Wanita Kesayangan CEO Dingin

Wanita Kesayangan CEO Dingin
Bab 17: Kurangi jajan


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


πŸŒΉβœ¨πŸ’žβœ¨πŸŒΉ


Pintu berhasil di buka, di tempat tidur Ara sudah tidak ada, Nick segera mencari dan tubuh nya terasa lemas seketika melihat Ara terduduk memegang perut.


"Ara apa yang terjadi? kamu kenapa?" cemas Nick mendekati Ara.


"Perut ku sakit Kak," aduh Ara menangis perut nya sangat sakit.


"Ini akibat nya kamu terlalu keras kapala, sudah di bilang jangan banyak-banyak makan cukup 5 paling banyak, tapi tidak semua kamu singkat. Lihat sekarang sakit sendiri, kan?" omel Nick meski marah ia tetap mengurus Ara. Ia menggendong Ara ala brydel dan membaringkan pelan di kasur.


"Nila cepat telpon dokter," kata Nick sambil memposisikan tubuh Ara agar merasa nyaman.


"Baik Kak," sahut Nila cepat ia cemas melihat kondisi sahabat nya seperti ini.


"Mulai hari ini tidak ada kata jajan lagi, aku akan mengawasi kamu," ucap Nick pada Ara.


Ara tidak mengatakan apapun, perutnya sangat sakit hingga untuk berbicara saja ia sudah tidak memiliki tenaga. Semua tenaganya terkuras habis di kamar mandi dengan menangis.


Nick melihat Ara terus menangis tanpa suara ikut merasa sakit.


"Apa sangat sakit? bersabarlah sebentar lagi dokter akan datang kamu akan baik-baik saja percayalah. Aku janji," Nick mencoba menenangkan Ara, menggenggam tangan Ara.


Lagi dan lagi Ara tidak menjawab.


Beberapa menit kemudian Dokter datang.


"Apa yang terjadi padanya Nick?" tanya Dokter tersebut tidak lain dokter itu adalah Om nya Nick.


"Perutnya sakit Uncle, tolong lakukan sesuatu agar perutnya tidak sakit," mohon Nick wajah sedih nya terlihat jelas ia takut kehilangan Ara.


"Tenanglah Nick, gadis ini akan baik-baik saja, sebentar saya akan periksa," ucap nya langsung mengecek kondisi Ara.


Setelah melakukan pengecekan Dokter tersebut tersenyum sambil menggeleng kepala.


"Apa yang terjadi dengan Ara Uncle? kenapa Uncle tersenyum setelah mengecek kondisi Ara?" Nick bingung melihat tingkah uncle nya, sejak tadi ia memperhatikan nya.


"Apa Ara sering makan cemilan secara berlebihan?" tanya Dokter tersebut, tanpa menjawab pertanyaan Nick.


"Sepertinya begitu, Pagi tadi Kakaknya marah besar mengetahui Ara menghabiskan 1 kantong plastik cemilan," jawab Nick melihat Ara sudah sedikit tenang tidak menangis setelah di beri suntik.


"Pantas tidak perlu di khawatir kan jika seperti itu," kata dokter.

__ADS_1


"Maksud uncle apa? kenapa berkata seperti itu?" Nick bingung tidak mengerti, mata nya lekat menatap Uncle nya.


"Tubuh nya begitu rentan sakit dengan makanan yang tidak sehat, saya sarankan awasi Ara jangan biarkan hal ini terjadi. Dan saya sudah menyuntikkan obat pereda nyeri perut agar dia bisa tenang dan istirahat."


"Terima kasih Uncle."


"Iya, apa dia pacar kamu Nick?" tanya nya penasaran sebab baru kali ia melihat betapa cemas Nick pada seorang wanita.


"Iya Uncle dia pacar saya," jawab Nick tersenyum melihat Ara yang sudah tertidur karena pengaruh suntik yang dilakukan uncle nya.


"Semoga hubungan kalian langgeng sampai ke jenjang pernikahan. Nanti jika dia sudah sadar langsung berikan dia makan bubur hangat dan obatnya. Jauhkan dia dari cemilan kasihan jika dia harus mengalami kesakitan seperti ini terus."


"Iya Uncle itu pasti."


πŸ’™πŸ’™πŸ’™


Setelah kepergian Dokter, mereka membiarkan Ara istirahat dan kembali turun duduk di ruang keluarga.


Tidak ada obrolan semua masih sama-sama diam dengan pemikiran masing-masing.


Nick tidak menyangka jika reaksi Ara akan secepat ini, pantas saja ketiga pria tadi marah besar padanya ternyata karena hal ini.


Nick berjanji pada diri nya untuk selalu menjaga Ara, kejadian ini akan menjadi yang terakhir dan tidak pernah terulang lagi.


"Kakak mau kemana?" Nila melihat sang kakak beranjak bangun dari duduk nya.


"Sejak kapan Nick tau masak?" Geri tidak percaya dengan apa yang di dengar barusan.


"Sejak lama emangnya Kak Geri tidak tau?"


"Kok bisa?"


"Pasti bisalah, dulu Kak Nick sering masak meski bukan untuk kita, tapi dia sering masak untuk dirinya sendiri."


"Masa sih?"


"Yah sudah kalau gak percaya lihat saja nanti."


πŸ’™πŸ’™πŸ’™


Waktu sudah menjelang sore, Nick membersihkan diri lalu menuju dapur menyiapkan makan untuk di bawa pada Ara.


"Kakak begitu menyayangi Ara, Ara beruntung di sayangi banyak orang," senyum Nila berucap dalam hati.

__ADS_1


"Kakak mau ke kamar Ara?" Nila berada di samping Nick sedang mengambil minum di kulkas.


"Iya, Ara belum makan sejak tadi," Nick tidak mengalihkan pandangan nya. Ia tetap fokus menyiapkan makanan untuk Ara.


"Kakak duluan, kalau lapar makan saja bubur nya masih ada sisa," ucapnya lagi langsung meninggalkan Nila.


"Dih, kirain aku sakit apa kasih makan bubur," protes Nila dengan omongan sang kakak.


Setiba di kamar Nick meletakkan nampan di meja samping kasur dan menatap lekat wajah cantik Ara yang tertidur.


"Aku tidak bisa melihat mu seperti ini lagi, aku menyayangimu tidak akan ku biarkan kamu menangis lagi, hanya akan ada air mata kebahagiaan bukan kesedihan atau kesakitan," tatapan sendu sedih Nick merasakan hancur hati nya melihat Ara kesakitan.


"Sayang ayo bangun kamu harus makan," dengan suara lembut Nick membangun Ara.


Namun tidak ada perbedaan apapun pada Ara, gadis itu masih setia menutup mata.


"Sayang ini sudah sore, kamu belum makan sejak tadi ayo bangun."


"Aku ingin tidur Kak, jangan ganggu," ucap Ara dengan mata terpejam enggan bangun.


"Tidak, sudah cukup tidur nya sekarang waktu nya bangun," sahut Nick.


"No 5 menit lagi aku akan bangun," kata Ara.


"Sekarang tidak ada lima menit, cepat," tegas Nick namun masih dengan suara pelan.


Dengan berat hati Ara bangun meski mata nya masih belum sempurna terbuka.


Nick membantu Ara menyandarkan diri dengan bantal agar lebih nyaman.


"Bagaimana apa masih sakit perut nya?" tanya Nick memegang perut Ara.


Ara tentu kaget seketika mata nya terbuka lebar, perutnya tak pernah di sentuh selain ketiga kakak nya saat kesakitan seperti ini.


"Sayang katakan sesuatu apa masih sakit? atau mau ku panggil kan dokter untuk memeriksa kamu lagi?" cemas Nick melihat diamnya Ara tidak mengatakan apapun.


"Tidak perlu, aku sudah lebih baik sekarang," ucap Ara saat ini bukan rasa sakit yang di rasakan tapi merasa aneh dengan sentuhan tangan Nick di perutnya.


"Bagus kalau seperti itu, sekarang kamu makan dulu baru minum obat."


"Obat? apa itu perlu? aku hanya sakit perut Kak seperti obat tidak perlu itu sangat berlebihan seperti aku sedang sakit parah saja," ucap Ara yang memang tidak suka dengan hal apapun berkaitan dengan obat.


"Itu perlu Ara, sakit parah atau tidak wajib minum obat. Jangan protes lagi sekarang ayo makan, buka mulut mu."

__ADS_1


...Bᴇʀsα΄€α΄Κ™α΄œΙ΄Ι’......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2