
"bagaimana dok?" tanya vian khawatir.
"ini hanya demam biasa, ia pingsan karena kekurangan cairan dan juga darah, sepertinya ia mencoba untuk melukai dirinya sendiri karena saya melihat ada luka sayatan di tangannya. Pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat inap dan jika pasien sudah sadar tolong didampingi agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan" kata dokter yang menjelaskan diagnosa vero kepada Vian.
Degg...
Vian langsung membeku ketika mendengar bahwa vero mencoba melukai dirinya sendiri, ia sekarang sangat takut vero akan meninggalkannya.
"Baik dok, terimakasih dok"
Vian langsung tertunduk lesu, ia sangat takut hingga tak sadar air matanya mulai menetes.
"Apa yang terjadi bi? kenapa vero melukai dirinya sendiri" tanya vian sambil melihat bibi yang sudah menangis.
"Semalam non vero bertengkar dengan ibu dan bapak den lalu non vero menangis dan langsung pergi ke kamarnya. Bibi menyusul ke kamarnya karena khawatir tapi ketika bibi membuka pintu, bibi melihat non vero melukai tangannya dengan gunting den hik hiks" Isak bibi sambil menjelaskan kejadian semalam.
Vian yang mendengar penjelasan bibi segera pergi keruangan vero di ruang VVIP.
vian mendekati kasur vero, ia langsung menggenggam tangan vero yang masih belum sadar.
"ini sudah kedua kalinya aku melihatmu seperti ini sayang, kenapa, kenapa seperti ini lagi" vian tertunduk lesu dengan air mata yang mengalir, ia menjadi cengeng karena vero.
Vian tertidur duduk disebelah Vero, dengan kepala disisi tubuh Vero.
dua hari kemudian vero masih nyaman memejamkan mata, dua hari juga vian izin sekolah untuk menemani vero. Vian kelihatan sangat lelah karena ia tak pernah meninggalkan vero sendirian, orang tuanya sudah membujuknya untuk pulang dan istirahat sebentar tapi ia bersikeras tetap di sana sehingga keperluannya selalu diantar oleh keluarganya. keluarga vero kecuali Chelsea tidak ada yang mencari dan peduli hanya Chelsea yang sesekali menanyai orang tuanya tentang keberadaan kakaknya, tapi tidak pernah digubris.
__ADS_1
"Sayang, apa mimpimu sangat indah? kapan kamu bangun, aku kangen suaramu" kata vian yang hampir frustasi karena vero belum bangun juga.
"Dok, kenapa ia belum sadar juga ini sudah 2 hari?" kata vian ketika dokter dan perawat datang untuk pemeriksaan.
"kita hanya bisa bersabar tuan, karena sekarang yang bisa membuat nona bangun hanyalah dirinya sendiri. Itu biasa terjadi pada pasien yang memiliki gangguan mental atau depresi jadi kita hanya bisa tunggu dan bersabar" kata dokter berusaha menguatkan vian dan vian hanya bisa menghela nafas.
"kenapa gak mau bangun? mau sampai kapan aku menunggu kamu, aku sangat mencintai kamu vero tolong sadarlah ada aku disini" kata vian yang terus mengajak bicara vero dan membujuknya agar mau bangun dari mimpi panjangnya.
tiba-tiba jari vero bergerak, Vian yang melihatnya langsung menekan tombol disisi ranjang untuk memanggil dokter.
"Sayang, kamu dengar aku? ayo bangun sayang aku ada disini" kata vian lagi dengan mata yang berbinar karena melihat pergerakan jari dan mata vero seperti mau bangun.
dokter pun datang dan langsung memeriksa vero dengan membukakan matanya dan menyinari dengan senter kecil.
"Selamat tuan, nona sudah sadar tapi sebaiknya jangan diajukan banyak pertanyaan agar ia tidak tertekan lagi" saran dokter lalu keluar dari ruangan vero.
"akhirnya kamu bangun juga sayang, aku senang sekali"
"aku ada dimana?" tanya vero karena merasa asing dengan ruangannya
"ini di rumah sakit ver, dua hari lalu kamu pingsan di kamarmu jadi aku membawamu kesini" jelas vian dan hanya diangguki oleh vero karena sekarang ia mulai ingat kenapa ia bisa pingsan.
"apa ada yang sakit sayang" tanya vian khawatir sambil melihat tubuh vero dari atas kepala sampai ke kakinya tapi tidak digubris oleh vero. Vian melihat vero terlihat sangat menyedihkan sekarang dengan mata yang kosong seperti tidak ada gairah untuk hidup.
"apa kamu lapar?" tanya vian lagi dan tidak ada balasan dari vero lagi. Vian langsung berdiri dan meminta perawat yang lewat didepan pintu untuk membawakan bubur untuk vero.
__ADS_1
10 menit kemudian perawat datang dan membawa nampan berisi makanan untuk vero, Vian langsung mengambilnya dan mengucapkan terimakasih kepada perawat tersebut.
"kamu pasti lapar, ayo aku suapin ya" kata vian dengan menyodorkan sendok didepan mulut vero tapi vero tidak menggubris ataupun membuka mulutnya ia masih bertahan dengan tatapan kosongnya.
"ver please aku mohon ayo makan, aku gak mau kamu sakit lagi aku khawatir Vero, tolong jangan gini aku gak mau kamu tinggalin aku, please" vian berusaha untuk menyuapi makanan ke vero dan akhirnya vero mau membuka mulutnya dan makan walaupun hanya tiga sendok karena ketika suapan ke empat, Vero langsung menggeleng dan membuat vian hanya bisa menghela nafas lagi. entah berapa kali hari ini ia menghela nafasnya karena berusaha untuk sabar dan kuat demi vero.
"yaudah kalo gak mau lagi, yang penting ada yang masuk jadi kamu bisa minum obat" kata vian sambil menyodorkan tiga jenis obat ke vero dan vero terpaksa meminumnya karena vian terus memaksanya.
"pintarnya" puji vian sambil mengelus rambut vero dengan lembut.
"besok kamu sudah boleh pulang, tapi kamu pulangnya kerumah aku saja ya" ajak vian dan langsung dilihat oleh vero.
"kenapa?" kata vero, Vian yang mendengar vero sudah mau bicara pun sangat senang
"karena aku khawatir sama kamu, aku sudah bilang kok sama mama papa dan mereka setuju karena mereka juga khawatir dan sayang sama kamu" jawab vian dengan lembut sambil mengelus pipi vero.
"masih banyak yang sayang sama kamu vero dan kamu gak sendirian disini. masih ada aku, vanessa, farel dan keluargaku yang sayang banget sama kamu, jadi jangan lagi kamu memikirkan untuk pergi tinggalin aku seperti ini, aku sangat takut kehilangan kamu" lanjut vian. Vero yang mendengarnya langsung meneteskan air mata dan langsung memeluk Vian.
"terimakasih Vian, terimakasih hiks" kata vero sambil terisak dan semakin mengeratkan pelukannya yang membuat vian tersenyum senang.
Keesokan paginya, vian dan vero sudah bersiap untuk keluar dari rumah sakit dan menuju ke rumah vian. Kini mereka sedang menunggu jemputan sopir keluarganya.
tok tok tok
"sudah siap den?" kata mang ujang sopir keluarga vian.
__ADS_1
"sudah mang saya minta tolong bawain barang brang saya ke mobil ya, saya mau dorong kursi vero mang" kata vian meminta tolong karena vero sekarang masih belum boleh kelelahan jadi ia memakai kursi roda sampai di mobil baru ia akan berjalan pelan dengan dipegang oleh vian.