
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Ara, hari di mana yang sudah lama di nanti kan bertemu dengan orang-orang yang di sayangi.
Air mata terus mengalir, saking bahagia. Kejutan suaminya membuat ia tak bisa berkata-kata, selain mengungkapkan lewat air mata betapa bahagianya Ara saat ini.
"Bagaimana sayang kejutan ku? apa kamu bahagia?" Nick menatap istrinya yang masih menangis bahagia.
Ara mengangguk. " Terimakasih, aku sangat bahagia kejutan dari mu Bie."
"Apapun untuk membuat bahagia akan ku lakukan, sudah jangan menangis lagi," ajak Nick mengusap air mata yang membasahi wajah Ara.
"Dunia terasa milik berdua, yang lain pada ngontrak," sindir Nila kesal melihat kedua orang yang di rindukan malah pada asyik sendiri.
Seharusnya itu Ara memilih nya, karena saat ini ia sangat merindukan sahabat manja nya itu, yang kini sudah berubah status menjadi kakak ipar.
"Ngontrak?" ucap Ara bingung tidak mengerti lalu menoleh Nick minta penjelasan.
"Gak usah dengar apa kata Nila. Kamu gak kangen apa sama kakak-kakakmu?" Nick mengalihkan pembicaraan melihat tatapan penuh merindukan pada Ara.
"Sangat rindu," jawab Ara bangun dan memeluk Yanto.
"Hiks... hiks... hiks... rindu kak, apa kakak tidak merindukan ku?" tangis Ara pecah di pelukan Yanto.
"Kata siapa? kakak sangat merindukan adik kesayangan Kakak yang cantik dan imut ini," Yanto balas memeluk, rindu nya setinggi gunung, tapi tak pernah ia tunjukkan betapa hancur diri nya kehilangan Ara.
"Benarkah?" Ara melepaskan pelukan menatap mencari kebenaran dari perkataan sang kakak.
"Benar, masa adik Kakak gak percaya sama kakak sendiri?" gemas Yanto mencubit hidung mancung sang adik.
"Sakit, Kak," cemberut Ara kesakitan hidung nya di cubit.
"Duh... duh... mana sakit nya biar kakak lihat," perhatian Yanto.
"Jadi Kakak nya cuman Yanto, kita di lupakan Jo, sudah pulang aja gak ada yang rindu sama kita," merajuk Yudha melihat kedekatan sang adik dan Kakaknya tidak mempedulikan nya yang juga sangat merindukan Ara.
__ADS_1
Semua di sana tertawa mendengar Yudha merajuk Ara tidak melihat padanya.
"Kau benar, ayo kita pulang," seru Johan menyetujui. Saat langkah bergerak untuk pergi, pelukan seseorang menghentikan pergerakan nya.
"Kak, aku rindu. Masa udah mau pergi sih," sedih Ara. seseorang yang memeluk Yudha adalah Ara.
"Kakak becanda sayang, sudah jangan memasang wajah sedih begini. Kakak sangat merindukan mu," tidak tega Yudha melihat wajah sedih Ara karena perkataan nya.
"Kakak juga merindukan mu sayang, apa Ara tidak rindu?" seru Johan tidak mau kalah menimpali percakapan kerinduan kedua kakak adik.
Ara melepaskan pelukan nya dari Yudha, dan memeluk Johan.
"Ck, menganggu saja, tidak lihat apa aku baru sebentar," umpat Yudha kesal Johan menganggu padahal ia masih ingin memeluk adik nya.
"Tau kan sekarang bagaimana rasanya di ganggu? inilah yang ku rasakan saat kau berlagak sok merajuk," ucap Yanto tersenyum kecil, karena itulah yang dirasakan saat Yudha menganggu.
Lagi dan lagi semua yang di sana tertawa dengan sikap kakak-kakak Ara, yang menginginkan perhatian Ara.
"Aku juga sangat merindukan mu Kak. Apa kakak sudah menikah? aku ingin berkenalan dengan istri Kakak," semangat Ara entah kenapa bertanya hal seperti itu.
Yanto dan Yudha mendengar itu saling lempar pandang dan tertawa.
"Mampus," tertawa Johan puas dalam hati.
"Sudah sayang, kita duduk dulu masa mau terus berdiri seperti ini. Lihat Mama dan Papa jadi cape," Nick mengalihkan topik melirik kedua orang tuanya berdiri tersenyum.
Sudah lama mereka tidak melihat dan merasakan hal seperti ini. Hadirnya Ara membuat suasana hidup, tak ada kesedihan di wajah selain wajah bahagia.
πππ
Kini semua berada di ruang keluarga. Nila tidak membiarkan Nick berbicara ataupun mendekati Ara. Nila benar-benar menjauhkan Nick dari Ara.
Nila tidak ingin Nick kembali menguasai Ara, dan ia akhirnya tidak mempunyai kesempatan melepas rindu dengan sahabat baiknya.
Tentu kelakuan Nila itu membuat Nick kesal, jika saja bukan adik kandung, Nick sudah melempar Nila di danau yang banyak buaya sekalian jadi santapan makanan buaya.
"Benarkah?" wajah Ara seketika sedih mendengar Nila sudah bekerja dan berhasil meraih gelar S1. Sedangkan ia harus putus kuliah karena insiden itu.
__ADS_1
"Nila sudah cukup," tegur Sang Mama Rita tidak tega melihat wajah sedih Ara. Ia tau Ara sedih karena tidak bisa menyelesaikan studi nya.
"Ara bagaimana kabar mu? Mama dengar dari Nick kalian sedang menantikan kehadiran anak pertama kalian, apa itu betul?" sambung nya lagi mengalihkan topik agar Ara tidak sedih.
"Iya Ma. Apa Mama juga tidak sabar seperti Hubby?" tanya Ara berbalik tanya, wajah sedih nya tadi seketika tak terlihat lagi.
"Tentu sayang Mama dan semua di sini pun sama tidak sabar," jawab nya lega Ara begitu muda melupakan hal yang membuat nya sedih.
"Kamu dengar itu sayang? jadi kita harus lebih bekerja keras lagi untuk mengabulkan keinginan mereka," senyum Nick menggoda Ara santai dengan perkataan nya.
"Kau ini kalau bicara tidak pernah di saring, ingat di sini masih ada Nila, jangan mengotori otaknya," Mama Tari mencubit lengan tangan Nick.
"Maaf, lagian otak Nila sudah kotor dari dulu, jadi gak perlu di kotori sudah kotor sendiri," seru Nick. Nila mendengar perkataan tanpa bersalah Nick malah sangat santai mengatai nya menjadi kesal.
"Nick, tidak boleh bicara seperti itu," tegur Mama Rita tidak habis pikir kedua anaknya tidak pernah akur sejak kecil, besar pun sama.
"Iya, maaf," mengalah Nick.
Obrolan terus berlangsung di antara mereka dengan penuh kebahagiaan terpancar di wajah masing-masing. Hingga akhirnya mansion menjadi sepi saat semua beranjak pulang ke rumah masing-masing.
"Kamu bahagia sayang?" tanya Nick lembut membelai pipi chubby Ara berbaring di ranjang dan menjadikan dada bidang nya bantal kepala.
"Sangat bahagia Bie, terimakasih. Aku tidak menyangka kejutan mu adalah kembali ke Negara A, padahal saat itu kamu mengatakan akan kembali jika aku hamil," ujar Ara masih tidak menyangka suami nya yang kemarin sangat kekeh tidak ingin balik sebelum ia hamil seketika berubah pikiran seperti ini.
"Ya kamu benar sayang. Aku mengatakan syarat itu. Tapi syarat yang ku minta seperti nya sudah terpenuhi sekarang. Aku merasa di sini sudah ada hasil kerja keras kita," Nick mengerakkan satu tangan nya mengelus perut rata Ara.
"Masa sih? bagaimana Bie tau?" penasaran Ara menatap Nick.
"Ada deh, besok kita akan cek ke rumah sakit untuk memastikan dugaan ku ini. Sekarang tidur lah," ucap Nick mengecup pucuk rambut Ara.
"Hmmm, selamat tidur. Mimpi indah Hubby ku," senyum Ara memeluk tubuh suaminya yang selalu mampu membuat nya nyaman dan tenang.
"Selamat tidur dan mimpi indah wanita kesayangan Ku," sahut Nick balas memeluk.
...TAMAT...
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...
__ADS_1
Huftt... akhirnya kelar juga...
Apa ada yang sedih? sudah jangan sedih, ayo kembali ceria. Author punya kabar bahagia buat semua. Secepatnya bakal ada season 2, gak sabar kan menanti seperti apa kelanjutannya? maka untuk itu, pantau terus pengumuman selanjutnya di sini.