Veronika

Veronika
Rahasia


__ADS_3

*Dikediaman Beltran


"Pagi pa" sapa Aditya dan Chelsea yang baru saja tiba di meja makan, pagi ini mereka hanya akan sarapan bertiga karena kondisi Anggi masih belum membaik.


"Pagi" balas Beltran dengan lesu karena semakin hari suasana keluarga mereka sangatlah sepi.


"Pa, kemarin Chelsea ke sekolahnya kak Vero. Chelsea mau ajak kakak untuk pulang tapi Kakak menolak karena belum siap bertemu dengan Papa dan Mama" kata Chelsea membuat Beltran hanya menghela nafas karena ia paham akan penolakan Vero. Ia sudah membuat Vero menderita selama ini jadi ia merasa tidak pantas untuk dimaafkan.


"Kita hanya bisa menunggu untuk saat ini pa, karena Vero pasti sangat terluka apalagi mendengar kenyataan selama ini" kata Aditya dengan bijak, ia ingin sekali keluarga mereka kumpul bersama lagi. Ia sangat menyesal karena tidak pernah perduli dengan Vero. Selama ini, Aditya salah paham karena mengira Vero penyebab mamanya depresi makanya ia dulu menjauhi Vero, padahal kenyataannya Vero tidaklah bersalah, ia hanya korban disini.


"Iya kita hanya bisa menunggu, papa juga tidak mengharapkan bisa dimaafkan oleh Vero, Papa merasa tidak pantas" kata Beltran dengan lesu dan kepala menunduk. Mereka pun melanjutkan sarapan dengan suasana yang sepi.


"Papa gak kekantor?" tanya Aditya yang baru menyadari Beltran tidak memakai pakaian kantornya.


"Nggak, papa mau jaga mama kalian. Kondisinya saat ini tidak bisa ditinggal, mungkin papa akan mencari psikiater lagi untuk menyembuhkan mama kalian" jawab Beltran. Kemarin ia sudah menghubungi dokter yang dulu merawat istrinya tetapi tidak ada balasan dan baru tadi pagi ketika ia mengetahui kalau dokter yang merawat istirnya sudah meninggal 2 tahun yang lalu dikarenakan sakit, jadi sekarang ia sedang mencari psikiater terbaik untuk menyembuhkan depresi Anggi.


"Adit juga akan bantu mencarinya pa" putus Aditya yang sangat ingin mamanya bisa kembali tersenyum seperti dulu.


"Kami berangkat dulu pa" pamit Aditya diikuti oleh Chelsea yang sedari tadi hanya diam karena merasa tidak tega melihat mamanya.


"Hati-hati" balas Beltran lalu mulai beranjak untuk kembali ke kamarnya dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Anggi.


"Pagi sayang" sapa Beltran ketika melihat Anggi sudah bangun dan duduk diatas tempat tidur tetapi tidak ada balasan seperti biasanya. Tidak ada senyum yang menyambut pagi harinya melainkan hanya ada tatapan kosong dan teriakan yang menyuruh Beltran untuk menjauh dari Anggi.


"Sarapan dulu yuk" kata Beltran dengan lembut dan hendak menyodorkan sendok ke mulut Anggi tetapi langsung ditepis dengan kasar oleh Anggi.


"Pergi! pergi! Jangan dekat dekat" histeris Anggi ketika melihat Beltran sangat dekat dengannya. Beltran hanya bisa menghembuskan nafas kasar lalu pergi ke dapur untuk mengambil sendok yang baru. Kali ini ia akan menyuruh bibi untuk menyuapi istrinya karena ia tau kejadian tadi akan terus terulang kalau dia memaksakan untuk tetap menyuapi istrinya. Beltran pun memilih untuk pergi keruang kerjanya untuk memeriksa berkas-berkas yang dikirim dari kantor ke rumahnya karena tidak bisa ke kantor.


Saat Beltran sedang fokus memeriksa, tiba-tiba ada yang menelponnya.


"iya halo, sudah dapat informasinya?" tanya Beltran langsung pada orang yang menelponnya.


'Sudah tuan, saya akan mengirim data informasi dokter tersebut tuan' balas orang suruhan Beltran untuk mencari informasi psikiater terbaik yang dapat merawat istirnya yang haruslah perempuan.


"Baik, segera kirimkan sekarang" kata Beltran dengan tegas.


'Baik tuan' balas orang itu, Beltran pun langsung menutup telponnya dan memeriksa email-nya karena data itu akan dikirimkan ke emailnya.


'Huh semoga dokter itu bisa menyembuhkan istriku' hela nafas Beltran yang kini merasa tenang karena sudah menemukan dokter untuk istrinya.


*Disekolah

__ADS_1


Matahari sudah berada diatas kepala, tidak terasa mereka sudah akan pulang sekolah saja.


"Baik anak-anak sekalian pelajaran hari ini sampai disini dulu, jangan lupa untuk tetap belajar dirumah karena ujian sudah didepan mata, terimakasih dan selamat siang semuanya" kata sang guru mengakhiri pelajaran hari ini membuat semua murid langsung bersorak senang karena akan pulang.


"Ver, mau ke kafe gak habis ini?" tanya Vanessa saat mereka sedang merapikan buku dan alat tulis mereka.


"Boleh, sudah lama juga kita tidak nongkrong" balas Vero mengiyakan ajakan Vanessa untuk nongkrong di kafe langganan mereka.


"Aku nggak diajak yang?" tanya Vian yang sedari tadi mendengar pembicaraan Vero dan Vanessa dan langsung diikuti oleh farel juga.


"Nggak, hari ini gue mau berdua aja sama Vero, ini waktunya girl's time" kata Vanessa yang menjawab Vian sedangkan Vero yang tadinya ingin mengajak Vian langsung terdiam karena Vanessa sudah mengambil keputusan.


"Gue tanya Vero bukan tanya Lo" ketus Vian yang kesal karena jawaban Vanessa.


"Yang ikut~" Rayu Vian ke Vero membuat Vero langsung tersenyum manis dan mencubit kedua pipi Vian dengan gemas.


"Kali ini jangan dulu ya Vian, aku mau berdua saja dengan vanes karena kami sudah lama gak jalan berdua. Nanti kan kita ketemu di rumah, hampir 24 jam loh aku sama kamu" bujuk Vero ke Vian membuat Vian hanya bisa mengangguk pasrah.


"Yaudah, kamu hati-hati ya jangan pulang kesorean, oke?" putus Vian.


"Oke sayang, makasih yaa" kata Vero dengan senyum manisnya membuat Vian langsung kesenangan karena dipanggil sayang oleh Vero.


"Bucin terosss, serasa dunia milik berdua yang lain mah hanya ngontrak" sindir Farel yang jengah melihat kebucinan dua sejoli itu.


"Iri aja Lo, tu Vanessa ada kalau Lo mau bucin juga" balas Vian membuat Farel hanya bisa mendengus sedangkan Vanessa sudah salah tingkah dan langsung menarik tangan Vero.


"Yuk ver, kita tinggalin aja mereka" kata Vanessa meninggalkan Vian dan Farel yang terdiam karena ditinggal oleh Vero dan Vanessa.


"Tuh kan gue ditinggal, Elo sih ngajak ribut" kesal Vian dan langsung pergi ke parkiran sendirian karena Vero sudah dibawa kabur oleh Vanessa.


"Loh kok salah gue sih" bingung Farel yang tiba-tiba disalahkan dan langsung berlari menyusul Vian ke parkiran.


*Di cafe


Kini Vero dan Vanessa sudah sampai di cafe langganan mereka, mereka pun langsung memesan minuman dan makanan ringan.


"Mau pesan apa Ver?" tanya Vanessa.


"Seperti biasa aja nes, Ice chocolate dan milk cake" jawab Vero dan langsung diangguki oleh Vanessa. Vanessa pun langsung menuju ke bagian pemesanan dan langsung kembali ke meja mereka.


"Udah gue pesan, nanti tinggal ambil aja kalo sudah dipanggil" kata Vanessa dan langsung duduk di kursinya.

__ADS_1


"Ver" panggil Vanessa dan langsung dibalas oleh Vero.


"Iya Nes, kenapa?" tanya Vero.


"Kamu baik-baik aja kan?" balas Vanessa dengan pertanyaan, ia sebenarnya mengajak Vero ke kafe ini agar bisa berbicara berdua dengan Vero.


"aku baik-baik aja kok, memangnya ada apa?" balas Vero yang bingung dengan pertanyaan Vanessa.


"Baguslah kalo baik-baik aja. Tolong diingat ya ver, kamu itu gak sendirian masih ada aku yang mau dengerin keluh kesah kamu. Jadi aku harap kamu bisa kasih tau aku kalo lagi kesusahan ataupun masalah karena kita sahabat." kata Vanessa dengan wajah yang serius.


"Aku aja gak tau kalau kamu selama ini ada trauma, aku ngerasa jadi sahabat yang gak berguna untuk kamu ver" lanjut Vanessa yang kali ini terlihat sedih dan merasa bersalah.


"Heii Nes, jangan sedih gitu jadi ingin nangis kan akunya. Aku beneran gak papa kok, maaf kalo aku gak cerita sama kamu karena aku gak mau kamu khawatir sama aku. Aku janji deh aku bakalan selalu cerita ke kamu" kata Vero dengan senyum manisnya membuat Vanessa juga tersenyum.


"Janji?" pinta Vanessa.


"Janji" balas Vero.


"Sekarang juga aku tagih janji kamu" kata Vanessa lagi membuat Vero bingung kembali.


"Maksudnya?" tanya Vero sambil memiringkan kepalanya karena bingung.


"Tadi sewaktu di kelas, aku lihat wajah kamu sedih. Kenapa?" jelas Vanessa membuat Vero langsung gugup dan tidak tau mau bilang apa.


"Hmm i-ituu aku gak papa kok" elak Vero yang langsung ditatap oleh Vanessa.


"Kamu udah janji tadi kan dan sekarang kamu mau ingkar" kesal Vanessa.


"Iya iya aku kasih tau, itu aku tadi sedih karena kita kan mau naik kelas tuh. Aku takut nanti kita tidak bisa bertemu lagi dengan teman kelas kita saat ini makanya aku sedih" bohong Vero membuat Vanessa menatapnya semakin intens.


"Serius hanya itu?" selidik Vanessa karena merasa masih ada yang disembunyikan oleh Vero.


"Iya dan juga ada sesuatu yang lain, tapi aku belum siap kasih tau kamu sekarang. Kamu mau kan ngertiin aku kali ini?" kata Vero yang merasa bersalah kalau berbohong dengan sahabatnya ini.


"Oke aku akan tunggu kamu untuk bilang itu sendiri ke aku, aku gak mau kalau tau dari orang lain lagi" tegas Vanessa dan langsung diangguki oleh Vero. Beberapa saat kemudian nama Vanessa dipanggil karena pesanan mereka sudah jadi.


"Aku ambil dulu ya" pamit Vanessa dan langsung diangguki oleh Vero.


'Maaf nes' kata Vero dalam hati sambil melihat punggung Vanessa.


Mereka pun keasikan berbincang-bincang sampai baru sadar hari sudah menjelang malam. Veronika pun langsung pamit ke Vanessa, mereka pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2