
"Sudah lah kamu tenang lagi, pula ini bukan kesalahan mu laila ini semua kesalahan bryan dan dinda, terutama bryan dia hanya bisa diam saja saat melihat kamu di perlakukan seperti itu oleh dinda." Jelas kanaya mencoba menenangkan laila.
"Terima kasih kanaya tapi, bisa kah kamu keluar dulu? Aku sedang ingin sendiri?"Ucap laila memohon kanaya untuk meninggal kan nya sendiri.
Kanaya pun, mengganguk menyetujui apa yang Laila ingin kan. Ia pun, keluar dari dalam kamar itu.
Tak lama setelah Kanaya pergi, ada seseorang yng masuk kedalam kamar laila. Umi Fatimah langsung lari ke arah Laila yang tengah terduduk di lantai.
Sedangkan bryan? Dia pun, ikut masuk ia hanya bisa diam saat di luar tadi umi Fatimah dan abah musa memarahi nya bahkan sampai menampar nya ia menyadari bahwa itu sepenuh nya kesalahan nya.
Umi Fatimah langsung memeluk tubuh Laila dengan erat. Ia sangat menyayangi Laila dan saat melihat Laila meringkuk tak berdaya ia pun, menjadi sangat marah pada bryan.
Umi Fatimah yang biasanya lemah lembut juga kini marah, bahkan sampai menampar pipi bryan dua kali.
Bryan tidak melawan, ia pasrah dan bersimpuh pada kedua kaki umi nya.
"Kamu sangat tidak tahu bersyukur, sudah mendapatkan istri yang hampir sempurna malah kamu sia-siakan! Umi udah capek dengan tingkah kamu, sekarang kamu mau apa aja seterah! Jangan injakan kaki kamu lagi ke rumah kami! Abah juga tadi bilang kalau kamu mau menikah lagi ceraikan dulu Laila! Biar kami yang rawat Laila seperti anak dan carikan dia jodoh yang lebih baik dari pada kamu." Bentak umi Fatimah.
"Umi, maafkan aku. Aku mau jelaskan dulu!" Sela Bryan air mata nya mulai berlinang dan jatuh melewati pipi nya.
"Tidak usah menjelaskan apa-apa! Sekarang kamu pergi sana biar Laila kami yang rawat. Dan kamu ingat jangan berani menginjakan kaki ke rumah. Kamu bisa bebas menikah dengan dinda tanpa kami!" Jawab umi Fatimah tegas.
"Tidak umi. Aku tidak mau menikah dengan dinda itu hanya kesalah pahaman umi tolong biarkan aku menjelaskan nya dulu, aku juga tidak mau bercerai dengan laila." Pinta bryan memohon.
Laila yang melihat perdebatan itu, hanya diam pikiran nya kali ini sedang benar benar kosong.
"Mau kamu memohon seribu kali pun, pada kami, kami tidak akan pernah mau mendengar penjelasan mu itu sudah cukup bahkan saat umi dan abah mendengar cerita dari Kanaya itu sudah cukup membuktikan semua nya kamu hanya bisa diam saat Laila tengah di injak injak oleh wanita pujaan mu itu." pekik umi Fatimah semakin pitam.
"Bryan, silakan kamu pergi dari sini! Abah sudah tidak mau melihat mu lagi! Abah sudah lelah melihat semua kelakuan mu." Timpal abah musa lemas.
Walaupun Bryan memohon-mohon tetapi tidak membuat kedua orang tua nya begitu pun, laila memaafkan nya, akhirnya dengan sangat amat terpaksa Bryan pun pergi dari pada semakin membuat abah dan umi nya marah.
Tak lama setelah Bryan pergi, laila pun menangis. Ia merasa ia semua adalah mimpi buruk yang sangat menyisakan kepedihan di hati.
__ADS_1
"Nak, sayang. Kamu sudah baikan?" Tanya umi Fatimah memeluk laila sambil menangislah tersedu-sedu.
"Umi jangan menangis lagi, laila tidak apa-apa." Jawab laila terpaksa berbohong agar mertuanya tidak bersedih.
"Maafkan, abah. Maafkan abah yang selalu mendesak kamu untuk cepat menikah dengan Bryan padahal abah tahu dan sadar jika Bryan tidak pantas bersama mu, kamu berhak bahagia, jika memang kamu tidak tahan dengan sikap dan perilaku Bryan abah ikhlas, abah akan tetap menjaga dan menyayangi kamu seperti anak sendiri. Abah akan mencarikan lelaki yang lebih baik segala nya dari Bryan."
Laila hanya diam tak menjawab, saat ini bahkan dia tidak bisa berpikir lagi.
Laila terus merenung memikirkan langkah apa yang akan dia pilih untuk kedepannya.
"Abah, umi Laila memang belum bisa memutuskan nya untuk saat ini tapi bisa kah abah dan umi memberi Laila waktu untuk memikirkan kedepan nya?" Pinta Laila.
"Tentu saja, semua keputusan ada di tangan mu Laila abah dan umi akan menerima semua keputusan mu." Ucap abah musa.
"Terima kasih abah umi, Laila ingin meminta izin untuk keluar sebentar apakah boleh?" tanya Laila.
"Kamu mau kemana? biar umi temani saja ya? umi takut kamu kenapa napa apalagi sampai kamu bertemu dengan dinda." Sela umi Fatimah.
"Tidak usah umi, Terima kasih Laila akan meminta Kanaya saja untuk menemani laila." Tolak laila secara halus. umi pun, hanya bisa pasrah mendengar permintaan laila itu.
"Assalamu'alaikum."
laila melangkah pergi keluar dari kamar nya.
"Wa'alaikumussalam hati hati, kalau ada apa-apa atau masalah langsung saja telpon abah atau pun umi ya."
"Iyah laila pergi dulu." ucap nya lalu menutup pintu kamar itu.
Kanaya tengah duduk dan mengobrol bersama farhan di ruang tamu, laila pun langsung mendekat ke arah kedua nya.
"Assalamu'alaikum." Sapa laila berdiri di depan Kanaya dan farhan.
"Wa'alaikumussalam."
__ADS_1
"Laila kamu mau kemana? rapi begini?" tanya Kanaya heran padahal tadi Laila sedang amat terpuruk.
"Aku ingin pergi membeli sesuatu! apa kamu bisa menemani ku?" pinta Laila.
"Tentu saja, tunggu sebentar aku ambil tas ku dulu." ucap Kanaya Laila melenggang pergi ke kamar nya.
"Heii farhan? apa kamu bisa membantu ku?" Tanya Laila.
"Tentu saja, apa yang bisa ku bantu untuk mu?" Jawab farhan.
Laila pun, mulai menjelaskan strategi nya untuk membalas dan menunjukkan pada Bryan bahwa Laila juga bisa mengerjai nyaa.
"Wahh itu ide yang bagus! serah kan itu pada ku!" Ucap farhan.
"Terima kasih banyak aku sangat terbantu." ucap Laila berterima kasih ia merasa sangat terbantu akan kehadiran farhan yang mau membantu diri nya.
"Heii? apa yang aku lewatkan? apa kalian berdua membicarakan ku?" tanya Kanaya dengan raut wajah masam nya ia kesal ia tak di ajak berbicara penting oleh Laila.
"Nanti aku jelaskan di jalan ayo, kita pergi sebelum sore tiba." Ucap Laila ia pun, menarik tangan Kanaya untuk mengikuti langkah nya.
Setelah berbelanja semua yang ia perlukan, akhirnya Laila pun sampai kembali di villa nya ia pun, langsung menaruh semua yang ia beli itu di kamar nya. lalu kemudian ia pun keluar dan bergabung kembali dengan farhan dan juga Kanaya.
"Wahh cape juga ya." Ucap Kanaya kelelahan.
"Maafkan aku Kanaya aku selalu merepotkan mu, aku sangat berterima kasih pada mu terima kasih selalu ada untuk ku."Sela laila tak enak hati.
"Ah sudah lah aku tidak merasa di repotkan kok, sudah lebih baik kamu bersiap untuk nanti malam." Ucap Kanaya. laila pun, mengangguk.
"Tunggu pembalasan ku mas bryan." batin laila.
Oke sampe sini dulu yah gaisss! Terima kasih sudah membaca cerita buatan ku!
note:cerita ini ga up tiap hari oke?
__ADS_1
Mangatoon:ReginaAndini
*******:@BininyaGojo3