
"Supaya hangat, gue tau Lo kedinginan" kata Vian yang tau kalo Vero tegang saat dipeluknya. Vero pun mencoba untuk rileks dan membalas pelukan Vian. Aroma tubuh mereka terhirup, 'Harum' kata Vian dalam hati dan semakin mengeratkan pelukannya
Di sisi lain Vero yang menghirup aroma tubuh Vian merasa rileks tapi juga merasa familiar.
"ini sepertinya aku pernah menghirup aroma ini, tapi dimana" kata Vero dalam hati.
Deg Deg Deg suara detak jantung Vero dan Vian beradu. Vero yang merasa detak jantungnya terlalu kencang mencoba melepaskan pelukannya.
"ekhem gue udah gak kedinginan lagi Vian, makasih ya" kata Vero dengan canggung dan wajah yang memerah.
"Sama sama" balas Vian yang juga merasa canggung.
Hujan pun mulai reda, mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah Vero. Selama perjalanan mereka hanya diam, beberapa kali Vero berbicara untuk mengarahkan jalan ke rumahnya. Kini mereka sudah sampai di rumah Vero
"Terimakasih ya Vian, ini jaket Lo" kata Vero sambil menyerahkan jaket Vian ke Vian dan diterima oleh Vian. Vian hanya membalas dengan anggukan dan pamit untuk pulang kerumahnya.
"gue pergi dulu" pamit Vian
"iya hati-hati ya" balas Vero. Vian pun mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Vero pun langsung masuk ke dalam rumah dan didalam sudah ada papa dan Mama yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Bagus ya, dari mana saja kamu baru pulang sekarang?" sambut papanya marah, karena sudah hampir jam 6 Vero baru pulang.
"dari sekolah pa, tadi hujan jadi berhenti dulu pa" kata Vero sambil menautkan tangannya takut dimarahi.
"Halah, bilang aja kamu pacaran jangan pakai alasan hujan. Siapa tadi yang antar kamu? Pacar kamu kan?" tuduh mamanya yang tadi sempat melihat Vero diantar oleh laki laki.
"Enggak ma, itu teman Vero. tadi motor Vero mogok jadi teman Vero nawarin untuk pulang bareng" elak Vero agar mamanya tidak salah paham.
__ADS_1
"Alasan saja kamu, bukannya belajar malah pacaran" kata papanya yang memojokkan Vero.
"nggak pa, beneran hanya teman kok" Vero masih berusaha membuat papa dan mama nya percaya dengan apa yang dikatakannya.
"sudah masuk sana, malas saya melihat wajah kamu. Bukannya bikin senang malah bikin emosi terus" kata papanya yang membuat hati Vero sakit mendengarnya. ia berusaha untuk tidak menangis, lalu ia langsung masuk ke kamarnya. sesampainya dikamar ia langsung ke kamar mandi dan mengguyurkan tubuhnya dibawah shower sambil menangis.
"hiks kenapa papa bilang seperti itu, apa salahku hiks hiks" Vero menangis. Hampir setengah jam ia baru selesai mandi. ia sangat lelah dan lemas, ia langsung merebahkan dirinya sampai ketiduran dan melewatkan makan malamnya. Sekitar pukul 4 pagi, Vero tiba-tiba terbangun karena mimpi buruk lagi. ia langsung meraih obat didalam lacinya lalu meminumnya.
"Sampai kapan aku harus minum obat ini, apa sampai aku mati baru bisa melupakan semuanya?" tanya Vero pada dirinya. Ia sudah berusaha untuk sembuh tapi tetap saja mimpi itu datang hampir setiap malam. ia lelah, ia ingin berhenti tapi tidak bisa. Ia ingin berteriak kencang dan menangis sekeras-kerasnya.
"Aku lelah Tuhan" kata Vero sambil menangis.
Vero mencoba untuk tidur kembali, karena tubuhnya masih terasa lemas sedari sore tadi.
kringggg... alarm Vero berbunyi pukul 6 pagi.
"lihatlah anak itu, tak tau sopan santun berangkat tidak pamit terlebih dahulu" sindir papa Beltran ketika melihat Vero berjalan melewati mereka yang sedang sarapan.
"mungkin kakak buru buru pa" kata Chelsea yang ingin membela kakaknya.
"Halah" elak papa.
Vero hari ini akan naik angkot karena motornya masih ada di sekolah kemarin. hari ini rencananya ia akan membawa motornya ke bengkel sehabis sekolah.
Sesampainya di sekolah, ia langsung pergi ke kelas. Vanessa yang melihat Vero datang langsung menyapanya.
"Pagi Verooo!" sap Vanessa yang selalu heboh kalau Vero datang.
"Pagi" balas Vero dengan senyum manisnya
__ADS_1
"kok wajah kamu pucat banget sih ver, kamu demam ya" kata Vanessa yang melihat wajah Vero sambil menaruh telapak tangannya di dahi Vero.
"hemm sepertinya iya nes, tapi aku masih bisa tahan kok. Hari ini kan kita ada ulangan jadi aku gak mau bolos hehe" kata Vero sambil menampilkan senyuman agar Vanessa tidak terlalu khawatir.
"Kalau sakit gak usah masuk" ucap Vian yang mengejutkan mereka berdua karena datang tiba-tiba.
"eh nggak kok, ini gak terlalu parah kok" sebenarnya kepalanya sekarang sudah berat sekali, keringat dingin terus keluar tapi ia harus tetap ulangan.
Bel pun berbunyi, untungnya kelas fisika berada di jam pelajaran pertama jadi Vero bisa cepat menyelesaikannya lalu ia akan izin ke UKS sehabis itu.
Saat ulangan, Vero berusaha fokus karena kepalanya sangat sakit dan badannya sudah sangatlah lemas. Vian yang ada dibelakangnya sudah menyelesaikan ulangan sehingga sekarang ia terus memperhatikan punggung Vero yang lemah itu.
'Kenapa gue khawatir saat Lo sakit? Apa gue mulai suka sama lo Vero?' tanya Vian yang sudah pasti hanya didalam hatinya.
Di sisi lain, Farel yang melihat Vian terus melihat punggung Vero pun bertanya kepada Vian
"Kenapa Lo? Lo suka ya sama Vero?" tanya Farel. Sebelum Vian menjawab, guru sudah menyela ucapannya
"Jangan berisik Farel, kalo sudah selesai langsung kumpulkan" tegur guru yang melihat Farel mengobrol.
"Eh iya Bu maaf, ini sebentar lagi selesai Bu" jawab farel dengan senyum malunya.
'Iya gue suka sama Vero' balas Vian yang hanya bisa menjawab dalam hati.
Kringggg jam istirahat pun berbunyi
"Vero kamu masih kuat kan? kita ke UKS aja yuk" ajak Vanessa yang khawatir karena melihat Vero semakin pucat dan keringat yang banyak.
"iya ke UKS aja" jawab Vero lesu. ketika ingin jalan tiba-tiba pandangan Vero mulai gelap, ia pun pingsan. Beruntungnya ada Vian di belakangnya yang sedari tadi tak berhenti memperhatikan Vero. Vian berhasil menangkap tubuh Vero, ia langsung menggendong Vero dan langsung membawanya ke UKS. Selama perjalanan ke UKS, mereka di lihat oleh murid murid yang sedang beristirahat. mereka semua terkejut dengan adegan mesra Vian dan Vero.
__ADS_1