
"maaf? untuk apa? harusnya kakak yang minta maaf ke kamu karena gara gara kakak, rumah tangga orang tua kamu hampir hancur hiks" kata vero ketika mendengar permintaan maaf Chelsea.
"mama ingin menggugurkan aku kan dulu? mama ingin aku mati kan? baik ma akan aku kabulkan permintaan mama, anggap ini ucapan terimakasih vero karena sudi merawat anak haram ini" kata vero lalu langsung melepaskan pelukan vian dan berlari pergi sedangkan vian langsung terkejut dan mengejar vero karena takut terjadi apa apa dengan vero.
"Vero!! tunggu!!" teriak vian.
Vian berhasil menangkap Vero dan langsung memeluknya dengan erat.
"jangan pergi, please" lirih vian dengan tubuh bergetar dan mata berkaca-kaca siap menumpahkan tangisan.
"kita hadapi sama sama ya sesuai janji kita, aku mohon sayang" kata vero lagi dengan sendu tetapi tidak mendapatkan tanggapan oleh vero.
"sakit vian, sakit banget hati aku, a-aku dada aku sesak vian. Aku anak haram aku gak pantas untuk kamu. tolong jauhi aku vian" Vero menangis kencang dan meraung keras sedangkan Vian yang mendengarnya ikut meneteskan air matanya dan menggeleng dengan kuat.
"nggak, aku nggak akan jauhi kamu sayang. ayo kita pulang ya orang tua pasti aku sudah nunggu kita dirumah, mereka pasti khawatir karena kita belum pulang sedari siang" Vian mengajak Vero untuk pulang dan langsung menarik Vero ke motornya. ia memasangkan helm ke Vero dan juga mengangkat tubuh Vero lalu mendudukkannya diatas motornya. Vero hanya diam saja menerima perlakuan Vian, ia tidak ada tenaga untuk menolak Vian.
"kak, jangan pergi kak!" teriak Chelsea yang menyusul mereka keluar.
"Biarin kakak kamu pergi dulu ya, dia mau nenangin pikirannya dulu" bujuk vian ke chelsea dan langsung disetujui chelsea yang semakin menangis setelah melihat keadaan kakaknya yang kacau.
Vian pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Setelah menempuh waktu hampir setengah jam, mereka telah sampai dikediaman adijaya.
Vian langsung memarkirkan motornya lalu menurunkan Vero dari motor serta melepaskan helm mereka.
"sayang kenapa baru pulang" sambut mama sinta ketika melihat Vian dan Vero masuk rumah. ia sudah menunggu mereka sedari tadi di ruang keluarga bersama suaminya.
"maaf ma tadi kami jalan-jalan dulu" jawab Vian lalu menarik tangan vero untuk keatas tapi dicegah oleh mama sinta.
"Vero kenapa sayang, kamu habis nangis?" kata mama sinta setelah melihat keadaan vero yang kacau dengan mata sembabnya.
"Ma, biarin vero istirahat dulu ya di kamarnya, nanti baru Vian ceritain" potong Vian dan diangguki oleh mama sinta, Vian pun langsung membawa vero ke kamarnya.
"Kamu mau bersih bersih dulu atau mau langsung istirahat?" tanya Vian ketika sudah sampai dikamar Vero.
"aku bersihin tubuh aku dulu" lirih vero dan langsung beranjak ke kamar mandi setelah mengambil handuk dan pakaian gantinya. Vian pun keluar dari kamar vero karena harus membersihkan dirinya juga.
Dikamar mandi, Vero berdiri dibawah guyuran air shower dengan tatapan kosong dan air mata yang mengalir.
'kenapa? baru tadi siang aku kencan dengan Vian dan merasakan kebahagiaan tapi kenapa harus jatuh lagi? Kenapa kebahagiaan tidak pernah mau bertahan lebih lama di hidupku?' renung Vero dalam hati dengan tangan yang terus memukul dadanya berharap rasa sesak didadanya berkurang tapi bukannya berkurang malahan tambah sesak. tubuhnya meluruh ke lantai dan memeluk lututnya sambil terus menangis.
Hampir setengah jam vero dikamar mandi, vian yang menunggu sedari tadi pun langsung mengetuk pintu kamar mandi vero tapi tidak mendapatkan jawab dari dalam. Vian langsung khawatir dan secara spontan menerjang pintu kamar mandi dengan keras sehingga dentuman suaranya sampai ke lantai bawah yang membuat orang tua Vian terkejut dan segera berlari ke sumber suara.
__ADS_1
"Vero!" pekik vian ketika melihat tubuh vero sudah tergeletak tidak sadarkan diri dibawah guyuran shower. Vian yang panik langsung menggendong tubuh Vero yang masih berbusana lengkap lalu dibaringkan di atas kasur.
"Bangun sayang" lirih vian sambil menepuk-nepuk pipi vero dan menggosok tangannya yang dingin karena terlalu lama diguyur air.
"ada apa Vian, suara apa tadi?" tanya papa abraham setelah sampai dikamar Vero.
"vero pa, vero" Vian membalikan badannya menghadap orang tuannya dengan wajah yang kacau dan tubuh yang bergetar menahan tangis.
"Astaga vero, Vero kenapa Vian? Pa cepat telepon dokter Indra pa!" seru mama sinta yang panik ketika melihat Vero tak sadarkan diri dengan tubuh yang masih basah.
"Vian kamu keluar dulu mama mau mengganti pakaian Vero, dia bisa sakit kalau dibiarkan lebih lama" perintah mama sinta ke vian dan langsung diangguki vian.
Tidak beberapa lama kemudian, dokter indra sudah datang dan langsung memeriksa tubuh vero yang sudah berganti pakaian.
"nona vero tidak apa apa, nyonya. ia hanya kelelahan dan kekurangan cairan saja, kalau nanti malam ia demam tolong untuk diminum obat yang sudah saya resepkan ini ya" kata dokter Indra menjelaskan keadaan vero setalah ia periksa.
"Syukurlah dok" ucap mama sinta dengan helaan nafasnya.
"oh iya, saya mau tanya apakah ada yang sudah mengetahui sebab nona vero mengalami depresi?" tanya dokter ketika mengingat keadaan vero terakhir kali.
"sudah, kami sudah mengetahuinya dok. Dia mengalami trauma setelah hampir dilecehkan oleh dua orang preman dok" jawab papa abraham yang sudah mengetahui karena sudah diceritakan oleh vian.
"baiklah, apa sudah dilakukan perawatan tuan?" tanya dokter Indra lagi.
"Sudah dok, tapi belum ada perubahan dok" Jawab Papa Abraham.
"Saya ada kenalan psikiater terbaik tetapi dia berdinas di luar negeri tuan, Jika mau saya akan berbicara dengannya tuan" saran dokter Indra dan langsung dijawab oleh Vian.
"nggak, jangan keluar negeri aku gak mau vero jauh dari aku ma pa" Vian spontan menolak ketika mendengar perkataan dokter Indra.
"nanti kami diskusikan dok dan langsung memberikan hasilnya ke dokter" kata papa abraham dengan bijaksana, ia tidak mau langsung memberi keputusan sebelum berdiskusi dengan keluarganya dan juga Vero.
"Baiklah tuan, ini resepnya tolong ditebus. saya tunggu kabar baiknya tuan" kata dokter Indra lalu pamit undur diri dan diantar oleh papa abraham.
"terimakasih dok" kata mereka dan diangguki oleh dokter Indra dengan senyuman ramahnya.
Setelah kepergian dokter Indra, Vian dan keluarganya langsung berdiskusi menentukan jalan yang terbaik.
"Ma, Pa, Vian gak mau jauh dari vero" lirih vian tertunduk lesu memikirkan Vero akan jauh darinya dalam kurun waktu yang lama.
"Tapi kita tidak ada pilihan lain sayang, kamu tahu sendiri kan Vero sudah berkali kali ke psikiater tapi tidak ada yang berhasil. ini sudah ketiga kalinya mama melihat keadaan Vero seperti ini. Apa kamu tega kalau kejadian ini terus terulang kedepannya?" bujuk mama sinta dengan raut wajah sedih. Ia sudah sangat menyayangi Vero seperti anaknya sendiri dan ibu mana yang tidak sedih dan hancur ketika melihat anaknya terbaring tidak berdaya seperti ini.
__ADS_1
"Iya benar yang dikatakan oleh mama kamu Vian, toh nanti kita akan terus menjenguknya dan memeriksa keadaannya diluar negeri nanti" bujuk papa abraham lagi.
"Kalau Vero pergi, Vian juga akan pergi. Vian akan menemani Vero disana" tegas Vian dan hanya di balas helaan nafas orang tuanya.
"Terserah kamu, nanti kita tanyakan ke Vero setalah dia baikan" putus papa abraham lalu mengajak istrinya keluar untuk beristirahat karena hari sudah sangat larut bahkan mereka melewatkan makan malam.
Tinggal Vian seorang diri yang masih menemani vero di kamar vero. Ia masih duduk di sofa dan merenungkan kejadian kejadian yang menimpa Vero
'apakah aku sanggup berjauhan dengan Vero?' tanya Vian dalam hati kepada dirinya sendiri. Vian tenggelam dalam lamunannya dan tersadar ketika mendengar lenguhan vero yang sepertinya akan sadar.
Vian yang mendengar langsung mendekati ranjang vero dan memegang tangan vero dengan lembut.
"Sayang kamu sudah sadar? Apa yang sakit hmm?" tanya Vian lembut ketika melihat mata Vero terbuka.
"Pusing" lirih Vero dengan suara yang nyaris tidak didengar.
"Kamu pusing? sebaiknya kamu makan dulu ya habis itu minum obat agar cepat membaik" kata Vian dengan lembut dan langsung beranjak mengambil makanan di dapur tanpa menunggu jawaban Vero. Vero hanya pasrah menunggu Vian karena tidak ada tenaga untuk menolak, sebenarnya ia tidak ada nafsu makan sekarang.
"yuk sayang kita makan" kata Vian ketika sudah sampai di kamar Vero dengan membawa nampan berisi bubur dan air putih yang sudah disiapkan oleh mamanya sedari tadi sebelum beristirahat.
"aku nggak nafsu makan Vian" lirih Vero pelan sambil menggelengkan kepalanya ketika Vian akan menyuapinya makanan.
"Tapi kamu harus tetap makan supaya bisa minum obatnya" tolak Vian dan hanya dijawab hembusan nafas pasrah dari Vero.
"Yuk buka mulutnya aaaa" kata Vian menyuapi Vero.
Vero hanya bisa pasrah dan menerima suapan Vian. Setelah suapan ketiga, Vero langsung menolak lagi karena ia mulai merasa mual.
"Sudah Vian, aku gak bisa makan lagi perut aku mual" kata Vero dengan wajah yang semakin pucat karena menahan rasa mual.
"Oke, sekarang minum obatnya dulu supaya cepat sembuh" kata Vian sambil menyodorkan obat yang sudah diresepkan oleh Dokter Indra tadi.
"Sudah, sekarang kamu istirahat lagi ya kalau sudah sembuh ada yang mau aku bicarain sama kamu" Vian langsung membaringkan tubuh Vero dan menyelimutinya sampai batas dada Vero. Vian mengelus rambut vero dengan lembut dan satu tangannya lagi memegang tangan Vero, Vero yang diperhatikan selembut itu oleh Vian merasa sangat terharu.
"i love you vian" kata Vero dengan senyum manisnya.
"i love you too sayang" balas Vian sambil mencium kening Vero dengan lembut membuat pipi Vero langsung memerah karena malu.
"hehe masih malu ternyata" kekeh Vian ketika melihat pipi Vero yang merah. Vian pun lanjut mengelus rambut Vero sampai empunya tertidur pulas. Vian langsung naik ke kasur Vero dan ikut berbaring disampingnya sambil memeluk Vero hangat.
Mereka tertidur malam itu sambil berpelukan dan baru bangun keesokan harinya.
__ADS_1