
Kembali ke sekolah, vero dan vian yang ditinggal bolos oleh farel dan vanessa pun memilih untuk duduk semeja, mereka saat ini sedang jam kosong dikarenakan gurunya sakit. Vero sedang berusaha memejamkan matanya, tetapi orang disebelahnya tak berhenti mengusiknya dari tadi.
"stop rel, aku mau tidur" kata vero membuat vian yang sedang memainkan rambut Vero berhenti sebentar.
"aku bosan ver" kata vian lalu lanjut memainkan rambut vero lagi.
"ya ngapain gitu, jangan ganggu aku dong" kesal vero.
"Bolos yuk ver" ajak vian tersenyum manis dan mengedipkan sebelah matanya ke vero.
"ogah" tolak vero tapi percuma vian tak menerima penolakan, ia langsung menarik tangan vero dan membawa tasnya dan vero.
"is gak mau vian, nanti kita dihukum" vero tak mau dihukum apalagi sampai orang tuanya dipanggil, ia takut nanti orang tuanya semakin tak suka dengannya.
"gak papa sekali sekali, yukk" kata vian ketika sudah sampai di taman belakang sekolah, rencananya ia akan memanjat pagar sekolah tapi langsung diurungkan karena melihat tembok yang tinggi. Baginya sih itu pendek tapi kalo vero, itu cukup berbahaya. Vian pun memikirkan ide lain dan langsung mendapatkannya.
"Kita ke parkiran sekarang, nanti kamu pura pura sakit ya jadi kita bisa izin ke satpam" usul vian yang membuat vero langsung membulatkan matanya.
"nggak nggak, nanti aku sakit beneran gimana?" tolak vero lagi, ia pernah mendengar jangan pernah berpura pura sakit nanti sakit beneran.
"iss sekali ini aja yaa tolonglah ver" pinta vian dengan menunjukan wajah melasnya membuat vero mau tak mau mengikuti idenya.
Saat ini mereka sudah sampai di parkiran dan langsung mengendarai motor vian menuju gerbang sekolah.
"Pagi pak" sapa vian ketika melihat pak satpam sedang ngopi di posnya.
"Pagi, ini mau kemana?" tanya pak satpam melihat mereka ingin pergi.
"gini pak, Vero hari ini lagi sakit jadi saya mau mengantarnya pulang ke rumahnya" kata vian yang mulai memainkan perannya, pak satpam langsung melihat vero dengan mata menyelidik membuat vero deg degan karena dilihat seperti itu, bukan jatuh cinta yaa tapi karena takut ketahuan.
"Oh yaudah silahkan, hati hati ya" kata pak satpam dan langsung membukakan gerbangnya.
Vian langsung melajukan motornya pergi dari sekolah.
__ADS_1
"huft untung saja tidak ketahuan" kata vero yang lega karena berhasil keluar.
"hahaha hebat juga akting kamu sayang" tawa vian dan langsung dihadiahi pukulan dipundaknya.
"awh, lebih baik kamu pegangan daripada pukul aku, nanti jatuh yang" kata vian yang dipukuli.
"Kita mau kemana ini?" tanya vero.
"kamu duduk diam saja, aku akan bawa kamu ketempat yang bakalan kamu suka" jawab vian.
Hampir 2 jam perjalanan mereka menuju ke tempat vian tuju, Vian membawa vero ke pantai terpencil yang jarang ditemui orang lain.
"masih lama gak vian, aku capek ini duduk terus" keluh vero yang merasa pinggangnya sakit.
"ini sudah mau sampai sayang, sabar ya" jawab vian sambil mengelus tangan vero yang ada diperutnya.
Kini mereka telah sampai, Vero yang melihat pantai didepannya langsung turun dan berlari kesana meninggalkan vian di belakang.
"Heii tunggu" teriak vian dengan senyum yang manis karena melihat vero yang tak sabar kesana.
"kok kamu bisa tau tempat seindah ini sih" tanya vero yang sudah duduk di tepi pantai dan menunggu vian menghampirinya.
"aku dulu sering disini bareng mama papa, tiap weekend" jawab vian sambil melihat pemandangan didepannya.
"indah banget yah" puji vero sekali lagi.
"iya cantik banget" balas vian, tapi kali ini ia tidak menatap pantai melainkan pemandangan yang membuatnya jatuh cinta yaitu vero. mereka pun bermain sepuasnya di pantai itu hingga hampir siang. karena hari sudah siang, mereka pun beranjak dari pantai untuk makan siang di restoran atau cafe terdekat.
"mau pesan apa yang?" tanya vian saat sudah duduk di sebuah cafe dengan pemandangan mengarah ke pantai.
"Aku mau nasi goreng seafood sama es jeruk aja" jawab vero dan langsung diangguki Vian.
"mba, pesan nasi goreng seafood dan es jeruk ya dua ya mba" kata vian kepada pelayan cafe tersebut.
__ADS_1
"Baik kak, ditunggu ya makanannya, terimakasih"
Setelah pelayan itu pergi, vian langsung memegang tangan vero diatas meja.
"Kamu senang?" tanya vian dengan lembut.
"heem senang banget" balas vero dengan senyum senangnya.
"udah cinta sekarang?" tanya vian lagi membuat vero terdiam kaku dan menundukkan wajahnya.
Vian yang melihat itu hanya bisa tersenyum masam. Ia tahu vero masih sulit membuka hatinya, tapi apakah tidak ada sedikit saja perasaan untuknya.
"maaf vian" jawab vero murung karena tidak enak hati lagi lagi menolak vian yang selalu ada disisinya saat ini.
"heii, it's okay, aku masih bisa nunggu kok tapi jangan lama lama ya" ucap vian dengan senyum yang menenangkan sambil mengelus tangan vero.
Tak lama kemudian makanan mereka datang, mereka langsung menyantap makanan yang dipesan tadi. Setelah makan mereka langsung pulang karena takut kesorean, apalagi mereka harus kembali ke sekolah untuk mengambil motornya.
Saat sampai disekolah, sekolah sudah sangat sepi karena jam pulang sudah lewat dari jam dua tadi.
"mulai besok aku yang antar jemput kamu ke sekolah ya" kata vian, ia ingin bisa selalu dekat dengan vero.
"hmm tapi nanti ngerepotin kamu" balas vero tapi langsung dibalas gelengan serta tatapan tajam oleh vian.
"huh baiklah" pasrah vero.
Mereka pun melajukan motornya masing-masing, vero pulang kerumahnya diiringi oleh vian dibelakangnya. Setelah sampai di rumah vero, vian langsung pamit pulang kerumahnya juga.
"Dari mana dek? baru pulang sekarang?" tanya aditya kakaknya vero yang sedang duduk bermain hp di ruang tamu.
"pulang sekolah tadi jalan jalan sebentar kak" jawab vero kepada sang kakak dan hanya diangguki oleh aditya.
Aditya dulunya sangat sayang dengan vero, tapi karena satu kejadian membuatnya menjaga jarak dengan vero karena ia merasa vero sumber masalah di keluarganya. Maka dari itu ia hanya bisa bersikap cuek kepada vero, namun makin kesini ia prihatin melihat vero yang selalu saja disalahkan oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Vero langsung naik keatas menuju kamarnya, didalam kamarnya ia merenung sejenak, ia berpikir beberapa hari ini ia sangat senang dan bahagia karena vian, ia bahkan mulai merasa debaran jantungnya terkadang tak terkontrol saat didekat vian tapi bolehkah ia merasakan ini? bolehkah ia sedikit egois karena perasaan ini? pantaskah ia. Itulah yang direnungkan oleh vero sedari dulu, ia merasa tidak pantas bersanding dengan vero yang bahkan sangat jauh diatasnya.
Vero menyudahi lamunannya dan langsung beranjak membersihkan diri karena hari sudah mulai malam dan ia akan turun untuk makan malam.