Wanita Kesayangan CEO Dingin

Wanita Kesayangan CEO Dingin
Promo novel: Gadis Kecilku Yang Baik Hati


__ADS_3


"Kau baru datang Ce?" tanya Fiona melihat Chelsea baru masuk di ruangan.


"Tidak, sejak tadi hanya lama di luar, jadi baru masuk sekarang, kenapa emangnya?" jawab Chelsea dan bertanya balik.


"Di luar ngapain? biasanya juga tiba langsung masuk," ucap Fiona penasaran.


"Mau nya sih gitu, tapi gak tega sama Ria. Dia sangat menyukai salah satu pembalap dari klub The Blues, jadi aku membantu nya untuk bisa bertemu. Sekarang Ria ada di tenda mereka. Aku minta tolong pada mu Fi, bantu Ria kasihan dia sangat mengidolakan Kak Bay. Kau tau aku jarang turun dalam hal seperti itu, jadi lakukan sesuatu, please," mohon Chelsea, karena hanya Fiona yang bisa membantu Ria seperti ini.


"Baiklah jangan khawatir aku akan membantu nya, sepertinya mereka akan tiba satu jam lagi, lakukan kerjaan mu, aku akan ke luar mengecek apa saja yang kurang, jangan lupa input data peserta secepat nya dan di print, berikan pada juri di luar," ucap Fiona memberitahu kerjaan Chelsea.


Kepergian Fiona, Chelsea mulai melakukan kerjaan, dia begitu teliti tidak ingin ada kesalahan dalam penginputan, karena itu akan fatal. Satu kesalahan yang dia lakukan bisa menjadi masalah besar.


Dua jam berkutat pada komputer, kini semua telah Chelsea selesaikan. Semua yang dikatakan Fiona sudah di kerjakan dan di print. Sekarang tinggal menyerahkan pada juri di luar.


Chelsea berjalan keluar menuju tempat duduk juri, ternyata di luar sudah banyak orang, Chelsea tidak terlalu kaget akan hal seperti ini. Dia terus berjalan.


Setelah menyerahkan data-data tersebut, dia pergi. Tapi bukan kembali ke ruangan, melainkan ke tenda the blues menghampiri Ria.


"Ra," sapa Chelsea tiba di samping Ria dan Ria tidak menyadari keberadaannya saking fokus memandang seseorang, itu adalah Bay idolanya.


"Kau mengangetkan ku saja Ce. Apa kerjaan mu sudah selesai, hingga kemari?" tanya Ria menoleh Chelsea.


"Sudah, palingan menumpuk saat acara selesai, karena harus merekap semua anggaran, input ulang data dan juga mencatat semua yang di keluarkan para sponsor dalam acara ini. Jadi nanti kau tidak perlu menunggu ku, pulang lah lebih dulu. Seperti biasa aku bisa sampai malam di sini," jelas Chelsea agar Ria tidak menunggu nya.


"Ya, kau sangat pekerja keras, padahal kau tidak kekurangan uang, tapi lihat tindakan mu ini sudah seperti orang yang kesusahan yang bekerja keras mencari uang," ejek Ria. Dia bingung apa yang di pikirkan Chelsea mau bekerja keras, tiap bulan mereka dapat uang beasiswa dari sekolah, kedua orang tuanya juga memberi jatah bulanan. Apa semua itu masih kurang bagi Chelsea?


"Bukan masalah itu, Ra. Aku suka saja bekerja, lagi pula hari libur, jadi di gunakan dengan baik untuk menghasilkan sesuatu yang manfaat," sahut Chelsea.


Ria mendengar itu tidak bisa berkomentar lagi, semua yang di katakan Chelsea memang benar, tapi itu menurut dirinya sendiri, bukan untuk nya.


"Bagaimana? apa kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?" tanya Chelsea mengganti topik. Kedatangan nya kesini bukan untuk membicarakan nya.


"Huftt... " Ria menghela nafas panjang, menggeleng kepala.


"Tidak, sejak tiba aku belum sempat bicara apapun pada nya, keburu di panggil sahabat lama nya Kak El," pandang Ria memberi petunjuk dari kedua mata nya tertuju. Dan Chelsea mengerti mengikuti arah pandang itu.


Dari jauh, dia seperti mengenal sosok pria bersama idola Ria. Berpikir lebih lama di mana dia pernah bertemu, Chelsea akhirnya mengingatnya. Pria itu adalah pria tampan yang dia temui saat itu.


Chelsea bingung, dengan perasaan nya sekarang. Mendadak debaran itu kembali. Padahal dia sudah melupakan nya, tapi kini kembali lagi hanya karena melihat kehadiran nya.


"Ce, kenapa? tatapan mu seperti kaget begitu, apa kau mengenal Kak El?" bingung Ria melihat ekspresi Chelsea aneh memandang El dan Bay.


"Jadi yang bersama Kak Bay itu namanya El?" tanya balik Chelsea baru mengetahui nama pria itu.


"Iya, emangnya kenapa? apa kau mengenal nya?" tanya Ria lagi makin penasaran.


"Dia pria yang pernah ku ceritakan padamu saat di kelas membuat kita hampir di usir guru," jawab Chelsea.


Ria mendengar itu kaget tidak percaya, pria yang Chelsea katakan itu El. Pria yang tidak pernah dia dengar berdekatan sama wanita, karena terlalu fokus pada karir.


"Kau serius, Kak El yang kau naksir? dia anti sama wanita, itu berita yang beredar ku dengar, tapi entahlah benar atau tidak, aku tidak tau," ucap Ria bukan bermaksud mematahkan perasaan cinta Chelsea, dia hanya mengatakan apa yang di tahu dari berita.


"Hmmm, sudahlah aku tidak mau memikirkan itu sekarang. Aku tidak mau tidak fokus pada pelajaran ku," sahut Chelsea. Tapi hati nya berbeda dengan mulut berbicara. Dia ingin menghampiri pria yang sudah berhasil menggetarkan hati nya sedalam ini.


"Ck, mulut dan hati mu berbeda Ce, gak usah bicara seperti itu aku mengenal mu. Perasaan mu begitu menyukai Kak El mau menghampiri tapi takut, benar bukan?" ucap Ria. Chelsea mendengar itu malu yang di pikirkan Ria memang benar.


"Ra, aku sudah melupakannya seperti yang kau katakan saat itu, tapi entah kenapa melihat nya jantung ku langsung berdetak kencang," ungkap Chelsea jujur bingung dengan perasaan nya sendiri.


"Berarti kau masih menyukainya, Ce," ucap Ria memandang pria yang di suka chelsea.

__ADS_1


El tidak buruk, pria itu juga tampan, tapi bagi nya Bay lah yang tampan. Selera chelsea tidak buruk, hanya dia ragu apa pria seperti El yang di gemari banyak wanita bisa memandang chelsea. Dia tidak tau.


"Hmmm, kau benar. Tapi mendengar penjelasan mu aku ragu untuk mendekati nya. Aku takut menjadi masalah," sahut Chelsea tidak memiliki keberanian.


"Terserah mu saja, Ce. Aku akan selalu mendukung semua keputusan mu," seru Ria.


"Hmmm, aku kesana sebentar sepertinya mereka memanggilku," ucap Chelsea. Obrolan mereka harus terputus melihat kode dari seorang panitia memanggilnya.


"Ya sudah silakan, semangat," Ria menyemangati Chelsea.


"Kau juga semangat. Aku berdoa kau berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini," balas Chelsea menyemangati.


Di sisi lain, kedua pria yang sedang mengobrol terhenti, Bay harus kembali ke tenda nya. Satu jam lagi balapan akan di mulai.


Chelsea yang di panggil seseorang tadi di minta untuk mengantar berkas pada pemilik Klub Alaska dan itu adalah El.


Dia ragu mendatangi El, tapi kerjaan membuat nya mau tidak harus melakukan itu.


"Kenapa aku merasa seperti ingin menjalani sidang, sungguh aneh. Tenang Chelsea... kau tidak bisa seperti ini terus... kau pasti bisa, semangat... " ucap Chelsea menyemangati dirinya sendiri.


"Permisi, Kak."


"Saya ingin mengantar beberapa berkas ini," Chelsea menyerahkan, di begitu gugup berhadapan dengan El. Pesona pria itu membuat nya kikuk.


"Terimakasih," El menerima berkas tersebut. Melihat wajah gadis kecil di depan dia teringat akan sesuatu.


"Kau gadis kecil yang saat itu, bukan?" tanya El mengingat.


"Maaf Kak, saya tidak bermaksud ja-"


"Kenapa takut? umur mu berapa gadis kecil?" potong El cepat menatap Chelsea.


"17, Kak," jawab Chelsea makin gugup, El menatap nya begitu dalam.


Pasalnya panita yang berada di tempat seperti ini adalah orang-orang yang gesit, tentunya memiliki otak encer.


"Duduklah," ajak El lagi sebelum Chelsea menjawab, tidak mungkin dia membiarkan gadis kecil bicara sambil berdiri sedangkan dia duduk.


"Terimakasih, tap-"


"Tidak apa-apa, ayo," ucap El cepat seolah tau apa yang ingin Chelsea katakan.


Chelsea bingung keadaan seperti apa sekarang yang di alami. Berada di dekat El jantung nya akan bermasalah. Mau kabur, kan rugi kapan lagi bisa duduk di samping El.


"Bagaimana gadis kecil seperti mu bisa menjadi panitia?" tanya El lagi, pertanyaan nya tadi belum di jawab.


"Saya tidak tau kenapa mereka mempercayai saya menjadi panitia. Sejak saya di bangku kelas 10 saya sudah menjadi panitia dan sekarang sudah tiga tahun saya bertugas," jawab Chelsea jelas. El mendengar itu kaget tidak percaya bagaimana bisa gadis kecil di kelas 10 sudah di beri kepercayaan besar seperti ini.


Apalagi di sini arena berbahaya, bagaimana kalau ada yang menyakiti gadis kecil ini. Pakaiannya juga begitu menggoda para pria, rok pendek mengekspor paha mulus putih, membangkitkan gairah pria, seperti dirinya misalnya.


"Lain kali jika kau bertugas lagi pakai lah yang lebih panjang. Di sini banyak pria, pakaian mu bisa membuat mu berada dalam bahaya," pesan El tidak bermaksud menakuti Chelsea, tapi lebih ke memperingati agar tidak menyesal di kemudian hari.


"Bahaya?" emangnya pakaian saya kenapa?" tanya Chelsea tidak mengerti. Dia sudah biasa seperti ini, aman-aman saja.


"Gadis kecil yang polos, jika kau bukan anak SMA aku sudah menghabiskan mu," batin El tersenyum kecil. Entah kenapa dia bisa bicara santai dengan orang yang baru di kenal.


"Pakaian mu membuat para pria menjadi lapar ingin memakan mu hidup-hidup," jawab El dan Chelsea mendengar itu tidak mengerti mengerut kening.


"Emangnya saya makanan, ya Kak? sampai bisa di makan hidup-hidup?" tanya Chelsea polos tidak mengerti. El mendengar itu tidak percaya Chelsea tidak mengerti maksud perkataan nya.


Kehidupan Chelsea di habiskan di asrama, belajar dan bekerja jika ada panggilan seperti sekarang. Jadi dia tidak terlalu istilah bahasa aneh orang dewasa.

__ADS_1


Saat ini El dan Chelsea berada di ruangan nya, bukan di tenda, tidak ada orang lain selain mereka berdua.


"Kau memang bukan makanan, tapi bisa menjadi makanan, apa kau mau tau?" tanya El entah pertanyaan seperti apa yang di berikan itu, dia seperti sudah merencanakan sesuatu.


"Boleh, kalau Kakak tidak keberatan menunjukkan," jawab Chelsea tidak mengerti pun menyetujui.


"Baiklah kau jangan menyesal gadis kecil," seringai kecil di wajah El. Dia mulai mendekatkan wajah nya pada Chelsea, dan itu membuat Chelsea kaget, gugup apa yang di lakukan El sekarang.


"Kak a-"


Hmmpt....


El membungkam bibir Chelsea cepat, wanita itu kaget tak bisa menolak. El melakukan dengan lembut, dia sadar ciuman ini pertama untuk Chelsea. Lum**** semakin dalam Chelsea yang baru merasakan diam seperti terhipnotis menerima, membiarkan El bermain di dalam.


El semakin semangat melakukan Chelsea tak menolak, bahkan membuat nya masuk mengekspor isi rongga dalam. Lidah nya menyapu bersih setiap inci dalam.


Tangan nya pun ikut bergerak di balik baju Chelsea. Entah dorongan dari mana El yang tidak melakukan ini pada wanita mana pun begitu semangat melakukan pada gadis yang baru di temui.


Perlahan tapi pasti b** yang di kenakan Chelsea terlepas, El membelai lembut di awal, lalu di r***. Tubuh Chelsea seketika menegang, dia tersadar semua ini sudah berlebihan dan terlalu dalam.


El tidak juga menghentikan, tangan dan bibir masih berada di tempat yang sama, perlahan turun ke bawa, Chelsea kaget area mana yang di sentuh El menggeleng kepala.


Semua yang awalnya untuk menggoda, berakhir serius. Jujur El menyukai hal ini, daya tarik gadis kecil itu begitu besar hingga dia menikmati.


Tangan El menyentuh lembut lahan bawah, dia bisa merasakan kelembutan di bawah. Chelsea takut dia berusaha sekuat nya agar semua berhenti tidak berlanjut. Dia menyesal sudah berkata hal itu. Jika dia tau maksud perkataan tadi semua tidak akan seperti ini.


El menurunkan rok yang di kenakan Chelsea kebawah, lalu dia membuka resleting celana dan membuka, bibirnya masih mel****, hingga Chelsea tidak bisa berbicara.


"Apa ini, kenapa... " Chelsea merasakan sesuatu di bawah mulai menusuk.


El masih bermain meraba lahan itu dengan satu jari.


"Kak, jangan... " ucap Chelsea, saat bibir El berpindah meng**** lehernya. Dia segera membuka suara.


Mendengar itu El tersadar, permainan nya kini sudah begitu jauh. Dia menatap Chelsea gadis kecil yang hampir dia renggut sesuatu yang berharga, menggeleng kepala.


Tangan nya terangkat dan membelai pipi chelsea lembut.


"Maaf, apa kau marah aku melakukan ini?" tanya El, Chelsea mendengar itu tidak tau harus berkata apa, dia sendiri bingung.


"Siapa namamu gadis kecil?" tanya El lagi. Melakukan hal gila, El tidak tau nama gadis yang di cumbu nya.


"Chelsea," jawab nya gugup. Wajah mereka begitu dekat, entah apa lagi yang akan di lakukan nya. El semakin mendekatkan wajah nya.


"Nama yang cantik seperti orang nya," ucap El. kini hidung mereka sudah bersentuhan.


"Kak, sa-"


"Kenapa? apa kau takut?" potong El cepat menatap kedua mata Chelsea.


"Kak i-"


"Kau wanita pertama yang saya sentuh, dan akan menjadi terakhir," ucap El cepat, lagi dan lagi memotong perkataan Chelsea.


Hmmpt...


El kembali membungkam bibir Chelsea. Ciuman lembut yang hangat El berikan, setiap cela gigi di sapu dengan lidah nya. Chelsea tidak tau kenapa tubuh nya begitu menikmati, tidak bisa menolak.


Bibir nya turun menji*** tengkuk leher nya, chelsea merasa sensasi aneh meremas kuat kedua tangan.


"Kak, jangan... " suara itu terdengar lemah, Chelsea menatap mohon jangan melakukan jauh dari ini. Dia tidak bisa melakukan, ini salah, dia masih SMA. Masih ada cita-cita yang harus di gapai dan orang tuanya akan kecewa padanya kalau tau apa yang di perbuat.

__ADS_1


"Kau yakin?"


__ADS_2