Veronika

Veronika
Perpisahan


__ADS_3

"Iya, kamu masuk gih langsung istirahat, besok penerbangannya pagi kan" kata Vian lalu mengecup kening Vero. Vero pun melambaikan tangannya ke mobil Vian yang akan pergi.


Keesokan harinya, matahari mulai terbit tetapi sayangnya tertutup oleh awan karena pagi ini sangat mendung seperti mengerti kalau ada yang akan berpisah jauh. Vero kini sudah selesai bersiap dan menurunkan 2 koper besarnya ke lantai 1. Disana sudah ada orang tua dan saudara Vero yang sudah menunggu ia turun. Tadi sebelum Vero menurunkan barangnya, ia sudah sarapan terlebih dahulu bersama keluarganya. Vian juga sedari pagi sekali sudah berada di rumah Vero untuk mengantar Vero ke bandara.


"Sudah semuanya, nak?" tanya Papa Beltran ketika melihat Vero turun membawa kopernya dibantu Aditya.


"Sudah pa" kata Vero dengan raut wajah sedihnya, ia sudah menahan tangisnya sedari tadi. Ia tidak ingin menangis karena tidak mau keluarganya khawatir dan sedih serta melarang ia pergi.


"Jangan sedih dong, mana senyumnya. Nanti kami akan sering-sering kesana mengunjungi kamu." hibur Papa Beltran sedangkan Mama Anggi hanya bisa diam sambil melihat Vero. Ada rasa sesak didadanya ketika melihat Vero akan pergi, tapi ia tidak tau kenapa dadanya sangatlah sesak.


Mereka kini sudah berada di mobil menuju bandara. Vero naik mobil Vian bersama dengan orangtua Vian, sedangkan orangtua dan saudara Vero satu mobil. Setelah menempuh hampir satu jam, kini mereka sudah sampai di bandara. Pesawat Vero akan berangkat pada jam 10 pagi, sedangkan sekarang baru jam 9 pagi.


Semuanya sangat sedih ketika melihat Vero akan berangkat, Chelsea dan Mama Sinta bahkan sudah menangis sedari tadi. Sedangkan Vian, ia menahan tangisnya karena tidak mau Vero sedih dan menghalangi keberangkatan Vero. Vero sudah memeluk satu persatu dari mereka, bahkan Mama Anggi pun ia peluk walaupun tidak mendapatkan balasan. Ia tersenyum karena sudah sangat senang melihat mamanya mau dipeluk olehnya. Kini tinggallah Vero dan Vian karena keluarga Vero dan Vian seakan mengerti kalau mereka butuh waktu berdua.


"Ingat ya janji kamu, jaga kesehatan disana jangan sampai sakit, jangan melirik cowok lain karena aku sudah sangat tampan jadi ni kamu harus ingat kalau pacar kamu itu yang paling tampan dari yang lain" kata Vian dengan percaya dirinya membuat Vero yang sedari tadi menangis menjadi tertawa kencang.


"Iya iya pacar aku yang paling tampan sedunia" kata Vero sambil mencubit pipi Vian dengan gemas.

__ADS_1


"Kamu juga jangan lirik cewek lain, aku akan usahain untuk cepat pulang. Jangan lupa selalu kabari aku dan aku juga bakalan gitu, jaga kesehatan kamu yaa" lanjut Vero lagi membuat Vian langsung memeluk erat Vero. Ia sebenarnya tidak sanggup berpisah jauh dengan Vero apalagi dengan waktu yang sangat lama. Bagaimana kalau ia tiba-tiba kangen, ia tidak bisa bertemu langsung dengan Vero. Bagaimana kalau ia rindu dengan pelukan ini bahkan dengan bibir Vero, Ia tidak sanggup.


"Kalau kamu sudah sembuh dan pulang, aku akan langsung melamar kamu agar kamu tidak pergi jauh lagi dari aku." kata Vian dengan serius membuat Vero langsung tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya dengan wajah yang sudah memerah. Vian menghirup dengan rakus harum tubuh Vero yang akan selalu dia rindukan mulai sekarang.


Setelah mendengar pemberitahuan kalau mereka akan berangkat 30 menit lagi, Vero langsung melepaskan pelukan Vian. Vian langsung mencium kening Vero dengan lembut tidak lupa mencuri kecupan dibibir Vero yang bakalan sangat ia rindukan.


"Iss malu tau, ini tempat umum banyak orang" kata Vero sambil memukul dada Vian pelan dan dibalas kekehan gemas Vian.


"Biarin aja, habisnya aku bakalan rindu banget sama candu aku ini" kata Vian sambil mengusap bibir Vero dengan lembut membuat Vero yang tadinya kesal langsung memerah.


"Udah ya, aku berangkat dulu. Ingat kamu jaga diri ya" kata Vero.


"Siap boss" kata Vero dengan gestur hormatnya membuat Vian semakin tidak rela jauh dari Vero.


"Sudah sana, nanti kalau masih lama disini, aku bakalan culik kamu" kata Vian bercanda. Vero pun hanya bisa tersenyum lalu berjalan mundur sambil melambaikan tangannya kepada Vian, lalu berbalik menaiki eskalator.


Vian yang kini hanya bisa melihat punggung Vero mulai meneteskan air mata, tetes demi tetes berjatuhan semakin deras seperti awan yang sekarang sedang meneteskan airnya ke bumi. Ia lalu berbalik sambil menghapus air matanya yang seakan tidak mau berhenti.

__ADS_1


"Ayolah Vian, Lo harus kuat. Vero hanya sebentar disana dan Lo harus semangat, ini ujian untuk hubungan Lo" kata Vian dalam hati menyemangati dan menghibur diri sendiri. Vian kini sudah berada di luar bandara, disana orang tuanya sudah menunggu ia keluar sedangkan keluarga Vero sudah pamit pulang duluan karena tiba-tiba Mama Anggi tidak enak badan.


"Ma, Pa, yuk pulang" kata Vian mencoba untuk tersenyum. Orang tuanya yang tau kalau Vian sedang sedih hanya bisa mengelus punggung Vian lalu masuk ke mobil untuk pulang ke rumahnya.


Disisi lain, pesawat Vero di delay karena cuaca yang buruk padahal mereka sudah siap berangkat. Sekitar setengah jam pesawat Vero baru lepas landas. Sedari tadi Vero belum bisa berhenti menangis membuat orang-orang yang lewat melihat dia.


"Ayo Vero, semangat kamu pasti bisa. Kamu harus cepat sembuh dan berkumpul dengan orang-orang yang kamu sayangi." kata Vero dalam hati menyemangati diri sendiri. Setelah pengumuman pesawat akan lepas landas Vero kini berdoa dalam hati agar ia dapat sampai di tujuannya dengan selamat.


Setelah duduk di kursi pesawat hampir dua jam, kini Vero sudah berada di negara Singapura. Vero sedang melangkahkan kakinya keluar dari bandara, disana sudah ada orang yang diperintah oleh Papa Abraham untuk menjemputnya.


"Dengan nona Vero?" tanya orang itu ketika melihat Vero mendekatinya.


"Iya benar pak, saya Vero." jawab Vero kepada orang yang sedang memegang papan bertuliskan namanya. Ia tadi mendekati bapak itu ketika melihat namanya disana.


"Selamat siang, non. Perkenalkan nama saya Jerry. Saya yang diperintahkan oleh Pak Abraham untuk menjaga non selama disini dan juga mengantar jemput non Vero kemanapun." kata orang itu sambil memperkenalkan dirinya.


"Oh iya Pak. Nama saya Vero panggil aja Vero ya pak gak usah pake nona" balas Vero dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


"Maaf non, gak bisa soalnya saya gak enak kalo hanya panggil nama. Mari non saya antarkan ke apartemen nona." kata Pak Jerry sambil membungkukkan badannya dan mempersilahkan Vero menuju mobil.


"Baik pak, senyaman bapak saja. Mari" balas Vero sambil berjalan duluan menuju mobil yang ditunjuk oleh Pak Jerry tadi.


__ADS_2