
Vero langsung duduk disebelah Vian dan langsung memeluknya.
"Hiks hiks mama, Vian. Mama..." tangis Vero pecah kembali, Vian langsung mendekap erat tubuh Vero yang bergetar sambil mengelus punggungnya supaya lebih tenang.
"Sabar sayang, mama kamu pasti sembuh juga sama seperti kamu" hibur Vian.
"Apa sudah dirawat oleh dokter yang merawatnya dulu?" tanya Papa Abraham ke Papa Beltran.
"Dokternya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sekarang saya lagi mencari dokter terbaik" jawab Papa Beltran dengan lesu. Kemarin sekretarisnya sudah mendapatkan dokter untuk merawatnya, tapi sedang berada di luar negeri jadi ia mencoba mencari yang lain.
"Bagaimana kalau dirawat bersama Vero nanti?" tanya Papa Abraham membuat Papa Beltran bingung.
"Memangnya Vero sakit apa sampai mau dirawat?" pertanyaan itu juga ada dibenak Aditya dan Chelsea yang terkejut karena pertanyaan papa Abraham.
"Kalian tidak tau? Nak, apa keluargamu juga tidak tau mengenai trauma kamu?" tanya Papa Abraham sambil melihat Papa Beltran dan juga Vero yang masih berada didalam pelukan Vian.
"Nggak, Pa" jawab Vero sambil menggeleng lalu melepaskan pelukan mereka.
"Trauma?" tanya Aditya dan dibalas anggukan oleh keluarga Vian.
"Vero pernah hampir dilecehkan oleh dua orang preman saat dalam perjalanan pulang kerumah. Kejadian itu saat ia masih SMP." kata Vian.
"SMP?"
"Iya, Pa. Saat itu Vero tidak pulang semalaman karena dirawat dirumah sakit. Vero baru pulang di pagi harinya dan saat itu Papa memarahi Vero karena tidak pulang" kata Vero dengan suara seraknya karena terlalu banyak menangis.
"Jadi karena itu kamu tidak pulang? Maaf Vero, maafin Papa. Harusnya Papa ada disisi kamu bukannya malah marah padamu. Maafin Papa" kata Papa Beltran dengan rasa bersalah dan juga dada yang sesak. Saat itu, ia marah ke Vero karena dia tidak pulang semalaman. Ia khawatir tapi tidak bisa mengungkapkan rasa kekhawatirannya dengan benar dan malah memarahi Vero.
"Iya, Pa. Semua sudah berlalu, Vero udah mendingan sekarang. Setelah ujian nanti, Vero akan keluar negeri untuk berobat. Apa mama mau pergi bersama Vero, Pa?"
__ADS_1
"Jangan, nak. Mama kamu saat ini belum bisa melihat kamu dan juga Papa tidak bisa menemani Mama kamu kalau diluar negeri karena ada perusahaan yang harus papa urus. Papa akan mencari dokter di kota ini saja agar mama kamu tidak sendirian." tolak Papa Beltran karena tidak ingin istrinya menjalani perobatan jauh dari dirinya.
"Kamu bisa berobat diluar negeri sendirian?" tanya Aditya dan dibalas anggukan oleh Vero.
"Baiklah, nanti Papa beserta kakak dan adikmu akan sesekali menjenguk kamu disana, Tidak apa apa kan?" tanya Papa Beltran dengan rasa bersalahnya karena tidak bisa menemani anaknya berobat sendirian.
"Nggak papa, Pa" kata Vero dengan senyum manisnya. Itu lebih baik setidaknya ia dan keluarganya sudah membaik sekarang dan tidak ada kesalahpahaman lagi.
"Baiklah, sekarang ayo kita makan siang dulu. Tadi Papa sudah menyuruh Bu Num untuk masak makan siang kita. Mari Pak Abraham dan keluarga kita makan siang dulu" ajak Papa Beltran dengan sopan dan diangguki oleh mereka semua. Mereka langsung menuju meja makan yang diatasnya sudah dipenuhi makanan.
"Uhh sudah lama aku tidak makan masakan Bi Num" kata Vero dengan mata berbinar menatap makanan diatas meja membuat semua orang yang melihat tertawa karena merasa gemas.
"Makanlah yang banyak, Non" kata Bi Num dengan tersenyum karena merasa senang melihat anak majikannya itu bisa tersenyum bahagia dengan keluarganya.
"Terimakasih, Bibi" kata Vero lalu mereka langsung menyantap makanan yang ada didepan mereka dengan lahap.
Setelah selesai makan, Papa Beltran bertanya kepada Vero.
"Bolehkah pa?" tanya Vero yang langsung ditertawai mereka.
"Tentu saja boleh, ini rumah kamu" kata Aditya dengan senyumnya.
"Oke, aku akan kembali kesini besok." putus Vero.
"Kenapa besok?" tanya mereka.
"Aku mau menginap di rumah papa Abraham dulu sehari, apa boleh pa?" tanya Vero ke Papa Abraham dengan wajah malu malunya.
"Tentu boleh, kamu kan akan jadi bagian dari keluarga kami" goda Papa Abraham membuat wajah Vero semakin merah dan langsung ditertawai mereka semua.
__ADS_1
"Apa sih pa" lirih Vero sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa malu, yang? Kan memang benar" Vian semakin menggoda Vero sehingga Vero langsung melayangkan pukulan ke bahu Vian karena malu bercampur kesal.
"Hahaha lucu sekali kakak ini" tawa Chelsea sambil meledek kakaknya.
"Diam kamu" ancam Vero dengan suara kecil karena kesal diledek oleh Chelsea. Tawa bahagia terdengar di rumah yang beberapa hari itu suram.
Hari sudah mulai sore, Keluarga Vian beserta Vero pamit untuk pulang ke kediaman Adijaya.
"Kamu senang?" tanya Vian saat mereka sudah berada didalam mobil yang melaju untuk pulang.
"Senang, aku senang sekali Vian" jawab Vero dengan mata berbinar tapi hanya sebentar dan langsung murung lagi membuat orang tua Vian dan Vian bingung.
"Lalu kenapa wajahnya sedih gitu?" tanya Vian.
"Aku hanya takut Vian, aku takut kebahagiaan ini hanya sementara." lirih Vero karena selama ini kebahagiaan tidak pernah berlangsung lama di hidupnya. Setiap ia merasa bahagia, pasti akan ada kejadian buruk yang membuat ia sedih kembali.
"Heii jangan takut, ada aku disini dan juga keluarga aku dan kamu yang akan membuat kamu bahagia terus. Walaupun akan ada kesedihan atau masalah nantinya, kami akan berusaha membuat kamu tetap tersenyum. Jadi mana senyum manisnya?" hibur Vian sambil menggoda Vero membuat Vero langsung mengangkat kedua ujung bibirnya sehingga membentuk senyuman manis yang selalu Vian sukai.
"Cantik" kata Vian membuat Vero malu dengan wajah memerah karena masih ada orang tua Vian di mobil.
"So sweet ya pa, mama jadi ingat waktu kita muda dulu" kata Mama Sinta yang melihat Vian dan Vero dari kursi depan.
"Iya, tapi masih so sweet papa kan ma?" tanya Papa Abraham membuat mama langsung mengangguk dengan senyum manisnya.
"Udah lewat sekarang sudah tua" ledek Vian membuat Mama Sinta langsung mendelik kan matanya ke Vian.
"Tua gini tapi kami tetap mesra ya. Ya kan pa?" tanya Mama Sinta meminta dukungan Papa Abraham dan langsung disetujui oleh Papa Abraham.
__ADS_1
Vero dan Vian langsung tertawa melihat mamanya yang kesal.
Kita tidak tau hari esok akan seperti apa, yang terpenting adalah menjalani hari ini dengan sebaik mungkin sehingga tidak ada penyesalan dihari esok. Sama dengan kebahagiaan yang kita tidak tau besok akan ada kebahagiaan atau kesedihan yang menghampiri, jalani dan nikmati hari ini dan persiapkan diri untuk menyambut hari esok.