Veronika

Veronika
Ujian


__ADS_3

Papa Abraham langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan akan keluar bersama istrinya saat makan malam nanti.


Mereka kini sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam, makan malam hari ini sangat ramai karena ada Vanessa dan Farel. Mereka makan diiringi dengan obrolan-obrolan ringan.


Setelah makan malam, Farel dan Vanessa pamit kepada orang tua Vian dan juga Vian, sedangkan Vero akan diantar Vian setelah mereka pergi.


"Ma, Pa, Vero pamit pulang dulu ya" pamit Vero sambil memeluk dan mencium tangan kedua orang tua Vian.


"Jangan lupa sering-sering kesini ya" kata Mama Sinta dan langsung diangguki oleh Vero.


Kini Vero dan Vian sudah berada didalam mobil Vian dan melajukannya menuju rumah Vero. Sesampainya dirumah Vero, Vero belum turun dari mobil Vian karena Vian mencegahnya ketika akan menutup pintu.


"Kiss nya mana yang?" tanya Vian sambil menunjuk pipinya membuat Vero langsung malu dengan wajah yang sudah memerah.


Vero pun langsung memajukan wajahnya untuk mengecup pipi Vian, tetapi Vian langsung mengarahkan wajahnya ke Vero sehingga bukan pipi yang kena melainkan bibir Vian. Vero yang menyadarinya langsung terkejut dan mau melepasnya tetapi tengkuknya langsung ditahan oleh tangan Vian membuat bibir mereka menyatu lebih lama dan lebih dalam. Vian baru melepaskannya ketika melihat Vero hampir kehabisan nafasnya.


"Isss kamu sengaja kan" kesal Vero dengan nafas yang tidak beraturan dan juga wajah yang merah menahan malu.


"Hehe iya" balas Vian dengan wajah polos tak berdosa ya.


"Udah kan, puas kan. Aku masuk dulu ya" kata Vero lalu segera membuka pintu dan masuk kerumahnya dengan cepat meninggalkan Vian yang tersenyum sambil menyeka bibir dengan ibu jarinya.


Vian pun langsung melajukan mobilnya untuk pulang kerumahnya. Disisi lain, Vero yang baru masuk kedalam rumahnya langsung bertemu dengan Aditya yang memang sedari tadi menunggu Vero pulang.


"Kenapa kamu dek? seperti dikejar hantu aja sih kok lari-larian. Terus kenapa muka kamu merah banget itu. Beneran ketemu hantu?" tanya beruntun Aditya yang heran melihat Vero yang lari tergesa-gesa dengan wajah yang merah.


"Eh ehh itu.. nggak kok kak. Mana ada hantu sih" kata Vero yang terkejut melihat kakaknya dan langsung salah tingkah bingung mau jawab apa.


"Aku ke kamar dulu ya kak, tubuh aku gerah nih mau mandi" kata Vero yang berusaha lari dari pertanyaan kakaknya. Aditya yang melihat Vero pun bertambah bingung.


"Kenapa tuh anak" kata Aditya sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun segera masuk kekamarnya karena Vero sudah pulang.


Vero langsung masuk kekamar mandi karena memang badannya sudah sangat lengket dan gerah. Seusai mandi, Vero langsung mengambil handphonenya (HP) yang ia letakan di kasur tadi. Baru saja ia pegang, HPnya sudah berdering karena Vian menelponnya dengan mode video call.


"Halo Vian" sapa Vero kepada Vian ketika wajah Vian sudah muncul di layar HPnya.


"Halo yang, kangennn~" keluh Vian dengan manja padahal baru saja mereka berpisah tapi kekasihnya sudah mengatakan rindu saja.


"Baru aja pisah, Vian. Gak usah lebay deh" kata Vero dengan tawa kecilnya.


"Bukan lebay ya, ini namanya aku cinta banget sama kamu" elak Vian tidak terima dibilang lebay oleh kekasihnya.


"iya iyaaa terserah kamulah" kata Vero mengalah. Obrolan itu berlanjut dan baru selesai jam 10 malam karena besok mereka akan sekolah.

__ADS_1


Tidak terasa hari ini mereka akan melaksanakan ujian setelah selama seminggu belajar bersama di rumah Vian dan Vero, terkadang mereka belajar di cafe agar tidak terlalu jenuh.


Selama ujian mereka juga tetap belajar bersama walaupun tidak sesering sebelumnya karena mereka memilih untuk banyak belajar sendiri di rumah mereka. Hubungan Vian dan Vero juga semakin erat bahkan dua sejoli ini seperti tidak akan pernah berpisah. Vero selalu tersenyum dan bahagia bersama Vian. Trauma Vero juga sudah mulai membaik karena ia tidak pernah lagi bermimpi buruk, mungkin karena suasana hatinya yang selalu bahagia. Mama Anggi sudah menjalani perawatan oleh psikiater terbaik dan ia mulai bisa berkumpul dengan yang lain walaupun tidak sering. Akan tetapi, ia masih belum bisa melihat Vero secara langsung atau berbicara dengan Vero karena anjuran dari psikiaternya dan Vero serta keluarga berusaha memahami itu walaupun hati Vero sakit ketika Mamanya masih belum bisa menerimanya.


Hari demi hari berlalu, kini hari terakhir ujian mereka. Seperti yang mereka sepakati sebelum ujian kemarin, mereka akan berbelanja kebutuhan untuk liburan mereka bersama di mall.


"Huh akhirnya selesai juga ujiannya." lega Vanessa yang sedang membereskan alat tulisnya karena sudah bel pulang.


"Iya, akhirnya kita terbebas dari buku pelajaran untuk sementara" balas Farel.


"Ehh hari ini jadi kan kita ke mall? kita pulang dulu atau langsung ke mall nih?" tanya Vanessa ke Vero.


"Jadi dong, kita pulang kerumah dulu aja ganti pakaian terus baru kumpul dan bertemu di mall nanti jam 3 nanti ya" jawab Vero dan langsung disetujui oleh mereka.


"Yuk pulang yang, ganti baju di rumah aku aja ya biar cepat." ajak Vian karena baju Vero masih ada di rumah Vian. Sebenarnya Vero mau membawa semuanya pulang tapi dilarang oleh Mama Sinta dengan alasan nanti Vero bisa sesekali menginap disana. Mama Sinta juga selalu mengisi lemari Vero dengan pakaian dan aksesoris baru ketika ia belanja di mall. Ia sangat suka ketika memilih pakaian untuk Vero karena sedari dulu ia ingin anak perempuan dan semua itu baru terkabul ketika ada Vero.


"Iya, yaudah kami pulang duluan ya Nes, Rel. Sampai ketemu di mall nanti ya" pamit Vero dan Vian dan langsung dibalas anggukan oleh Vanessa dan Farel.


Mobil Vian kini sudah melaju ke rumahnya dan selama di perjalanan pulang mereka berdua mengobrol dan juga bercerita tentang ujian mereka tadi pagi.


"Mau beli apa aja nanti yang?" tanya Vian ke Vero yang sekarang sedang menatap ke luar jendela.


"Mau beli apa kebutuhan kita nanti yang, seperti daging dan sayuran serta alat alat camping" jawab Vero sambil memainkan jari Vian yang ada di genggamannya. Vian selalu memegang tangan Vero ketika di mobil dan baru akan dilepas sebentar ketika mengganti tuas mobilnya.


"Ya kita siapkan aja, Vian. Kali aja kita mau camping dadakan ya kan." jawab Vero dan langsung mendapatkan anggukan tanda mengerti dari Vian.


Kini mobil mereka sudah masuk ke pekarangan rumah Vian. Seperti biasa, Vero langsung keluar dan masuk ke rumah meninggalkan Vian di belakang. Ia sudah sangat rindu dengan Mama Sinta karena selama seminggu ini ia belum bertemu dengan Mama Sinta karena sibuk belajar.


"Mama!" pekik girang Vero ketika menemukan Mama Sinta di tempat favoritnya yaitu dapur. Vero langsung memeluk Mama Sinta dari arah belakang membuat Mama Sinta terkejut dan langsung berbalik membalas pelukan Vero.


"Eh anak mama datang, mama kangen banget loh sayang. Sudah seminggu kamu gak kesini" kata Mama Sinta sambil mengurai pelukannya.


"Hehe maaf ya mama, Vero kemarin sibuk belajar jadi belum sempat mengunjungi mama" kata Vero yang merasa bersalah.


"Iya iya gak papa, yang penting sekarang kamu sudah datang." kata Mama Sinta sambil mengelus rambut Vero dengan lembut.


Vian yang melihat Vero sedang berpelukan dengan mamanya tadi langsung melewati mereka dan menuju ke kamarnya. Ia sudah biasa melihat mama dan kekasihnya itu mengobrol dan melupakan dirinya jadi ia langsung melewati mereka dan masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri sebelum pergi ke mall.


"Loh, kesini sama siapa nak?" tanya Mama Sinta yang heran karena tidak melihat Vian sedari tadi. Ia tidak sadar kalau Vian sudah lewat tadi karena keasyikan melepas rindu dengan Vero.


"Sama Vian lah ma." jawab Vero.


"Loh sekarang Vian nya kemana?" tanya Mama Sinta yang semakin bingung.

__ADS_1


"Eh iya ya, kemana Vian ya ma. Tadi Vero ninggalin dia di belakang ma soalnya Vero sudah tidak sabar bertemu dengan Mama hehe." kekeh Vero membuat Mama Sinta hanya menggeleng dan tersenyum lembut.


"Mungkin dia sudah dikamarnya, nak. Sekarang kamu ke kamar kamu gih terus nanti turun untuk makan siang ya." perintah Mama Sinta.


"Ay Ay Kapten" kata Vero dengan semangat sambil memberi hormat ke Mama Sinta membuat Mama Sinta menggeleng dan tersenyum melihat tingkah Vero.


Vero langsung keatas dan membersihkan dirinya.


"Loh kok baju aku banyak banget ya, perasaan gak sebanyak ini deh. Ini masih baru baru juga" kata Vero dalam hati yang bingung ketika melihat isi lemarinya semakin banyak pakaian dan aksesoris yang baru.


"Ini pasti Mama Sinta yang kerjain" kata Vero lalu mengambil salah satu pakaian dan langsung ke kamar mandi untuk mandi.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Vero langsung turun kebawah. Dibawah sudah ada Vian dan Mama Sinta yang menunggunya di meja makan.


"Ma, mama yang beliin semua pakaian dan aksesoris yang ada di lemari Vero ya?" tanya Vero ketika sudah berada di meja makan.


"Iya, kenapa sayang? Apa kamu suka?" tanya beruntun Mama Sinta.


"Suka ma, tapi jangan banyak-banyak belinya ya, Vero takut merepotkan mama apalagi itu semua pakaian mahal" kata Vero dengan lembut takut menyinggung Mama Sinta.


"Nggak papa kok Vero. Mama suka melihatnya jadi mama beli deh untuk kamu" kata Mama Sinta dan dibalas helaan pasrah oleh Vero.


"Makasih ya ma" kata Vero yang sangat berterima kasih karena diperhatikan oleh Mama Sinta dengan tulus.


"Yaudah ayok kita makan siang" ajak Mama Sinta.


Setelah makan siang, Vero dan Vian pamit ke Mama Sinta.


"Ma kami pergi dulu ya" pamit Vian ke sang Mama.


"Loh mau kemana? Baru juga datang" tanya Mama Sinta.


"Kami mau belanja kebutuhan untuk liburan kami di mall, ma" jawab Vero.


"Yahh tapi kan kamu baru aja datang sayang" Mama Sinta sedih karena Vero akan pergi lagi, padahal tadi ia sudah berharap akan mengobrol dan bercerita berdua dengan Vero sepuasnya.


"Maaf ya ma, nanti Vero akan kesini lagi deh. Vero janji" bujuk Vero.


"Janji ya" kata Mama Sinta yang masih tidak rela Vero pergi.


"Iya janji mamaku tersayang" balas Vero membuat Vian langsung menggeleng heran melihat mamanya dan kekasihnya itu seperti ibu dan anak yang tidak mau dipisahkan.


"Yaudah yuk sekarang berangkat, nanti mereka nunggu lama yang" ajak Vian menengahi ibu dan kekasihnya itu, kalau dibiarkan mereka tidak akan jadi berangkat.

__ADS_1


__ADS_2