
*HARAP BIJAK DALAM MEMBACA, ADEGAN HANYA REKAYASA DAN TIDAK BOLEH DITIRU !!!
"Selamat malam semuanya" sapa vero ketika sudah sampai di meja makan dan seperti biasa tidak ada yang membalas sapaannya, apalagi sekarang chelsea sedang tidak ada dirumah, entah kemana anak itu pergi tapi biasanya kalo ia tidak ada dirumah kemungkinan ia menginap di rumah temannya.
vero langsung duduk dan segera mengambil makanannya, ia sudah terbiasa tidak dianggap dirumah ini jadi ia hanya memasang wajah datanya.
"Pa mobil ku rusak tadi siang, aku boleh beli mobil baru pa? soalnya mobil itu sudah sering rusak" kata aditya tiba-tiba memecahkan keheningan saat makan malam itu.
"boleh, nanti papa belikan yang model terbaru" balas papanya cepat tanpa berpikir panjang.
Vero yang mendengar itu pun juga berkeinginan untuk mengganti motornya karena motornya sudah sangat sering mogok.
"Pa, motor ku juga sering mogok. aku boleh ganti juga gak pa" kata vero dengan gugup, ia mencoba peruntungannya.
"Gak, pake aja motor itu. Enak aja ganti baru, kamu pikir cari uang itu gampang hah!, masih untung saya menyekolahkan kamu dan membolehkan kamu pakai motor aditya dulu!" balas papanya yang membuat vero menitikkan air mata.
"tapi pa, tadi kak aditya boleh membeli mobil baru sedangkan kenapa vero tidak boleh?" tanya vero dengan bibir bergetar mencoba menahan isakan.
"jangan samakan kamu dengan aditya ya! kamu itu anak gak tau diuntung, saya menyesal kenapa dulu mau melahirkan kamu!" bentak mama anggi dengan tajam.
Degg... jantung vero seakan mau berhenti ketika mendengar ucapan mamanya yang tajam itu.
"tapi kenapa ma? kenapa mama menyesal, memangnya salah vero apa ma?" tangis vero semakin deras membuat mama anggi dan papa beltran semakin kesal.
"Diam kamu! jangan banyak tanya, harusnya dari dulu saya buang kamu tau nggak! kalau bukan aditya yang menahannya saya sudah buang kamu!" bentak papa beltran.
"hiks hiks kalian jahat!" pekik vero lalu langsung berlari kekamarnya. Keributan itu disaksikan oleh pembantu yang ada dirumah mereka.
__ADS_1
"kasian ya non vero, dari dulu nggak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya" bi num sedih melihat anak majikannya itu selalu diperlakukan tidak adil, tapi ia tidak bisa melakukan apapun karena ia hanya pembantu di rumah ini.
Aditya yang sedari tadi melihat pertikaian tersebut hanya bisa menghela napasnya dan berlalu ke kamarnya.
Vero menangis kencang di kamarnya, tubuhnya bergetar hebat bahkan ia terus menerus menarik rambutnya.
"Kenapa? kenapa aku gak bisa bahagia Tuhan" kata vero dengan wajah menengadah keatas denga air mata yang terus turun.
'apa aku menghilang saja ya' vero tidak bisa berpikir jernih sekarang, ia melihat ada gunting diatas meja belajarnya lalu ia beranjak untuk mengambilnya.
"hahaha iya benar, aku harus menghilang agar orang tuaku bahagia. iya benar" katanya dengan tawa dan senyum pahit, mungkin jika ada yang melihat senyum itu, mereka bisa merasakan kesakitan dan keputusasaan perempuan itu. Vero mulai mengiris pergelangan tangannya, tapi sebelum itu ia mengiris terlebih dahulu bagian atas. ia ingin merasakan sakitnya, apakah bisa menghilangkan sakit dihatinya atau tidak tapi ternyata sakitnya tak sebanding dengan sakit dan sesak di dadanya.
"Non!" teriak bi num ketika melihat vero memegang gunting dan melukai tangannya. Vero yang mendengar pekikan bi num pun langsung menatap bi num dengan tatapan kosong
"ya ampun non, apa yang non lakuin? jangan gini non, bibi takut melihatnya" bi num langsung mendekati vero dan menuntun vero keranjang. Ia mencari kotak obat di dalam nakas lalu mulai mengobati vero yang masih dengan tatapan kosong dan air mata yang tidak berhenti.
Bi num yang melihat vero hanya bisa menangis dalam diam lalu menuntun vero untuk berbaring. Vero hanya pasrah dan tidak ada pergerakan, seakan jiwa nya sudah tidak ada lagi di tubuhnya.Ia pun tertidur ditemani bi num.
Keesokan harinya, matahari sudah menampakan sinarnya tapi masih ada perempuan yang sampai sekarang masih nyenyak dalam tidurnya seakan menolak untuk bangun.
"Non bangun non, sarapan dulu non" bi num mencoba membangunkan vero tapi masih tidak ada pergerakan dari vero. Bi num pun dengan khawatir langsung meletakan tangannya di kening vero dan benar saja, kening vero sangatlah panas. Ia pun khawatir dan langsung turun kebawah untuk memberitahu majikannya tapi yang didapat sikap acuh tak acuh dari majikannya.
Bi num sangat sedih melihatnya, ia segera mengambil baskom yang diisi air hangat untuk mengompres vero.
Dilain sisi, Vian yang sudah selesai sarapan langsung pamit untuk menjemput vero. Ya seperti yang dikatakannya kemarin, ia akan mulai mengantar jemput vero hari ini. Ia mulai melajukan motornya dengan senyum manis yang tercetak di bibirnya.
Kini sudah jam setengah 7, Vian sudah sampai dirumah vero dan menunggu vero. Tapi sampai hampir jam 7 vero belum juga muncul, ia pun menelpon vero tapi sudah panggilan ketiga vero belum juga mengangkat teleponnya. Vian pun memilih untuk berangkat ke sekolah dengan wajah kecewanya. Sesampainya disekolah pun ia tidak melihat vero.
__ADS_1
'kamu dimana sayang?' kata vian dalam hati sambil melihat kursi vero yang kosong. Saat jam istirahat, vian memilih untuk bolos dan pergi ke rumah vero karena khawatir.
tok tok tok.. "Vero! Vero!" panggil Vian sambil mengetok pintu rumahnya.
" iya den, cari siapa ya?" tanya bi num yang membuka pintu.
"Vero nya ada bi?" tanya vian dan langsung dibalas anggukan oleh bi num.
"Aden siapanya non vero kalo boleh saya tau?" tanya bi num, karena selama ini belum ada teman vero yang datang kerumah.
"Saya temannya bi" jawab vian
"non vero ada den, dia lagi sakit. silahkan masuk den saya antar ke kamarnya" bibi menuntun vian ke kamarnya vero.
sesampainya dikamar vero, vian langsung mendekati ranjang vero.
"non vero dari tadi masih belum bangun den, saya sudah berusaha membangunkannya tapi tidak ada pergerakan den" bi num menjelaskan kondisi vero saat ini.
"kita bawa ke rumah sakit saja bi, saya khawatir akan tambah parah" usul vian lalu segera menggendong vero setelah memesan taxi karena ia tadi membawa motor.
Kini hari sudah siang, vian dan bi num baru sampai di rumah sakit dan langsung membawa vero ke UGD.
"Dok tolong segera diperiksa dok" seru vian ketika tiba di UGD.
"baik dek, tunggu sebentar ya kami periksa dulu" dokter pun segera memeriksa keadaan vero. Vian langsung mendekati dokter yang baru saja keluar dari ruangannya.
"bagaimana dok?" tanya vian khawatir.
__ADS_1