
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Keesokan hari, pagi-pagi semua sudah pada siap untuk kembali pulang. Ara masih berat meninggalkan vila ini. Ia senang berada di sini, bahkan ia berpikir ingin pindah tinggal di Vila saja menurutnya lebih asyik dan tentu sangat nyaman.
"Sayang ayo kita harus segera pulang," ucap Nick pada Ara.
"Apa kita akan ke sini lagi nanti?" tanya Ara.
"Kenapa? kamu berat meninggalkan Vila ini?" tanya balik Nick.
"Ya, aku ingin tinggal di sini Kak, rasanya lebih nyaman dan aku menyukai tempat ini," ungkap Ara jujur.
"Kapan pun kamu ingin ke sini silakan tidak ada yang bisa melarang mu, tapi kamu tidak boleh pergi sendiri harus aku yang temani."
"Kak Nick tidak sedang becanda kan?" tanya Ara memastikan.
"Ya aku serius tidak becanda, sekarang kita harus pulang ketiga kakak mu pasti sudah menunggu kedatangan mu."
Dalam perjalanan tidak ada pembahasan mereka semua diam, Ara menyandarkan kepala di dada Noval dan tertidur. Ia tidak peduli dengan mereka yang berada di sini.
Nick mengusap puncak rambut Ara dengan lembut. Nila melihat perhatian kakaknya pada sahabat nya Ara bahagia.
"Bau-bau bucin banget nih sama sih polos," ucap Geri sengaja menggoda Nick yang setia mengusap rambut Ara.
"Ya seperti itu lah Kak, sahabatku bukan hanya polos tapi juga waw, apa saja bisa di taklukkan bahkan banyak yang jatuh hati pada nya, aku sebagai sahabat nya sangat bangga karena memiliki sahabat yang memiliki daya tarik besar pada kaum adam," sahut Nila dengan bangga lalu tersenyum sombong.
"Kau benar sih polos mu memiliki daya tarik begitu besar pada kaum hawa, hingga si kutub es tergila-gila padanya," ucap Geri merinding geli seketika mengingat perubahan Nick sejak jatuh hati pada wanita cantik yang memiliki keistimewaan.
Berbeda dengan Alex ia tidak ikut nimbrung obrolan Nila dan Geri yang senang menggoda Nick.
Alex senang melihat Ara wanita yang sudah ia anggap adiknya sendiri bahagia dengan pria yang ia cintai dan juga mencintainya dengan besar.
Tak terasa mobil yang di kendarai Alex tiba di depan mansion Ara. Ara masih belum menyadari ketibaan nya di mansion. Saking nyaman di pelukan Nick mata nya enggan di buka.
"Ara kita sudah tiba, ayo bangun," ucap Nick pelan sambil mengelus pipi Ara lembut membangun nya.
"Gak bakal bangun Ara nya jika seperti itu cara kak Nick. Sini biar gue aja," kata Nila jadi gemas melihat cara kakaknya begitu lembut membangunkan sahabat nya.
__ADS_1
Dia saja sebagai adik tidak pernah di perlakukan seperti itu. Sungguh Ara super ajaib membuat si kakaknya kutub es mencair dan berubah wauw.
"Tidak," tegas Nick menolak. Ia tau sang adik akan melakukan hal yang tidak-tidak pada wanita nya.
"Cih, dasar bucin," sindir Nila dengan raut wajah masam.
Nick tidak mempedulikan perkataan Nila, ia kembali membangun Ara dengan lembut.
"Ara ayo bangun, nanti lanjut tidurnya di dalam."
"Hmmm," Ara masih enggan bangun malah mencari posisi nyaman di dekapan Nick.
Nick tersenyum dengan Ara yang terlihat cantik.
Sedangkan kedua sahabat Nick menggeleng kepala Ara benar-benar menggemaskan dengan sikap seperti ini.
"Duh, Ara sangat cantik menggemaskan, kenapa dulu tidak ku pacari saja," ucap Geri sembarangan melihat.
"Jangan coba-coba," dengan mata tajam Nick siap menelan hidup Geri.
"Hehehe, becanda. Serius amat sih lo," bergidik ngeri Geri takut dengan tatapan tajam Nick.
Tak berselang lama Nick telah berhasil membangun Ara dan membawa masuk ke dalam mansion.
Di sana mereka sudah di sambut oleh ketiga pria bodyguard dengan tatapan intens pada mereka yang baru masuk.
"Kakak," Ara sedikit berlari memeluk sang Kakak yang ia rindukan.
"Apa Ara merindukan Kakak? bagaimana jalan-jalan nya? menyenangkan?" tanya Yanto masih memeluk sang adik.
"Iya, aku rindu. Di vila sangat menyenangkan aku suka apa boleh kita tinggal di sana saja?" tanya Ara melepaskan pelukan dan menatap serius sang kakak.
"Kenapa?" Yanto menaikkan alis bingung dengan permintaan sang adik mendadak.
"Aku suka di sana Kak, tempat nya sangat indah, aku nyaman di sana."
"Benarkah? apa sangat nyaman di banding bersama kakak-kakak mu ini?"
"No Kak, aku nyaman bersama Kak Yanto, Kak Yudha, dan Kak Johan, tapi akan lebih nyaman lagi kalau tinggal di vila," jawab Ara.
__ADS_1
"Hmmm, nanti kita akan ke vila, tapi tidak bisa tinggal, tidak apa-apakan?"
"Emang kenapa? di vila lebih asyik. Apa karena kerjaan Kakak lagi?" Ara yakin karena itu selalu di katakan ketiga kakaknya jika ia mengajak pergi.
Raut wajah Ara terlihat kecewa, mereka menyadari hal itu.
"Aku akan ke kamar ingin istirahat," ucap Ara langsung meninggalkan mereka.
"Huftt," Yanto menghela nafas kasar. Ia tau Ara adik kecilnya kecewa padanya.
"Duduk lah, ada hal yang ingin saya tanyakan pada kalian," ucap nya mempersilahkan teman-teman Ara untuk duduk.
Setelah duduk belum ada obrolan yang keluar dari mulut mereka. Saling pandang, bingung, cemas, takut. Itulah masing-masing perasaan yang sedang mereka rasakan dengan melihat tajam nya tatapan ketiga Kakak Ara.
"Apa perut Ara sakit kemarin?" Yanto kembali membuka suara setelah beberapa menit hening.
"Iya, kemarin saat tiba Ara kesakitan, tapi jangan khawatir saya sudah memanggil dokter untuk memeriksa," jawab Nick tanpa menutupi apapun.
"Ara meminum obat?" tanya Yudha yang kini ikut nimbrung karena penasaran sebab sangat mengenal adiknya itu.
Tatapan ketiga pria itu begitu tajam tidak sabar menunggu jawaban Nick, pria itu masih diam beberapa saat.
"Tidak, tapi it-"
"Sudah ku duga, Ara tidak akan meminum obat seperti biasa," ucap Yudha cepat memotong perkataan Nick.
"Hmmm, bahkan kita yang lebih dekat dengan Ara tidak bisa melakukan, bagaimana kita bisa mengharapkan orang lain yang baru di kenal Ara, meski orang itu pacarnya sendiri yang kini di anggap penting," sahut Johan.
"Sudah, tidak masalah asalkan Ara sekarang baik-baik saja itu sudah jauh lebih baik," kata Yanto.
"Bukan seperti itu Kak, maksud saya tadi tidak awalnya Ara menolak dengan mengatakan obat sangat pahit, tapi dengan sedikit bujukan saya Ara akhirnya meminum obatnya," terang Nick dengan wajah serius terlihat tidak sedang becanda.
"Kau tidak sedang menipu kami, kan? Ara meminum obat?" tanya Yanto memastikan dengan apa yang di dengar.
"Saya serius Ara meminum obatnya," jawab Nick.
"Sesuatu yang ajaib. Bahkan sama kedua kakak kandung nya saja Ara menolak keras, tapi dengan Nick dengan mudah mematahkan tolakan keras kepala bertahun-tahun nya, amazing," ucap Johan dalam hati tabjuk dan mengakui Nick hebat dapat menaklukkan Ara gadis kecil mereka.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
__ADS_1
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...