
"Astaghfirullah." Abah dan umi pun, mengucapkan istighfar secara bersamaan saat melihat kondisi laila sudah tak sadar kan diri kedua nya pun lalu mendekat ke arah ranjang itu...
"Laila? sayang ayo bangunn.... umi minta maaf atas kelakuan bryan kepada mu.. umi sangat menyesal karena bryan lah kamu jadi seperti ini." gumam Umi Fatimah seraya menguncang pelan tubuh laila yang sudah terasa dingin...
Plakkkk!!
Sekali lagi satu tamparan berhasil mendarat di pipi Bryan, membuat nya meringis kesakitan saat Abah musa menampar nya begitu keras, ini bukan kali pertama abah musa menampar Bryan namun, sudah berkali kali. tapi Bryan tak pernah menanggapi nya dengan serius ia selalu menyepelekan nasihat abahnya..
"Berani berani nya kamu melukai Laila! istrimu sendiri! Dimana otak kamu? punya salah apa Laila sama kamu sampai kamu mengunci nya di dalam kamar mandi?." Bentak Abah musa.
"Ka-karena ucapan nya membuat ku marah! dan aku tidak suka ucapan nya! maka dari itu aku mengunci nya di dalam kamar mandi." Jelas Bryan.. Abah pun, menatap tak percaya dengan apa yang Bryan barusan katakan.
"Karena kamu pantas mendapat kata kata itu! bukan salah Laila jika ia mengatakan kata kata seperti itu namun, itu semua memang fakta jadi kenapa kamu tidak menerima nya saja!." Sinis Abah musa... Bryan yang mendengar itu hanya menundukkan kepalanya saat di pikir pikir lagi memang Laila tidak salah dia saja yang terlalu posesif..
Kini Umi Fatimah pun, sudah tidak memperdulikan Bryan lagi ia lebih fokus pada Laila yang sedari tadi belum sadar kan diri itu membuat nya sangat khawatir... di benak nya pun tersimpan banyak kata dan harapan agar Laila cepat sadar...
"Jika Laila sampai kenapa napa Umi tidak akan pernah memaafkan mu lagi Bryan!." tegas Umi Fatimah air mata nya pun, sudah tak dapat di bendung lagi. butir-butir air matanya pun telah jatuh membasahi hijab warna biru dongker nya itu...
Degg!! kata kata dari Umi Fatimah itu sungguh membuat hati Bryan teramat sakit baru pertama kalinya Umi mengatakan hal seperti itu kepada nya..
Laila pun, mencoba membuka mata nya perlahan pandangan nya pun, nampak kabur benda benda di sekeliling nya pun jika di lihat itu begitu kabur... Umi yang melihat Laila membuka kedua bola matanya itu terasa amat senang...
"Laila sayang kamu baik baik aja kan? atau mau kerumah sakit aja?." Tanya Umi Fatimah khawatir melihat kondisi sang menantu yang memprihatinkan itu..
"Tidak usah Umi Laila baik baik saja cuma kepala Laila agak sedikit pusing." Jawab Laila seraya mencoba duduk dan bersandar pada bantalnya...
"Alhamdulillah ya Allah akhirnya kamu sadar juga Laila tadi malam kamu di apakan oleh Bryan? bicara sama abah biar abah dan umi kasih hukuman yang setimpal buat bryan!." Ujar abah musa..
"Tidak ada abah mungkin ini salah ku harusnya aku tidak boleh berbicara seperti itu." Ujar Laila..
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu Abah dan Umi mau pergi ke apotek untuk membeli obat untuk mu yah?." ucap abah musa lalu melenggang pergi di ikuti umi Fatimah di belakang nya..
Kini hanya ada Bryan dan Laila yang ada di dlam kamar itu, Bryan menatap Laila sejenak sungguh saat melihat Laila seperti ini ntah mengapa hatinya terasa amat sakit... padahal dirinya sendiri yang menyebabkan Laila sampai seperti ini.. Sedangkan Laila? ia hanya membuang muka malas menatap Bryan..
Bryan pun, berjalan mendekat ke arah Laila. Laila yang melihat itu sama sekali tidak menghiraukan nya... Bryan pun duduk di samping ranjang... Jika di liat dari matanya mata Laila itu begitu bengkak karena mungkin ia menangis terlalu lama.
"Laila? aku minta maaf atas kejadian semalam?." Ucap Bryan meminta maaf seraya memegang kedua tangan sang istri... Laila yang melihat itu langsung melepaskan tangan nya dari pegangan tangan Bryan itu... Ia sama sekali tak mengubris perkataan dari Bryan itu...
"Laila hey? aku minta maaf, aku benar benar minta maaf." Ucap Bryan berharap Laila memaafkan nya... Namun, Laila tetap tidak mengubris perkataan nya sama sekali... Bryan yang melihat itu hanya menghembuskan nafas pasrah.
"Laila apa kamu lapar? biar aku siapkan makan yah?." Tawar Bryan seraya mengelus pelan pucuk kepala Laila.. Laila yang melihat itu langsung menepis tangan Bryan dari kepalanya itu...
"Hey kamu kenapa?." Tnya bryan.... Di tetap diam..
"Kamu mau makan apa? mau bubur?." Ujar Bryan... Namun, Laila sama sekali tidak merespon nya sudah sedari tadi Bryan mengajak nya bicara namun, Laila hanya diam.
Bryan pun, memutuskan untuk duduk di balkon, ia membiarkan Laila sendiri..
Bryan pun, terus menatap Laila dari kejauhan pandangan nya tak lepas dari Laila yang sedari tadi hanya diam di kasurnya..
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Bryan... Yang datang itu ternyata adalah umi Fatimah ia membawa kan bubur dan beberapa obat obattan..
"Laila apa kamu sudah merasa baikan?." Tnya umi Fatimah seraya duduk di samping dipan..
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah umi." Jwab Laila..
"Ini tadi dijalan ada tukang bubur jadi sekalian aja umi beliin buat kamu pasti kamu laper, yuk makan mau umi yang suapin atau kamu makan sendiri?." Ujar umi Fatimah..
"Aku makan sendiri aja deh umi tapi aku makannya nanti karena aku memang belum lapar, tapi Terima kasih umi sudah menjaga ku dengan kasih sayang selama ini." Ucap Laila berterima kasih..
"Umi juga senang bisa merawat kamu seprti anak umi sendiri, andai dulu anak umi seperti kamu." Jawab umi Fatimah..
"Dimana Bryan?." Tanya umi Fatimah.. Laila pun menunjuk ke arah balkon di sana Bryan tengah duduk seraya memainkan ponselnya..
umi pun hanya menggeleng kan kepalanya..
"Laila umi turun kebawah dulu yah?." Ujar umi Fatimah..
"Iyah umi sekali lagi Terima kasih banyak." Seru Laila
setelah memastikan umi benar benar pergi Bryan pun, kembali mendekat ke arah Laila..
"Lho kenapa buburnya belum dimakan? atau mau aku suapi?." Ucap Bryan seraya melirik ke arah bubur yang masih utuh belum Laila sentuh smaa sekali.... Laila pun, hanya diam tak merespon..
"Laila? jawab aku!." Sarkas Bryan.. Laila memalingkan wajahnya ia malas menatap Bryan...
"Hey Laila! jawab aku!." Bentak Bryan membuat Laila sedikit merasa takut mendengar suara Bryan itu.. ia pun berbalik arah menatap Bryan.
"Kenapa kamu sedari tadi aku ajak berbicara kamu tidak pernah menjawab? aku juga selalu menawarkan apa kamu mau aku buat kan makanan atau aku suapi kamu makan! tapi kamu sama sekali tidak merespon nya!." Marah Bryan seraya menatap tajam manik mata laila... Laila pun mencoba memberanikan dirinya untuk membuka mulut..
"Memang nya kenapa? ini mulutku bukan mulut mu! dan sikap mu aneh semalam kau mengunci ku di dalam kamar mandi! lalu dengan semudah itu kamu mengatakan maaf? dimanaa otak kamu mas!."
Oke sampai sini dulu yah Terima kasih sudah membaca cerita buatan ku!!
__ADS_1
Note:Cerita ini ga up setiap hari yah!!
Mangatoon:Sako-chan!