Wanita Kesayangan CEO Dingin

Wanita Kesayangan CEO Dingin
Bab 25: Ajakan Dirli


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Ara dan Nila kini telah berada di kelas, setelah dari kantin mereka langsung pergi, karena kelas akan di mulai dalam waktu 5 menit lagi.


Pertanyaan beruntun Nila pada Ara membuat Ara pusing mendengar.


"Nila apaan sih kan, sudah aku bilangin Kak Dirli itu pria yang tadi gak sengaja ku tabrak di kantin dan gak ada lagi setelah itu," terang Ara jujur.


"Masa sih? lo gak sedang bohong kan?" menyipitkan mata dengan tatapan tajam Nila pada Ara.


"Bohong? Kenapa harus bohong? Kata Kakak bohong itu dosa tempatnya di neraka gak ada surga untuk pembohong jadi gak mungkin aku bohong tau," ucap Ara tidak terima.


"Iya percaya," sahut Nila cepat ia yakin sahabatnya tidak berbohong.


Waktu terus berjalan tanpa terasa kelas di bubarkan semua mahasiswa/i berlari keluar.


Ara dan Nila masih belum beranjak dari duduk nya, kedua masih betah di kursi masing-masing.


Nila berada di pilihan yang sulit, otaknya saat ini pusing memikirkan akan menceritakan pria yang baru mereka kenal atau tidak.


Di satu sisi ia berpikir untuk tidak menceritakan apapun, karena pria tersebut tidak macam-macam jadi kategori aman.


"Dari sini lo mau kemana Ra?" tanya Nila menoleh sahabat yang duduk memainkan ponsel nya.


"Langsung pulang, Kak Johan udah kirim pesan. Sekarang kita ke depan yuk tunggu," ajak Ara menunjukkan layar ponsel pada chat nya dengan pria yang sudah di anggap kakak, karena sudah membantu merawat nya sejak kecil.


"Yuk," sahut Nila bangkit dari duduk nya.


Kedua pun meninggalkan ruang kelas dan bertepatan itu seorang pria berdiri di dekat pintu.


"Kak Dirli," kaget kedua wanita serentak sedikit terkejut dengan kehadiran pria tersebut.


"Hai, kalian sudah keluar bagaimana kelasnya, lancar?" tanya Dirli.

__ADS_1


"Lancar Kak. Tapi ada apa Kakak kesini? apa ada sesuatu yang ingin di katakan?" tanya Nila penasaran apa yang membawa pria tersebut ada di sini.


"Tidak, saya mau ngajak kalian makan bersama gimana? apa kalian bisa? tadi gak sengaja saya scroll IG ada restoran yang baru di buka dan dari komentar banyak yang memuji makanan di sana enak semua," cerita Dirli tentang alasan nya kemari menunggu kedua wanita tersebut.


"Maaf kita gak bisa, Ara sudah harus pulang sekarang, Kakak nya dalam perjalanan kemari. Jadi lain waktu saja," tolak Nila secara halus tidak ingin pria tersebut tersinggung dengan perkataan nya.


"No Nila, gapapa kita makan saja, nanti aku kabari Kak Johan untuk jemput di restoran saja setelah makan, lagian Kakak masih di kantor belum menuju kampus," ucap Ara cepat mendengar kata makanan otak nya tak bisa menolak selain mengiyakan apalagi tadi Dirli mengatakan makanan di sana enak semua.


Mendengar saja sudah membuat nya tidak sabar mencicipi, apalagi yang lain sungguh otak nya sudah hampir gila membayangkan semua makanan di sana.


Nila hanya mampu menghela nafas kasar dengan keputusan Ara. Ya ia akui sahabatnya jika sudah mendengar kata makan berubah ceria semangat api berkobar 45 seperti siap berperang di zaman penjajahan.


Dia tidak mampu menahan, karena ia tau betapa keras kepala Ara jika sudah menyangkut makanan. Hingga bisa menuruti.


"Ya sudah kita langsung pergi saja," ajak Dirli senang, lalu melangkah pergi dan di ikuti kedua wanita cantik di belakang.


Dalam perjalanan ketiga orang tersebut menjadi pusat perhatian mahasiswa/i kampus, bagaimana tidak Dirli pindahan dari New York pria tampan dan ramah, karena itu para kaum hawa banyak menyukai nya.


Apalagi di dekat Dirli di gandeng dua wanita cantik Ara dan Nila di belakang, membuat wanita manapun iri melihatnya.


"Iya nanti tiba baru ku kabarin," sahut Ara terus melangkah.


"No kabarin sekarang nanti lo lupa lagi," tolak Nila meminta Ara untuk lakukan saat ini.


"Ya sudah Nila saja yang kabarin, kan Kak Nick kakaknya Nila," balas Ara santai, ia masih enggan menghubungi Nick.


Sudah dua hari pria itu tidak pernah mengirim pesan sekedar tanya kabar atau lainnya. Pria itu benar-benar menghilang tanpa jejak.


Ara merasa tidak di hargai, ia sangat ingat saat kakaknya pergi ke luar kota atau ke luar negeri selalu memberi kabar meski itu sebentar.


Padahal kepergian Nick yang secara mendadak itu Ara masih sangat kesal tepatnya ngambek karena ia di beri hukuman oleh dosen membuat banyak referensi dari semua buku sumber dengan tebal halaman sekita 100 dan juga berdiri depan kelas sampai jam nya selesai.


Dan tentu hal itu kembali membuat Ara jatuh pingsan, karena jam kuliah dosen killer itu 4 jam, dan Ara hanya mampu 2 jam berdiri.


"Hei, yang kau katakan ku itu kekasih mu jadi kau yang harus mengabari nya," protes Nila tidak terima.

__ADS_1


"Bodoh! gak peduli, lagian Kak Nick gak pernah memberi kabar padaku, jadi untuk apa aku harus mengabarinya kemana aku pergi?" balas Ara tidak kalah dan tentu ia tidak terima.


Nila sedikit terkejut mendengar perkataan Ara, apa yang di dengar tadi? sang Kakak tidak sekali memberi kabar selama berada di luar kota? sungguh pria nyebelin.


Pantas saja Ara bersikap bodoh amat. Ia jadi bingung apa yang ada di otak pria itu sekarang.


"Ya sudah tidak perlu mengabari Kakak ku lagi," mengalah Nila yang sudah mengerti sekarang.


Ara tidak mengatakan sesuatu lagi, ia benar-benar tidak ingin membahas nama pria itu dulu sekarang. Karena itu hanya akan membuat nya sedih memikirkan Nick.


"Silakan masuk," Dirli membukakan pintu mobil penumpang mempersilahkan kedua wanita cantik untuk masuk.


Dengan senang hati dan senyuman mengembang keduanya masuk.


"Terimakasih Kak," ucap kedua serentak.


"Iya, sama-sama," sahut Dirli, lalu membuka pintu untuk nya dan masuk.


Mobil pun melaju pergi meninggalkan area kampus menuju restoran yang baru resmi di buka kemarin sore.


30 menit lamanya perjalanan, kini mereka telah tiba di parkiran restoran. Dan mereka segera masuk ke dalam.


Di restoran cukup rame bahkan mereka kesusahan mencari kursi kosong untuk di tempati, hingga harus meminta bantuan pada pelayan mencari kursi untuk mereka.


"Mari Pak, Bu, ikuti saya," sopan nya membawa ke tempat duduk.


"Sumpah ya Ra, tuh orang mata nya rabun deh masa masih muda gini di panggil Ibu. Gue gak terima," protes Nila saat pelayan tersebut meninggalkan mereka di kursi kosong untuk mereka tepati.


"Kenapa baru sekarang protes nya? kenapa tidak saat ada orang nya?" tanya Ara polos melihat sahabatnya marah tidak jelas.


"Dasar bego, kalau gue marah ada orangnya yang ada gue udah di usir karena buat keributan," kesal Nila dengan Ara tidak tau saja apa yang terjadi jika ia protes nanti, entah seperti apa kehebohan yang di buat pada restoran ini.


"Lah, kok gitu? emang kenapa sampai bisa di usir? Nila mau nyuri?" pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Ara dan saat itu juga satu jitakan mulus mengenai jidat hingga membuat Ara kesakitan ulah Nila sang pelaku tanpa merasa bersalah yang sudah di perbuat.


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2