
Mereka kini sudah sampai di jakarta, Vero dan Vian mengantar Farel dan Vanessa terlebih dahulu dilanjutkan dengan Vian mengantar Vero kembali ke rumahnya. Kini mereka berdua sudah berada di depan rumah Vero.
"Kamu habis ini bersih-bersih lalu langsung istirahat ya biar gak kecapekan dan sakit" kata Vian sambil mengelus pipi Vero lalu mencium keningnya. Vero yang diperlakukan lembut dan hangat merasa sangat beruntung bertemu dengan Vian, ia hanya bisa tersenyum manis lalu membalas mencium pipi Vian.
"Kamu juga hati-hati nyetirnya, nanti kalau sudah sampai langsung kabari aku ya." balas Vero dan diangguki oleh Vian. Lalu Vero segera keluar dari mobil Vian dan baru masuk ke dalam rumah ketika melihat mobil Vian sudah melaju pergi.
"Halo sayang, baru pulang ya. Gimana liburannya? senang?" tanya Papa Beltran beruntun ketika melihat Vero yang baru masuk ke ruang keluarga. Saat ini ia sedang membaca koran di ruang keluarga sambil menunggu Vero karena ia tahu Vero akan pulang hari ini.
"Lancar pa, aku sangat senang. Disana udaranya sangat segar, nanti kapan-kapan kita sekeluarga main ke puncak ya" balas Vero dengan senyum merekah karena merasa senang ditanya oleh Papanya. Ini yang ia inginkan dari dulu dan akhirnya bisa tercapai sekarang.
"Siap, nanti kalau mama dan kamu sudah sembuh, kita jalan-jalan kemanapun kamu suka. Yasudah sekarang kamu beres-beres habis itu langsung istirahat ya" kata papa menyetujui usul Vero dan langsung memerintahkannya untuk segera istirahat.
Vero pun langsung mengangguk setuju lalu langsung ke lantai atas. Ia langsung membersihkan dirinya dan meletakan pakaian kotor ke keranjang untuk dicuci besok oleh Bi Mumun.
Setelah mandi, ia langsung berbaring di kasur lalu mengirimkan pesan ke Vian.
'Sudah sampai, yang?' tanya Vero lalu segera mengirimkannya. Ia menunggu balasan Vian sampai tidak sadar kalau sudah tertidur, mungkin karena ia kecapekan dalam perjalanan tadi.
Sedangkan disisi lain, Vian baru sampai dirumahnya. Ia disambut oleh Papa Abraham dan Mama Sinta yang sedang menonton tv di ruang keluarga.
"Baru sampai, nak? Gimana liburannya? Seru nggak? Kalian gak macam-macam kan disana" tanya Mama Sinta beruntun membuat Vian yang kelelahan hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan mamanya yang sangat banyak.
"Seru ma dan Vian gak macam-macam kok hanya satu macam aja. Vian langsung keatas ya soalnya capek banget nih" jawab Vian lalu langsung berlalu ke kamarnya.
"Anak kamu tuh pa" kata mama dengan wajah cemberutnya karena balasan Vian.
__ADS_1
"Anak kamu juga ma, kan kita bikin adonannya sama-sama" balas Papa Abraham dengan senyum jahilnya.
"Duh papa pingin nih, yuk ke kamar" kata papa sambil menarik tangan istrinya.
"Iss papa, udah tuaa" kata mama dengan wajah kesalnya.
Vian langsung membersihkan dirinya lalu merebahkan tubuhnya yang lelah ke kasur. Ia langsung mengambil hpnya yang diletakan diatas nakas sebelum mandi tadi. Ia melihat pesan Vero lalu segera membalasnya.
'Sudah sayang, selamat istirahat ya😘' balas Vian dengan menggunakan emoticon kiss lalu langsung memejamkan matanya untuk tidur.
Besok paginya, Vero sedang bersiap-siap dan berdandan dengan cantik. Hari ini ia akan kencan dengan Vian lalu pergi ke supermarket untuk membeli perlengkapan yang sekiranya ia butuhkan diluar negeri. Ia hanya akan membeli beberapa saja dan sisanya akan dibeli saat disana.
Tepat pukul 8 pagi, Vian sudah berada dirumah Vero untuk menjemput Vero. Vian sedang menunggu Vero turun dari kamarnya. Sekitar lima menit kemudian, Vian melihat Vero turun dari tangga dan ia langsung mematung ketika melihat Vero yang sangat cantik hari ini. Vian baru tersadar dari kekagumannya saat Vero sudah berada tepat di depannya dan memanggilnya sedari tadi.
"Vian.. Vian? Halo ada orang?" panggil Vero sambil melambaikan tangannya di depan wajah Vian membuat Vian langsung tersadar dan terkejut melihat Vero yang sudah ada didepannya.
"Loh kok cemberut gitu? Kan aku lagi memuju kamu" tanya Vian dengan heran.
"Jadi maksud kamu aku nggak cantik gitu sebelumnya?" tanya Vero membuat Vian langsung terdiam dengan mulut terbuka seketika.
"Bukan gitu maksud aku yang, kamu selalu cantik kok tapi hari ini kecantikan kamu meningkat beberapa level" balas Vian dengan senyum manisnya dan mengedipkan satu matanya menggoda Vero membuat Vero yang awalnya cemberut langsung tersenyum malu.
"Udah ah, kita berangkat sekarang nanti kesiangan" ajak Vero mengalihkan pembicaraan nya karena ia sangat malu.
"Iya ayok, tapi yang bener loh kamu cantik banget hari. Mau kencan sama siapa sih?" goda Vian sepanjang perjalanan mereka menuju mobil Vian yang terparkir dihalaman rumah Vero.
__ADS_1
"Udah ahhh" Vero langsung mempercepat langkahnya menuju mobil Vian.
Kini mereka sedang berada di mobil.
"Kita mau kemana?" tanya Vero sambil memainkan jari Vian yang sedari awal menggenggam tangannya.
"Nanti kamu bakalan tau, ikut aja ya" jawab Vian sambil menolehkan wajahnya sebentar dengan senyum manisnya. Vero pun hanya mengangguk dan diam sambil melihat pemandangan di luar.
Sekitar 15 menit perjalanan, kini mereka sudah sampai di tempat tujuan Vian. Mereka kini sedang berada di taman bermain yang memiliki banyak wahana permainan.
"Kita ngapain kesini?" tanya Vero sambil melepaskan sitbeltnya.
"Kita akan seru-seruan disini yang, karena aku akan buat kamu melepaskan semuanya." kata Vian.
"Sebenarnya aku ingin sekali kesini sejak aku masih kecil, aku ingin kesini bersama keluarga aku" kata Vero dengan wajah sendu sambil melihat pemandangan anak kecil yang sedang tersenyum bahagia bersama orangtuanya.
"Hei, sekarang terkabul kan walaupun bukan dengan keluarga kamu. Ada aku disini, aku akan buat kamu senang dan tertawa bahagia disini. Ayo!" Vian langsung menarik tangan Vero dengan semangat dan membeli tiket masuknya.
Ketika mereka sudah masuk, wahana pertama yang mereka akan mainkan adalah adalah panah-panahan. Vian memberikan busur kecil ke Vero.
"Tapi aku nggak bisa mainnya yang" kata Vero .
"Aku ajarin ya" balas Vian sambil berdiri dibelakang Vero. Ia menuntun tangan kanan Vero untuk memegang ujung panah dan tangan kirinya untuk memegang busur panah tersebut. Jarak tubuh Vero dan Vian sangatlah dekat bahkan menempel. Punggung Vero menempel di dada Vian membuat Vero bisa merasakan nafas hangat Vian yang menerpa leher jenjangnya. Jantung Vero langsung berdebar keras, ia sangat gugup karena Vian sangatlah dekat. Vian yang sibuk mengajarkan Vero, tidak memperhatikan reaksi Vero yang terdiam bahkan tidak mendengarkan penjelasannya.
"Sudah mengerti?" tanya Vian yang baru selesai menjelaskan ke Vero.
__ADS_1
"Eh.. eh.. itu iya iya ngerti" balas Vero yang gugup karena baru sadar kalau sedari tadi ia hanya melamun. Vian yang tahu kalau Vero sedari tadi tidak mendengarkannya hanya bisa tersenyum manis dan mengulangi penjelasannya.
Sayangnya, Vero tidak berhasil mengenai target. Jadi Vian yang menyelesaikannya sehingga mendapatkan boneka kelinci kecil. Vero sangat senang ketika mendapatkan boneka itu, ia akan membawanya nanti untuk kenangan jikalau merindukan Vian.