessa udah gak mau berteman dengan aku lagi, semua orang jauhi aku Vian hiks hiks" tangis Vero semakin kencang membuat Vanessa dan Farel yang tadinya diam menyimak langsung gelagapan bingung harus ngapain. Sedangan Vian sudah dalam posisi memeluk Vero sambil mengelus punggung Vero.
"Ver, aku gak bakalan jauhi kamu kok, aku tadi juga hanya bercanda ver. Maafin aku ya" ucap Vanessa dengan lembut karena merasa bersalah. Harusnya ia tidak menjahili Vero tadi karena ia tau kondisi mental Vero sekarang masih terguncang. Apalagi Vero merasa tertekan karena dari semalam Vero terus memikirkan perkataan Papa Abraham sampai jam empat pagi.
"Tuh Vanessa hanya bercanda tadi yang, udah cup cup jangan nangis lagi" bujuk Vian sudah sepeti membujuk anak kecil membuat Farel menahan tawanya ketika melihat Vian yang tadinya dingin tiba-tiba menjadi seperti ayah yang membujuk anaknya.
"Vian, lo sudah cocok" kata Farel tiba-tiba membuat Vian bingung.
__ADS_1
"Cocok apaan? oh iya gue memang cocok sama Vero" balas Vian dengan percaya dirinya membuat Farel dan Vanessa membuat ekspresi sepeti akan muntah.
"Pede banget lo, maksud gue itu Lo sudah cocok jadi ayah hahaha" tawa Farel yang ditahan sedari tadi lepas juga membuat Vian langsung mendatarkan ekspresinya.
"Hahaha udah udah, tuh liat Vero malah keenakan dipeluk sama Lo sampai ketiduran" kata vanessa membuat mereka berdua langsung mengalihkan pandangan mereka ke gadis yang tadinya menangis didalam pelukan Vian.
"eh kok tidur sih, sayang bangun yang sebentar lagi mau bel ini" panik Vian sambil menepuk pipi Vero dengan lembut membuat Vero membuaka matanya perlahan.
"Dimana?" tanya Vero yang masih belum mengumpulkan nyawanya.
"Di kelas oi, udah mau masuk ini Lo malah tidur" gerutu Farel yang heran dengan tingkah Vero yang bisa bisanya tertidur padahal baru sebentar mereka berbicara.
"Loh kok bisa, ehh nes kamu gak marah lagi kan sama aku?" tanya Vero setelah berhasil mengumpulkan nyawanya dan teringat kalau sahabatnya ini sedang marah dengannya.
"Nggak, aku sudah gak marah sama kamu" balas Vanessa dan mereka berdua pun langsung berpelukan tanpa mereka sadari kalau dari tadi sedang dilihat oleh teman teman kelasnya yang sudah datang. Yaa teman teman sekelasnya sudah pada datang ketika Vero menangis tetapi mereka hanya diam karena bingung melihat Vero yang menangis di pelukan Vian.
"Sudah berpelukannya, tuh dilihat orang tuh" kata Farel merusak suasana membuat Vero dan Vanessa langsung memukul pundak Farel.
"hiss tadi marahan sekarang udah kompak aja" gerutu Farel sambil mengusap kedua pundaknya yang tadi dipukul oleh mereka berdua.
"Selamat pagi anak anak!" Sapa Ibu guru yang baru masuk kelas membuat semua murid langsung duduk rapi.
"Sepertinya nggak ada yang dengar ya kalau sudah bel" tegur sang guru karena bel sedari tadi sudah berbunyi tapi murid muridnya masih asik mengobrol bukannya menyiapkan diri untuk memulai pelajaran.
"Maaf Bu!" balas semua murid dikelas dan langsung diangguki oleh sang guru.
"Baiklah sekarang kita berdoa dulu sebelum memulai pelajaran kita" ajak ibu guru dan langsung memulai berdoa menurut agama masing-masing.
"Baiklah, sebelum memulai pelajaran ibu mau memberi informasi kalau sebentar lagi akan ada ujian kenaikan kelas, jadi diharapkan kalian semua mempersiapkan diri dengan baik dan belajar dengan baik agar bisa mendapatkan nilai yang memuaskan" kata ibu guru dan langsung dibalas oleh semua murid
"Baik Bu!" balas semua murid.
"Baiklah kita mulai pembelajaran kita hari ini" putus ibu guru dan langsung menerangkan materi materi pembelajaran. Semua murid langsung fokus memperhatikan guru didepan sedangkan disisi lain Vero sedang memandang kelasnya.
'Sudah mau naik kelas aja ya' kata Vero dalam hati dengan raut wajah yang sedih karena ia akan merindukan kelas ini dan juga teman temannya nanti.
__ADS_1
Vanessa yang sadar kalau Vero tiba-tiba sedih pun bertanya, "ada apa Ver?" tanya Vanessa dan langsung dibalas gelengan kepala oleh Vero.
"Nggak papa nes" kata Vero menutupi sesuatu dari Vanessa dan Vanessa tau kalau ada yang disembunyikan oleh Vero tapi ia tidak mau bertanya dan hanya bisa menunggu Vero mau memberitahunya.