
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
Seorang gadis yang malang hari-hari yang lalui penuh dengan penderitaan. Tidak ada kata absen untuk air mata nya.
Hidup terasa kurang jika tidak ada air mata di wajah. Lima tahun tidak ada kebahagiaan yang ia rasakan, hidup nya berubah dalam sekejap, tidak ada kata kemewahan di dalam hidup nya, di dalam kamus hidup hanya ada air mata..
Tidak ada ingatan yang tersimpan di benaknya tentang kebahagiaan selain penderitaan.
Gadis malang itu adalah Ara, gadis kecil yang berhasil melarikan diri dari kurungan pria jahat yang ingin melenyapkan nya.
Dengan tega pria itu menjual dirinya pada pria hidup belang. Dan ingatan itu tak pernah bisa dilupakan hingga ia mengalami trauma yang besar sulit di hilang kan.
Setiap berdekatan dengan pria ia akan berteriak histeris dan tidak segan menyakiti dirinya sendiri.
Ara tinggal di sebuah rumah kecil dan seseorang membantu Ara menjalani hidup dengan susah senang bersama.
Seseorang tersebut yang membantu Ara melihat dunia, memberi kata-kata semangat dunia tidak seburuk yang di bayangkan. Meski trauma akan pria tidak bisa hilang, tapi setidaknya Ara tidak menutup diri pada dunia.
Seseorang tersebut bernama Vava, seorang wanita yang usia nya lebih tua dari Ara. Ia sudah mengganggap Ara seperti adiknya sendiri.
"Ara, apa semua sudah selesai?" tanya Vava menghampiri Ara yang sedang merangkai bunga.
"Sedikit lagi Kak," sahut Ara tanpa mengalihkan pandangan nya.
"Ya sudah kamunya lanjutkan saja, Kakak siapkan sepeda dulu," kata Vava, lalu melangkah pergi meninggalkan Ara.
Vava dan Ara memiliki toko kecil sebagai tempat usaha mereka untuk bertahan hidup.
Kedua membagi tugas, Ara bertugas merangkai bunga dan menjaga toko selama Vava tidak ada. Dan Vava bertugas mengantar pesanan bunga yang di pesan orang.
"Ara sudah selesai?" Vava kembali masuk memastikan lagi setelah sepeda nya siap untuk bekerja.
"Sudah Kak, ini bunga pesanan orang," Ara menyerahkan beberapa bunga pada Vava.
__ADS_1
"Ya sudah aku pergi sekarang, jaga diri mu baik-baik. Jika ada pelanggan pria kendalikan dirimu. Cobalah bersikap tenang, kau pasti bisa menghadapi ini," pesan Vava kasihan dengan Ara yang tidak bisa menghilang trauma nya.
"Pergilah, pasti pelanggan sudah menunggu bunga nya," usir Ara mengalihkan obrolan, dirinya bahkan sudah sangat takut hanya berbicara tentang pria.
"Baiklah aku pergi sekarang, ingat pesan ku tadi," sahut Vava berlalu keluar menuju sepeda nya dan mulai meletakkan bunga-bunga dengan rapi di belakang sepeda.
Setelah tersusun rapi ia mulai mendayung kan sepeda meninggalkan rumah nya. .
πππ
Nick pagi-pagi sudah rapi dengan jas melekat di tubuh nya. Ketampanan nya tak pernah luntur meski tak ada senyuman di wajah. Bahkan itulah yang membuat para kaum bawa semakin menggilai sosok seorang Nick.
Yang mana di anggap sangat cool.
Perjalanan dari Negara A ke B semalam begitu mendadak hingga tidak ada waktu untuk nya bersiap-siap.
Semua keperluan nya dari pakaian dan lainya di beli di negara B. Asisten dan sekretaris nya sudah mengurus semua tanpa ada kekurangan.
"Pak sudah waktunya kita akan segera pergi sekarang," lapor asisten nya mengabari Nick.
"Saya tidak tau Pak, bagaimana kalau kita tanyakan pada sopir saja, mungkin dia tau," usul Asisten nya.
"Silakan."
Mobil pun kini membelah jalan menuju toko bunga yang di rekomendasi sopir perusahaan Nick di negara B. Dan ternyata toko yang di rekomendasi sopir tersebut adalah toko langganan perusahaan Nick, karena bunga-bunga nya indah dan cantik.
"Apa kau yakin ini tempat nya?" tanya Nick dengan sorotan mata yang tajam melihat situasi toko kecil bersebelahan dengan rumah kumuh seperti tidak lacak untuk di tinggali manusia saja.
"Benar Pak ini tempat nya," ucap sopir tersebut takut mendapat tatapan tajam dari tuan nya.
"Cepat turunlah," perintah Nick dengan ketus malas membuang waktu lagi.
Tapi sopir tersebut tidak juga turun dan setia di tempat nya sambil mengotak-atik ponsel nya.
"Apa kau tuli! cepat turun kenapa malah di sini memainkan ponsel!?" marah Nick.
__ADS_1
"Maaf Tuan, seperti kita harus tunggu sebentar, saya tidak bisa langsung turun atau situasi nya akan menjadi buruk jika wanita itu histeris," ucap nya ragu jika hal yang dulu-dulu terjadi saat pertama kali ia datang belum mengetahui apapun.
"Jelaskan yang benar kenapa harus histeris? apa dia gila?" tanya Nick yang binggung menjadi sedikit kesal, jika saja membeli bunga di toko ini memakan banyak waktu tidak mungkin ia akan kemari.
"Bisa di kata seperti itu Tuan. Wanita itu selalu teriak histeris jika berdekatan dengan pria, apalagi jika bersentuhan wanita itu pasti akan menyakiti dirinya sendiri," jelas nya lagi.
Dia masih ingat semua nya, karena ia sudah mengalami sendiri, bahkan seorang wanita yang tinggal bersama Ara sudah menjelaskan jika Ara memiliki trauma pada pria yang cukup besar hingga sulit menerima keberadaan pria di dekatnya.
"Lalu, bagaimana? untuk apa kita kemari jika tidak bisa membeli bunga?" lagi dan lagi ia menahan amarahnya pada sopir bodoh nya ini.
"Kita akan tetap membeli bunga di sini Tuan, tapi setelah mendapat balasan dari Nona Ara, karena saat ini Nona Vava tidak ada di tempat," jelas nya lagi memberi pengertian pada atasannya agar bersabar.
"Tunggu... apa tadi kata mu? Nona Ara? apa wanita itu bernama Ara?" tanya Nick memastikan apa yang di dengar barusan.
"Iya Tuan, benar."
"Apa ini hanya kebetulan atau dia memang Ara ku yang selama ini ku cari? tapi Ara ku tidak seperti yang jabarkan nya. Apa terjadi sesuatu selama lima tahun ini?" pikir Nick yang mulai sedikit penasaran.
"Aku harus memastikan terlebih dahulu apa benar dia Ara ku atau tidak," putus Nick berucap dalam hati dan kemudian keluar dari mobil.
Melihat Tuan nya mendadak turun, ia menjadi cemas akan keadaan wanita malang itu pasti akan melukai dirinya lagi seperti dulu.
"Tuan, biarkan saya yang melakukan, Tuan kembali lah ke mobil," ucap nya sopan menghentikan langkah tuan nya.
"Tidak, menyingkirkan saya akan melakukan sendiri," tolak Nick rasa penasaran akan nama Ara membuatnya ingin tau seperti apa Ara yang di maksud sopir nya itu.
"Saya mohon Tuan sekali ini saja. Saya tidak tega pada wanita malang itu jika kembali menyakiti diri nya lagi. Wanita itu sudah berkali-kali masuk keluar rumah sakit karena melukai dirinya sendiri, karena trauma yang di alami, jadi saya mohon pengertiannya kali," mohon sopir tersebut penuh harap.
Dia kasihan pada wanita malang itu jika mati perlahan karena ulah nya sendiri menyakiti diri. Golongan darah yang langkah jika sering mengeluarkan darah akan berakibat fatal untuk itu ia tidak ingin ambil resiko besar.
"Kau seperti tau banyak tentang wanita bernama Ara itu?" bukan mengiyakan permintaan nya, Nick malah bertanya akan kedekatan sopir nya itu dengan wanita bernama Ara.
"Saya sudah pernah melihat sendiri bagaimana histeris nya Nona Ara, bahkan hampir bunuh diri karena di sentuh pria," ingatan saat itu kembali memutar memori nya dan kembali sedih.
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
__ADS_1
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...