
Kini Vero dan Vian telah sampai di sekolah. Sudah ada Vanessa dan Farel di kelas.
"Pagi Vero" Sapa Vanessa dan Farel.
"Vero, kita jadi kan pergi ke puncaknya?" Tanya Vanessa yang antusias karena tidak sabar untuk liburan bersama.
"Jadi dong, nanti sehabis ujian hari terakhir kita ke mall untuk beli barang-barang dan juga makanan untuk disana" balas Vero yang baru saja duduk di kursinya.
"Eh ngomongin soal liburan, kita kan ujian minggu depan nih. Bagaimana kalau kita belajar bareng" ajak Farel dan langsung dibalas anggukan semangat oleh Vero dan Vanessa sedangkan Vian hanya menyimak.
"Boleh boleh. Kita belajar dirumah atau di kafe?" tanya Vero.
"Dirumah aku aja" balas Vian ke Vero. Vanessa dan Farel pun menyetujuinya.
"Oke deal ya dirumah Lo, nanti kirim alamat Lo karena gue udah lupa dimana rumah ko, jadi gue sama Vanes bisa langsung kerumah Lo jam 3 sore nanti." kata Farel.
"Deal" balas Vian. Vian langsung mengirimkan alamat rumahnya ke Farel saat itu juga. Bel sekolah pun berbunyi, mereka langsung duduk dengan rapi menunggu guru mata pelajaran Biologi masuk ke kelas.
Skip pulang sekolah.
Vero dan Vian sudah melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah Vian langsung. Vero sudah meminta izin ke Papanya kalau ia akan pulang malam karena mau belajar bersama dengan temannya.
Sebelum mereka ke rumah Vian, mereka mampir ke mini market terlebih dahulu untuk membeli makanan dan minuman ringan yang akan menemani mereka belajar bersama nanti.
"Pilih aja, yang" perintah Vian sambil membawa keranjang untuk belanjaan mereka. Vero dengan semangat langsung memasukan banyak Snack dan minuman ke keranjang Vian dan Vian hanya bisa tersenyum senang melihat Vero yang semangat. Kini keranjang Vian sudah penuh, mereka pun langsung ke kasir untuk membayar semuanya. Saat di kasir, Mba yang menjaga langsung tersenyum malu ketika melihat Vian datang dan diikuti oleh Vero dibelakang Vian. Mba kasih itu tidak melihat Vero karena tubuhnya tertutup dengan tubuh Vian.
"Ini aja mas belanjaannya?" tanya mba kasir dengan senyum malu malunya dan hanya dibalas anggukan oleh Vian.
"Mau pulsanya sekalian mas?" tanya mba kasir lagi.
"Nggak, mba. Langsung aja soalnya pacar saya udah nunggu" balas Vian dingin dengan wajahnya yang datar sedangkan Vero yang mendengar Vian bicara langsung mengintip mba kasir yang ada didepannya. Vero yang tadinya bingung kenapa suara Vian dingin sekali langsung mengetahui penyebabnya ketika melihat mba kasirnya.
Vero langsung berdiri disamping Vian dan mengalungkan tangannya di lengan Vian.
"Iya mba, bisa lebih cepat." kata Vero membuat mba kasir terkejut dan langsung malu ketika melihat cewek menggandeng tangan cowok di depannya.
__ADS_1
"i-iya mba, maaf ya" gugup mba kasir bercampur malu. Ia segera mengecek dan memasukan barang belanjaan ke kantong plastik.
"Totalnya 504.000, mas" kata kasir dan Vian langsung memberikan kartunya ke kasir itu.
"Terimakasih mas dan mba" kata kasir itu selesai dan mengembalikan kartu itu ke Vian.
"Senyum dong, kenapa mukanya datar banget sihh" goda Vero dan langsung mendapatkan senyum manis Vian.
"Aku tadi kesal sama kasir itu, apa dia gak liat ada kamu di belakang aku" kesal Vian membuat Vero tertawa kecil.
"Tubuh kamu aja yang kebesaran jadi nutupin tubuh aku." kata Vero.
"Makanya tumbuh tuh ke atas jangan ke bawah" ejek Vian dan langsung mendapatkan pukulan dari Vero.
"Bagus ya, udah bisa menghina orang sekarang" kata Vero sambil terus memukul Vian yang bukannya kesakitan malah tertawa dengan keras.
"Iya iyaa ampun hahaha" Ampun Vian. Vero langsung menghentikan pukulannya ketik melihat Vian tertawa dengan keras, ia senang melihatnya.
"Hahah udah ya, sekarang kita pulang, Takutnya mereka sudah sampai dirumah." ajak Vian dan langsung melajukan mobilnya.
"Mamaa!" teriak Vero ketika melihat Mama Sinta di dapur.
"Eh anak mama datang" sambut Mama Sinta dengan bahagia karena melihat Vero datang kerumahnya.
"Ehemmm. Bagus ya ninggalin aku bawa semua ini sendirian" sindir Vian yang sudah menyusul Vero sambil membawa banyak barang membuat Vero hanya bisa memperlihatkan gigi ratanya.
"Hehe maaf, yang. Tadi aku gak sabar ketemu Mama" kata Vero merasa bersalah.
"Udah, biarin aja Vian sendirian. Enak aja anak gadis mama disuruh bawa bawa barang" kata Mama Sinta dengan santai membuat Vian langsung cemberut.
"Ini siapa yang anak kandungnya sih" gerutu Vian yang masih bisa didengar oleh mereka.
"Kamu bilang apa tadi" hardik Mama Sinta yang sudah melototkan matanya sambil mengarahkan kan mengangkat spatula untuk mengancam Vian membuat Vian langsung menciut.
"Eh eh enggak ma, Vian gak bilang apa-apa kok" elak Vian dan langsung lari ke kamarnya meninggalkan Vero dan Mama Sinta yang tertawa melihat Vian ketakutan.
__ADS_1
"Hahaha ada-ada aja Vian ya ma" kata Vero yang masih tertawa sambil memegang perutnya.
"Iya huh. Yaudah kamu masuk gih ke kamar kamu, ganti bajunya yaa. Oh iya mama lupa tanya kamu ngapain ke rumah, sudah kangen ya sama mama" tanya Mama Sinta sambil menggoda Vero.
"Iya kangen banget sekalian Vero mau belajar bersama dengan teman-teman Vero dan Vian nanti. Mereka sebentar lagi datang, ma" balas Vero sambil memeluk Mama Sinta.
"Oalah yaudah keatas sana" kata Mama Sinta dan langsung dibalas anggukan oleh Vero.
Mama Sinta melanjutkan masaknya tang tertunda karena kedatangan Vero tadi, sedangkan Vian dan Vero ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian dan langsung turun ke ruang tamu menunggu Vanessa dan Farel.
15 menit kemudian, Vanessa dan Farel sudah sampai di rumah Vian. Vanessa langsung menatap takjub melihat rumah Vian yang sangat besar padahal mereka sudah pernah sekali kerumah Vian saat menyambut Vero yang baru pulang dari rumah sakit dulu Mereka segera mengetuk pintu rumah Vian dan langsung dibuka oleh Vian dan Vero yang sedari tadi sudah menunggu mereka.
"Nggak tersesat kan?" tanya Vian yang sudah mempersilahkan mereka masuk.
"Nggak Vian. Tapi rumah kamu besar juga ya" balas Vanessa yang tidak berhenti menatap sekeliling rumah Vian yang sudah hampir seperti istana itu.
"Iya besar banget Nes, aku aja beberapa kali hampir tersesat di rumah Vian" jawab Vero yang menceritakan dirinya yang beberapa kali tersesat karena saking besarnya rumah Vian, untung saja pelayan dirumah Vian banyak jadi ia bisa langsung bertemu dengan mereka jika tersesat atau lupa jalan.
"Seriusan kamu? kemarin aku gak terlalu lihat ini semua apalagi kemarin kami langsung diantar ke kamar oleh pelayan Vian." kata Vanessa.
"Nanti aku ajak keliling yaa, aku sudah hapal sekarang" kata Vero dengan semangat membuat Vanessa langsung terpekik senang.
Sedangkan Vian dan Farel yang sedari tadi dicuekin mereka berdua hanya bisa diam dan menyimak obrolan dua sahabat itu.
"Ehemm.. sudah bisa dimulai belajarnya?" tanya Farel memotong obrolan asyik mereka berdua. Kalau dibiarin, bisa bisa mereka gak jadi belajar bersama melainkan melihat mereka berdua ngerumpi saja.
"Hehehe iya bisa bisa, maaf yaa kelupaan" kata Vero menampakan senyum rasa bersalahnya. Setelah itu, meraka langsung mengeluarkan buku-buku dan juga makanan dan minuman yang sudah dibeli oleh Vero dan Vian tadi. Karena keasyikan belajar, mereka sampai lupa bahwa hari sudah mulai malam. Mereka baru sadar ketika Papa Abraham baru saja pulang dan menyapa mereka.
"Eh ada teman-temannya Vian dan Vero" sapa Papa Abraham ketika melewati ruang tamu.
"Selamat malam, om" sapa Vanessa dan Farel.
"Nanti makan malam disini saja ya" ajak Papa Abraham ke mereka dan langsung disetujui oleh mereka.
Papa Abraham langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan akan keluar bersama istrinya saat makan malam nanti.
__ADS_1