
Sesampainya dirumah Vian, Vero langsung menuju dapur untuk bertemu dengan Mama Sinta karena ia tahu pasti kalau Mama Sinta saat ini sedang masak untuk makan malam.
"Sore menjelang malam ma" sapa Vero ketika sudah di dapur dan benar yang dipikirkan Vero kalau saat ini Mama Sinta sedang memasak dibantu oleh bibi.
"Sore sayang, kok baru pulang ya habis dari mana?" tanya Mama Sinta penasaran karena tadi anaknya pulang sendirian dan ketika bertanya ke Vian, Vian menjawab Vero sedang jalan-jalan dengan Vanessa.
"Tadi hanya ke kafe langganan ma soalnya kami sudah lama gak kesana" jawab Vero dengan senang hatinya karena merasa diperhatikan oleh Mama Sinta.
"Oalah, yaudah sekarang kamu keatas terus bersih-bersih habis itu langsung turun untuk makan malam ya" perintah Mama Sinta dengan lembut sambil mengelus pucuk rambut Vero.
"Oke ma, aku akan segera turun untuk membantu mama" putus Vero dan ia langsung berlari keatas.
"Jangan lari-lari sayang nanti jatuh" teriak Mama Sinta ketika melihat Vero berlari di tangga.
"Siap ma" jawab Vero lalu berhenti berlari.
Vero langsung masuk ke kamarnya dan bersih-bersih. Setelah selesai, ia langsung turun kebawah menuju dapur tempat Mama Sinta berada.
"Apa yang bisa Vero bantu ma?" tanya Vero ketika sampai di dapur dan mengejutkan Mama Sinta dan bibi yang sedang meletakan makanan dipiring.
"Eh udah wangi aja ver. Ini sudah selesai kok, kamu bantu menata meja makan aja ya terus letakan makanan ini di meja makan" kata Mama Sinta sambil terus meletakan makanan ke piring yang tersedia.
"Siap ma!" seru Vero dengan semangat karena ia baru pertama kali membatu Mama Sinta di dapur jadi ia sangat senang walaupun hanya menata meja makan.
"Ma, kok Vero gak liat Vian ya dari tadi. Dia kemana ma?" tanya Vero yang memang sedari tadi tidak melihat Vero.
"Ada sayang, lagi di ruang kerja papa" jawab Mama Sinta. Vian memang sedang berada di ruang kerja Papa Abraham saat ini karena dia akan belajar untuk mengelola perusahaan.
Vian sudah diajarkan sejak ia masuk SMA oleh papanya karena ia anak satu-satunya yang akan meneruskan kerajaan bisnis keluarga Adijaya.
"Ohh okoke ma" balas Vero.
"Tolong kamu panggil Papa dan Vian ya sayang untuk makan malam. Ruangannya ada di sebelah kamar mama dan papa" perintah Mama Sinta dan langsung dibalas anggukan oleh Vero.
__ADS_1
"Siap ma, Vero meluncur sekarang" seru Vero lalu langsung pergi ke ruang kerja Papa Abraham.
Ketika sudah didepan pintu ruangan, Vero langsung mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tok..Tok..Tok..
"Masuk" sahut Vian dari dalam. Vero yang mendengat sahutan pun lantas membuka pintu ruangan itu sedikit dan menyembulkan kepalanya.
"Papa, Vian dipanggil Mama untuk makan malam" kata Vero dengan mata bulatnya yang berkedip berkali kali membuat Vian dan Papanya gemas.
"Oke sayang, kita kesana sekarang. Yuk pa" ajak Vian ke papanya dan langsung berjalan ke pintu lalu menarik tangan Vero dengan lembut.
"Kenapa gemesin terus sih pacar aku, jadi pengen gigit" gemas Vian dan langsung dibalas kekehan kecil Vero.
Mereka bertiga pun berjalan bersama menuju meja makan.
"Malam ma" Sapa Papa Abraham dan Vian dibalas senyuman oleh Mama Sinta.
"Malam" balas Mama Sinta.
"Vero, sudah mengambil keputusan?" tanya Papa Abraham yang sudah selesai makan malam tetapi belum beranjak dari tempatnya.
"Sudah pa, sehabis ini Vero akan kasih tau" kata Vero dan langsung diangguki oleh Papa Abraham dan yang lainnya.
Setelah selesai makan malam, mereka langsung berpindah ke ruang keluarga.
"Jadi apa keputusan yang kamu ambil sayang?" tanya Mama Sinta langsung ketika mereka baru duduk karena penasaran.
"ehem itu... Vero mau keluar negeri tapi..." jeda Vero yang membuat mereka semakin penasaran.
"Tapi apa Ver?" kata Vian yang sudah tidak sabar dan juga degdegan karena ternyata Vero memtuskan untuk pergi.
"Tapi Vero mau perginya setelah ujian kenaikan kelas dulu, Vero mau menikmati masa sekolah Vero walaupun hanya sebentar, boleh kan?" kata Vero dengan wajah yang tegang karena takut tidak diperbolehkan oleh orang tau Vian.
__ADS_1
"Hahaha tentu saja boleh sayang, kenapa wajah kamu tegang banget" tawa Mama Sinta ketika melihat ekspresi Vero sangatlah lucu dan diikuti oleh tawa kecil Papa Abraham dan Vian.
"Tentu saja boleh" kata Papa Abraham dengan senyum kecilnya.
"Tapi boleh aku kasih syarat juga yang?" tanya Vian ke Vero.
"Apa Vian?" tanya Vero penasaran.
"Sebelum kamu pergi, aku harap kamu bisa bertemu dengan keluarga kamu dan pamit dengan mereka karena bagaimanapun mereka masih keluarga kamu. Kamu mau?" kata Vian memberitahukan syaratnya membuat Vero terdiam sejenak dan langsung menjawab
"Aku akan berusaha untuk bertemu dengan mereka tapi tolong temani Vero ya Ma, Pa, Vian" kata Vero sambil bergilir melihat Mama Sinta, Papa Abraham dan Vian dan dibalas anggukan oleh mereka semua.
"Pasti aku temani" kata Vian dengan yakin.
"Terimakasih semuanya, mungkin hari minggu nanti kita kerumah Vero ya" putus Vero dengan senyumnya. Ia akan berusaha mempersiapkan hatinya untuk mendengar kenyataan kenyataan yang mungkin akan lebih menyakitkan untuknya.
Setelah Vero memberitahukan keputusannya, mereka masih terus berbincang di ruang keluarga sampai jam 9 malam.
"Sudah malam, sebaiknya kalian istirahat sekarang" kata Papa Abraham mengakhiri pembicaraan mereka dan dibalas anggukan oleh Vian dan Vero.
"Selamat malam dan selamat tidur Ma, Pa" kata Vian dan Vero berbarengan.
"Selamat malam semoga mimpi indah yaa" kata Mama Sinta lalu kembali ke kamarnya diikuti oleh Papa Abraham. Vian dan Vero pun langsung menuju keatas dan berpisah setelah berpamitan.
"Selamat malam sayang" kata Vian lalu mencium kening Vero dengan lembut dan dibalas oleh Vero dengan senyuman lembut serta kecupan di pipi Vian membuat Vian langsung terdiam kaku karena terkejut, sedangkan pelakunya langsung masuk kekamar meninggalkan dirinya.
"Manisnya pacar aku" kata Vian dengan senyum yang merekah serta pipi memerah karena mendapatkam kecupan pertama kalinya oleh Vero. Vian pun langsung kembali kekamarnya ketika melihat Vero yang sudah berlari ke kamarnya.
Disisi lain, Vero yang baru masuk kekamarnya masih terdiam dibalik pintu dengan jantung yang berdebar keras.
Deg... Deg... Deg...
'Duh sudah gila sepertinya aku, bisa bisanya cium pipi Vian. Ini jantung kenapa kencang banget berdebarnya' kata Vero dalam.hati smabil meletakan tangannya di dadanya karena merasa jantung berdebar sangat kencang.
__ADS_1
"Isss malunya" pekik Vero dengan wajah yang merah lalu langsung berlari ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan gosok gigi.