
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨π
Keesokan hari Ara di cecar habis oleh ketiga kakak nya. Mereka sangat marah pada Ara. Gadis yang di marah itu hanya diam tertunduk tidak berani berkata apapun membela diri.
Dia benar-benar takut saat ini wajah ketiga pria di depan nya sangat seram jika sedang marah. Dan Ara tidak berani melihat itu.
Jalan terbaik nya saat ini adalah menunduk.
"Kenapa pesan kakak tidak di dengar? Ara puas dengan makan cemilan sebanyak itu? kalau Ara sakit bagaimana? Ara gak mikir kakak, kak Yudha, Kak Johan khawatir Ara kenapa-napa? apa Ara gak sayang sama kita lagi?" mata Yanto lekat pada Ara yang terus tertunduk.
"Katakan siapa yang pria yang memberi Ara jajan sebanyak ini?" tanya Yudha yang berdiri di dekat Yanto.
Ara tidak menjawab ia terdiam menunduk.
"Ara kak Yudha tanya siapa pria itu, katakan sekarang," timpal Johan.
Saat ini Ara merasa di sudut kan oleh ketiga pria dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Namun semua itu tidak membuat Ara membuka suara.
"Ara kakak tanya siapa pria itu? apa kakak kenal pria itu?" tanya Yanto.
"Ara," panggil nya dengan suara tegas meski tidak keras.
"Maaf," satu kata keluar dari bibir Ara, kepala nya masih tertunduk tidak berani menatap mereka.
"Katakan siapa pria itu?" tanya lagi Yanto.
"Ini bu-kan sa-lah nya Kak, ini salah ku. Aku yang menginginkan," jawab Ara terbata-bata.
"Ara sayang lihat kakak. Siapa pria itu? apa kita mengenal nya? apa dia salah satu pria yang ada di restoran saat itu?"
Entah kenapa Yanto berpikir seperti itu, ia menaruh curiga pada salah satu pria yang ditemui saat itu.
"Kak ini bukan salah nya, jangan marah pada Kak Nick, ini salah ku, bahkan Kak Nick sempat ngelarang aku tapi aku saja yang memaksa," tanpa Ara sadari ia sudah memberi tau siapa pria itu.
"Nick," ucap serentak ketiga pria tersebut, tatapan mereka begitu lekat pada Ara.
Mereka jadi penasaran ada hubungan apa Nick dengan adiknya Ara.
"Ara pacaran dengan Nick?" tanya Yanto memicing kan mata serius dan para pria menatap serius Ara menunggu jawaban.
__ADS_1
"Iya," Ara mengangguk membenarkan pertanyaan Yanto.
"Bagaimana bisa? sejak kapan? kenapa kakak tidak tau?" Yanto memberi tubian pertanyaan pada Ara.
Mereka sangat kaget, bagaimana tidak? Ara tidak pernah menceritakan apapun pada mereka tentang ini.
Yanto sebentar sedikit kecewa pada Ara, ia tidak melarang Ara pacaran, karena baginya kebahagiaan Ara segalanya.
Yanto hanya tidak ingin Ara salah memilih pria yang mendampingi nya. Ia hanya mau yang terbaik untuk Ara tidak lebih.
"Baru kemarin Ka-"
Ting-tong...
Ting-tong...
Bunyi bel dari luar menghentikan Ara berbicara.
"Siapa yang datang sepagi ini? apa tamu Yud?" Yanto menoleh Yudha.
Yudha membalas dengan gelengan kepala.
"Lalu siapa yang datang?"
"Tetap di tempat mu Ara. Johan tolong bukakan pintu untuk mereka," kata Yanto.
"Huftt... " Ara menghembuskan nafas, menjadi cemberut berbalik kembali ke sofa nya.
"Kapan Ara ijin sama kakak ke Vila?" serius Yanto bingung sejak kapan adiknya ini memutuskan semua sendiri tanpa memberitahu mereka.
Bahkan ia merasa Ara sekarang berbeda dari Ara yang dulu selalu terbuka, bukan Ara yang sekarang banyak menutup.
Ara menepuk kening nya. "Astaga aku lupa Kak, maaf. Rencana nya semalam mau ku beritahu, tapi aku gak ingat."
πππ
Situasi di ruang tamu menjadi sangat tegang, tatapan tajam ketiga pria begitu lekat pada Nick.
Nick dkk bingung dengan situasi seperti berada di kuburan hawa nya begitu dingin.
Ketiga pria tersebut belum mengatakan apapun, mereka mengenal Nick, ya Nick pria yang baik mereka mengenal itu, tapi hal yang tidak mereka sukai adalah Nick tidak memberitahu apapun tentang hubungan nya bersama adiknya.
"Sejak kapan kau pacaran dengan Ara? kenapa banyak cemilan yang kau beli buat Ara? Apa kau sengaja melakukan itu agar Ara sakit? kau tau cemilan yang kau berikan itu tidak sehat, dan Ara kemarin menghabiskan satu kantong plastik jajanan yang dia bawa. Resikonya kau dapat berpikir menggunakan otak cerdas mu sendiri," tegas Yanto serius dengan penuh penekanan menatap Nick.
__ADS_1
"Tidak seperti itu Kak saya bisa jelaskan semua. Tapi sebelumnya saya minta maaf sudah memacari Ara tanpa sepengetahuan Kakak. Satu hal yang perlu kakak ketahui saya mencintai Ara, saya berjanji akan menjaga Ara dengan nyawa saya tidak akan saya biarkan Ara kenapa-napa," terang Nick tegas penuh keyakinan wajah serius terpancar jelas.
"Cinta? sejak kapan?" tanya Yudha yang kini menatap Nick.
"Satu bulan yang lalu," jawab Nick.
"Lalu kenapa baru jadian kemarin kalau sudah dari sebulan yang lalu sukanya?"
"Saya ingin lebih memantapkan perasaan saya, saya tidak ingin menyakiti Ara."
"Baiklah alasan mu dapat saya terima, lalu kenapa kau membiarkan Ara berbelanja banyak jajan?" pandangan Yanto beralih menatap Nila.
"Apa saat belanja kemarin Nila tidak ikut? apa cuman kalian berdua?" sambung nya lagi.
"Maaf Kak," tunduk Nila merasa bersalah, ia merasa tidak enak sebab ketiga pria pengawal setia Ara sudah pernah mengatakan hal apa saja yang bisa dan tidak nya Ara lakukan.
Ara tidak dapat berkata apapun, ia diam. Ingin rasanya ia membela Nila, tapi apa daya nya sekarang? tidak ada yang bisa ia perbuat selain duduk dengan mulut terkunci.
Nick menyadari jika Ara sangat takut, mata nya mencuri-curi pandang pada Ara wanita yang menundukkan kepala.
πππ
Setelah melewati sidang yang menegangkan, kini mereka berada di mobil menuju Vila tempat tujuan mereka sekarang.
Wajah Ara masih saja cemberut sebab ia tidak di izinkan membawa jajan, padahal ia sudah mempersiapkan dari kemarin, rela-rela membeli tapi ujungnya di larang tidak membiarkan makan selama 1 bulan sebagai hukum.
Dan bahkan Nick ikut marah padanya, karena pesan nya tidak ia patuhi.
Berbeda dengan Alex, Geri dan Nila mereka masih penasaran dengan apa yang dengar di mansion Ara.
Nila yang sudah tidak mampu menerka-nerka memutuskan untuk bertanya.
"Katakan apa benar Kak Nick dan Ara pacaran? kenapa kita tidak tau?" serbu Nila tingkat kepo nya sudah di puncak hingga tidak bisa tahan lagi.
"Benar yang di katakan Nila. Syukur lo gak di tabok oleh pengawal Ara, kalau enggak gue udah gak tau gimana nasih lo sekarang pasti udah di rumah sakit," kata Geri mulai membayangkan apa saja yang dapat di perbuat Ketiga pengawal setia Ara tadi.
"Aku gak punya pengawal Kak, bagaimana Kak Nick bisa di tabok?" timpal Ara protes tidak terima yang di kata Geri.
"Pengawal yang gue maksud itu ketiga kakak lo Ara, mereka sudah persis dengan pengawal menyeramkan jika marah," batin Geri tidak mampu berkata itu pada Ara.
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...
__ADS_1