
"Ta-tapi aku khawatir padamu bagaimana kalau dia menyakiti mu?." Tanya kanaya khawatir sahabat nya itu di sakiti..
"Sudah lah kanaya kamu tidak perlu mengkhawatirkan ku."Jawabnya tersenyum sekilas..
"Bagaimana kalau kita pulang saja? Karena nanti malam aku ada acara?." Tawar laila, kanaya pun mengangguk tanda menyetujui apa yang laila mau.
Setelah selesai dari mall laila segera pergi ke kamarnya untuk mengambil air wudhu lalu kemudian ia segera melaksanakan sholat Dzuhur karena ia selalu sholat tepat waktu ia tak mau terlambat sedikit pun.
Setelah selesai sholat ia pun, meminta kekuatan pada sang Pencipta agar nantinya setelah jadi istri bryan dia bisa menjadi lebih kuat dan lebih sabar..
"Ya Allah ya Tuhan ku jika memang takdirku menikah dengan bryan aku lapang dada menerima nya aku mohon kuat kan lah aku saat aku sudah berumah tangga dengan nya, berilah kesadaran kepada nya." Ucapnya lirih setelah selesai ia pun, segera mengambil Al Qur'an dan ia melantunkan beberapa surah yang ada di dalam Al Qur'an. Setelah selesai ia pun turun ke bawah...
"Huffft umi bilang nanti malam Mas bryan akan melamarku? Apa aku harus menyiapkan beberapa hidangan?."Gumamnya.
"Hm? Tapi hidangan apa?."Sambungnya
"Hm gimana kalau rendang sama apa yah? Salad aja kali yah?."Gumamnya pada dirinya sendiri.
"Iyah deh itu aja."Sambungnya..
Saat laila tengah memikirkan sesuatu, apa yang ingin ia siapkan untuk nanti malam tiba tiba handphone laila berbunyi. Dan tertulis sebuah nama "Pak rizwan" ia pun langsung meraih benda pipih tersebut.
"Assalamu'alaikum halo ia pak rizwan ada apa yah?." Tanya laila dari dalam ponselnya.
"Waalaikum salam laila apa besok kamu ada waktu?."Jwab nya.
"Oh tentu ada memangnya ada apa pak?"
"Apa kamu bisa temani saya dan fitri untuk ke mall?."Ajaknya
"Oh tentu bisa pak." Jawabnya
"Baiklah besok saya kerumah kamu sekitar pukul 09:00 pgi." Ucapnya
"Baik pak." Jawabnya singkat.
"Oke kalau begitu sudah dulu ya laila assalamu'alaikum." Ucapnya mengakhiri panggilan.
"Waalaikum salam."
Waktu sudah menunjukkan pukul 19:56 bryan tengah berada di kamarnya seraya memainkan ponselnya..
"Bry cepat siap siap sebentar lagi kita akan berangkat!." Teriak umi di luar kamar bryan.. mendengar itu ia langsung menjawabnya spontan.
"Iyah umi sebentar ini bry masih pake baju belum selesai." Jawab bryan.
Laila tengah menyiapkan beberapa hidangan untuk di santap nanti, setelah selesai ia pun menunggu ke datangan keluarga bryan di ruang tamu seraya membaca novel kesukaan nya..
"Bryan! cepat kenapa lamaa sekali!." Teriak umi Fatimah dari luar..
__ADS_1
"Iyah Iyah astaghfirullah sabar umi." Jawabnya lalu membuka pintu kamarnya.... karna terlanjur kesal umi pun menjewer telinga bryan, ia pun meringis karna telinga nya di jewer.
"Ah Adah da dh sakit umi." Ringis bryan sembari memegangi telinga nya..
"Siapa suruh kamu membuat kami menunggu cepat keluar! abah sudah menunggu di halaman depan." Perintah umi Fatimah mendengar itu bryan mengangguk lantas berjalan keluar dari rumahnya..
Terlihat raut wajah abah yang tampak masam, karna bryan sudah membuat nya menunggu.. abah pun, natap tajam bryan membuat bryan sedikit menundukkan pandangan nya lantaran takut pada abah nya itu.
"Kenapa kamu lama sekali bryan!." Tanya abah dengan nada yang agak tinggi..
"Maaf abah tadi bry nyari baju yang bagus dulu." Ucapnya berbohong sebenarnya saat di kamar bryan tengah asik chatting ngan dengan dinda.
"Baiklah ayo kita berangkat." Balas abah kemudian masuk kedalam mobil.
Di dalam mobil abah dan umi selalu memperingatkan bryan untuk, tidak menyakiti laila.
"Bryan kamu ingat ucapan abah! jangan kamu sakiti laila! paham?." Tegas abah musa.
"Iyah Iyah paham." Jawabnya memutar bola mata malasnya.
"Dan saat berbicara dengan laila kamu harus sopan! dan jaga ucapan kamu! ucapan kamu kemarin itu sudah membuat laila sakit hati! kamu ini laki laki berusaha lah untuk tidak mengatakan kata kata yang menyakiti hati wanita!" Balas umi Fatimah
"Iyah Iyah bawel." Jawabnya
"Bry apa kamu sudah memutuskan hubungan mu dengan wanita yang bernama dinda itu?." Tanya abah... bryan pun diam sesaat.
Bryan pun menelan ludah kasar karena ucapan abahnya tadi, sungguh ia tak mau hubungan nya dan dinda selesai sampai disini ia tidak rela kalau itu sampai terjadi..
"Udah kok abah." Jawabnya berbohong..
"Awas aja kalau kamu masih ada hubungan sama dia dan menduakan laila saat kamu sudah menikah nanti!." Peringat abah musa. Bryan pun bergedik ngeri melihat ekspresi abah ny itu..
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit akhirnya mereka pun sampai di rumah laila, rumah laila terbilang cukup mewah rumah itu peninggalan orang tuanya. rumah dengan dua lantai itu terlihat sangat indah, dan di halaman nya pun sangat bersih dan tersusun rapih.
Pintu pagar nya pun bisa terbuka otomatis karena laila tidak mempunyai satpam jadi dia memutuskan mengganti pintu pagar otomatis. karna menurutnya itu lebih muda..
Ketiga nya pun, berjalan ke arah pintu besar di depan nya.. Abah dan umi pun mengetuk pintu itu bersamaan di sertai salam..
"Assalamu'alaikum."Ucap keduanya dari luar rumah laila.
Mendengar ada suara orang yang mengucapkan salam dari luar rumah nya laila pun, segera beranjak untuk membukakan pintu.
" Waalaikum salam."Jwab nya seraya membukakan pintu nya..
"Abah umi selamat datang silakan masuk." Ucapnya sopan tak lupa sebelum masuk ia menyalimi keduanya terlebih dahulu..
"Wahh rumah laila ga berubah yah dari dulu masih sama."Puji umi Fatimah.. sembari berjalan masuk kedalam rumahnya..
" Iyah umi."
__ADS_1
"Abah umi mas Bryan bagaimana kalau kita makan dulu? laila sudah menyiapkan beberapa makanan." Tawarnya..
"Wah boleh abah denger denger dari almarhum ayah kamu masakan kamu itu sangat enak." Jawab abah musa bersemangat.
"Hehe ga kok biasa aja rasanya."
Mereka pun berjalan ke arah meja makan, terlihat beberapa makanan yang sudah laila siapkan itu semuanya terlihat sangat. menggoda selera...
"Silakan abah umi dimakan ini masakan buatan laila sendiri." Ucap laila tersenyum sekilas..
"Wahh terlihat enak pasti rasanya juga enak." Puji umi Fatimah.
"Bry ini kamu makan kamu kan suka sama rendang." Ucap umi Fatimah memberikan piring berisi nasi rendang dan lauk pauk lainnya. Bryan pun menerima nya tanpa mengucapkan sepatah kata pun..
Saat laila sedang makan tiba-tiba Bryan pun mengatakan sesuatu yng tidak terduga. mendengar itu ia tersedak.
"Laila mau kah kau menikah dengan ku?."Ucapnya sembari mengeluarkan cincin yang sudah abah dan umi nya beli..
Uhukkk
Laila pun tersedak mendengar ucapan Bryan tadi, sontak umi pun segera mengambil minum untuk laila..
"Astaghfirullah laila kenapa bisa tersedak seperti ini?." Ucap umi Fatimah khawatir.
"Hehe gapapa kok umi."Jawabnya cengengesan..
"Bagaimana apa kau mau?."Tanya Bryan kembali (Note:Bryan tiba tiba jadi sopan karna tadi sore di ancam sama abah musa)
"Iyah mas aku mau."Jawabnya tersenyum tipis.
Bryan pun memberikan cincin itu, pada laila ia sempat ingin memakai cincin itu namun, laila menolak nya ia mengatakan kita belum Muhrim.
" Wah ternyata bener yah kata ayah kamu masakan kamu ini benar benar sangatt lezatt."Puji abah musa mendengar itu laila tersipu malu..
"Alhamdulillah kalau abah umi dan mas Bryan suka." Ucap laila.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21:43 abah dan umi pun, memutuskan untuk pamit karena sudah malam.
"Laila kami pulang dulu yah? kamu jaga diri baik baik nanti biar abah sama umi yang nyiapin semuanya." Ucap umi Fatimah seraya mengelus lembut kepala laila. laila pun hanya mengangguk.
"Kami pamit dulu assalamu'alaikum." Ucap ketiga nya..
"Iyah walaupun salam."Sahut laila.
Setelah mereka pergi laila pun segera mengunci otomatis pintu pagarnya agar tidak ada orang yang bisa masuk..
Oke sampai sini dulu yah Terima kasih sudah membaca cerpen ku❃
Note:Maaf kalau banyak kata2 yng typo..
__ADS_1